
Siang itu Shin dan Luna sudah menginjakkan kaki di bandara utama Selandia Baru. Keduanya membawa barangnya sendiri-sendiri. Tidak seperti biasa, Luna memakai celana jins dengan kaos yang dibalut jaket biru, ia juga mengenakan topi, dan memakai sepatu kets. Di kanan kirinya, berdiri dua koper besar, tak lupa satu tas selempang kecil. Sedang Shin seperti biasanya. Ia memakai kaos dan celana jins lalu hanya membawa satu tas ransel besar. Sebenarnya mereka tampak serasi dengan pakaian yang mirip itu.
“Bukankah tadi kamu berangkat dengan pakaian rapi?” Shin heran melihat Luna yang tiba-tiba berganti kostum. ini pertama kalinya Shin melihat Luna berpakaian seperti itu.
“Aku lebih nyaman begini.” Luna mulai melangkah keluar. Ia tidak menoleh sedikit pun ke arah Shin.
“Kau serius berpakaian seperti ini? Tampak aneh melihatnya! Seperti pertama kali!” Shin mulai menertawakan Luna. Ia mengikuti langkah wanita itu.
“Ini memang pertama kali.” Luna menjawab datar. Shin menutup mulutnya. Wanita itu tidak bisa diajak bercanda.
Begitu sampai di pintu keluar, Luna memanggil taksi. Melihat hal itu Shin dengan segera menarik tangan Luna.
“Sudah ada mobil yang disewa untuk menjemput kita. Kau tidak tahu?” Shin pikir perlu memberitahu Luna.
“Kita akan berpisah mulai dari sini dan bertemu di hari kepulangan.” Luna berkata sambil tersenyum. Seakan sudah merencanakan ini sebelumnya.
“Apa?!” Shin tidak mengerti. Ini terlalu mendadak.
“Bukankah akan lebih nyaman jika kita berpisah di sini? Kita tidak perlu mengkhawatirkan satu sama lain.” Luna tersenyum. Ia tampak memberi tawaran yang bagus.
“Apa Kau sudah pernah ke sini sebelumnya?” Shin mencurigai Luna. Ia tampak tidak takut sama sekali di tempat yang asing.
“Belum. Ini pertama kalinya. Aku hanya merasa sebaiknya ...”
“Kalau begitu kita tidak boleh berpisah di sini.” Shin memutuskan sebelum Luna menyelesaikan kalimatnya. “Kita harus memastikan satu sama lain. Mengantisipasi jika nanti orangtua kita menelpon.” Shin menyampaikan alasannya.
Luna termenung sejenak mendengar perkataan Shin dan akhirnya menyetujuinya. Mereka kemudian menaiki mobil yang telah dipesan untuk menjemput keduanya. Di sepanjang perjalanan ke hotel keduanya kembali berdebat.
“Bukankah kau terlalu gegabah? Ini tidak seperti dirimu!” Shin mencoba memperingati Luna.
“Aku hanya mengikuti kesepakatan kita. Kita tidak saling ikut campur urusan satu sama lain. Dan saat ini kita bisa bebas ke mana saja. Itu seharusnya membuatmu nyaman.” Luna membela diri. “Dan lagi, jangan mengatakan itu bukan seperti diriku. Kau tidak mengenalku cukup jauh untuk bisa bicara begitu!” Luna balik mengingatkan.
“Jika seperti ini, semua tidak akan berjalan baik.” Shin mencoba mencari pembenaran. “Kita perjelas saja! Di sini kita bekerjasama satu sama lain! Itu artinya, jangan bertindak apapun tanpa sepengetahuan satu sama lain yang nantinya akan menyusahkan satu sama lain! Dan satu sama lain harus memastikan satu sama lain karena kita sedang bekerjasama!” Shin menekanka kata ‘satu sama lain’ dan mengucapkannya berkali-kali.
“Kau terus-terusan mengatakan ‘satu sama lain’. Kurasa kemapuan bahasamu buruk.” Luna tertawa mendengar kata-kata Shin.
