Perjalanan Kembali Kaisar Abadi

Perjalanan Kembali Kaisar Abadi
Turnamen Klan Qing III (Babak Kedua)


__ADS_3

Di luar goa, cahaya bulan masih bersinar dengan sangat terang dengan bintang-bintang berkelip di atas langit.


Pemandangan itu sangat indah untuk di nikmati saat seseorang sedang beristirahat setelah berkultivasi.


Sekarang, tengah malam sudah hampir tiba tetapi Qing Chen masih berada di dalam goa.


Ia saat ini sedang berdiri sambil memegang kunci di tangan kanannya, dia menatap peti harta karun kemudian berjalan mendekat untuk membukanya.


Klakk!!


Peti harta terbuka, di dalamnya dapat terlihat tiga buah barang yang masing-masing memancarkan aura yang berbeda. Pertama adalah sebuah cincin berwarna abu-abu, yang kedua adalah sebuah herbal berbentuk seperti sebuah daun dengan warna biru sedikit kehitaman, dan yang ketiga adalah sebuah baju kuno.


Qing Chen mengangkat tangannya dan mengambil cincin berwarna abu-abu terlebih dulu.


Dia memperhatikan cincin abu-abu itu sekilas, detik berikutnya jari-jarinya bergetar saat Qing Chen menyadari seberapa berharga benda di tangannya.


Dia mengungkapkan senyum lebar dan berkata.


"Tak kusangka aku bisa memiliki cincin ini di Alam Fana. Dari kehidupan ku sebelumnya, pemilik cincin dimensi di Alam Fana dapat di hitung dengan jari."


Dalam kehidupan sebelumnya, cincin dimensi cukup langka di antara Kultivator umum. Itu karena bahan yang diperlukan untuk membuatnya adalah batu spasial yang cukup sulit untuk di temukan.


Cincin dimensi memiliki sebuah ruang di dalamnya, itu tergantung seberapa besar batu spasial yang di gunakan sebagai bahan pembuatannya.


Ketika Qing Chen menyalurkan energi spiritual nya kedalam cincin dimensi, senyuman di wajahnya semakin lebar dan lebar..


"Haha, Cincin ini memiliki luas sekitar 400 m, . meskipun itu tidak bisa dibandingkan dengan milikku di kehidupan sebelumnya, tetapi ini juga sebuah harta langka!!."


Setelah Qing Chen memakai cincin dimensi pada jari tangan kanannya, dia mengalihkan pandangannya pada daun yang berwarna biru kehitaman.


Meskipun daun itu tidak sebagus cincin dimensi itu masih membuat Qing Chen sangat gembira.


Sedangkan untuk barang ketiga, Qing Chen melihatnya sambil mengerutkan kening, baju kuno tersebut terlihat sangat tipis dan mudah sobek, Qing Chen bahkan merasa dapat merobeknya hanya dengan genggaman tangannya saja.


Tetapi ada yang aneh dengan baju kuno itu, ketika Qing Chen menyentuh baju itu, perasaan kecewa menghilang digantikan dengan perasaan terkejutnya.


Detik berikutnya, seluruh Qi dalam Dantian nya menghilang dan tubuh Qing Chen menjadi transparan.


Melihat bahwa tubuh dan juga hawa keberadaannya menghilang tanpa jejak, Qing Chen mengukir senyum puas di wajahnya.


"Hahaha, aku tidak pernah menduga bahwa baju kuno ini akan memiliki efek yang begitu kuat."


Qing Chen tidak tahu darimana asal usul dari baju kuno itu dan darimana Qing Wen mendapatkannya dulu. Tetapi baju kuno itu adalah barang yang paling ia butuhkan saat ini.

__ADS_1


Jika suatu saat Qing Chen bertemu dengan seorang musuh yang sangat kuat,k, dia bisa menggunakan kemampuan dari baju kuno itu untuk melarikan diri.


Baju kuno itu dapat dianggap sebagai nyawa keduanya.


Setelah puas dengan ketiga harta itu, Qing Chen segera melirik kearah gundukan emas dan dengan seringai buruk diwajahnya, Ia terkekeh.. "Hehehe... Hehehe..."


Gundukan koin emas itu seketika menghilang dalam sekejap mata, itu hanya butuh sepersekian detik sebelum gundukan koin emas itu berada di dalam cincin dimensi.


Qing Chen kemudian menatap makam Qing Wen yang dia buat untuknya dan berkata.


"Anakku Qing Wen.. Ayah akan selalu mengunjungi makam mu satu bulan sekali."


Qing Chen menatap makan itu untuk waktu yang cukup lama hingga kemudian berjalan pergi meninggalkan goa.


Setelah dia keluar dari dalam goa, Qing Chen membuat array ilusi tingkat rendah untuk tidak membuat siapapun memasuki makam putranya.


Setelah itu, Qing Chen mengangkat pedang besar di belakang pundaknya dan segera berlari kembali menuju ke kediamannya.


Qing Chen tidak bermaksud untuk menyimpan pedang api hitam di dalam cincin dimensi, sebaliknya Qing Chen mengangkat pedang api hitam di pundaknya karena itu akan sangat bagus untuk peningkatan fisiknya.


Berat pedang api hitam itu mencapai sekitar 2 Ton, dengan beban seberat itu di pundaknya. Itu membuat gerakan Qing Chen melambat dengan sangat signifikan...


