
sheilla yang berada di jalan, terus melangkahkan kakinya membela jalan, waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi, perut sheilla mulai berbunyi.
"ah, lapar. aku harus ke mana lagi?" ~gumam sheilla.
sheilla mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang ada di pinggir jalan, kebetulan di sampingnya ada penjual roti. setelah membeli beberapa potong roti, sheilla makan dengan lahap.
dari arah belakang ada sosok wanita paru baya yang menghampiri sheilla. wanita itu adalah bibi Tia, orang suruhan tuan Wijaya untuk membawa pergi sheilla.
"nak, kamu mau ke mana?"~ tanya bibi Tia seolah tidak mengenal sheilla.
" anu, nyonya. saya sedang mencari kontrakan atau rumah susun untuk saya tempati" ~jawab sheilla
mereka terus mengobrol hingga roti yang di pesan sheilla habis semua, bibi Tia mulai menawarkan sheilla untuk tinggal bersamanya. awalnya sheilla menolak, namun bibi Tia berhasil membujuk sheilla.
disinilah mereka di rumah bibi Tia yang tidak besar dan mewah-mewah amat, di rumah ini terdapat 2 kamar, 1 ruang tamu dan dapur.
sheilla begitu bahagia melihat rumah bibi Tia, halaman yang tidak begitu luas namun bersih dan tertata rapi.
"ayo nak, masuk. jangan sungkan. anggap rumahmu sendiri"~ bibi tia menuntun sheilla untuk masuk kedalam rumahnya.
waktu terus berlalu, sudah sebulan sheilla tinggal di rumah bibi Tia. sheilla sudah mulai terbiasa dengan keadaanya. sheilla mulai bekerja di tokoh kue yang tidak jauh dari rumah bibi Tia.
__ADS_1
***
sudah sebulan pula zhein tidak perna lagi menginjakkan kakinya di apartemen pribadinya, zhein sudah membeli rumah dan tinggal bersama Rosa dan mereka juga sudah menikah tanpa restu dari tuan Wijaya dan nyonya dewi.
zhein juga tidak tau keberadaan sheilla. setau zhein sheilla masi berada di apartemennya.
hari ini zhein berniat akan pulang di apartemennya saat pulang dari perusahaan nanti. zhein tiba-tiba kepikiran sheilla yang sudah sebulan ini tidak di ketahuinya.
zhein memarkirkan mobilnya di parkiran apartemennya, zhein menaiki lif agar segera sampai di kamarnya.
zhein memencet sandi apartemennya dan terbukalah apartemen tersebut. zhein kaget melihat kondisi apartemennya yang sedikit berdebu gorden yang tidak terbuka pertanda apartemen ini sudah lama tidak berpenghuni.
zhein mengambil langka seribu menuju kamar sheilla. BRAK. Zhein langsung masuk dan berteriak memanggil sheilla, namun sayang zhein tidak menemukan sheilla.
zhein perlahan mengambil kertas tersebut. ternyata itu adalah surat dari sheilla dan foto USG ke tiga anaknya.
"tuan, kami akan pergi jauh hati ini. maaf jika selama menikah dengan sheilla tuan tidak bahagia" ~isi surat sheilla
zhein mengambil foto USG ke tiga anaknya, entah mengapa air matanya turun dengan deras, dada zhein sangat sesak seperti terhimpit baru besar.
"maaf"~lirih zhein memeluk foto USG tersebut.
__ADS_1
tanpa menunggu waktu lama, zhein meninggalkan apartemennya menuju ke mansion utama.
sesampainya di sana, zhein memarkirkan mobilnya dengan asal.
" PAH, MAH. PAH, MAH"~Zhein berteriak memanggil nyonya dewi dan tuan Wijaya.
kedua para baya yang zhein panggil ternyata sedang berada dalam kamarnya sedang mengobrol sembari menunggu panggilan makan malam.
karena zhein tidak menemukan orang tuannya. zhein berjalan menuju kamar kedua orang tuannya. brak. zhein langsung mendobrak dan masuk dengan nafas yang terengah-engah.
"pah, mah, pasti mama dan apa tahu keberadaan sheilla kan?. dimana sheilla mah, pah. sheilla sedang mengandung pah, mah"~tanya zhein dengan tidak sabar.
" diakan istrimu, kenapa mencarinya ke sini?"~ jawab tuan Wijaya.
"untuk apa lagi kamu mencarinya zhein?. biarkan sheilla bahagia dengan hidupnya sendiri. pulang saja urus istrimu yang hamil entah anak siapa itu! "~ ucap nyo ya dewi
zhein dengan emosi dan tanpa sadar membentak nyonya dewi.
" Rosa sedang hamil anakku mah, cucu mama"~ zhein neneknya kata cucu di akhir kalimatnya.
nyonya dewi hanya menyunggingkan senyum sinisnya. tanpa menganggap kehadiran zhein nyonya dewi keluar kamar menuju meja makan. tuan Wijaya hanya memandang zhein dengan tatapan datar.
__ADS_1
"pah, __"~ baru saja zhein memanggil papahnya, namun tuan Wijaya sudah menghilang di balik pintu.
bersambung....