“Kau tertawa?” Shin menyeringai, “Aku memang sengaja melucu.” Ia membela diri. Sebenarnya perkataan Luna tentang kemampuan bahasa Shin benar.
“Lalu bagaimana dengan tidak ikut campur urusan masing-masing? Bukankah itu artinya kita tidak harus saling bertukar info tentang kehidupan kita?” Luna mulai bertanya. Ia juga ingin memperjelas kesepakatan awal mereka.
“Itu artinya kita tidak perlu saling mengkhawatirkan. Jika terjadi sesuatu yang buruk di antara kita yang lain tidak perlu menangis. Jika ada hal baik, kita tidak harus tertawa bersama. Kita tidak perlu merasa memiliki karena kita hanya menikah ...” Belum lengkap Shin berucap, Luna segera menutup mulut Shin. Luna memberi kode dengan matanya ke arah sopir. Sedari tadi sopir itu mendengar percakapan keduanya. Ia bisa saja menyebar berita jika tahu Shin dan Luna hanya menikah untuk sementara. Shin menangkap pesan Luna dan menutup mulutnya rapat-rapat.
“Baiklah aku mengerti.” Luna mengagguk. Dia sama sekali tidak menyanggah perkataan Shin.
Sesampainya di lobi hotel, Shin meminta kamar tambahan. Sayangnya kebetulan semua kamar di hotel itu telah terisi dan orangtua Shin telah menyiapkan kamar termahal di hotel itu khusus untuk keduanya. Mau tidak mau , malam ini mereka akan tidur di ruang yang sama.
Ruangan hotel itu cukup luas. Terdapat satu kasur berukuran queen, satu ruangan untuk sofa panjang dengan meja di depan televisi yang lebar, kamar mandi yang cukup luas juga, dan pemandangan yang indah di depan beranda kamar itu.
“Jawablah dengan jujur, apa alasanmu memilih tempat ini untuk berlibur? Kenapa bukan di paris? Eropa? Atau sekitarnya? Kau tampak seperti orang yang suka bekerja, jadi aku kira kau akan suka dengan tempat-tempat yang biasa kau kunjungi. Bukankah begitu?” Shin duduk di atas sofa dan kembali membahas hal ini. ia masih penasaran dan karena tidak punya topik lain untuk dibahas.
“Aku hanya tidak suka dibuntuti.”
“Eh?” Shin memastikan ia tidak salah dengar.
“Ibuku biasa menyewa orang untuk mengikutiku kemana pun. Ia tidak pernah membiarkanku lepas dari pengawasannya. Ia selalu begitu.” Luna berkata santai seakan itu hal yang wajar didengar.
“Benarkah?” itu fakta yang mengejutkan untuk Shin. Ia tidak berani bertanya lebih jauh. Ia takut menyinggung perasaan Luna.
“Aku akan meminta makan malamnya dikirim ke kamar saja. Aku mendengar mereka menyiapkan makan malam khusus di bawah, tapi aku rasa kita berdua terlalu lelah.” Shin mengganti topic perbincangan. Ia mengambil gagang telepon hotel dan menekan nomor. Sementara itu Luna berdiri sejak tadi di beranda hotel memandangi sekitarnya.
“Bisakah kita tinggal di tempat yang lebih sepi dan jauh dari banyak orang?” Tiba-tiba saja Luna bertanya. Ia menengok ke arah Shin.
__ADS_1
“Apa?” Shin yang baru saja menutup telepon mebelalakan mata. Permintaan aneh macam apa lagi ini?
“Aku ingin pergi ke tempat di mana tidak ada orang lain yang bisa mengganggu kita.” Luna memperjelas perkataannya. Tapi buat Shin itu tampak canggung dan lebih terdengar ambigu.
“Seperti?” Shin kembali bertanya dengan ragu.
“Aku dengar kita bisa menyewa vila pribadi di sini.” Luna tersenyum. Ia merasa itu ide yang bagus dibanding dengan menginap di hotel.