2 Ton bukanlah berat asli dari pedang api hitam, itu setidaknya memiliki berat sekitar 100 ton atau bahkan lebih tinggi lebih dari yang Qing Chen pikirkan.


Setelah berlari selama hampir setengah jam, Qing Chen akhirnya tiba di halaman rumahnya tanpa menemui bahaya apapun.


Setelah masuk kedalam rumah, hal pertama yang Qing Chen lakukan adalah meletakkan pedang api hitam di samping tempat tidurnya, dia kemudian membersihkan diri di kamar mandi dan beranjak naik ke atas kasur untuk tidur.


Hari ini, sekujur tubuhnya benar-benar kelelahan dan Qing Chen tidak memiliki sisa energi lain untuk berkultivasi.


***


Esok paginya, Qing Chen terbangun dan mendapati tubuh fisiknya bertambah kuat. Ia dengan buru-buru mengambil pedang api pitam dan mengangkat pedang itu di pundaknya.


Dia kemudian bergegas keluar dari rumahnya dan segera pergi keluar rumah dan menuju alun-alun Klan Qing.


Sampai di sana, Qing Chen mengerutkan keningnya dan berkata-kata. "Bukankah tempat ini lebih ramai dari yang kemarin?"


Tetapi setelah beberapa waktu, dia buru-buru berlari kearah ruang tunggu dan duduk dengan tenang di sana sambil menunggu pemimpin turnamen memulai Babak Kedua.


Sama seperti kemarin, tepat ketika Patriak Klan sudah duduk di tempat duduk yang sudah disiapkan, pemimpin turnamen seketika berdiri dan mulai mengumumkan dimulainya babak kedua dengan jumlah peserta yang tersisa adalah 50 orang.


"Aku akan menjelaskan beberapa peraturan di babak kedua nanti. Babak kedua akan ada sedikit perbedaan dengan babak pertama. Untuk yang mendapat nomor 1 sampai 5 berada di arena pertama, 6 sampai 10 berada di arena kedua..... dan 46 sampai 50 berada di arena kesepuluh."

__ADS_1


"Setiap arena akan memilih satu nomor, jika orang yang nomornya disebut maka orang tersebut akan menjadi Raja Arena. Setiap orang memiliki tiga kesempatan untuk menantangnya."


"Itu saja yang ingin aku sampaikan pada kalian. Tidak perlu berlama-lama lagi, aku akan segera memulai turnamen babak kedua.."


Semua peserta segera berjalan keatas arena untuk mengambil plat nomor, masing-masing orang mulai mengambil satu plat kayu yang berisi nomor 1 sampai dengan 50.


Orang yang mendapatkab nomor dengan tanda merah adalah orang yang akan menjadi Raja Arena.


Untuk arena pertama, dia salah satu jenius dari Klan Qing uang bernama Qing Shan. Dia saat ini berada di lapisan pertama dari Alam Bawaan.


Setiap Arena memiliki satu orang yang berada di Alam Bawaan, karena ini sudah direncanakan oleh para tetua, mereka semua ingin para jenius yang berada di Alam Bawaan bertarung dengan sengit ketika babak ketiga dimulai.


Qing Chen mendapat nomor 8, Ia berada di arena kedua, dan orang yang harus ia kalahkan untuk merebut gelar Raja Arena adalah, seorang pria bernama Qing Ye.


Ia sama sepeti Qing Shan yang berada di lapisan pertama dari Alam Bawaan.


Setelah semua peserta sudah berada di arena masing-masing, pemimpin turnamen juga mulai mengumumkan dimulainya turnamen babak kedua.


Qing Chen juga dengan sabar menunggu, ia tidak langsung maju dan menghadapi Qing Ye terlebih dulu.


Dia hanya berdiri sambil melihat para peserta lain dikalahkan satu persatu.


Waktu berlalu dengan sangat cepat, semua penantang yang berada di arena kedua saat ini sudah tidak memiliki hak lagi untuk menantang.


Mereka semua dikalahkan oleh Qing Ye dengan sangat cepat tanpa mendapatkan kesempatan untuk melawan balik.


Qing Ye kemudian melirik Qing Chen yang merupakan satu-satunya penantang yang tersisa, seringai dingin keluar dari mulutnya.


"Yoo, sampah Klan Qing– eh tidak-tidak ... atau aku bisa katakan jenius Klan Qing hehe." Qing Ye terkekeh seolah tidak menganggap Qing Chen sebagai lawannya.


Qing Ye kembali berkata, "Cepat datang kesini ! apakah kamu sangat ketakutan hingga tidak dapat berjalan hahaha..."


Qing Ye tertawa terbahak-bahak sambil melontarkan beberapa kata kasar untuk diberikan kepada Qing Chen.


Walaupun penampilan Qing Chen mengejutkannya di babak pertama, tetapi dengan perbedaan Kultivasi yang begitu besar antara dia dan Qing Chen ... Apa yang harus ia takutkan?


Qing Chen mendengus sambil berkata dengan suara dingin, "simpan kata-kata bodohmu itu, lihat dan pelajari bagaimana aku akan mengalahkanmu dalam lima gerakan."


Qing Chen segera berdiri dan melompat keatas arena, sosoknya yang begitu gagah menatap tajam Qing Ye sambil menarik pedang besar di belakangnya.


***


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2