
Shin datang ke kafe baru di dekat kantor Kevin sore itu. Ia berdiri di depan kafe itu cukup lama. Shin terdiam memandangi wanita dengan celemek hitam dan rambut terikat ekor kuda dari kaca jendela kafe itu. Nampaknya kafe itu sudah ramai saja padahal baru buka belum sampai sebulan. Ia tidak berhenti melayani pembeli sejak Shin sampai di sana. Shin sedikit merasa lega. Ia tampak baik-baik saja.
Hampir satu jam Shin berdiri di situ hingga akhirnya wanita itu menyadarinya. Ia menatap ke arah jendela dan sontak terdiam begitu melihat Shin berdiri di sana. Shin melambaikan tangan. Keduanya tersenyum.
“Hai.” Shin menyapa Hani kembali. Keduanya duduk berhadapan di salah satu meja begitu Hani menyelesakan pesanan terakhirnya.
“Hai juga. Sudah lama..” Hani balik menyapa. Ia tersenyum simpul.
“Kau baik-baik saja kan? Bagaimana dengan ibu dan adikmu?” Shin mulai bertanya.
“Kami semua baik.” Ia kembali tersenyum.
“Syukurlah. Aku mengunjungi rumahmu begitu pulang tapi ternyata kalian sudah pindah. Aku tidak bisa menemukanmu setelahnya.” Shin mengingat lagi kejadian empat tahun yang lalu saat ia cuti semester dari kuliahnya di luar negeri.
“Kami pulang ke kampung halaman ibu setelah menjual rumah untuk membayar utang lalu tinggal di sana selama dua tahun.”
“Apa sudah ada kabar tentang ayahmu?” Shin bertanya berempati. Hani terdiam sejenak lalu mengangguk sambil tersenyum.
“Kami menemukannya.”
“Benarkah? Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja? Tidak ada hal buruk yang terjadi kan?” Shin bertanya antusias, sebenarnya setengahnya adalah khawatir. Ia berharap itu kabar baik melihat Hani taersenyum menanggapinya.
“Setelah tinggal di tempat ibu selama dua tahun itu kami mendapat kabar bahwa ayah kembali dari luar negeri. Ia mengunjungi rumah lama kami dan akhirnya menemui kami. Selama itu ia bekerja sebagai TKA.” Hani menatap Shin sambil tersenyum seolah mengatakan ‘kau tidak perlu cemas atau merasa terbebani’. “Ayah sudah kembali, kedua orangtuaku membuka rumah makan setelahnya. utang terbayar lunas, Keitaro mendapatkan beasiswa untuk sekolah impiannya, Aku disini untuk menggantikan Aili mengurus kafe. semuanya berjalan baik. ”
“Syukurlah.” Shin tertawa seakan Hani tahu Shin akan bertanya tentang hal itu. Ia telah memberitahu semua jawabannya. Kini Shin benar-benar lega.
“Aili pergi ke luar kota selama dua bulan untuk mempersiapkan tes bahasa maka dari itu dia tidak ada di sini jika kau ingin tahu.” Hani menyambung lagi perkataannya begitu melihat Shin menengok kanan kiri. Aili adalah sahabat Hani sejak kecil. Dia adalah tetangga Hani saat ia tinggal di rumahnya yang dulu, jadi Shin juga mengenalnya. Sayangnya Aili dan keluarganya pindah ke luar negeri tidak lama sebelum Hani pindah. Shin juga telah lama tidak bertemu dengannya. Mendengar perkataaan Hani, Shin kembali tersenyum.
“Kau ...”
“Aku merindukanmu.” Hani berkata lagi memotong perkataan Shin.
“Aku lebih merindukanmu. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu.” Shin menanggapi. Setelah ibunya meninggal dunia, hanya gadis itu yang bisa membuat dia tersenyum dan melewati masa SMAnya dengan baik. Gadis itu juga yang meyakinkan Shin untuk melanjutkan kuliahya di luar negeri.
“Kau selalu memikirkanku selama ini? benarkah? Apa tidak ada gadis lain? Yang benar saja ...!” Hani menatap wajah Shin sambil tersenyum lebar, ia tidak percaya Shin hanya memikirkannya selama ini. Ia berusaha menggoda Shin. Membuatnya sebagai candaan.
