
Baru saja Hani mulai memiliki harapan baru tentang hubungannya dengan Shin, dan kini lagi-lagi keadaan memaksa keduanya untuk berpisah. Artikel internet yang muncul pagi ini menghebohkan keluarganya.
“Meskipun wajah Kakak tidak begitu jelas di foto ini, tapi aku tahu ini pasti kakak!” Keitaro, adik laki-laki Hani, mengetahui kabar itu lebih dulu dan mencoba mengintrogasi Hani.
“Jadi, kau akan memberitahu ayah dan ibu?” Hani tidak bisa mengelak. Ia menebak dengan jengkel apa yang akan dilakukan adiknya setelah tahu berita itu benar.
“Kalian benar-benar berselingkuh?!” Kei hampir bereriak.
“Tentu saja tidak! Apa hanya karena berpelukan berarti aku berselingkuh dengannya?!” Hani menyanggah. “Saat itu aku hanya senang bertemu Shin untuk pertama kali!” Ia mencoba beralasan.
“Apa Kau pikir aku akan percaya hal itu?” Kei menganggap kakaknya sedang berbohong.
“Lalu kau ingin aku menjawab apa?!” Hani dengan marah melotot ke arah adiknya.
“Apa ini benar-benar kau, Hani?!” Tiba-tiba saja Ibu Hani menghampiri keduanya. Ia baru saja melihat kabar itu dan tampak cemas.
“Benar, itu kakak!” Kei menjawab pertanyaan ibunya lalu pergi begitu saja dengan tampang kesal.
“Kamu kembali berhubungan dengan Shin?” Wanita itu tampak khawatir. “Bukankah kau tahu ibu tidak menyukainya meskipun dia sangat baik kepada kita?! Kenapa kau tidak pernah mendengarkan ibu?!” Ibu Hani memukul punggung putrinya dengan sedih beberapa kali.
“Kami tidak mempunyai hubungan apapun Bu! Aku hanya bertemu dengan Shin beberapa kali. Kami sama sekali tidak memiliki hubungan seperti itu! Artikel itu tidak benar!” Hani mencoba menenangkan ibunya.
“Jangan sampai kau coba membohongi Ibu. Kau tahu itu kan?! Jangan pernah mencoba dekat dengan anak orang kaya itu lagi atau ibu tidak akan memaafkanmu!” Ibu Hani memperingatkan.
“Kenapa ibu sangat membencinya? Sudah berapa kali kubilang, hanya karena orangtuanya jahat, bukan berarti anaknya juga seperti itu!” Hani membela Shin.
“Ibu tetap tidak setuju meskipun kalian hanya berteman!”
Hani tidak mengerti. Ibunya dulu memang pernah membenci Shin, tapi ia kira itu sudah berakhir. Ibu yang ia ingat pernah memperlakukan Shin dengan baik meskipun tidak pernah merestui hubungan keduanya itu kembali membenci Shin. Andai Ibu Hani tahu bahwa selama ini Shin telah banyak membantunya, apakah ia masih tetap akan berkata seperti itu?
^^^^
Sehari setelah artikel itu dirilis, kabar itu semakin heboh saja. Tentu saja hal ini berimplikasi pada perusahaan milik orangtua Shin dan Luna. Para wartawan tidak hentinya berkumpul di depan perusahaan keduanya.
__ADS_1
“Kau baik-baik saja?” Brian segera menemui Luna. Ia baru tiba dari perjalanan bisnis di luar negeri dan mengetahui kabar itu hari ini.
“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.” Luna mengaggapi dengan santai.
“Apa rencanamu?” Brian tahu Luna akan melakukan sesuatu.
“Kami akan mengadakan konferensi pers.” Luna tersenyum.
“Apa itu benar?” Brian kembali bertanya.
“Aku senang Kakak mengkhawatirkanku, Kakak tidak perlu cemas!” Luna tidak berkomentar lagi. Brian hanya bisa membiarkan wanita itu melakukan keinginannya.
Luna dan Shin sudah membuat rencana. Shin juga telah menceritakan semuanya tentang Hani kepada Luna. Tidak ada gunanya menyembunyikan hal itu. Shin juga telah memberitahu Hani bahwa semua akan baik-baik saja dan ia yang akan mengurusnya.
Pada hari itu konferensi pers dibuka. Shin dan Luna hadir dan memberi pernyataan kepada publik bahwa artikel tersebut tidak seutuhnya benar. Keduanya pun memberi pernyataan.