“Apa yang ingin kau lakukan di sana? Bukankah pemikiranmu terlalu jauh? Yang aku maksud dengan kerjasama bukan semacam ini.” Shin membuat pemikiran yang aneh. Jelas mereka bukan seperti pasangan pada umumnya. Shin hanya perlu tinggal di sini untuk beberapa waktu bersama Luna dan kembali dengan tenang. Ia tidak berpikir bahwa ini benar-benar honeymoon. Apa Luna benar-benar menganggap ini honeymoon?
“Aku hanya merasa tidak tenang di sini. Bagiku masih terlalu ribut. Aku juga masih merasa mungkin salah satu dari orang-orang yang lalu lalang di sekitar kita adalah suruhan ibuku. Dia mungkin saja melakukan hal sejauh ini. Itu membuatku tidak tenang.” Luna menjelaskan. “Jika kau keberatan dengan permintaanku, maka aku bisa tinggal di vila itu sendiri. Itu yang ingin aku rencanakan sejak awal. Aku tidak akan memaksamu ikut.” Ia melanjutkan.
Shin tampak bodoh. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Akhirnya dia paham mengapa Luna memilih Selandia Baru. Ia ingin pergi sangat jauh dari ibunya. Ia bahkan tidak ingin bertemu dengan siapa pun. “Tentu saja aku akan ikut. Kita harus memastikan keadaan masing-masing sebagai tim.” Shin meyakinkan.
“Tim?” Sekarang sebutan mereka adalah tim. Itu terdengar sedikit aneh di telinga Luna. Ia tersenyum.
Malam itu mereka menghabiskan malam di hotel. Tentu saja Luna menempati kasurnya dan Shin tidur di atas sofa. Ia sama sekali tidak merasa keberatan. Sampai pagi tiba mereka segera menjadwal ulang kegiatan mereka di Selandia Baru dan menyewa sebuah vila yang jauh dari keramaian. Tak lupa Shin menyewa mobil pribadi. dan perjalanan mereka berdua di Selandia Baru di mulai. Hanya mereka berdua.
“Apa?! Tidak ada sinyal di sini?!”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?!”
“Jika kau ingin menelpon seseorang atau ingin mencari sesuatu kau bisa pergi ke pemukiman dekat sini. Hanya butuh waktu tiga puluh menit ke sana.” Luna menjelaskan.
“Tiga puluh menit?!” Shin tiba-tiba lemas. Ia bahkan tidak bisa menelpon di vila itu. Tapi Luna tampak sangat tenang dan santai. Memang benar semua ini dari awal adalah rencana Luna. Sejak ia merencanakan pergi ke Selandia Baru, ia sudah berencana untuk hidup sendirian untuk satu pekan. Luna merencanakan banyak hal, dan Shin sama sekali tidak mengetahuinya. Ia baru tahu setelah semua terjadi. Ini di luar harapannya.
“Katakan padaku semua rencanamu ke depan!” Shin menghampiri Luna yang sedang asyik mengeluarkan barang-barangnya dari koper.
“Oh benar, sekarang kita adalah tim.” Luna berkata sambil tersenyum. Tampaknya ia cukup senang berada di sini. Entah mengapa Shin menjadi sebal mendengar Luna mengatakan ’tim’.
“Aku akan melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Pertama, aku akan tidur seharian, kedua aku akan naik sepeda mengililingi tempat-tempat yang indah di sini, ketiga, aku akan mendirikan kemah dan membaca novel seharian, keempat aku akan menonton film seharian, kelima ... mungkin aku akan melakukan salah satu hal semacam itu lagi.” Luna berkata antusias. Ia tidak pernah terlihat sesenang itu sebelumnya. Tanpa disadari Shin merasa lega. Ia merasa sedikit lega hanya dengan mendengar antusiasme Luna.
“Bisakah kau menceritakan lebih banyak tentangmu?” Shin bertanya lagi. Karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan dan hanya ada Luna yang ada bersamanya sekarang. Ia ingin tahu lebih banyak tentang wanita itu.
“Aku? Kenapa kau ingin tahu?” Luna balik bertanya heran. Ia tidak pernah menanyakan apapun kepada Shin tentang kehidupan pribadinya, tapi sepertinya Shin selalu ingin mengorek hal tentangnya.