“Kamu tidak percaya ya? Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, kamu bilang merindukanku tapi tidak pernah menemuiku. Gini-gini aku lumayan terkenal! Tidak susah untuk mencariku sedang ada di mana.” Shin membela diri. Ia ganti menyerang gadis itu.
“Aku hanya merasa tidak pantas menemuimu bahkan bertanya tentangmu.” Hani berkata sederhana sambil tersenyum, tapi Shin menangkapnya dengan sedikit sedih.
“Aku hanyalah Shin. Kenapa bicara seperti itu? Itu malah membuatku merasa bersalah.” Shin menanggapi Hani sebisanya. Jika diingat keduanya memang sudah tujuh tahun lebih tidak bertemu dan bagi Shin keadaan dengan cepat berubah. Tidak ada kabar satu sama lain dan ini kali pertama mereka bertemu kembali.
Saat awal Shin bertemu Hani, gadis itu terlihat canggung saat keduanya bercakap. Shin bahkan yang selalu bertanya dan Hani hanya menjawab. Sampai akhirnya Shin bertanya apakah gadis itu merasa terintimidasi? Kenapa dia tidak pernah bertanya tentangnya? Barulah setelah itu Hani mulai banyak bicara. Shin sempat mengira Hani seorang yang pemalu tapi semakin mengenal gadis itu, Hani ternyata anak yang cerewet. Dan itu membuat Shin menyukainya.
Lagi-lagi Shin salah mengira tentang Hani. Wanita itu masih merasa ada jarak yang memisahkan keduanya. Dunia keduannya berbeda. Shin memiliki segalanya yang ia inginkan sedangkan Hani harus berusaha keras untuk bisa bertahan hidup. Gadis itu bahkan tidak berhak untuk mengharapkan Shin di sisinya.
Sementara itu, Brian seperti biasanya mengantarkan Luna pulang. Kali ini dia tidak akan tersesat lagi. Ia akan mengingat dengan benar rute ke rumah baru Luna.
“Besok jangan lupa menjemputku! Ok?” Luna memperingatkan Brian dengan tegas. Ia memasang muka marah tapi menurut Brian itu malah tampak lucu.
“Baik Nyonya besar ....” Brian menanggapinya sambil bercanda.
“Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu. Terima kasih.” Luna tersenyum dan berjalan meninggalkan Brian. “Ibu mengirimiku mobil baru. Kakak bisa membawanya besok.” Luna berbalik kembali bercakap dengan Brian.
“Kau tidak ingin mencoba menaikinya sendiri? Bukannya itu sama saja seperti Nyonya membelikanku mobil baru?” Brian mencoba menggoda Luna lagi.
“Kalau begitu akhir pekan kak Brian ajari aku menyetir. Bagaimana?” Luna menanggapi Brian dengan antusias. Ia tampak sungguh-sungguh.
“Aku tidak mau mengajarimu lagi! Kau hampir membunuhku waktu itu! Apa kau tidak ingat?!” Ekspresi Brian langsung berubah. Ia bahkan tidak mau mengingat kejadian itu. “Bagaimana bisa seorang yang cerdas sepertimu tidak bisa menyetir dengan baik?! Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyetir saat aku menjadi penumpangnya! Tidak akan pernah! Aku yakin sekali saat itu kau sengaja kan mau mencelakaiku?!” Brian tampak marah. Ia benar benar takut kejadian itu terulang lagi.
Brian pertama kali mengajari Luna menyetir saat gadis itu baru masuk kuliah dengan harapan gadis itu tidak harus membawa sopir ke kampus. Brian membawa Luna menyetir di jalan pinggiran pantai tidak jauh dari kota. Saat itu Luna dan Ibunya baru dua hari pulang dari Paris untuk menghadiri acara fashion di negaranya. Entah Luna masih dalam kondisi jetlag atau memang sengaja, ia dengan tiba-tiba menginjak gas dengan kencang di belokan jalan.
__ADS_1
“Injak remnya!!” Brian meneriaki Luna. Gadis itu malah menginjak gas dan melaju lurus semakin kencang.
