Perjalanan Kembali Kaisar Abadi

Perjalanan Kembali Kaisar Abadi
Berakhirnya Turnamen Klan


__ADS_3

Tepat ketika asap yang berada di dalam arena pertandingan menghilang sepenuhnya, terlihat sosok Qing Na berlutut dengan sedikit noda darah di bibirnya.


"Urghhh... Uhuk..." Qing Na batuk untuk beberapa kali, matanya menatap tajam ke depan dan melihat Qing Chen sama sekali tidak terluka.


"Bagaimana bisa!!.." Qing Na tercengang sambil menatap Qing Chen dengan ekspresi wajahnya membeku.


Dia sangat yakin bahwa dalam bentrokan tadi Qing Chen setidaknya terluka parah. Tapi, apa yang di lihat tidak seperti yang dia bayangkan.


Qing Chen saat ini sedang berdiri tegak sambil menatap nya dengan seringai lebar di wajahnya.


"Aku tidak percaya ini.. sial!!.." Qing Na kembali bangkit dan mengambil pedangnya yang tergeletak di lantai arena,


Pedang itu tergeletak tidak jauh dari tempat ia berada.


Swosshh!!..


Sebelum Qing Na dapat mengambil pedangnya, Qing Chen sudah terlebih dahulu menyerangnya dengan pedang Qi.


Slashhh!!!


"Arghhh... Lenganku..." Qing Na meronta-ronta sambil menjerit keras di atas arena.


Lengan kanannya yang terkena serangan Zhukai menembus ke dalam tulang nya dan membuatnya menjerit dengan keras.


Mata setiap penonton dan tetua Klan Qing memandang kearah arena tanpa berkedip.


Pemandangan di atas arena benar-benar membuat mereka tercenggang tidak percaya.


"Apa yang baru saja aku lihat? Bukankah Qing Chen hanya seorang Kultivator lapisan ke-delapan dari Realm perbaikan. Bagaimana dia bisa melukai Qing Na dengan begitu parah." Ujar salah satu penonton tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.


Sementara itu, di sebuah bangunan tempat para tetua berada, seorang tetua mengeluarkan niat membunuh ya g begitu besar kepada Qing Chen yang berdiri di atas arena.


Menyadari adanya niat membunuh dari seseorang, Qing Chen sedikit melirik kemudian menyeringai kecil.


Dia kemudian mengangkat pedang api hitam ke atas dan mengayunkan kebawah. Semua orang bisa melihat dengan jelas bahwa Qing Chen saat ini berniat untuk menebas dari satu lengan Qing Na.


"Berhenti!!..." Teriakan keras terdengar dari bangunan tempat para tetua berada.


Siluet berwarna hitam segera melesat menuju ke arena dengan aura yang begitu mendominasi darinya.


Krakkk!!


Lantai arena retak tepat setelah siluet hitam itu jatuh. Dia menatap Qing Chen dengan penuh amarah sambil melepaskan niat membunuhnya.


"Kau bocah sialan!! apakah tidak cukup membuat salah satu lengan cucuku terluka! Dan kau masih berani menebas salah satu lengannya, apakah kau tidak menempatkan aku di matamu sebagai seorang tetua!!.."

__ADS_1


Pria tua yang berteriak pada Qing Chen adalah salah satu tetua Klan Qing, dia adalah kakek dari Qing Na, Qing Zhu.


"Hmm." Kai menatap Qing Zhu dingin, dia menghela nafas kemudian membuka mulutnya.


"Siapa kau? Bukankah di peraturan tertulis jelas bahwa sebelum musuh menyerah atau tidak sadarkan diri aku masih boleh menyerangnya? Atau apakah tetua kau ingin merubah peraturan turnamen?" Qing Chen tersenyum licik sambil menaruh kembali pedang api hitam di belakang punggungnya.


"Ya dia benar!! Apa hak mu sebagai tetua untuk mengubah aturan turnamen!! ... Peraturan turnamen telah ditetapkan oleh Patriak terdahulu ... Siapa kau hingga berani mengubah aturan tersebut.." salah satu penonton berteriak marah dengan tindakan yang Qing Zhu tunjukkan sebagai seorang tetua.


"Ya dia benar!!..."


"..."


Hampir setiap penonton yang ada mendukung apa yang Qing Chen katakan. Sementara itu, Qing Zhu menoleh dan menatap Qing Chen dengan niat penuh permusuhan.


Dia tidak memperdulikan apa yang dikatakan setiap orang dan segera pergi meninggalkan arena sambil membawa Qing Na bersamanya.


"K–Kakek... Tapi aku tidak bisa menyerah disini, bagaimana dengan reputasi ku nanti.." Qing Na berkata dengan suara pelan.


Terlihat jelas bahwa dia saat ini sedang berusaha keras untuk mempertahankan kesadarannya.


"Diamlah!! Kau sudah dikalahkan olehnya dengan sangat memalukan. Kita akan membalas dendam padanya lain kali.."


