
Tujuh belas tahun lalu.
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Beberapa kali terdengar guruh petir dan terlihat guratan kilat. Malam semakin terasa mencekam. Terlebih bagi anak yang baru berusia lima tahun. Seorang gadis kecil terbangun dari tidurnya karena mendengar satu suara yang memekakan telinga. Ia menangis ketakutan. Ia hanya sendirian di kamar tidurnya. Dan itu semakin membuatnya takut.
Hujan dan guruh petir tidak kunjung usai. Ia masih menangis dan mau tidak mau memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Ia mencari perlindungan. Satu-satunya yang terlintas di pikirannya hanyalah sang ibu. Ia menuruni tangga satu per satu dengan kaki kecilnya. Tak berselang lama terdengar suara lain yang lebih membuatnya takut dari sekedar guruh petir. Suaranya terasa lebih dekat dan membuat gadis kecil terkejut takut.
Praaakk!! Pyaaarr!!!
“Ibu…?” gadis itu memanggil ibunya. Ia sangat takut.
“Ibu…?” Ia terus memanggil nama itu dan bergerak menuruni tangga. Suara yang menakutkan itu telah hilang.
Secepat mungkin ia berlari ke kamar ibunya. Ia masih takut. Pintu kamar itu tertutup rapat. Dengan sedikit berjijit, ia menggapai gagang pintu. Tidak terkunci. Gadis kecil membuka pintu perlahan. Ia mendapati ibunya tergeletak di lantai. Ia tidak bergerak.
“Ibuuu…!!” sambil menangis keras gadis kecil memanggil ibunya. Wanita itu tidak bergerak. Ia tidak merespon. Gadis kecil semakin takut. Di panggilnya ibunya berkali-kali.
Dengan langkah kecilnya ia menghampiri tubuh ibunya. Tanpa di sadari, gadis kecil telah menginjak serpihan-serpihan kaca yang berserakan memenuhi ruangan. Barang-barang pecah belah di sekitarnya hancur. Cermin retak. Satu botol anggur dan gelas kaca di dekat tubuh ibu gadis kecil itu juga pecah. Serpihan-serpihan kaca itu melukai kaki gadis kecil. Ia kesakitan, tetapi ketakutannya membuat ia dapat menahan rasa sakit itu. Ia terus melangkah mendekati tubuh wanita yang tergeletak di lantai.
Gadis kecil menggoyang-goyangkan badan ibunya. Ia tidak terbangun. Gadis kecil semakin takut. Ia menangis lebih keras. Ia menangis cukup lama hingga tidak lagi terdengar guruh petir. Hujan yang tadinya deras kini jadi rintik gerimis. Tapi gadis itu tidak berhenti menangis. Ia masih ketakutan. Ibunya tidak mau bangun. Ia tidak membuka matanya sedikit pun.
“Ibu….!!!”
Kini hanya suara tangis gadis kecil yang terdengar di rumah itu. Beberapa menit kemudian, mulailah terdengar suara langkah kaki berlarian. Beberapa pelayan menghampiri kamar tuannya. Mereka terkejut melihat pemilik rumah itu tergeletak tak berdya. Mereka lebih terkejut melihat pecahan kaca di mana-mana dan juga tangis gadis kecil.
Dengan cepat para pelayan itu menghampiri tuannya. Seorang mengangkat gadis kecil yang terluka dan menenangkannya, seorang lagi menelpon nomor darurat, sebagian berlarian mengambil alat pembersih, dan sebagian lagi mengecek keadaan tuannya lalu mengangkatnya ke atas kasur. Syukurlah ia masih hidup.
Beberapa jam kemudian tuan rumah dan putri kecilnya sudah ada di ruang inap rumah sakit. Gadis itu kini tertidur pulas di ruangannya ditunggui sang perawat, dan ibunya berada di ruang lain, seorang perawat juga menungguinya. Sayang sekali, keluarga itu tidak memiliki kerabat. Asisten pribadi sekaligus pengacara tuan rumah itu yang mengurus semua administrasi. Mereka masih beruntung memiliki banyak orang yang mengurusnya.
“Kau terbangun? Apa aku membangunkanmu?” Seorang perawat wanita muda menemukan gadis kecil telah duduk di ranjangnya begitu ia keluar dari toilet.
“Ibu…?” Gadis kecil berkata lirih.
“Ibu baik-baik saja. Ia sedang tidur di kamarnya. Ibu butuh istirahat, dia kelelahan.” Perawat itu menghampiri gadis kecil. Ia tersenyum hangat.
__ADS_1
“Aku ingin bertemu ibu…” Gadis itu merengek.
“Nanti jika ibu sudah bangun, kakak akan membawamu ke sana.” Ia tersenyum menenangkan gadis kecil. “Kakak janji…” Ia meyakinkan gadis itu. Gadis kecil mengulurkan tangannya dan mengangkat kelingking.