“Kau ingat, kita adalah tim!” Shin merespon cepat. Ia tidak ingin Luna berpikir macam-macam tentang dirinya.
“Ide bagus!” Luna menutup kopernya dan duduk di samping Shin. Ia menatap Shin dengan mata berbinar.
“Ke-na-pa? Ada apa?” Shin terkejut melihat Luna mendadak menghampirinya. Ia benar-benar bingung.
“Bagaimana kalau kita bermain truth or dare?” Luna tampak antusias.
“Apa? Kau ingin bermain truth or dare denganku?” Shin menatap Luna heran. Wanita itu mengangguk.
“Baiklah.” Shin terdiam sejenak lalu mengiyakan. Ia tidak bisa menolak semua permintaan Luna. Ini juga bagian dari kesepakatan bahwa ia akan memperlakukan Luna dengan baik. Hanya untuk sampai genap tiga bulan pernikahan mereka. Shin akan menepati janjinya.
“Oke. Jadi permainannya seperti ini. Kita akan bergantian saling bertanya. Jika kau tidak bisa menjawab pertanyaannya berarti kau harus dihukum atau melakukan tantangan.”
“Apa tantangan dan pertanyaannya sudah ditetapkan di awal?”
“Haruskah kita menggunakan kocokan?”
“Kau sudah menyiapkan kocokan?”
“Aku membawa kertas dan pena.” Luna mengambil barang yang di maksud lalu kembali ke tempatnya. “Tuliskan beberapa tantangan dan masukkan ke kotak ini.” Luna memberi arahan.
“Baiklah”
__ADS_1
Permainan pun dimulai.
“Baik, jadi kita harus mengambil kocokan lalu melempar pertanyaan.” Luna memberitahu aturan mainnya. Shin mengangguk tanpa komentar. Ia mengabil kocokan terlebih dulu lalu memberikannya pada Luna.
“Oke, di sini tertulis, ‘bergulung sepuluh kali di halaman’____ sekarang pertanyaannya adalah ... mm ... berapa usiamu sekarang?” Luna mulai bertanya.
“Apa? Apa itu pertanyaannya?.” Shin tertawa. Pertanyaan macam apa itu. “Kau tanya tentang usiaku?” Shin tidak percaya. Bagaimana mungkin Luna tidak tahu usia suaminya?
“Pilih truth or dare?” Luna tampak sebal Shin meremehkan pertanyaannya.
“Tentu saja aku akan menjawabnya. Aku berusia dua puluh empat tahun ini.” Shin tiba-tiba menyisir rambutnya dengan jari-jari. Ia bergaya. “Panggil aku kakak mulai sekarang!”
“Benarkah? Kau tampak seperti anak-anak.” Luna meledek Shin. Ia baru tahu kalau Shin dua tahun lebih tua darinya. Ia tidak memperdulikan perkataan Shin. Kini Luna ganti mengambil kocokan. Kertas semula yang diambil dimasukkan lagi ke dalam kotak.
“Tantangannya adalah ... kau harus menceburkan diri ke kolam renang.” Shin tampak senang melihat Luna terkejut begitu ia membaca kertas itu.
“Apa pertanyaannya?”
“Oke, pertanyaannya adalah ... kenapa kau mau menikah denganku? Sebutkan semua alasannya!” Shin menyukai permainan ini.
“Bukankah itu tidak adil? Aku hanya menanyaimu tentang usia, dan kau menanyaiku hal semacam ini?!” Luna protes.
“Truth or dare?” Shin tidak peduli dengan omelan Luna. Wanita itu hanya perlu memilih salah satu.
“Ibuku yang menyuruh.” Luna mejawab singkat.
“Dan kenapa kau mau? Aku dengar kau sempat menolak?” Shin belum mendapatkan poinnya. Ia masih penasaran. Pasti ada hal lain.
“Itu karena Ibumu sangat baik kepadaku. Dan juga karena saat aku bersamamu, ibuku tidak lagi mengawasiku. Aku merasa lebih bebas dan lebih baik.” Luna menjawab jujur. Mendegar hal itu, Shin jadi mengerti kenapa Luna hanya memintanya untuk bersikap baik dalam kesepakatan mereka. Ia mulai mengerti bahwa hubungan Luna dan Ibunya tidak begitu baik.
