Penyesalan Tuan Muda

Penyesalan Tuan Muda
#bab 3 Tripel Z


__ADS_3

Bab 3 tripel Z


London...


Hari ini Sheilla tidak masuk kerja, Sheilla menemani ketiga anaknya untuk bermain di taman rumah. Inilah yang selalu dilakukan Sheilla, setiap akhir bulan pasti menemani ketiga anaknya untuk bermain smpai puas.


tripel Z yang berusia 2 tahun sedang aktif-aktifnya bermain. Terkadang Sheilla kewalahan menghadapi Zoya yang aktif. Berbeda dengan kedua kakaknya, Zidan dan Ziko tidak seaktif Zoya.


Seperti sekarang ini, Zoya selalu merebut mainan Zidan dan Ziko, apa yang dipegang Zidan dan Ziko Zoya selalu merebutnya, ketika Ziko kembali merebutnya Zoya akan menangis.


"Zoya, jangan selalu merebut mainan kakak nak" ~Sheilla sedaritadi diam akhirnya menegur Zoya.


Zoya mendengar teguran itu seketika mata cantiknya sudah berembun. Sekali kedipan air mata itu akan membasahi pipi Chabinya.


anak cantik itu selalu memainkan dramanya apabila di tegur


"Zidan yang melihat adiknya akan menangis, menghampiri Zoya dan memberikan mainanya"


Sheilla tersenyum melihat kedewasaan Zidan. Walaupun umurnya masi kecil namun sepertinya Zidan mampu mengerti suasana di sekitarnya.


"Ma.. Ma... Ma.. " Zoya mngangkat mainan itu seolah memamerkan pada sang ibu.


Sheila tersenyum, mengecup pipi Zoya. Zoya begitu imut, pipinya yang Chabi, hidungnya yang merah dan badan yang sedikit berisi, menamba kesan gemez pada batita itu.


Detik berganti detik, menit berganti menit, tak terasa 30 menit sudah Tripel Z bermain bersama.


Ziko yang merasa bosan menghampiri sang adik yang sedang ateng bermain, Ziko sengaja mengambil mainan Zoya.


Zoya menatap Ziko sebentar. Suara tangisan Zoya seketika menggelegar di taman tersebut.


Sheilla yang sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya.


"Ziko, kembalikkan mainan adikmu nak."~ Sheilla berbicara dengan nada lembut sambil mengusap kepala Zoya.


Ziko memamerkan gusinya yang ada terisi beberapa gigi, mengulurkan tangannya dan memberikan mainan itu pada Zoya, namun saat tangan Zoya hendak merai mainan tersebut, ziko sengaja menarik kembali tangannya agar Zoya tidak dapat mengambil mainannya.


"Ziko" ~tegur Sheilla dengan lembut namun tegas.


Ziko kembali memamerkan gusinya dan memberikan mainan 🧸 tersebut lalu mencium pipi chabi Zoya.


Sheilla menggeleng melihat kelakuan Ziko. entahlah, Sheilla merasa Ziko paling jahil di antara mereka bertiga.


Tripel Z melanjutkan acara mainnya bersama-sama.

__ADS_1


bibi Tia yng sudah selesai membuat cemilan dan jus, menghampiri Sheilla dan Tripel Z yang ada di taman.


"nak"~panggil bibi Tia sambil meletakkan nampan berisi cemilan tersebut di dekat Sheilla


" bibi, seharusnya bibi tidak perlu repot-repot membuatkan Sheilla cemilan. Sheilla bisa membuat sendiri"~ujar Sheilla


"bibi tidak repot kok nak. bibi ingin bermain dengan cucu-cucu bibi"~bibi Tia berdiri dari duduknya dan menghampiri tripel Z


" cucu nenek lagi main ya? "~ujar bibi Tia didekat Zoya.


Zoya yang melihat bibi Tia megulurkan tangannya pertanda ingin di gendong.


" cucu nenek mau di gendong ya? "~ bibi Tia menggendong Zoya.


zidan dan ziko masi asik bermain mobil-mobila tanpa menghiraukan bibi Tia dan Zoya.


Sheilla yang berada tak jauh dari bibi Tia dan Tripel Z tersenyum melihat tingka Zoya. pasalnya Zoya selalu mint di gendong bila berdekatan dengan bibi Tia.


tes,,, air mata Sheilla meneteskan membasahi pipi chabinya. " semoga tuan bahagia dengan nyonya Rosa" ~monolog Sheilla dengan lirih.


