Pernikahan Kita

Pernikahan Kita
Awal Pernikahan


__ADS_3

“Tentu saja aku akan datang. Yah walaupun kau tidak sungguh-sungguh menikah. Fake marriage?”


“Kau gila ya!”


“Iya-iya maaf. Masih lusa kan pernikahannya? Aku akan membawakannya besok.”


“Awas saja kalau kau sampai lupa!”


“Iya tenang aja.”


Kevin menutup teleponnya. Ia keluar dari sebuah kafe sambil membawa satu cup kopi panas. Pagi itu matahari sangat terik. Ia berjalan di bawah teri itu menuju ke kantornya. Tempat ia menghsilkan karyanya.


Di tengah perjalanan, Kevin melihat sebuah kafe yang baru saja buka. bukan baru dibuka pagi ini, tapi itu benar-benar baru dibuka. Sebelumnya tempat itu digunakan sebagai toko oleh-oleh. Beberapa hari yang lalu tempat usaha itu menutup tokonya dan kini berganti menjadi sebuah kafe . Dengan sedikit rasa penasaran, Kevin mendatangi kafe itu. Dilihatnya seorang wanita dengan celemek sedang mengelap meja. Begitu melihat wanita itu menengok, mata Kevin membelalak kaget.


Di tempat lain, seperti biasa, Brian mendatangi ruangan Luna.


“Apa ini? Apa kau masih bekerja padahal lusa kau akan menikah?” Brian bertanya kepada wanita yang ada di hadapannya. wanita itu masih saja membolak balik kertas yang ada di meja kerjanya.


“Apa Kakak tidak punya pekerjaan jadi datang untuk menggangguku? Apa ini? Apa kau tidak bekerja padahal besok bukan hari pernikahanmu?” Luna mengikuti cara bicara pria yang ada di hadapannya.


“Huh! Aku datang kesini untuk bekerja! Enak saja!” Brian membela diri.


“Iya iya Bapak pengacara yang sibuk ...” Luna tersenyum geli.


“Hee.. semakin hari bukannya kau tampak semakin aneh? Pertama kali mengetahui akan menikah, mukamu selalu terlipat dan murung. Sekarang kau senang? Kau baik-baik saja kan? Bukannya kau tidak menyukai pria itu?” Brian bertanya penasaran dan sedikit khawatir. Ia khawatir gadis itu hanya pura-pura senang dan memendam perasaannya yang sebenarnya.


“Aku baik-baik saja! Aku pikir tidak terlalu buruk untuk menjadi bagian dari keluarga itu.” Luna tersenyum.


Alasan kuat yang membuat Luna akhirnya menyetujui pernikahan adalah kedekatannya dengan Sera. Sejak mereka bertemu untuk pertama kali, keduanya menjadi semakin dekat. Mereka selalu menyempatkan bertemu di akhir pekan untuk masak bersama dan beberapa kali bertemu di tengah waktu luang saat jam sibuk. Luna yang sebelumnya tidak bisa memasak, entah mengapa mulai menyukai hobi baru itu. Ia bahkan masih ingat pengalaman pertamanya di dapur bersama Sera.


“Aduuh ...! bagaimana ini?!” Luna panik melihat masakannya gosong. Dengan bergegas Sera mematikan api di kompor masih menyala.


“Kau tidak apa-apa?Ada yang terluka?” Sera memeriksa tangan wanita itu.


“Aku hanya kaget saja.” Luna tersenyum. Ia tampak lebih tenang.


“Baimana kalau kita istirahat dulu? Aku baru membuat coklat panas. Kau mau?” Sera menawarkan. Luna mengangguk setuju. Ia sebenarnya masih takut untuk kembali menyalakan api.


“Boleh saya bertanya sesuatu kepada tante?” Luna membuka percakapan begitu keduanya menikmati coklat panas.


“Ya, tentu saja. Kau tidak perlu meminta izin untuk bertanya.” Sera tersenyum.