“Menanggapi artikel yang muncul beberapa waktu lalu, kami menyatakan bahwa artikel itu tidak seutuhnya benar. Foto tersebut hanya membuat orang berasumsi bahwa saya berselingkuh. Di luar itu, yang terjadi sebenarnya adalah saya bersama istri saya pada hari itu bersama mengunjungi kafe tersebut dan istri saya ada di sana ketika gambar tersebut diambil. Pemilik kafe itu dan salah satu pekerja di sana adalah teman lama saya, kami tidak memiliki hubungan kecuali hanya dari sekedar teman. Kami mohon kepada media untuk tidak lagi menyebar berita seperti ini kepada publik sehingga menimbulkan asumsi-asumsi yang merugikan salah satu pihak. Terima kasih.”
Begitu pernyataan pada konferensi pers dikeluarkan, pemberitaan tentang skandal perselingkuhan Shin pun perlahan surut. Namun tentu tidak semua media percaya dengan hal itu. Beberapa tetap mempercayai skandal itu dan mencoba menggali informasi lebih dalam. Luna dan Shin juga telah mempertimbangkan hal ini bersama. Untuk itu, Shin berniat memperkenalkan Luna dengan Hani secara langsung dalam waktu dekat.
^^^^
“Aku sudah bilang akan membantu. Kau sendiri bagaimana?” Luna balik bertanya. Ia sedikit mengkhawatirkan Shin. Pria itu terlihat tidak tenang sejak semalam.
“Kenapa malah mengkhawatirkanku?” Shin balik bertanya.
“Kau tahu apa yang akan terjadi setelah ini? Kau hanya bisa memilih salah satu di antara kami.” Luna memberitahu Shin. Sebenarnya ia sadar peluangnya tidak banyak. Atau mungkin tidak ada sejak awal.
“Kau sendiri, menurutmu mana yang lebih baik?” Shin kembali bertanya. Ia ingin megetahui tanggapan Luna.
“Jika aku ada di posisimu, tentu aku akan memilih seorang yang kucintai. Tapi jika melihat posisiku, pastinya aku tidak ingin dikorbankan. Jika pada akhirnya aku memang harus dikorbankan, mungkin aku akan kembali ke Selandia Baru dan mengganti identitas diri.”
“Kenapa mengganti identitas diri?” Shin dibuat heran dengan pernyataan Luna.
__ADS_1
“Aku tidak bisa lagi menjadi putri ibuku setelah mengetahui kebenarannya.” Luna berkata datar, “Kau tidak perlu memedulikannya.” Ia memberitahu Shin.
“Apa kau akan baik-baik saja nantinya?” Shin menatap Luna serius.
“Aku sudah bilang untuk tidak usah peduli!” Luna memberitahu Shin kedua kalinya.
“Aku hanya khawatir. Luna yang kukenal sekarang saja tidak baik-baik saja!” Pandangan Shin tidak berpaling sedikit pun dari Luna. Ia benar-benar mempertimbangkan perasaan wanita itu.
“Luna yang kukenal? Apa kau menyukaiku?” Luna tertawa geli. Ia tidak biasa mendengar Shin menyebut namanya.
“Aku serius.” Shin masih tetap tak bergeming
“Maka dari itu aku bertanya, apa saat ini kau menyukaiku?” Luna menatap Shin dengan rasa ingin tahu.
“Apa jawabannya sangat penting?” Shin merasa tidak perlu menjawabnya.
“Iya.”
“Apa akan ada yang berubah jika aku menjawabnya?”
“Tergantung jawabanmu.” Luna berkata dengan senyum lebar.
“Bagaimana jika jawabannya tidak?” Shin penasaran dengan tanggapan Luna.
Tiba-tiba saja Luna melepas sabuk pengaman yang telah dipakainya lalu sedetik kemudian megecup bibir Shin tanpa babibu. Ia pun kembali memasang sabuk pengamannya lagi dengan tenang. Sementara itu, Shin terbengong dengan apa yang baru saja terjadi. Itu hal yang benar-benar mengejutkan.
“Apa yang barusan itu?” Shin terlihat bingung dan syok.
“Hanya itu yang terpikirkan.” Jawab Luna singkat. Ia memalingkan muka dari Shin.
“Kau pikir….”
“Sudahlah! jalankan saja mobilnya, kita hanya membuang waktu di sini!” Luna memotong perkataan Shin. Ia tiba-tiba saja marah. Sebenarnya dia malu setengah mati. Itu ciuman pertamanya.
__ADS_1
“Oke baiklah!” Shin tidak berani berkomentar. Ia pun segera melajukan mobil ke jalan.
^^^