“Janji?”
“Iya, janji.” Perawat itu mengalungkan jari kelingkingnya pada jari gadis kecil.
“Sekarang kau bisa kembali tidur.” Sang perawat merapikan ranjang gadis itu dan membuat gadis kecil tertidur kembali di ranjang inapnya. Perawat menatap gadis kecil dengan sedih. Gadis kecil mendapatkan balutan perban di semua telapak kakinya, bahkan ia mendapatkan beberapa jahitan karena lukanya cukup dalam. Seharusnya ia menangis karena itu pasti sakit, tapi ketika terbangun, gadis kecil hanya mencemaskan ibunya. Seperti tidak merasakan sakit.
“Sepertinya nyonya belum bisa bertemu siapa pun. Saat ini mentalnya tertekan. Ia akan sulit menghadapi orang lain termasuk putrinya.” Pengacara tuan rumah memberitahu.
“Tapi nona Luna terus menanyakan ibunya. Apa tidak bisa membiarkannya sekali bertemu?” Perawat gadis kecil meminta izin kepada pengacara ibunya. Ia tidak bisa terus menahan gadis kecil di kamarnya. Ini sudah tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu.
“Apa kau tidak lihat? Nyonya bahkan melukai dokternya. Aku tidak mau nona Luna juga terluka.” Pria sebenarnya juga cemas. Ia telah menganggap keluarga itu seperti keluarganya sendiri. Ia sudah cukup lama mengurus keluarga itu.
“Ayah bisakah kita bertemu dengan Luna?” Seorang anak pria berusia delapan tahun menghampiri pengacara itu. Ia memanggilnya ayah. Di belakang anak itu, berjalan seorang wanita yang tak lain adalah ibunya.
“Aku akan mengantarkanmu bertemu dengan nona Luna. Dia pasti senang.” Perawat gadis kecil yang juga ada di sana mengulurkan tangannya pada anak pria itu dan mengajaknya ke kamar Luna. Ia tampak senang.
“Ia masih sama seperti kemarin.” Sang pengacara menjawab lemas.
Semua berawal dari perceraian Nyonya muda yang di rawat di rumah sakit itu. Anna. Ia masih tidak bisa menerima suami yang ia cintai bersama dengan wanita lain. Pria itu tega meninggalkannya bersama putri kecil mereka hanya karena seorang wanita. Ia bahkan bilang menyesal untuk mencintai Anna selama ini. Itu benar-benar membuat hati wanita yang mencintainya itu hancur berkeping-keping.
“Apa kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan?!” Anna menanyai suaminya dengan geram.
“Kaulah yang tidak pernah sadar! Kau terus saja sibuk dengan pekerjaanmu dan tidak pernah peduli pada keluarga kecil kita!” Sang suami merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
“Apa yang salah dengan pekerjaanku?! Aku sudah melakukan semua ini bahkan sebelum kita menikah! Ini adalah duniaku! Kau tidak berhak menarikku keluar!” Anna membantah.
“Kau bisa berkata seperti itu sebelum kita memiliki Luna! Sudahlah! Aku tidak tahan lagi denganmu! Aku tahu seharusnya kita tidak pernah bersama. Setiap hari aku menyesalinya!” Pria itu meluapkan amarahnya.
“Apa?!! Bagaimana denganmu?! Jadi kau memilih wanita itu karena dia bisa mewujudkan impian keluarga kecilmu yang bahagia?! Itulah alasanmu meninggalkan keluarga ini?!!” Anna juga tidak bias menahan emosinya.
__ADS_1
“Kita sudah berakhir! Aku akan segera mengajukan surat cerainya. Sebaiknya kau tidak menghalangiku lagi!” Pria itu meninggalkan istrinya dan tidak pernah kembali lagi ke rumah itu. Ia pergi begitu saja seolah tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu.
Luna sudah seringkali mendengar pertengkaran orangtuanya. Ibunya selalu menangis tiap malam setelah tahu ayahnya pergi bersama wanita lain. Inilah akhirnya. Mereka harus berpisah. Ayahnya bahkan tidak menemui Luna untuk yang terakhir kali. Ia mungkin juga menyesal Luna telah dilahirkan. Mungkin juga Ibunya. Luna semakin takut jika nanti sang ibu juga meninggalkannya. Tanpa berpamitan untuk yang terakhir kali.
“Ibu, apa ibu baik-baik saja?” Itulah pertama kali Luna bercakap dengan Ibunya setelah di rawat di rumah sakit. Sang ibu hanya menoleh sejenak dan tidak menanggapi. Ia diam seolah tidak peduli. Perawat yang menggendong Luna sebisa mungkin menghibur gadis itu begitu melihat respon nyonyanya.
