
Sampai pada hari itu, kedua keluarga kembali berkumpul di kediaman Rei. Shin dan Luna datang bersama, mereka tampak baik bersama dan orangtua mereka menyambut dengan senang.
“Kenapa Kalian tidak berlibur selama sepekan untuk honeymoon? Bukankah itu tampak baik? Itu adalah hal yang dilakukan setiap pasangan setelah menikah.” Anna bergantian memandangi kedua pengantin baru dan besannya. Kali ini topik yang dibicarakan adalah bulan madu Luna dan Shin.
“Itu sangat bagus. Aku juga mengharapkan hal yang sama. Seharunya pasangan yang baru saja menikah tidak disibukan dengan pekerjaan.” Sera menanggapi dengan antusias.
Melihat Luna yang diam saja, Anna melirik putrinya itu dan menendang kakinya, memberinya kode untuk merespon.
“E ....” Luna masih tidak tahu harus mengatakan apa, ia memandangi kedua mertua yang ada di depannya sambil tersenyum sebisanya.
“Tentu saja Kami akan mengambil cuti. Bagaimana dengan Paris? Luna mungkin merindukan kota itu.” Shin menanggapi tiba-tiba. Ia bahkan belum mendiskusikan hal ini dengan Luna sebelumnya. Wanita itu tampak terkejut.
“Bagaimana menurutmu?” Rei kini ganti bertanya pada Luna. Wanita itu masih terlihat bingung. Segera saja Luna kembali pada kesadarannya dan memberi tanggapan.
“Saya pikir kami harus membicarakan ini lagi secara pribadi. Bolehkan saya minta waktu bicara dengan Shin sebentar?” Luna meminta izin dan membawa Shin ke luar ruangan.
“Kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu? Paris? Aku tidak pernah bilang ingin ke sana.” Luna langsung bertanya pada intinya.
“Kau tidak suka Paris? Kukira kau akan lebih nyaman di sana.” Shin berkata sesuai yang ada di kepalanya, ia tidak berpikir Luna akan menolak hal itu. Lagi pula ini bukan bulan madu sungguhan bagi mereka. Ini hanya libur bekerja sementara. “Lalu kau ingin pergi ke mana?” Shin melanjutkan.
“Bawa aku ke Selandia Baru.” Luna berpikir sejenak lalu menjawab dengan yakin.
“Selandia Baru?! Negara yang di kelilingi alam terbuka seperti itu? Kenapa ingin ke sana?” Shin bertanya heran. Ia sudah tidak kaget mendengar jawaban aneh Luna. Semakin Shin mengenal Luna semakin ia penasaran dengan pemikiran wanita itu. Ia sangat sulit ditebak dan di luar dugaan Shin. Jauh dari yang ia bayangkan sebelum menikah dengan Luna.
“Paris terlalu biasa. Kita ke Selandia Baru saja.” Luna menjawab dengan tenang. Ia berbalik dan melangkah kembali memasuki ruangan yang mereka tinggalkan. Shin terdiam sejenak lalu mengikuti langkah Luna.
“Selandia Baru?” Orangtua mereka tidak ada yang menyangka Luna dan Shin memutuskan pergi ke Selandia Baru untuk berlibur.
“Iya. Setelah dipikir-pikir kami lebih baik pergi ke Selandia Baru. Pemandangan di sana sangat bagus, terlebih saat musim semi.” Shin meyakinkan ketiga tetua di ruangan itu.
“Aku akan menyiapkan tiketnya. Anggap saja sebagai hadiah. Aku merasa bahagia melihat menantuku senang.” Rei memperhatikan Luna. Ia sudah menganggapnya seperti putri sendiri.
“Aku benar-benar senang mendengar hal itu.” Ana ikut menyahut.
Luna hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang setelah pertemuan keluarga itu berakhir. Ia terus saja menatap ke luar jendela mobil. Ia mengingat kejadian sehari setelah pernikahan mereka. Malam itu Luna menemui ibunya di rumah. Pertemuan itu terasa tegang.
“Kenapa Ibu memintaku datang?” Tanya Luna.
“Ibu ingin memastikan kau bersikap baik selama tinggal bersama dengan Shin. Ibu tidak ingin mendengar hal buruk tentang pernikahan kalian.” Anna memperingatkan.
“Aku akan melakukannya.” Luna menjawab cepat. Ia hanya tinggal mengiyakan perkataan ibunya agar tidak berlama-lama di sana.
__ADS_1
“Apa kalian sudah merencanakan bulan madu? Setidaknya kalian harus terlihat harmonis.”
“Kami akan mengurus hal itu.”
“Kau tahu banyak rumor buruk yang beredar tentang Shin? Dia sering mengacau seperti kejadian yang terakhir kali. Kau harus menghentikan hal semacam itu. Kau tahu kan?”
