
Babak Kedua tidak ada larangan untuk menggunakan senjata, jika ada peserta yang tidak berani merasakan rasanya sakit, mereka boleh menyerah.
Qing Ye tidak menggunakan senjatanya karena memandang remeh para musuhnya, ia merasa bahwa karena Kultivasi nya telah berada di Alam Bawaan itu sudah cukup untuk mengalahkan semua penantang.
Setelah Qing Chen sudah berdiri diatas arena, ia menggenggam gagang pedang dan menancapkan nya ke lantai arena.
"Karena saudara Ye tidak menggunakan senjatanya, maka aku juga tidak akan menggunakan senjata..." Qing Chen berkata, walaupun nada suaranya hanya biasa saja, tetapi semua orang yang mendengarnya menjadi sangat marah.
"Sial, jangan terlalu sombong hanya karena kamu sudah berada di Lapisan Ke-delapan diusia ke 16... Saudara Ye, hajar dia.. Beri dia pelajaran!"
"Hajar dia saudara Ye.."
"Hajar dia!!.."
Semua orang yang berada di tribun penonton berteriak dengan keras, mereka semua sangat marah karena kesombongan yang Qing Chen tunjukkan.
Bukan hanya para penonton saja, Para tetua juga sedikit geram dengan pernyataan Qing Chen barusan, "Kakak Yun, bukankah putramu ini terlalu percaya diri.."
Qing Yun mengernyit dan menjawab dengan dingin, "Tidak usah kau pedulikan apa yang dilakukan putraku adik Nu, jika putraku berkata seperti itu, berarti ia sangat percaya diri dengan kekuatannya."
"Hump... Terserah kamu saja Kakak Yun."
Diatas Arena terjadi perubahan dengan ekspresi Qing Ye, dia memandang Qing Chen seolah-olah di adalah seseorang yang bodoh.
Siapa Qing Ye? dia adalah seorang jenius yang berhasil mencapai Alam Bawaan di usia yang kurang dari 30 Tahun. Sedangkan Qing Chen adalah seorang Lapisan Ke-delapan belaka.
Qing Ye meraung dengan sangat marah, tepat ketika pertarungan dimulai, ia segera bergegas menuju Wing Chen berniat memberikan dia sebuah serangan.
Qing Ye tidak menahan diri, di dalam pukulannya itu terkandung kekuatan seorang Alam Bawaan. "Hiyaa.."
Bang!!
Duarr!!
Lantai Arena ketiga bergetar dengan hebat, hempasan angin dari sana sektika menarik perhatian semua orang.
__ADS_1
"Rasakan itu, Senior Ye tidak menahan dirinya sama sekali, Qing Chen sudah dipastikan tidak akan bisa berdiri lagi seumur hidupnya."
"Haha, Itu karena dia begitu sombong, berani menantang senior Ye secara terang-terangan dai pasti tidak memiliki akhir yang bagus."
Semua orang yang berada di tribun penonton mulai membicarakan tentang Bagaimana. nasib Qing Chen setelah ini.
Di Arena, dua orang berdiri tegak, yang satu memiliki wajah pucat, ia sedikit membungkuk dan membuka mulutnya. Aliran darah segar mengalir deras keluar dari Tenggorokan nya.
"Kau!! Kau!! Bagaimana Bisa.."
Qing Ye berlutut di lantai Arena dengan wajahnya yang memiliki noda darah disekitar mulutnya.
Semua orang terdiam, para tetua juga terdiam, bahkan Patriak Klan memiliki jejak keterkejutan di wajahnya.
Qing Ye dengan cepat menyeka noda darah disudut bibirnya, setelah itu ia menjauh mencari jarak.
Qing Chen bagaimanapun tidak ingin membuang waktunya lebih lama lagi, Ia segera berlari mengejar Qing Ye dengan kecepatan nya yang cepat, ia memukul Punggung Qing Ye dengan keras.
Akibatnya Qing Ye terpental begitu jauh hingga terlempar keluar dari arena. "Hehe satu gerakan!"
Di luar Arena, Qing Ye tergeletak dengan 2 tulangnya yang patah akibat benturan keras. Ia merintih kesakitan hingga menunggu seseorang datang dan membawa Pil Penyembuh.
