
“Apa kau marah kepadaku?” Shin bertanya dan duduk di hadapan Luna setelah sampai di kafe. Tempat keduanya membuat janji dengan Hani. Wanita itu mungkin akan datang sebentar lagi.
“Aku rasa sedikit.” Luna masih saja menghindari kontak mata dengan Shin.
“Tapi kenapa?” Shin semakin bingung.
“Aku juga tidak tahu.” Luna tampak kesal.
“Bukannya ini aneh? Kenapa tiba-tiba marah keadaku setelah mencium...”
“Aku tahu!” Luna segera memotong perkataan Shin. Ia tidak ingin membahasnya lagi.
Baru saja percakapan itu usai, wanita dengan pakaian kasual dan tas selempang berwarna putih datang menghampiri keduanya. Itu sudah jelas Hani. Begitu mendekati keduannya, Hani memberi salam. Shin mempersilakan wanita itu duduk di hadapannya.
Untuk beberapa saat suasana menjadi sedikit canggung.
“Dia Hani, wanita yang aku ceritakan, dan dia Luna, aku juga sudah menceritakannya padamu.” Shin bergantian mengenalkan dua wanita yang sedang duduk bersamanya. Keduanya juga saling memperkenalkan diri.
“Jadi apa yang akan kau rencanakan?” Hani bertanya pada Shin.
“Sebenarnya aku hanya ingin memperkenalkan kalian berdua secara resmi. Aku tidak memikirkan hal lain haha….” Shin berterus terang. Ia tampak kikuk.
“Jadi kalian saling mengenal sejak SMA?” Luna mulai bertanya pada Hani.
“Iya, ayahku pernah bekerja untuk orangtua Shin.” Hani menjawab sambil tersenyum simpul. “Aku mendengar tentang kontrak pernikahan kalian.” Ia mengalihkan topik.
“Kami akan menyelesaikannya dalam dua pekan.” Luna tersenyum kepada Hani dengan tatapan aneh. Hani dibuat bertanya-tanya tentang arti tatapan itu. Seharusnya itu kabar bagus untuknya, tapi entah mengapa Hani merasa tidak baik.
“Dua pekan?” Shin bahkan tidak menyadari perceraiannya sebentar lagi. Dia terdengar sedikit terkejut. Kedua wanita yang bersamanya serentak menoleh ke arahnya.
“Tidak. Aku rasa lebih tepatnya sepuluh hari dari sekarang.” Luna meralat perkataannya sambil menoleh ke arah Shin.
“Aku harap kita bisa berteman dengan baik ke depannya.” Hani mengulurkan tangannya kepada Luna sambil tersenyum.
“Dan aku berharap tidak ada hal buruk yang terjadi di masa depan.” Luna tersenyum dan membalas tangan Hani. “Apa aku boleh mengunjungi kedaimu kapan-kapan?” Luna bertanya lagi.
“Itu tidak masalah.” Hani tersenyum simpul. Tak berselang lama setelah keduanya bersalaman, handphone Hani berdering.
“Sepertinya aku harus pulang sekarang. Ibu menelponku.” Hani tidak bisa berlama-lama lagi di sana. Ia meminta pamit.
“Apa aku perlu mengantarmu?” Shin menawarkan tumpangan untuk Hani.
“Ah, tidak usah. Aku akan pergi sendiri.” Hani menoleh ke arah Luna sejenak lalu menolak tawaran Shin. Entah mengapa ia merasa terintimidasi oleh Luna. Wanita itu tampak sangat cantik dan sempurna di matanya. Ia merasa kalah hanya karena bertemu dengannya. Segera, Hani beranjak dari kursinya.
“Jangan pedulikan aku! Kau bisa mengantar Hani.” Luna menyadari sikap Hani yang sedang merendah. Ia kemudian membiarkan Shin mengantar wanita itu. Ia mencoba sadar diri di mana posisinya.
“Aku akan lebih nyaman pulang senndiri untuk saat ini.” Hani kembali menolak. Ia juga sadar situasi saat ini tidak tepat. Jika ia pergi bersama Shin sekarang, mungkin berita lainnya akan muncul.
“Aku mengerti.” Shin memahami ucapan Hani. Ia merasa sedikit bersalah. “Kalau begitu hati-hati di jalan.” Shin membiarkan Hani pergi sendiri. Wanita itu sekali lagi memberi salam perpisahan dan melangkah pergi.
Sesaat kemudian Luna ikut beranjak. Ia mengambil tasnya dan hendak meninggalkan Shin.
“Kau bisa pulang sendiri, aku berencana menemui ibu mertua.” Luna memberitahu Shin.
“Biarkan aku mengantarmu!” Shin segera beranjak dan melangkah lebih dulu.