"pasti tuan sudah bahagia tanpa kami"~Sheilla tersenyum dengan hati yang pedih saat mengingat perlakuan Zhein padanya dulu.


sheilla menyeka air matanya, lalu berdiri dan menghampiri Tripel Z dan bibi Tia


" anak bunda udah pintar ya"~Sheilla.


Sheilla duduk bersilah di depan Ziko. tangan Sheilla terangkat untuk mengusap kepala Ziko.


Ziko yang masi sibuk dengan mobil-mobillannya mendongakemandang sangat ibu lalu melanjutkan acara mainnya.


"kamu begitu mirip dengan ayahmu nak" ~batin Sheilla sambil terus mengusap kepala Ziko.


Amerika...


Waktu terus berlalu, terhitung 3 tahun sudah Sheilla meninggalkan Amerika.


Zhein tak patah arang, setiap hari Zhein dan Rehan terus mencari Sheilla.


Tuan Wijaya dan Nyonya Dewi juga ikut mencari keberadaan Sheilla.


"Pah, untuk apa kita juga ikut-ikutan mencari?. Bukankah keberadaan Sheilla dan cucu-cucu kita ada di London? " Nyonya Dewi mulai jengah dengan suaminya yang menyembunyikan menantu dan cucu-cucu nya


"Sudahlah mah, ikut saja. Agar Zhein tidak curiga pada kita" ~Tuan Wijaya

__ADS_1


"Pah, sampai kapan papa menyembunyikan Sheilla dan tripel Z?. Kasihan Zhein pah, Zhein tiap hari mencari Sheill" ~Nyonya Dewi berucap dengan senduh.


"Mah, jika Zhein benar-benar mencintai Sheilla dan menyesali perbuatannya. Papa yakin Zhein akan menemukan istri dan anak-anaknya" ~tuan Adiknya


"Pah, apa sebaiknya kita beri tahu saja Zhein tentang Rosa dan Naya?" nyonya Dewi mulai berucap serius


"Biarkan Zhein menyelesaikan masala rumah tangganya" ~tuan Adijaya


Kembali ke Zhein...


Zhein dan Rehan yang sedang menikmati waktu weekend di cafe dekat kantor.


"Rehan, seperti apa wajah anak-anakku?" ~tanya Zhein dengan tatapan senduh.


"Tuan bersabarlah sedikit, saya yakin nona Sheilla dan tuan muda kecil pasti baik-baik saja. Mungkin merek mirip seperti tuan" ~jawab Rehan


Sebenarnya Rehan telah tahu keberadaan Sheilla dan Tripel Z, namun Rehan juga bungkam karena suruhan tuan Adijaya.


"Pulanglah Sheilla, aku menyesal. Beri aku kesempatan untuk menjadi papa yang baik untuk anak-anak kita" ~gumam Zhein dengan senduh


Saat Zhein masi dengan lamunannya, seseorang datang lalu menepuk bahu Zhein.


"Bro, apa kabar? " tanya orang itu


Zhein mengangkat pandangan, mata elangnya menatap orang tersebut yang duduk di sampingnya.


"Santai bro!" ~seringan mengejek


"Pulanglah Tuan Edwin, jangan menganggu tuan saya" Rehan mulai angkat bicara.


"Aku tidak berbicara denganmu" jawab larang tersebut.


"Bro, bagaimana kabar istri pertamamu?, apakah sudah ada kabar?, aku berdoa semoga dia tidak pernah di temukan" ~ Edwin


Zhein yang mendengar itu, mengepalkan tangannya, muka Zhein mulai memerah menahan amarah.


"Semoga harimu selalu indah" ~Edwin menepuk bahu Zhein lalu meninggalkannya.


"Jangan dengarkan perkataan Edwin Tuan, Edwin hanya ingin memanas-manasi tuan. Kita fokus saja dengan Nona Sheilla dan anak-anak tuan" Rehan


Zhein hanya menghembuskan nafas beratnya gun meredam emosinya


setelah kepergian Edwin, Zhein masi duduk di kursi kebesarannya. saat Zhein melihat pergelangan tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul 05.20. Zhein berdiri dari kursi kebesarannya menyambar jas mahal yang tergeletak di sofa.

__ADS_1


zhein berniat pulang kerumah orang tuannya untuk meminta bantuan sang ayah.


__ADS_2