“Saya merasa kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama, tapi kenapa tante tidak pernah sekalipun membahas tentang pernikahan? Saya bertanya karena penasaran. Sebenarnya saya merasa aneh.” Luna berkata dengan ragu-ragu.


“Mmm ... karena aku merasa kita tidak cukup dekat untuk membicarakan itu?” Sera menjawab seakan bertanya balik menunggu tanggapan Luna.


“Eh? Kenapa tante berkata begitu?”


“Aku sudah bilang untuk bersikap santai kepadaku. Seorang menantu tidak akan memanggil calon mertuanya dengan panggilan tante. Begitu juga, ia tidak akan bersikap seakan keduanya orang asing. Aku berpikir kau membenci pernikahan ini, jadi untuk apa aku membahasnya? Kau hanya akan membenciku juga nantinya.” Sera berkata dengan sedikit menggoda Luna.


“Kenapa tante ...” Luna merasa sedikit bersalah.


“Aku memang berharap kau menjadi menantuku, tapi aku juga ingin membuatmu merasa nyaman. Aku tidak mengharuskanmu untuk menikah dengan Shin. Sunggguh. Jika kau merasa tidak nyaman begitu juga denganku. Aku tidak ingin kau membebani dirimu sendiri. Kau harus memutuskan apa yang menurutmu benar dan jangan memikirkan bagaimana tanggapan orang lain. Dan setelah kau memutuskan, tolong untuk tidak bersikap ragu-ragu.” Sera memberi pengertian.


“Aku memang tidak menyetujui pernikahan ini pada awalnya. Tapi setelah bertemu dengan tante dan Shin, aku kembali memikirkannya. ____Aku pikir pernikahan akan lebih baik bagiku. Aku merasa sedikit bahagia.” Luna bicara jujur lalu tersenyum.


“Kalau benar begitu, aku akan menambahkan kebahagian itu lagi dan lagi.” Sera meyakinkan Luna sambil menyentuh pipi wanita itu.


“Terima kasih.” Luna tersenyum.


“Sekarang kau bersedia menjadi putri ibu?”


“Aku akan mencobanya. Menjadi putri Ibu.” Luna kembali tersenyum.


Jika Sera tidak merangkul Luna dan Shin tidak menawarkan kontrak itu, mungkin Luna akan memilih sebaliknya. Luna seakan mendapatkan jaminan hidup sebagai dirinya sendiri ketika menjalin hubungan dengan keluarga itu. Ia tidak ingin melewatkan kesempatannya. Hidup bebas tanpa kekangan dari ibunya yang selalu menuntut sempurna.


“Jika kau memiliki masalah jangan sungkan untuk mengatakannya padaku. Kau paham?” Brian masih khawatir dengan Luna. Ia benar-benar tidak ingin wanita itu menanggung deritannya sendiri.


“Iya. Dan kakak harus selalu siap melindungiku ketika itu terjadi!” Luna menanggapi santai.

__ADS_1


“Akan aku pastikan.” Brian tersenyum.


^^^^


Sampai di hari pernikahan. Shin dan Luna akan melangsungkan pernikahan di sebuah gedung mewah. Para tamu mulai berdatangan disambut hangat oleh tuan rumah. Semua berjalan dengan lancar. Tidak ada tanda-tanda Shin akan mengacaukan pernikahan. Ia tampak rapi hari itu. Sempurna sebagai pengantin pria. Luna juga demikian. Ia tampak menawan dan anggun. Hanya tinggal menghitung jam keduanya akan menjadi pasangan yang sah.


Sementara itu, Kevin tampak resah di antara para tamu undangan. ia harus memberitahu Shin tentang wanita yang ditemuinya kemarin. Tapi jika itu terjadi maka ia juga tidak bisa menahan Shin untuk membuat kekacauan di pernikahannya.


“Hei! Kenapa tidak memberitahuku kalau sudah sampai?” Shin tersenyum senang mendapati temannya ada di gedung itu. Sebenarnya Kevin tidak suka mendatangi acara-acara besar seperti ini, ia lebih suka berkutat dengan papan gambar digitalnya. Adanya kevin di sana membuat Shin lebih tenang. Setidaknya ia tidak merasa terasing seperti biasanya.


