
Setelah Qing Chen turun dari atas arena, ia mendapatkan sambutan hangat dari Qing Xin.
"Adik, selamat atas kemenangannya ... Itu tadi pertarungan yang sangat hebat." Ucap Qing Xin tersenyum manis sambil menggandeng tangan Qing Chen menuju ruang tunggu.
Melihat mereka berdua bergandengan tangan, semua orang menatap Qing Chen dengan tatapan iri. Qing Xin merupakan salah satu dari 4 Keindahan di Kota Hitam, siapa yang tidak menginginkan hal yang Qing Chen rasakan sekarang?
Di dalam ruang tunggu, Qing Chen dengan asik berbicara sesuatu dengan Qing Xin. Sementara itu di atas Arena, Qing Na dengan marah melotot kearah mereka dengan niat penuh permusuhan.
Dia sebenarnya memiliki perasaan untuk Qing Xin, tetapi Qing Xin sama sekali tidak pernah menerima pernyataan cintanya.
Melihat mereka berdua saat ini, darah di tubuhnya mendidih karena amarah. Dia mengutuk Qing Chen sambil mengumpat.
"Sialan!!.."
Begitu pertandingan antara dia dan juga seroang murid Klan Qing, Qing Na seketika melesat dengan cepat kemudian menebas lawannya dengan kekuatan penuh.
Slashhh!!
Qing Han yang merupakan lawan dari Qing Na saat ini menjerit kesakitan di lantai arena. Dia menangis sambil memegang lengan kirinya yang menderita luka yang cukup parah.
Dia menatap pengawas turnamen sambil menahan rasa sakit di lengan kirinya.
Pengawas turnamen yang melihat itu seketika tercengang dan segera mengumumkan Qing Na sebagai pemenang.
Dia kemudian memanggil seorang tabib untuk menyembuhkan luka di tubuh Qing Han.
"Whoaaa..!!!"
Seketika sorakan penonton menjadi gila karena pertarungan Qing Na terjadi hanya dalam satu tarikan nafas.
Meskipun sikap Qing Na sangat kejam karena telah melukai Qing Han dengan parah, tetapi mereka sama sekali menghiraukannya.
Sementara itu, di tempat para tetua Klan, mereka begitu terkejut atas tindakan Qing Na.
"Bukankah dia terlalu berlebihan, mereka berdua adalah sesama murid Kan Qing, bagaimana dia bisa begitu kejam dengan melukai sesama murid Klannya sendiri.." ucap salah satu tetua tidak senang dengan sikap yang Qing Na tunjukkan di atas arena.
"Haha, tidak perlu marah seperti itu saudara. Qing Na masihlah seorang anak-anak, dia mungkin masih belum dapat mengendalikan emosinya dengan baik." sahut salah satu tetua yang tidak lain adalah kakek dari Qing Na.
"Hmph..."
***
Setelah mengalahkan Qing Han dalam satu serangan, Qing Na segera turun dari arena dan berjalan ke ruang tunggu.
Sesaat, dia memberi Qing Chen tatapan penuh dengan niat permusuhan.
"Jadi Kakak—.." Qing Chen berhenti berbicara, ia mendongak ke depan dan melihat bahwa Qing Na sedang melihatnya dengan penuh kebencian.
"Kenapa dia? apakah aku pernah berselisih dengannya?" pikir Qing Chen dalam hati, dalam ingatan pemilik tubuh sebelumnya, ia tidak pernah sekalipun bertemu dengan Qing Na.
Qing Chen hanya pernah mendengar namanya beberapa kali karena dia adalah salah satu jenius dari Klan Qing.
"Seharusnya aku tidak memiliki permusuhan dengannya tetapi kenapa dia terlihat sangat marah padaku?" Qing Chen merenung dan tidak menemukan jawaban yang tepat.
__ADS_1
"Ada apa Chenchen?" ucap Qing Xin ketika melihat adiknya melamun.
"Ah.." Qing Chen tersadar dari lamunannya dan membalas Qing Xin dengan tersenyum, "Tidak ada apa-apa kak.."
Pada akhirnya Qing Chen mengabaikan tatapan kebencian dari Qing Na dan terus berbicara dengan kakaknya.
Lima orang yang tersisa di berikan waktu setengah jam untuk beristirahat. Setelah setengah jam berlalu, babak ketiga akan segera di mulai.
Tepat setelah setengah berlalu, pengawas turnamen kemudian memanggil kelima peserta untuk naik ke atas arena.
Karena Qing Yeyuo sebelumnya terluka cukup serius, dia tidak bisa melanjutkan pertarungan dan mendapatkan posisi kelima.
Karena saat ini di atas arena hanya tersisa empat orang, pemimpin turnamen mulai mengumumkan 4 nama...
Qing Chen Vs Qing Xin.
Qing Na Vs Qing Shan.
Di arena, Qing Chen dan Qing Xin sangat terkejut. Mereka kemudian saling memandang satu sama lain untuk beberapa waktu.
Qing Xin kemudian mengangkat tangannya dan berkata pada pengawas turnamen bahwa ia telah menyerah.
Qing Chen mengerutkan keningnya dan menatap kakaknya dengan tajam.
"Kakak.. kenapa kamu... Ssshh!!" sebuah jari yang lembut menempel di mulutnya, itu membuatnya berhenti berbicaralah lebih lanjut.
"Ini hadiah dari kakakmu, kakak berharap kamu dapat memberikan pelajaran untuk si bajingan busuk itu."
Orang yang di maksud Qing Xin sebagai bajingan busuk tidak lain adalah Qing Na.