“Baik sekarang giliranku bertanya. Apa yang akan kau rencanakan setelah tiga bulan kita menikah?” Luna mulai mengimbangi pertanyaan Shin. Kali ini Shin memilih tantangan. Ia harus berlari mengelilingi vila sebanyak lima kali.
“Bisakah kau menceritkan tentang luka di kakimu?” Shin ganti bertanya. Luna ingin sekali memilih tantangan, tapi itu sangat memberatkan baginya.
“Kau yang menulisnya?! Dasar mesum!!” Luna melemparkan bantal ke muka Shin. Di kertas yang ia ambil tertulis, ‘telanjang di jalanan’.
“Aku tidak bermaksud begitu! Itu hanya agar kita jujur dan tidak memilih tantangan! Aku ini juga memakai logika tahu!!” Shin mencari pembelaan diri. Luna sangat jengkel mendengarnya. Lagi-lagi Shin melihat ekspresi yang berbeda dari Luna. Ia teryata bisa ekspresif sekali.
“Tenanglah! Kau yang membuat permainan! Dan aku hanya mengikuti arahanmu saja!” Lagi-lagi Shin mencari pembenaran. Ia tampak lebih menikmati permainan itu ketimbang Luna.
“Karena kau sudah tahu lukaku, aku akan memberitahumu. Tapi awas saja kalau sampai oranglain tahu juga. Kau mengerti?!” Luna masih tampak marah. Ia menghela napas dala-dalam. semua yang Shin katakan tidak pernah terbesit dipikirannya. Ia tidak tahu kalau pria itu begitu ingin tahu kehidupan pribadinya.
“Aku menginjak serpihan-serpihan kaca saat usiaku lima tahun. Dan luka di ujung kakiku karena terlalu sering memakai hak tinggi.” Luna menjawab seadanya. Ia tidak mau banyak bicara.
“Kau yakin?” Shin tidak mengharapkan jawaban simpel seperti itu. “Itu tidak menceritakan semuanya, kau menutupi luka itu dan merahasiakannya dari orang lain. Pasti ada hal lain.”
“Itu seperti trauma. Sebaiknya kau tidak mencoba mencari tahu lebih dalam.” Luna berkata serius. Itu pasti hal yang besar. Shin sepertinya telah melewati batas.
“Masih mau bermain?” Shin mulai bersimpati. Mungkin Luna tidak ingin lagi melanjutkan permainan.
“Tentu, ini giliranku.” Luna menyodorkan kotak kertas ke hadapan Shin. Pria itu lega. Shin kira ia telah menyakiti perasaan Luna. Tapi wanita itu tampak biasa saja.
“Kenapa kau membenci ibu tirimu?” Luna melempar pertanyaannya.”Aku harap kau menjawabnya jujur.” Ia melanjutkan.
Shin berpikir sejenak. Ia ingin mengambil dare, tapi itu akan tidak adil untuk Luna.
“Kau tahu? Ayahku menikah lagi belum sampai setengah tahun dari wafatnya ibu. Aku tidak menyukainya. Ia selalu sok perhatian padahal bukan ibuku. Aku hanya tidak menyukainya karena dia mirip ibuku. Aku tidak suka itu. membandingkannya membuatku ...muak.” Shin menjawab sebisanya.
“Kenapa kau membandingkannya? Kenapa kau tidak melihat dari sudut pandang lain? Wanita itu mungkin sengaja dikirim oleh ibumu dari surga untuk menggantikannya. Karena itulah mereka mirip.” Luna mencoba menghibur.
“Kau percaya hal seperti itu?” Shin pikir itu tidak masuk akal.
__ADS_1
“Terlepas dari masuk akal atau tidak, selagi itu membuat kehidupan kita lebih baik dan lebih bersyukur, itu adalah hal yang tidak perlu dipusingkan.” Mendengar jawaban dari Luna, Shin mencoba untuk mulai mengerti sedikit demi sedikit. Ia sadar telah melewatkan banyak hal selama ini.