“Oh..hai Shin! Aku baru sampai kok! Waah…kau tampak hebat hari ini! Benar-benar sulit dipercaya!” Kevin masih tidak percaya sahabatnya yang berandalan itu akhirnya akan menikah juga dan berpakaian rapi dengan jas.


“aku juga tidak percaya hari ini akan terjadi.” Shin menjawab santai.


“Shin, sebenarnya ada…” belum sampai Kevin menyelesaikan kalimatnya salah seorang staf pernikahan menemui Shin.


“Tuan Shin, acara akan segera di mulai sebaiknya Anda bersiap.”


“Ok.” Shin menanggapi perkataan staf itu dengan santai. “Kau mau bilang apa tadi?” Shin kembali memerhatikan kawan di depannya.


“Oh…itu…” Kevin ragu-ragu ingin mengatakannya. “Bukan hal besar, sudah sana! kau harus bersiap.” Ia lebih memilih diam untuk saat ini. Kevin yakin mengatakannya sekarang akan membawa dampak buruk. Setidaknya untuk kali pertama Shin tidak membuat kekacauan di depan umum.


“Apaan sih?!” Shin tampak sedikit curiga tapi ia menanggapinya dengan santai sambil becanda. “Aku pergi dulu.” Shin meninggalkan temannya di belakang.


Tidak lama kemudian semua ritual pernikahan telah selesai. Semua sesuai rencana tanpa hambatan. Para orangtua tampak sangat senang terlebih kedua orangtua Shin. Mereka sangat lega akhirnya Shin tidak berulah sampai akhir. Namun tidak begitu bagi shin. Baginya ini baru permulaan. Awal untuk mengacaukan harapan semua orang.


Kini pasangan pegantin baru itu menempati atap yang sama. Sesuai permintaan Shin, ia akan tinggal di lingkungan yang terpisah dengan orangtuanya. Luna juga menyetujui hal itu. Keduanya tinggal di vila milik almarhum ibu Shin. Ia sengaja memilih tempat itu karena tidak pernah ditempati lagi sepeninggalan ibunya. Hanya Shin yang seringkali datang ke sana. Vila itu masih bagus dan nyaman. Itu cocok menjadi rumah barunya walapun cukup jauh dari tengah kota.


Di dalamnya ada dua kamar tidur dengan salah satunya memiliki kamar mandi dalam, satu kamar mandi luar, dapur yang cukup luas, ruang tengah dengan banyak rak buku di salah satu sisinya, ruang kerja, garasi, halaman belakang dan halaman depan yang cukup luas untuk memarkir dua mobil.


Sebenarnya, Shin sengaja memilih tempat itu karena dia merasa lebih tenang ada di sana. Rumah itu selalu bisa membuatnya tenang deperti pelukan hangat ibunya saat ia masih kecil. Ayahnya tidak pernah pergi ke rumah itu sejak ibunya meninggal. Seakan melupakannya. Jadilah rumah itu tidak terurus kecuali Shin yang mengurusnya. Ia berusaha mempertahankan vila itu tetap berdiri walaupun beberapa kali ayahnya menyuruh untuk menjual tempat itu.


Alasan lainya adalah karena Shin tidak bisa tinggal di sana sendiri. Sejujurnya Shin penakut. Ia benci tinggal sendirian. Maka dari itu daripada membeli rumah atau apartemen dekat kantor sendiri, Shin lebih suka menginap di tempat sahabatnya, Kevin. Ia juga tidak bisa meninggalkan rumah ayahnya karena alasan itu.


Sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat, Luna tidak akan mencampuri urusan Shin begitu juga sebaliknya. Keduanya hanya mengurusi rumah itu bersama. Jika rumah perlu dibersihkan, maka mereka tidak usah repot, tinggal panggil jasa kebersihana saja.