“Reemm!!!!” Brian dengan cepat menginjak remnya dan memutar setir. Saking kagetnya Brian menginjak rem dalam dan saat bersamaan Luna mengangkat kaki dan tangannya dari kendali mobil. Mobil itu berhenti dengan sangat mendadak di belokan. Sialnya jalan yang jarang di lewati orang itu mendadak dilewati kendaraan dari sisi kanan kiri. Karena Brian berhenti mendadak di belokan, bagian belakang mobilnya meluncur menggesek aspal hampir dua meter ke jalur sebelah. mobil yang ada di sisi lainya hampir menabrak mobil yang dinaikinya. Untung saja mobil itu cepat tanggap dan berhenti sebelum menabrak mobil mereka. Sedang di sisi belakang, karena tidak tahu ada mobil yang berhenti di belokan, salah satu mobil berhasil menabrak mobil itu dan membuat sisi mobil yang ditempati Brian peyok. Ia hampir mati jika bukan karena pertolongan Tuhan. Ia hanya mendapat sedikit luka, sedangkan Luna baik-baik saja. Ia bahkan tidak tampak takut.
Di kesempatan kedua, Brian mengajari Luna di halaman rumah yang sangat luas milik keluarga kaya itu di Paris. Ia sangat yakin kali ini tidak akan ada masalah karena tidak harus di jalan raya. Tanpa dugaan lagi-lagi Luna menginjak gas dengan tiba-tiba saat Brian menyuruhnya meginjak rem.
“Rem kiri! Rem kiri!” Brian mencoba menunjukkan bagian rem pada Luna. Luna berhasil mengerem dengan baik. Tapi saat Brian mengatakan untuk menginjak gas lagi dan memutar stir ke kiri, Luna dengan cepat menginjak gas dan memutar stir dengan cepat. Itu bukan kabar baik. Luna berhasil menabrak pohon besar dan lagi-lagi Brian yang kena imbasnya. Luna dan Brian memakai alat penyangga leher setelahnya tapi Luna baik-baik saja, sedangkan Brian mengalami patah tulang. Ia melindungi Luna dengan tangannya dan berakhir seperti itu. Dan lagi wajah dan tubuh Brian terkena serpihan kaca mobil. Ia diperban di sana sini. Sejak hari itu Brian tidak pernah mengajari Luna dan Ibu Luna selalu menyuruh orang untuk mengantarkan Luna ke mana saja.
“Itu karena kau tidak mengajariku dengan benar!” Luna membela diri.
“Jadi kau benar-benar sengaja ya mencelakaiku?!”
“Aku juga mungkin celaka tahu! Kau bilang jangan pernah lagi membahas masalah ini?” Luna berkata santai.
“Kau benar,” Brian sadar dia jadi terlalu kekanak-kanakan. Ia sudah parno sendiri. Tapi tentu saja hal semacam itu membuatnya trauma.
Luna sebenarnya juga mungkin mengalami trauma, tapi dia menyembunyikannya dengan baik. Ia selalu berhasil menyembunyikan rahasianya. Jika pun Luna harus melewati masa tersulit, pasti gadis itu bisa melewatinya dengan baik. Ia selalu melakukan semuanya dengan baik.
“Masuklah!” Brian membiarkan Luna pergi.
“Hati-hati di jalan ...” Luna tersenyum dan berbalik meninggalkan Brian dan memasuki rumah.
Belum sampai Brian menaiki mobilnya, sebuah mobil mendekat. Itu Shin. Ia memarkin mobilnya dan menyapa Brian setelahnya.
“Brian?” Shin menebak.
“Benar, aku ke sini mengantar Luna.” Brian tersenyum kepada Shin. Sebenarnya ia tidak begitu suka dengan orang itu tapi mau bagaimana lagi.
“Aku tahu. Aku masuk dulu, ok?” Shin menepuk bahu Brian dua kali lalu meninggalkannya dan memasuki rumah. Ia tampak sedang gembira. Brian melihatnya dengan sebal. Ia benar-benar tidak sopan. Shin lebih muda darinya dua tahun tapi anak itu seolah bergaya seperti seumuran saja. Brian membenci orang itu. ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran ada saja orang seperti Shin.
^^^
“Ah, kau baru pulang?” Shin berbasa-basi. Tentu saja dia tahu Luna baru saja pulang setelah melihat Brian di depan rumahnya.
“Iya,” Luna tersenyum simpul sejenak lalu beranjak dari tempatnya. Ia mengambil gelas yang sedari tadi ada di meja tidak jauh darinya. Ia berjalan menuju kamarnya. Melihat Luna tidak begitu meresponnya, Shin tidak bertanya lagi. Mungkin gadis itu sedang lelah. Shin menghampiri kulkas dan melihat-lihat isinya.