Setelah Qing Zhu dan cucunya meninggalkan arena pertarungan, pemimpin turnamen segera mengumumkan Qing Chen sebagai pemenangnya.


"Karena Qing Na telah meninggalkan arena pertarungan. Juara pertama dalam turnamen Klan kali ini diraih oleh kuda hitam kita ... Qing Chen!!..."


Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Klan Qing– Tidak, dalam sejarah Alam Fana! Seorang sampah dari Klan Qing yang tidak bisa berkultivasi saat ini berhasil mengalahkan jenius Klan dengan perbedaan ranah yang cukup besar.


Kabar ini pasti akan menyebar luas ke seluruh benua barat dari Alam Fana.


"Sial, Pertandingan tadi sangat luar biasa, tak kusangka seseorang yang di anggap sampah ternyata adalah seorang jenius.. Bahkan Qing Na yang berada Lapisan ke-dua Alam Bawaan akan kalah darinya..."


"Kau benar, mulai hari ini.. Nama Qing Chen akan terkenal di seluruh Kota Hitam.."


Di atas arena pertarungan, Qing Chen mengabaikan sorakan semua orang dan memutuskan pergi ke ruang tunggu untuk menjemput kakaknya.


"Kakak ayo cari makan.." Qing Chen mengulurkan tangannya untuk membantu kakaknya berdiri.


"Tapi, tidakkah kamu ingin menerima hadiah mu terlebih dulu sebelum pergi mencari makan?" Qing Xin mengatakannya dengan sedikit ragu-ragu.


"Hmm, aku bisa mengambilnya nanti.. Apakah kakak saat ini tidak merasa lapar?" Qing Chen sama sekali tidak peduli dengan hadiah itu.


Tujuan dia mengikuti Turnamen Klan Qing adalah karena janji ayahnya untuk membiarkannya meninggalkan Klan Qing.


Jika Qing Chen terus menetap di dalam Klan Qing, itu akan mempengaruhi perkembangannya di masa depan.

__ADS_1


Dapat diketahui bahwa Kota Hitam adalah sebuah Kota kecil yang berada di Kekaisaran Kiga, dan tidak banyak sumber daya langka yang tersedia disana.


Dalam kehidupan sebelumnya, Qing Chen pernah suatu kali mendirikan sebuah Sekte untuk tempat tinggal para muridnya.


Dia tidak tahu apakah sekte itu masih ada, jika dia bisa mendapatkan herbal dan juga pil langka yang berada di Sekte itu, perkembangannya akan semakin cepat lebih dari yang dia duga.


Qing Xin menerima ajakan makan adiknya dengan sebuah anggukan. Dia dan Qing Chen segera pergi meninggalkan ruang tunggu untuk pergi ke restoran terkenal di Kota Hitam.


Melihat sosok Qing Chen yang pergi meninggalkan Arena tanpa sepatah kata pun, semua orang yang berada di dalam sana tidak dapat menahan diri untuk mengerutkan kening.


"Apa yang dia lakukan? Apakah dia tidak menginginkan hadiah Turnamennya?" Salah seorang penonton berkata.


"Entahlah, apakah dia idiot. Jika memang tidak menginginkan hadiahnya sebaiknya berikan saja padaku.."


Di bangunan tempat para tetua berada Qing Yun hanya menghela nafas melihat sosok anaknya pergi meninggalkan arena bersama Qing Xin.


"Kurasa aku juga akan pamit terlebih dulu..." Qing Yun berdiri dari kursinya dan sebelum pergi, dia memberi hormat kepada Qing Wutian.


"Tunggu..."


"Ada apa ayah?.." Qing Yun terhenti dan segera berbalik.


"Temui aku di ruangan ku bersama putramu nanti malam. Aku ingin memberi tahu kau dan anakmu sebuah informasi penting.."


Dengan begitu, Qing Wutian segera bangkit dan meninggalkan Arena tanpa sepatah katapun lagi.


Sementara itu, Wasit menjadi bingung tentang pemberian hadiah untuk peringkat satu sampai lima. Biasanya hadiah akan diberikan sepuluh menit setelah Turnamen berakhir, tetapi Qing Chen seolah tidak peduli tentang hadiah turnamen dan itu membuat semua orang bingung.


"Karena sang peringkat pertama pergi, Mala pemberian hadiah akan di lakukan sore nanti.." Ucap Pemimpin turnamen pada setiap orang.


Dengan begitu, SE tetua beserta semua penonton pergi meninggalkan Arena pertarungan dan membuat arena itu begitu sepi.


Tepat ketika sore hari menjelang, Peringkat lima teratas berkumpul di atas panggung.


Peringkat pertama : Qing Chen.


Peringkat Ke-dua : Qing Na.


Peringkat Ke-tiga : Qing Xin.


Peringkat Ke-empat : Qing Shan.


Peringkat Ke-lima : Qing Yeyuo


***

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2