“Kenapa masih berdiri di sini?” Shin menanyai Luna saat hendak meninggalkan rumah. Pagi itu, sudah cukup lama wanita itu berdiri di depan garasi sambil memegangi handphonenya seperti sedang menunggu seseorang. Shin sebenarnya tidak mau tahu urusan Luna, tapi wanita itu terlanjur membuatnya penasaran. Ini hari pertama pernikahan mereka, tapi keduanya seakan tetap sibuk dengan urusan masing-masing. Rencananya Luna akan kembali berangkat ke kantor dan Shin akan menemui Kevin setelah temannya itu meminta untuk bertemu.


“Brian?” Shin tidak begitu familiar dengan nama itu.


“Dia orang yang membantuku di perusahaan.” Luna menjawab sekenanya. Jelas Shin beberapa kali bertemu dengan Brian tapi mungkin ia tidak begitu menghiraukannya. Ia hanya memberi sedikit petunjuk.


“Oalah… orang itu…” Shin lanagsung mengerti maksud Luna. Ia kini ingat pernah beberapa kali bertemu tapi tidak pernah mengajaknya ngobrol. “Tapi… kenapa kau menunggunya?” Shin kembali bertanya. Ia masih penasaran.


“Ia biasa menjemputku dan mengantarku ke perusahaan.” Luna menanggapi pertanyaan Shin.


“Tapi.. kenapa?” Shin lagi-lagi bertanya. Ia sudah terlanjur ingin tahu. Luna yang mendengar Shin terus bertanya padanya tidak bisa berkata lebih jauh. Ia hanya tersenyum. Bagi Shin itu malah membuatnya semakin penasaran. Wanita itu bisa saja berangkat sendiri dengan mobilnya yang terparkir di garasi, jadi untuk apa menunggu orang lain menjemputnya? Apa sebenarnya Luna memiliki hubungan dekat dengan pria itu?


“Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri urusanmu. Aku hanya penasaran saja. Kau bisa meyetir sendiri ke perusahaan tapi kenapa harus menunggu Brian? Kau mungkin bisa telat sampai ke kantor. Apa kalian ingin pergi ke tempat lain?” Shin terlanjur bertanya panjang lebar. “Sekali lagi aku hanya penasaran saja. Tidak ada maksud lain…” Shin merasa mungkin Luna tidak nyaman dengan pertanyaannya.


“Kau tidak perlu menjawabnya jika tidak mau…” Shin mengakhiri ucapannya. Ia menghampiri mobilnya yang terparkir bersebelahan dengan mobil Luna.


“Apa kau buru-buru?” Luna balik melempar pertanyaan kepada Shin.


“Eh?” Shin sedikit terkejut dengan pertanyaan Luna.


“Seperti katamu, mungkin aku akan telat sampai ke kantor jika menunggu Brian datang. Apa kau mau mengantarku? Hanya jika kau berkenan.” Seperti di hadapkan dengan jalan buntu, Luna dengan berat meminta tolong kepada Shin.


“Apa?” Shin sedikit bingung dengan permintaan Luna. Sepertinya ada yang aneh dengan wanita itu. Melihat Luna yang tampaknya tergesa, tanpa pikir panjang Shin mengiyakan permintaan Luna. “Baiklah, aku akan mengantarmu.”


Shin segera memutar mobilnya dan membiarkan Luna duduk di sampingnya. Tidak berselang lama mobil itu melaju di jalanan.


“Sebenarnya aku tidak jago menyetir.” Luna berkata datar. Sebenarnya dia sedikit malu untuk mengakuinya.


“Benarkah?” Shin tidak menduga Luna akan mengatakan hal itu. Kini rasa penasarannya terjawab sudah.


“Terima kasih sudah mau mengantar.” Luna kembali berkata.


“Oh..tidak masalah. Aku juga tidak sedang buru-buru. Lalu mobil yang di garasi? Bukannya itu mobil milikmu?” Kini ia jadi penasaran dengan mobil Luna.