Qing Chen mencibir dan segera berjalan mencabut pedang besarnya yang tertancap dilantai Arena kemudian setelah wasit mengumumkan pemenang, Qing Chen segera turun dan kembali keruang tunggu.
Di kursi para tetua menjadi aneh, mereka semua menatap Qing Yun seolah-olah ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Qing Yun tersenyum menjawab rasa penasaran semua orang, "Aku juga tidak tahu!"
Sementara itu, di tuang tunggu. Qing Chen memejamkan mata, sebuah Pagoda besar berwarna hitam muncul diatas kepalanya, itu menyerap banyak sekali energi spiritual disekitarnya.
Di Arena lain juga mulai bermunculan Raja Arena lainnya, dan setelah matahari sudah sampai diatas kepala. Babak Kedua sudah berkahir.
Diantara 10 orang yang akan maju adalah, Qing Shan, Qing Chen, Qing Luo, Qing Xin, Qing Na....
Diantara mereka yang terkuat adalah Qing Na, dia sudah berada di Lapisan Ke-dua dari Alam Bawaan, dan ia saat ini baru berusia 27 tahu.
__ADS_1
Diantara Para jenius Klan lainnya, Bakat Qing Xin adalah yang paling menonjol.
Setelah itu ada Qing Xin, seorang perempuan berwajah cantik dengan perawakan nya yang dingin. Ia juga baru-baru ini menerobos Ke Lapisan Ke-dua dari Alam Bawaan. Ia saat ini baru berusia 22 tahun, lima tahun lebih muda dari Qing Na.
Selain bakatnya yang mengerikan, Qing Xin juga adalah salah satu dari 4 Keindahan di Kota Hitam.. Yang paling penting, ia dan Qing Chen adalah saudara tetapi tidak ada hubungan darah diantara mereka berdua.
Diatas panggung, Pemimpin Turnamen batuk-batuk untuk menarik perhatian sepuluh peserta yang akan memasuki babak final.
"Uhuk!!... Turnamen Klan tahun ini adalah yang paling menarik dan mendebarkan, karena kita memiliki seorang kuda hitam disini, sungguh tidak terduga." Ucap Pemimpin Turnamen melihat Qing Chen sambil mengeluarkan senyuman aneh.
Semua peserta lainnya sudah tahu itu, ketika mereka melirik Qing Chen, sebuah jejak permusuhan dapat dirasakan setiap orang.
Tetapi Hanya Qing Xin yang mendekat kearahnya dan memeluk tubuhnya, "Hehe, Chenchen sudah tumbuh besar, dimasa depan bukankah Chenchen akan menjaga kakak!"
Suara itu sangat imut dan merdu di telinga semua orang, mereka semua begitu iri dan rasa permusuhan kepada Qing Chen semakin besar.
Sementara itu, Qing Chen dapat mencium aroma harum dari Kakaknya, Meskipun sikap kakaknya dingin dimata orang lain, tetapi dia hanya bersikap manja dihadapan Qing Chen saja.
Ini terbukti ketika Qing Chen mendapatkan ingatan pemilik sebelumnya, hanya ayah dan Kakak perempuan nya yang begitu baik hati kepadanya.
"Haha, jika dimasa depan ada yang berani menyakiti kakak perempuan, aku akan membalasnya ratusan kali lipat." Qing Chen berkata sambil tersenyum.
"Hehehe, kalau begitu kakak akan menantikan nya." Sebelum meninggalkan pelukannya dari Qing Chen, Qing Xin mencium wajah Qing Chen tepat di pipi kananya.
"Ehemm... Kalau begitu saya akan memulai Turnamen Babak ketiga, setelah semua orang beristirahat selama setengah jam, kalian semua akan kembali kesini."
Semua orang segera bubar dan kembali keruang tunggu yang disediakan.
Qing segera berbalik dan berniat kembali keruang tunggu, sebelum itu ia mendengar sebuah suara lembut dari belakang.
"Chenchen, Tunggu!"
Qing Chen tidak jadi berbalik dan mencari sumber suara, ketika pandangannya berhenti pada wanita berambut hitam dengan sebuah gaun berwarna putih tersenyum kearahnya.
Itu adalah Kakak nya, Qing Xin.
__ADS_1