“Ia tidak akan mengacau lagi, jadi Ibu tidak perlu berlebihan.”
“Jika salah satu dari berperilaku buruk, maka itu akan berpengaruh kepada satu sama lain! Itu akan merugikan kita!”
“Kami akan baik-baik saja. Ibu tidak perlu khawatir.” Luna menatap ibunya, “Jika tidak ada yang ingin ibu katakan lagi aku akan pamit.” Luna melanjutkan. Ia hendak beranjak dari tempat duduknya. Ia bosan mendengar Ibunya yang terkesan mengulang-ulang perkataannya.
“Yang ingin ibu katakan adalah buat dia mencintaimu! Buat Shin tidak bisa melepaskanmu! Lakukan segala cara! Kau harus mempertahankan pernikahan sampai sampai akhir!” Anna mengatakannya dengan jelas. Kali ini Luna hanya diam. Bagaimana bisa ibunya menyuruhnya merelakan kehidupannya seperti itu? Luna hanya bisa melihat keegoisan di mata Anna, tak kurang dari itu.
“Kenapa Ibu sangat egois? Bukankah seharusnya Ibu memikirkan tentang aku juga? Lagi pula ini pernikahanku, kenapa ibu jadi ikut campur? ”
“Ibu mengatakan semua ini untukmu. Itu untuk kebaikanmu.”
“Jadi maksud Ibu adalah hidupku pasti akan hancur dan menderita jika tidak bersama dengan keluarga itu? Bukankah pikiran Ibu terlalu sempit? Ibu ingin aku menjilati kaki mereka seumur hidup? Itukah yang dikatakan untuk kebaikanku?!” Luna mulai tidak tahan dengan perkataan Ibunya. Ia menahan diri sebisa mungkin untuk tidak marah.
“Maksud ibu adalah …” Anna ingin membela diri. Ia tidak menyangka Luna akan menanggapinya seperti itu. ‘Menjilati kaki seumur hidup’ adalah kata-kata yang begitu kasar baginya. Dia tidak ingin Luna menganggapnya seperti itu.
^^^^
“Maaf, aku hanya ingin bertanya karena penasaran. Kenapa dari tadi kau diam saja?” Begitu turun dari mobil, Shin melemparkan pertanyaan tersebut. Semakin ditahan semakin ia ingin menanyakannya. Luna menengok ke arah Shin dengan raut sedih.
“Tidak apa-apa.” Luna memberi senyum. Ia berusaha menutupi kesedihannya. Ia berbalik dan kembali berjalan memasuki rumah. Malam itu tidak ada lagi percakapan.
Sebenarnya tidak hanya Luna yang memiliki banyak pikiran akhir-akhir ini. Shin juga tidak tenang untuk beberapa alasan. Setelah pertemuannya dengan Hani setelah sekian lama, Shin selalu menyempatkan diri menemuinya tiap malam di kafe. Semua kabar yang ia dengar dari Hani adalah kabar baik dan wanita itu selalu tersenyum tanpa masalah. Sayangnya tidak semua hal yang ia dengar dari Hani seperti yang ia lihat.
Suatu malam, Shin datang ke kafe Hani selepas dari kantornya dan mendapati Hani menemui seorang pria asing. Mungkin umurnya tidak jauh di atas Shin. Pria itu memegang tangan Hani dengan kasar. Mereka tampaknya sedang bertengkar cukup serius.
“Lepaskan aku! Kita sudah berakhir!” Hani menatap tajam pria itu. tangannya berusaha melepaskan genggaman pria di hadapannya itu.
“Kau seperti ini lagi! Bukankah seharusnya kau bersikap lebih baik?! Aku sudah menghabiskan banyak uang untukmu!” Pria itu tidak membiarkan Hani lepas dari pandangannya.
“Lepas!!” Hani berteriak marah. Pria itu sudah kelewatan. Segera setelah melihat keduanya bertengkar, Shin menghampiri dan berusaha melindungi Hani.
“Apa yang kau lakukan?!! Bukankah perlakuanmu sangat kasar kepada wanita?! Apa kau tidak punya malu?!” Shin menarik Hani ke belakang punggungnya.
“Kau siapa berani bicara seperti ini kepadaku?!” Pria di depannya semakin marah. Beberapa orang yang lewat mulai memerhatikan pertengkaran itu.
__ADS_1
“Aku tidak perlu menjelaskan siapa diriku. Bagaimana pun perlakuanmu ini sudah melewati batas!” Shin memperingatkan pria itu.
“Melewati batas katamu?! Aku pacarnya! Aku yang lebih berhak mengatakan itu kepadamu! Jangan melewati batas!!” Pria itu memandang tajam Shin.