__ADS_1


“Ibuku yang memberikannya. Sebenarnya aku sudah pernah belajar menyetir tapi aku selalu di antar oleh sopir tiap kali berpergian. Aku hanya tidak terbiasa.” Luna masih tampak canggung. ia merasa Shin selalu bisa dengan mudah mengetahui kelemahannya.


“Kalau begitu aku bisa meminjamnya kan?”


“Hah?” Luna terheran. Ternyata Shin bertanya padanya panjang lebar hanya karena tertarik dengan mobil itu.


“Aku tahu itu model keluaran terbaru, jadi aku ingin sekali-kali menaikinya.” Shin tersenyum. Ekspresinya menyiratkan ketertarikannya pada mobil yang sedang mereka bahas.


“Oh…Ya… Tentu. Kau bisa menaikinya.” Luna tersenyum simpul. Ia sedikit berpikir terlalu jauh. Ia pikir Shin sedikit memerhatikannya, tapi ternyata itu tidak lebih hanya karena mobil barunya.


Sesampainya di tempat yang dituju, Shin segera turun dari mobilnya dan menemukan Kevin sedang duduk di dalam salah satu bangku kafe di pinggir jalan sambil menelpon seseorang. Ia perlahan menghampiri sahabatnya itu dan duduk di hadapannya. Melihat Shin yang sudah datang, tak lama Kevin menyudahi percakapan di telepon.


“Kau bisa melanjutkan panggilanmu..” Kata Shin santai setelah melihat Kevin mematikan teleponnya.


“Sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan.” Kevin menjelaskan. Shin hanya mengangguk.


“Waah…kau sama sekali tidak terlihat berbeda pun setelah menikah.” Kevin mengomentari gaya kawan di depannya itu. Ia memakai kaos berkerah warna putih dan memakai celana jeans panjang. Itu memang gaya pakaian sehari-hari Shin. Bahkan ia sering kali ke kantor dengan pakaian seperti itu. Hanya untuk hari-hari tertentu saja ia mengenakan kemeja.


“Memangnya orang yang sudah menikah harus mengubah dirinya?” Shin menyeringai kecil di akhir kalimatnya.


“Kau benar. Tidak ada yang perlu diubah.” Kevin menanggapi. “Tapi bagaimana malam pertama kalian?” Kevin mendadak menjadi sangat excited.


“Apa yang kau pikirkan?! Tentu saja kami tidur di kamar masing-masing. Kami tidak banyak bicara.” Shin menjawab seperlunya. Memang setelah Luna dan Shin sampai di rumah baru, keduanya mengurus dirinya masing-masing dan tidak banyak bicara. Luna bahkan tidak keluar dari kamar begitu ia memasukinya. Mendengar jawaban Shin, Kevin tidak lagi tertarik.


“Jadi apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?” Shin bertanya. Kevin yang menyuruhnya datang pagi-pagi, pasti ada sesuatu yang penting.


“Ini penting.” Kevin hanya mengatakan sebaris kalimat lalu meneguk kopi yang ada di mejanya. Tenggorokannya tiba-tiba kering.


“Aku tahu. Itu sebabnya kau menelpon pagi-pagi sekali. Dasar…!”


“Aku tahu aku harus mengatakan ini kepadamu dan aku tidak bisa menundanya terlalu lama atau aku akan lebih menyesal!” Kevin masih ragu mengatakannya. Ia tidak tahu harus bicara dari mana.


“Cepatlah… Kau tahu kan aku bukan pengangguran?!” Shin menghela napas, ia tidak sabar mendengar berita dari Kevin.


“Eh? Kau akan pergi ke kantor? Kau baru saja menikah?” Kevin tiba-tiba mengalihkan percakapan.


“Apa kau pikir menikah seperti orang yang di rawat di rumah sakit sampai tidak bisa masuk kantor?” Shin sedikit kesal.


“Wah, biasanya juga kau masuk kantor saat siang. Kenapa tiba-tiba jadi rajin?” Kevin masih membahas soal kantor.