Karena Qing Xin menyerah, pengawas turnamen segera mengumumkan Qing Chen sebagai pemenangnya dan maju ke pertandingan selanjutnya.
Sedangkan di arena pertama, Qing Shan dihajar habis-habisan dengan bekas memar di sekujur tubuhnya.
Meski sudah menghajar Qing Shan sampai seperti itu, jejak api amarah di hati Qing Na tidak menghilang begitu saja.
Dia kemudian kembali memukul Qing Shan dengan kejam tanpa memberikan kesempatan baginya untuk bernafas.
Pengawas turnamen yang melihat Qing Shan tidak dapat bertahan lebih lama lagi segera menghentikan tindakan dari Qing Na daman mengumumkan bahwa Qing Na melanjut di pertandingan berikutnya.
Setelah berselang beberapa menit berlalu, Akhirnya ... Pertandingan yang ditunggu semua orang akan segera dimulai, perebutan juara satu.
Pengawas arena melihat bahwa Qing Chen dan Qing Na saat ini masih dalam kondisi puncaknya, dia tidak menunda pertandingan lebih lama lagi dan memulai pertandingan terakhir dari Turnamen Klan.
"Qing Chen dan Qing Na, kalian berdua segera naik keatas arena!".
Mendengar suara keras dari pengawas turnamen, mereka berdua segera naik ke atas Arena. Qing Chen berdiri dengan wajah tenang sambil membawa sebilah pedang hitam besar di punggungnya.
Sementara itu, Qing Na masih memiliki jejak amarah dalam hatinya. Dia berdiri tegak sambil membawa pedang panjang satu tangan di tangan kanannya.
"Kalian berdua siap?" Pengawas turnamen bertanya sambil melirik Qing Chen dan Qing Na.
Dengan anggukan mereka berdua, pertandingan terakhir segera dimulai.
__ADS_1
Segera saat wasit mengumumkan dimulainya pertandingan, amarah di hati Qing Na segera meledak-ledak.
"Kau hanya seorang sampah, bahakan jika kau saat ini berhasil menerobos ke lapisan ke-delapan, apakah itu penting?... Sampah tetaplah sampah!!." Qing Na berteriak sembari mencibir, dia kemudian segera melompat tinggi di udara dan mengayunkan pedangnya kearah Qing Chen.
Qing Na mengalirkan Qi kedalam pedangnya dan seketika membuat pedangnya mengeluarkan kilatan cahaya.
"Hiaaa..."
Qing Chen juga tidak tinggal diam di sana, ia mengambil pedang besar yang berada di punggungnya.. Ketika dia mencoba mengambil pedang dari punggungnya, otot-ototnya segera berkontraksi.
Qing Chen kemudian mengangkat 0ednag api hitam untuk menghadang serangan dari Qing Na.
Dentang!!
Suara benturan besi terdengar jelas di telinga para penonton di tribun dan juga para tetua. Di atas arena, Qing Na mundur beberapa langkah hingga setelah langkah kesepuluh, di berhasil mendapatkan kembali keseimbangannya.
"Uhh,..." Dia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, dia memandang Qing Chen dengan kerutan di wajahnya.
"Sial aku tidak percaya ini!! 36 tebasan beruntun.."
Qing Na mengayunkan pedangnya sambil mengeluarkan salah satu teknik dari Klan Qing yang hanya di ajarkan ketika orang itu berhasil memasuki ranah Alam Bawaan.
Segera, di belakang Qing Na terbentuk 36 tebasan pedang berwarna putih menyala. Qing Na segera mengendalikan ke 36 pedang itu untuk menyerang Qing Chen secara bersamaan.
Qing Chen tetap fokus ke depan, melihat 36 tebasan pedang yang mengarah pada dirinya, ia segera menghindari serangan itu dan membalas dengan sebuah tebasan pedang yang lain.
"Untuk saat ini aku masih belum dapat mengendalikan kekuatan asli dari pedang api hitam, aku hanya dapat mengunakan pedang ini sama seperti pedang biasa." gumam Qing Chen pelan, ia memandang Qing Na dan menerjang maju.
"Tch.. Siall!!" Qing Na berdecak kesal, ia sangat yakin bahwa serangan barusan setidaknya dapat melukai Qing Chen cukup serius.
Tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa Qing Chen dapat menghindarinya dengan mudah, tapi ada satu hal yang Qing Na sadari.. Yaitu kekutan serangannya masih berada di tingkat yang lebih tinggi dari Qing Chen.
"Heh, berani menyerang maju secara terang-terangan? bahkan membiarkan pertahananmu terbuka, maka rasakanlah ini!!"
Qing Na juga menerjang maju, tepat ketika jarak diantara mereka cukup dekat, Qing Na mengeluarkan seringai jahat.. Ia tiba-tiba melompat dan menyerang bagian punggung Qing Chen yang terbuka lebar.
"Matilah!!!" Teriaknya dingin.
"Heh.." Qing Chen mengeluarkan seringai dingin di wajahnya.
tubuhnya tiba-tiba berhenti berhenti bergerak, dia mengumpulkan seluruh kekuatannya di kedua kaki sedangkan Qi miliknya terkumpul di lengan yang menggenggam Pedang Api Hitam.
Duarr!!
Lantai arena meledak menimbulkan sebuah asap debu yang begitu tebal dan mengelilingi seluruh arena.
Di tempat para tetua, mereka begitu kagum melihat bahwa Qing Chen yang hanya berada di lapisan ke-delapan ranah perbaikan dapat bertarung dengan imbang melawan Qing Na.
Jika Qing Chen buka. seorang jenius, lalu sebutan apa yang tepat untuknya?
Itu adalah ... seorang monster!!
***
__ADS_1
To be continued.