“Oh ya, tadi aku bertemu ayah, dia menanyakanmu, kenapa kau tidak ke kantor?” Luna bertanya. Shin sedikit terkejut untuk kedua kalinya. Ia kira gadis itu sudah kembali ke kamarnya, ternyata belum.
“Aku ada urusan tadi di luar.” Shin menjawab seadanya. Ia mengambil sebotol air dari kulkas lalu duduk di tempat Luna tadi duduk.
“Aku tidak sedang bertanya kepadamu, Aku hanya memberitahumu.” Luna berkata datar dengan mata sayu lalu beranjak pergi. Ia tidak tampak tidak tertarik dengan jawaban Shin. Pria itu hanya terdiam melihat Luna heran.
“Aku benar-benar tidak bisa menduga wanita itu. dia benar-benar aneh.” Shin bergumam. Ia merasa tertohok dengan kata-kata wanita itu. Mood Shin yang tadinya bagus langsung berubah buruk. “Apa dia sedang mengerjaiku atau apa?!” Shin lagi-lagi bicara sendiri.
Setelah selesai minum, Shin berjalan menuju kamar mandi. Ruangannya tidak memiliki kamar mandi dalam. Ia memberikan kamar itu kepada Luna. Setelah keluar dan hendak menuju kamarnya, Shin terkejut melihat seseorang berbaring di teras belakang rumah. Dinding belakang rumah itu sebagian terbuat dari kaca jadi apa yang terhubung dengan dinding itu terlihat jelas. Shin sudah menebak itu Luna. Shin sekarang sudah tahu wanita itu agak gila dan memiliki bayak rahasia.
“Kenapa juga dia berbaring di situ?” Karena terlalu penasaran Shin menghampiri Luna. Wanita itu terlentang dengan baju tidur di teras. Ia memberi alas tikar di bawah tubuhnya. Luna memejamkan mata sambil tersenyum lebar. Sepetinya ia sedang senang meskipun beberapa saat lalu dia seperti orang frustasi di dapur. Shin memerhatikan Luna dari dinding kaca. Ia hanya melihat wanita itu dengan heran.
“Kamu sedang apa di situ?” Tiba-tiba Luna terbangun dan beranjak duduk. Ia menyadari kehadiran Shin. Pria itu tampak kaget.
“Aku?” Shin kebingungan. Dia tidak sadar sudah berdiri lama di sana. “Kamu! Kamu sendiri sedang apa?!” Shin balik bertanya kepada Luna. Wanita itu bahkan lebih aneh darinya. “Apa kau memiliki kebiasaan gila di malam hari?!” Shin kembali bertanya. Ia benar-benar heran. Ia menghampiri wanita itu dan duduk di sampinngnya.
“Aku baik-baik saja.” Luna meperbaiki posisi duduknya. Ia menjawab dengan tenang.
“Bilang saja kalau ada masalah.”
“Maaf ya yang tadi.”
“Yang mana?”
“Yang di dapur. Saat aku bilang aku tidak sedang ...”
__ADS_1
“Sudahlah jangan dibahas.”
“Aku juga bilang seperti perkataanmu tadi pada ayahmu.”
“Benarkah?”
“Iya. Jika kau tidak ada di kantor tentu saja kau ada urusan di luar.”
“Terima kasih”
“Tidak perlu berterima kasih. Itu untuk diriku sendiri sebagai seorang menantu.” Luna menoleh ke arah Shin sambil berkata datar. Kali ini Shin mengulum senyum. Ia geli mendengar tanggapan wanita itu. Ekspresi Luna yang menoleh ke aranhya dengan muka datar membuat Shin hampir tertawa.
“Kenapa kau berbaring di luar?” Shin kembali bertanya.
“Aku hanya senang.” Luna menjawab sambil tersenyum. Ia tertunduk melihat telapak kakinya yang terbuka dan penuh luka. Shin mengikuti mata Luna. Ia memerhatikan kaki wanita itu juga.