“Apa kau sedang mengalihkan pembicaraan? Bukannya kau akan mengatakan sesuatu yang penting?!” Shin melotot ke arah Kevin. Temannya itu langsung merasa ciut.


“Sebenarnya ... sebenarnya ....” Kevin menghela napas panjang, “Aku bertemu dengan Hani beberapa waktu yang lalu.” Kevin melanjutkan dengan cepat. Ia tidak berani menatap Shin.


“Apa?” Shin mencoba mengonfirmasi apa yang baru saja ia dengar.


“Aku bertemu dengan Hani di kafe baru depan kantorku. Ia bekerja di tempat itu.” Kevin mengatakan dengan jelas seakan baru saja tertangkap basah menyembunyikan sesuatu.


“Kenapa kau baru bilang sekarang?” Shin menatap Kevin dengan serius. “Kau bertemu dengannya beberapa waktu lalu tapi kenapa baru mengatakannya? Apa itu sebelum aku menikah?” Shin masih serius.


“Itu hanya satu hari sebelum pernikahanmu. Tapi tunggu ... aku tidak mengatakannya saat itu karena aku tidak ingin mengacaukannya! Kau tahu aku sangat mencemaskanmu! Dan lagi pula aku juga tahu bahwa pernikahanmu hanya sementara jadi aku ...” Kevin mencoba menjelaskan secara halus pada Shin. Tampaknya temannya itu hampir meledak mengetahui ia menyembunyikan fakta sepenting ini.


“Kau sangat tahu berapa lama aku mencarinya! Tapi kenapa? Karena pernikahanku?! Kenapa kau malah berpikir tentang pernikahanku?! Apa itu masuk akal?! Apa kau benar-benar teman?!” Shin sontak berdiri. Ia hendak meninggalkan Kevin.


“Aku tahu kau akan merespon seperti ini! Aku sudah menduganya! Tapi kau juga harus berpikir realitanya. Kalian sudah lebih dari tujuh tahun tidak bertemu. Hani juga sudah memiliki kehidupannya sendiri. Aku hanya tidak mau menyulitkanmu.” Kevin bicara sebisanya untuk meyakinkan Shin. Belum tentu juga wanita yang sedang mereka bicarakan juga berharap keduanya bertemu.


Beberapa waktu yang lalu saat Kevin bertemu dengan Hani, ia melihat wanita itu tampak baik-baik saja. Setidaknya itu yang ia katakan. Ia memiliki kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Itu juga yang Kevin lihat. Kevin mungkin akan mengatakan kepada Shin lebih cepat tentang keberadaan Hani, jika wanita itu tampak mengharapkannya. Tapi saat keduanya bertemu pun, Hani tidak menanyakan keberadaan Shin. Seakan ia tidak lagi peduli padahal di masa lalu Shin lah yang membuat keduanya saling mengenal.


Di tempat yang lain, Luna kembali sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa saat yang lalu, ia menghubungi Brian untuk tidak menjemputnya di rumah karena Shin telah mengantarnya. Kini pria yang dianggapnya kakak itu mendatanginya. Ia menetuk pintu dan masuk begitu Luna mempersilakannya.


“Aku minta maaf karena aku belum begitu mengenal daerah rumahmu. Apa alamat rumah yang kau berikan sudah benar? Aku sedikit tersesat.” Brian menjelaskan.


“Sejak awal aku sudah ingin memberikan peta lokasinya tapi kau malah menolak dan memintaku memberitahu alamatnya saja. Kupikir kau terlalu sombong.” Luna menyindir dengan terang-terangan.


“Apa kalian baik-baik saja satu sama lain?” Brian mengganti topik.


“Kami baik-baik saja.” Luna menjawab sekenanya.


“Jadi apa sekarang aku tidak perlu menjemputmu untuk ke kantor?”

__ADS_1


“Tadi pagi hanya kebetulan saja Shin juga pergi. Tolong tetap menjemputku dan jangan terlambat. Oke?”


“Baiklah.” Brian tersenyum.


__ADS_2