
Zhein yang masi berada di balkon kamarnya melangkahkan kakiknya meninggalkan balkon. Zhein berniat menginap di rumah kedua orang tuannya.
Rosa yang melihat Zhein menuju pintu kamar, berjalan menyusul Zhein hingga di depan pintu kamar.
"Zhein, mau ke mana kamu? Ini sudah larut malam"~tanya Rosa saat berada di hadapan Zhein
" aku akan menginap di rumah mama dan papa "~jawab Zhein tanpa memandang Rosa.
" Zhein pikirkan aku dan naya, jangan hanya mengurusi Sheilla dan anak-anaknya. Mereka sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri" ~rosa
Zhein yang malas meladenin Rosa, mengayunkan kakiknya menuju tangga, Rosa terus mengikuti Zhein dari belakang.
"Zhein, bukankah ini yang kamu mau?, Sheilla dan anak-anaknya sudah pergi! "~lanjut Rosa
Zhein menghentikan langka kakinya, berbalik menghadapi Rosa.
" kembalilah ke kamar Rosa, aku akan menenangkan pikiranku di rumah mama dan papa" ~ucap Zhein dengan nada lembut.
Tanpa mendengarkan Rosa, Zhein berbalik menuju garasi mobil, zhein menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman orang tuanya.
***
zhein memarkirkan mobilnya di garasi rumah orang tuannya.
Zhein membuka pintu dengan hati-hati, saat Zhein berjalan menuju kamarnya. Sama-sama Zhein mendengar percakapan mama dan papanya.
Zhein mengayunkan kakinya menuju tempat Nyonya Dewi dan tuan Wijaya.
Zhein kaget, kecewa dan marah saat mendengar permintaan mamanya.
Pantas saja selama 3 tahun Zhein mencari istri dan anak-anaknya, tak ada petunjuk sama sekali yang Zhein temui, ternyata di balik persembunyian Sheilla ada tuan Wijaya yang melindunginya.
"Mah, pah. Jadi selama ini mama dan papa tau keberadaan istri dan anak-anakku?" ~tanya Zhein dengan emosi yang tertahan.
Nyonya Dewi dan tuan Wijaya yang mendengar suara Zhein tersentak kaget. Sontak nyonya Dewi dan tuan Wijaya melepaskan pelukan mereka dan memandang Zhein dengan kaget.
Zhein mendekat kepada nyonya Dewi
"Ma, mama tau selama ini keberadaan Sheilla dan anak-anakku. Tapi mama tidak memberitahukan pada Zhein"~tanya Zhein dengan tatapan kecewa.
__ADS_1
" son, dengarkan penjelasan mama dulu nak"~nyonya Dewi berusaha mendekati Zhein. Namun Zhein menjauhi nyonya Dewi.
"Mama tau, selama e tahun ini Zhein hidup dengan penyesalan. Tiap hari Zhein berusaha mencari keberadaan istri dan anak-anak Zhein mah. MAMA KENAPA TEGA IKUT MENYEMBUNYIKAN ISTRI DAN ANAK-ANAKKU, KENAPA MAH? "~suara Zhein mulai meninggi, sepertinya Zhein marah besar pada kedua orang tuanya.
Nyonya Wijaya yang di bentak anaknya tersentak kaget, air matanya makin deras membasahi pipi mulusnya. Tuan Wijaya ikut marah saat anaknya membwntak sang istri. Tuan Wijaya tidak suk ada seseorang yang membentak istrinya, walaupun itu adalah anaknya sendiri.
" ZHEIN ALEXNDER WIJAYA, JANGAN PERNA MEMBENTAK ISTRIKU" ~tuan Wijaya berbicara dengan nada tegasnya.
Nyonya Dewi yng berada di hadapan Zhein mengalihkan pandangannya pada tuan Wijaya.
"Pah, udah ya. Jangan marah sama Zhein. Dari awal memang ini salah kita pah. Tidak seharusnya kita ikut campur urusan rumah tangga anak kita"~ucap nyonya Dewi pada tuan Wijaya dengan suara yang paruh.
"Jika kita tidak ikut campur, apakah Zhein bisa menghargai istrinya. Mama tau perlakuan Zhein pada Sheilla dulu, bahkan walah tau Sheilla sedang hamil, Zhein tidak berhenti menyiksa Sheilla"
Zhein bungkam mendengar pernyataan tuan Wijaya.
"BICARALAH ZHEIN ALEXANDER WIJAYA. JANGAN DIAM SAJA. APA KAMU AKAN BERHENTI MENYIKSA SHEILLA JIKA SHEILLA MASI ADA DI SISIMU? ~tanya tuan Wijaya dengan amarah yang berkobar.