“Kau sudah tahu tentang ini jadi aku tidak merahasiakannya darimu lagi. Tapi jangan pernah tanya tentangnya.” Ia memandangi kakinya lama. Shin juga begitu. Ia mulai bertanya dalam benaknya apa yang terjadi. Bekas jahitan di telapak kaki itu mungkin saja masih perih di tambah lecet yang ada di ujung-ujung kakinya. Wanita itu tampak sengaja mencederai dirinya sendiri karena dia wanita kaya, ia bisa merawat dirinya dengan baik. Ia seharusnya mengobati luka itu.
Begitu terbesit untuk mengobati luka itu, Shin langsung teringat bahwa ia pernah memberi Luna obat. “Hei, Kau masih menyimpan obatnya?”
“Obat apa?”
“Obat yang aku belikan untuk mengobati lukamu. Di mana itu?”
“Untuk apa kau menanyakannya?”
“Yaah…tentu saja aku merasa aku harus menanyakannya. Itu obat yang paling mahal di sana, jadi aku harus memastikan kau menggunakannya.” Shin jadi salah tingkah. Entah mengapa Shin merasa terdorong untuk ikut campur urusan Luna.
“Tenang saja, aku memakainya.” Luna beranjak, ia kembali memasuki rumah tanpa berkata apapun lagi kepada Shin. Sekali lagi Shin bergumam, “gadis yang aneh.”
Belum juga matahari terbit, Luna sudah sibuk memasak di dapur. Ia menyiapkan sarapan pagi sekaligus membuat bekal untuk makan siang. Suaranya berisik sekali sampai membangunkan Shin yang masih tertidur di kamarnya. Ia terpaksa bangun dan meihat apa yang terjadi.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Shin melihat dapur tampak berantakan. Peralatan masak dan bahan-bahan makanan berserakan di atas meja dapur dari ujung ke ujung. Mata Shin yang semula sayup-sayup kini terbelalak melihatnya.
“Aku sedang memasak.” Luna menjawab singkat. Ia terlalu sibuk untuk menaggapi Shin.
“Apa kau benar-benar bisa memasak?!” Shin mengangkat alis, antara percaya tidak percaya. Dilihat dari dapur yang berantakan seperti itu, Shin sulit memercayai Luna bisa memasak.
“Tentu saja, aku sudah belajar dari ibumu.” Masakan Luna telah siap, ia membawa beberapa piring ke meja makan lalu kembali untuk membereskan bekas masaknya. Shin mengamati makanan yang ada di atas meja. Tanpa diminta ia duduk di hadapan piring-piring itu.
Tidak berselang lama Luna telah membereskan semua kekacauannya. Dapur itu kembali bersih. Ia kemudian menghampiri meja makan.
“Waah… kau benar-benar orang yang bertanggung jawab!” Shin memberikan jempol kepada Luna sambil tersenyum setelah melihat dapur kembali seperti semula. Ia lupa mukanya masih seperti orang bangun tidur. Ia juga tampak berantakan.
“Sebaiknya kau mencuci mukamu dulu agar bisa menjadi orang yang bertanggung jawab juga.” Luna memberi saran. Kini keduanya duduk berhadapan.
“Aku akan mencuci muka setelah makan.” Shin berkata girang. Sepertinya makanan buatan Luna tidak buruk.
Luna membuat nasi goring dengan banyak sayuran dan daging. Ia juga tidak lupa membuat telur gulung. Dengan segera Shin mengambil sendok dan menarik piring yang ada di hadapannya.
“Aku membuatnya untuk diriku sendiri.” Luna menarik piring yang ada di hadapan Shin. Pria itu hampir menyendok makananan di hadapannya. Ia terhenti begitu Luna memberitahunya.
“Oh,” Shin bergumam. Ia benar-benar salah sangka.
“Aku pikir kita tidak menyepakati tentang hal ini. seingatku kita mengurus diri kita masing-masing.” Luna berkata datar. Ia mulai menyendok makanannya dan Shin masih terbengong di depannya seperti orang bodoh. Sepertinya ia masih ngelindur.
“Bukankah kau membuatnya terlalu banyak?” Shin mencari pembelaan diri. Ia masih berharap mendapatkan sarapan. Luna terdiam sejenak lalu mengangguk seakan menyetujui perkataan Shin.
“Aku akan membawa sisanya ke kantor.” Luna menjawab. Mendengar hal itu, Shin hanya ber-oh. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi lalu kembali ke kamarnya.
^^^^
__ADS_1