“Shin tolong biarkan kami. Kau tidak perlu terlibat hal ini.” Hani mencoba menenangkan Shin. Ia kembali menghadapi pria itu. “Tolong jangan buat keributan di sini. Semua orang melihat.” Hani menyadari situasinya semakin buruk. Ia mulai menyerah menghadapi pria di depannya.
“Itulah yang aku katakan dari tadi! Kita tidak perlu bertengkar!” Pria itu seakan tidak pernah berbuat hal buruk sebelumnya.
“Aku akan menelponmu nanti. Sekarang pulanglah!” Hani berkata dengan nada lemas. Tak lama setelahnya pria itu pergi.
Shin baru tahu bahwa Hani memiliki kekasih. Ia tidak pernah bilang sebelumnya. Tentu saja, untuk apa Hani memberitahunya, hubungan Shin dan Hani saat ini hanya sebatas dua orang yang saling mengenal di masa lalu dan kembali bertemu. Banyak hal yang telah berubah.
Setelah memasang papan tutup di pintu kafe dan mengunci pintu, Hani berjalan pulang ditemani oleh Shin. Jelas sekali terlihat kesedihan di mata wanita itu.
“Maafkan aku, kau melihat hal ini.” Hani merasa bersalah kepada Shin. Ia seharusnya tidak melihat hal semacam ini lagi.
“Kau baik-baik saja?” Shin tampak khawatir.
“Namanya Morgan. Pria itu, aku mengenalnya saat kencan buta dan dia adalah dokter yang merawatku saat aku terluka setahun yang lalu. Dia memperlakukanku dengan baik dan membayar semua perawatanku tanpa aku minta. Ia bilang dia menyukaiku jadi aku tidak perlu melakukan apapun. Aku merasa berhutang budi dan begitulah kami berhubungan. Aku tidak tahan dengan sikapnya yang kasar dan posesif. Kami sudah lama putus.” Hani mencoba menjelaskan.
“Kau pernah dirawat?”
“Aku jatuh dari tangga dan mengalami patah tulang di bagian kaki, tapi itu sudah sembuh.” Hani tersenyum. Ia menggerak-gerakkan kakinya yang sebelumnya patah tulang. Ia meminta Shin tidak menghawatirkan hal itu.
“Jadi pria tadi sering menemuimu? Bahkan setelah kalian putus?” Shin kembali khawatir.
“Ia selalu memintaku kembali tapi tidak pernah mengubah sikapnya dan selalu mengungkit tentang perawatanku.” Hani hampir menangis, ia mendongak menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia berusaha tersenyum. “Ia seorang dokter ortopedi, jadi dia orang yang sibuk. Kami tidak sering bertemu. Hanya beberapa kali.” Hani tersenyum tetapi jelas ia sedang menyembunyikan kesedihannya. Shin meminta Hani duduk begitu melihat bangku di pinggir jalan.
“Aku sungguh minta maaf ... aku selalu tampak menyedihkan di depanmu ... Aku sudah berusaha hidup lebih baik tapi tetap saja ....” Hani akhirnya menangis. Kehidupan pribadinya yang sedih sudah terlanjur terbongkar di hadapan Shin. Ia sudah mencoba bersikap biasa saja tetapi tidak bisa menahannya lebih lama.
“Apa kau mencoba tampak keren di depanku?” Shin melempar tanya. Ia tersenyum seolah meledek Hani. Sebenarnya ia ingin menghibur wanita itu.
“Iya! Aku selalu ingin bersikap keren di depanmu tapi selalu gagal!” Hani menanggapi sambil masih menangis. Ia tampak lucu bagi Shin. Priadi sampingnya itu tersenyum.
“Kau tahu? Kau tidak cocok bertingkah keren seperti itu! Tentu saja, saat kau sedih kau harus menangis dan saat kau senang kau harus tersenyum lebar. Jangan menahannya! Jangan bertingkah seolah-olah baik-baik saja. Terkadang kita harus melepaskan apa yang ada di benak kita.” Shin berusaha menghibur dan tidak membiarkan Hani membebani dirinya.
“Terima kasih ...” Hani merasa lega Shin berkata seperti itu.
Shin mengkhawatirkan Hani. Ia khawatir pria itu datang lagi menemuinya. Ia tidak ingin lagi melihat kemalangan pada diri wanita itu. ia selalu ingin melindunginya. Bagaimana pun.
Tidak itu saja yang memberatkan pikiran Shin. Kenyataan bahwa dirinya telah menikah membuat Shin berkali-kali ingin memutar waktu. Jika sampai Hani mengetahui hal ini dan orang lain juga mengetahui kedekatannya dengan Hani, mungkin saja wanita itu akan menjauh. Mungkin saja itu juga membahayakan Hani. Mungkin saja.
__ADS_1