Zhein masi setia dengan diamnya, zhein kala talak dengan sang ayah. Perkataan tuan Wijaya ada benarnya.
" zhein tau pah, zhein salah. Tapi tolong pah beri zhein kesempatan untuk menjadi suami yang baik untuk sheila dan anak-anakku"~ucap Zhein dengan suara lirih. Air mata Zhein sudah menetes sedaritadi.
"Bagaimana kamu menjadi suami yang baik Zhein?. Sementara Rosa dan naya masi berada di sisimu? ~tanya tuan Wijaya dengan sinis.
Zhein berjalan dan bersujud di kaki tuan Wijaya.
Nyonya Wijaya yang hendak berbicara seketika diam saat melihat sang suami menaikan tangannya pertanda tidak ingin mendengar perkataan istrinya.
"Mah, masuklah kedalam kamar. Biarkn papa dan Zhein menyelesaikan masalah ini"~ucap tuan Wijaya talak, tanpa ingin di bantah.
Nyonya dewi belum beranjak dari tempatnya, nyonya dewi masi setia mandang zhein dengan tatapan iba.
Zhein juga memandng nyonya dewi, zhein tersenyum dan mengauk.
"Zhein, bangun dan ikut papa ke ruang kerja papa"~ucap tuan Wijaya, lalu pergi mendahului zhein
Zhein bangun dari sujudnya, mengikuti langka tuang Wijaya.
Disinilah mereka, di ruang kerja tuan Wijaya.
__ADS_1
Zhein masi setia menunduk tanpa berni memandang tuan Wijaya.
"Tanyakan apa yang ingin kau ketahuilah zhein"
"Pah, zhein tau. Zhein salah. Tapi zhein mohon pah. Bertau zhein dimana sheilla dan anak-anak zhein"~ucp zhein, zhein memandang tuan Wijaya dengan tatapan memohon
Tuan Wijaya mwnghembuskan nafasnya kasar. Tuan Wijaya mengotak-atik HP canggihnya mencari apk vidio.
Tanpa berkata-kata tuan Wijaya memperlihatkan video tripel Z yang sedang bermain, bertengkar dan menangis.
Zhein memandang anak-anaknya dengan tatapan kagum, sedih dan kecewa.
Zhein merasa menjadi ayah yang buruk untuk tripel Z, zhein kecewa tidak melihat tumbu kembang anak-anaknya. Zhein marah pada dirinya sendiri karena telah membiarkan sheilla bekerja banting tulang untuk menghidupi anak-anaknya.
"Zidan, Ziko dan Zoya. Itulah nama yang diberikan untuk anak-anakmu. Namun Sheilla tidak menyelipkan nama Wijaya utuk anak-anakmu"~tuan Wijaya memeca keheningan diantara mereka berdua.
Zhein masi setia memandangi Zoya yang menangis karena dijahili ziko.
"Ziko memang jahil pada Zoya, sedangkan zidan lebih banyak diam. Zidan adalah jilkakan dirimu. Mereka berada di London. Papa sengaja menyembunyikan mereka agar kamuenyesali perbuatanmu"~ucap tuan Wijaya panjang lebar.
"Pah, zhein menyesal pah. Zhein akan menyusul Sheilla dan meminta maaf padanya dan juga anak-anak zidan" ~ucap zidan dengan yakin.
Tuan Wijaya berdiri dari duduknya, menepuk bahu zhein lalu pergi meninggalkan Zhein yng berada di dalam rung kerjanya.
Namun baru beberapa menit tuan Wijaya meninggalkan ruang kerjanya, tuang Wijaya kambali lagi dan BRAK tuan Wijaya membuka kasar pintu rung kerjanya.
Zhein yang masi asik dan kadang tersenyum sendiri melihat aksi Zoya tersentak kaget saat ada yang mendobrak pintu dengan keras.
"Papa"~kaget zhein
" kembalikan henphone papa"~ucap tuan Wijaya dengan ketus lalu merampas henphone nya di tangan zhein.
"Pah, tolong kirimkan semua tentang anak-anak zhein di henphone zhein. Zhein belum puas memandang tripel Z"
Tanpa menghiraukan perkataan zhein, tuan Wijaya berlalu meninggalkan zhein sendirian
Zhein tersenyum mengingat kelakuan tripel Z
"Tunggu papa nak, papa anak menjemput kalian dan mengganti 3 tahun yang tela berlalu dengan cinta dan kasi sayang apa"~monolog zhein dengan senyum yang belum memudar.
__ADS_1
Kembali ke London tempat sheilla dan tripel Z