“Ibu masih perlu beristirahat. Ayo kita kembali ke kamar kita.” Perawat itu membawa Luna keluar. Gadis kecil yang digendongnya diam saja. Ia mungkin terkejut dengan sikap ibunya, tetapi ia tidak menangis.
Sebulan berlalu dan Luna sudah bisa berjalan sendiri. Jahitan di kakinya sudah dilepas, tapi mungkin akan meninggalkan bekas. Namun, gadis itu tampaknya baik-baik saja. Ia tidak pernah merengek sakit. Ia bahkan tidak menangis saat dokter melepas jahitannya atau membersihkan lukanya. Ibu Luna masih tetap dingin. Ia tidak begitu memperhatikan putrinya. Mungkin saja ia juga tidak mau tahu putrinya terluka.
“Waah…Nyonya, Anda harus tahu, Nona Luna sudah sangat pintar. Ia sudah bisa mengancing baju sendiri. Bukankah dia tampak sangat cantik?” Perawat gadis kecil megambil tas ransel lalu menggandeng tangan Luna. Keduanya turun dari mobil dan berpamitan sebelum pergi.
“Rapikan bajumu! Jangan sampai kotor pun setelah pulang sekolah! Kau mengerti?” Anna berkata ketus kepada putrinya. Gadis kecil itu mengangguk.
“Bukankah kau harus menjawab pertanyaan itu dengan baik?!” Anna memperingatkan Luna. Ia tidak puas dengan tanggapan gadis kecil itu.
“Saya mengerti.” Luna menjawab pelan. sesat kemudian ia meninggalkan mobil itu bersama perawatnya.
“Ibu nona pasti ingin nona menjadi gadis yang baik, makanya dia bicara seperti itu.” Perawat gadis kecil mencoba menghibur. Sepertinya Luna sedih setelah dimarahi.
“Aku tidak apa-apa kok!” Luna tersenyum kepada sang perawat. Ia tersenyum simpul.
Mungkin Anna tidak lagi diam seperti pertama kali. Ia bukan lagi tidak peduli pada Luna. Ia lebih sering menekan gadis kecil itu. Ia ingin Luna bertingkah seperti apa yang dia inginkan. Ia tidak suka melihat gadis kecil itu melakukan hal yang macam-macam. Gadis itu harus selalu terlihat cantik dan sempurna. Seperti yang ia inginkan.
Sejak saat itu, Luna tidak pernah sekali pun menangis. Paling tidak ia hanya menahan air matanya di pelupuk. Ia terlihat sangat tegar dan dewasa di umurnya yang masih kecil. Ia juga berhasil mengungguli teman-teman sebayanya. Kemampuannya terlihat sangat menonjol dari teman seumurannya.
“Pakai sepatu ini dan bertingkahlah dengan baik di depan semua tamu! Kau mengerti?”
“Saya mengerti.” Luna menerima sepatu ber-hak dari ibunya. Untuk pertama kalinya ia memakai sepatu hak tinggi di usia sepuluh tahun. Ia juga sudah menghadiri acara-acara penting di usia itu. Ia tampak bisa beradaptasi dengan baik.
Dua hal utama yang selalu ditekankan Anna pada Luna. Yang pertama adalah penampilannya. Ia harus selalu terlihat sempurna. Dan kedua adalah wawasan Luna dan kemampuannya dalam akademik. Ia tidak boleh terlihat bodoh dan harus selalu bersinar di antara anak seumurannya. Dan Luna selalu dapat memenuhi hal itu dengan baik. Ia jarang sekali membuat ibunya kecewa. Untuk beberapa waktu Luna mungkin bisa memberontak tetapi ia tetap melakukan keinginan ibunya setelah itu.
Seperti yang diketahui, Anna adalah pemilik dan pemegang saham terbesar dari perusahaan brand fashion nomor satu di negaranya. Ia adalah penggila fashion. Itulah mengapa ia selalu ingin menunjukkan hal yang luar biasa kepada dunia. Semua orang akan menyanjung Anna dan begitu juga putri kecilnya hanya dengan melihatnya pertama kali. Semakin banyak yang mengagumi Luna, semakin anna merasa puas. Dan hanya itu yang bisa membuat Anna melupakan kenangan buruk tentang mantan suaminya. Dan Luna pun selama ini mencoba mengerti mengapa ibunya selalu bersikap demikian.
__ADS_1
Tiap kali gadis itu memberontak, ia akan kembali lagi. Ia tidak ingin lagi melihat ibunya menangis tiap malam. Hanya untuk itu, ia berusaha selalu menyenangkan hati Anna. Ia tidak meminta hal yang lebih sampai akhirnya Ibunya memutuskan untuk menikahkannya dengan Shin. Ia ingin hidup sebagai dirinya sendiri.
^^^^