^^^^
Di malam harinya Luna tidak bisa tidur. Tiap kali ia hendak memejamkan mata ia kembali teringat ciuman pertamanya. Bukan. Itu lebih tepat dikatakan sebagai kecupan. Sebenarnya setiap kali berada di dekat Shin, Luna merasa nyaman. Ia juga merasa aman. Shin membuatnya selalu ingin bergantung setelah apa yang ia lalui selama ini. Tanpa disadari, Shin membuat Luna merasa lebih hidup. Selama ini Luna selalu memenuhi setiap keinginan ibunya meskipun itu terasa mengekang dan menyakitkan. Ia selalu berhasil menahan diri agar tidak terbawa perasaan. Tapi saat bersama dengan Shin, Luna bisa melakukan hal yang diinginkaannya. Ia juga bisa mengungkapkan perasaannya.
Awalnya Luna berpikir menjadi seorang istri kontrak mungkin tidak terlalu berbeda dengan kehidupan lamanya. Luna hanya perlu tinggal satu rumah dengan Shin dan menghadiri tempat-tempat resmi dengan Shin. Namun, sejalan dengan waktu, Luna menjadi lebih sering menghabiskan waktu dengan pria itu. Ia makan bersama Shin, berjalan bersama Shin, berlibur bersama Shin, bermain dengan Shin, pergi ke kantor dengan Shin, melihat langit malam dengan Shin, menceritakan rahasianya kepada Shin, tertawa di samping Shin, marah di hadapan Shin, menangis di pelukan Shin, bahkan Luna mengecup bibir Shin. Ia baru sadar telah melakukan banyak hal baru dalam hidupnya dengan pria itu.
“Kenapa tiba-tiba aku memikirkan pria itu?” Luna mempertanyakan diri sendiri. Ia merasa aneh. Dalam benaknya, ia merasa tidak mungkin menyukai pria itu. “Cih, sejak kapan aku menjadi seperti ini?” Luna merasa saat ini ia bukan dirinya sendiri.
“Huh! Aku tiba-tiba jadi haus sekali. Kamar ini juga terasa sesak.” Luna tidak tahan lagi memikirkannya. Ia bangkit dan keluar dari kamarnya. Ia hendak mengambil minum.
Sekembalinya mengambil air, Luna tidak sengaja melihat Shin masih terbangun. Pria itu duduk di teras halaman sendirian.
__ADS_1
“Kenapa dia tidak tidur?” Luna bergumam. Ia kembali melangkahkan kaki ke kamar. Mencoba tidak memedulikan Shin.
“Kau terbangun?” Tiba-tiba Shin menyadari keberadaan Luna. Wanita itu menoleh ke arahnya.
“Aku hanya haus.” Luna menanggapi. Ia menunjukkan segelas air di tangan kanannya.
“Jika tidak bisa tidur, kau bisa bergabung denganku. Malam ini langitnya indah.” Shin menawarkan. Luna tanpa pikir panjang menghampiri pria itu dan duduk di sampingnya.
“Wah benar langitnya indah!” Luna tersenyum menatap bintang-bintang yang berkelip malam itu.
“Apa kau berencana menemui Hani sendirian?” Shin mulai bertanya. Ia teringat dengan perbincangan Luna dan Hani terakhir kali.
“Ya, aku berencana mengunjungi kedainya besok. Aku meminta Brian untuk mempublikasikan artikel tentang itu.” Luna menjawab serius.
“Kau ingin mengekspos kedekatanmu dengan Hani?” Shin bertanya penasaran.
“Ya, saat ini hanya itu yang bisa membuat media tidak lagi mencurigai hubungan kita.”
“Kau benar-benar mengejutkanku.” Shin tersenyum, “Setiap hari kau selalu bisa membuatku penasaran dan terkejut.” Shin melanjutkan.
“Apa itu pujian?” Luna bertanya penasaran.
“Mungkin.” Shin kembali tersenyum.“Apa kau senang melakukannya? Kau tidak seharusnya membantuku mengurus hal ini.” Shin bertanya lagi.
“Ya. Aku sudah pernah bilang bahwa aku bersyukur. Kau dan keluargamu banyak membantuku. Ibuku bahkan belum menghubungiku lagi setelah kejadian waktu itu.” Luna tersenyum. “Apa bersama dengan wanita itu membuatmu bahagia?” Luna ganti bertanya kepada Shin.
“Entahlah, sebenarnya aku tidak tahu.” Shin berterus terang. Ia banyak berpikir belakangan ini. Perlahan adanya Luna dalam hidupnya membuat Shin bingung dengan perasaannya sendiri. Sebelumnya Shin tidak pernah mengharapkan sesuatu. Ia hanya ingin menjalani hidup dengan membenci ayahnya. Melakukan hal-hal bodoh dan mengulanginya. Namun sejak ada Luna di sampingnya, ia ingin menjadi lebih kuat dan bisa diandalkan.
“Bukannya kau membenci ayah karena dia?” Luna penasaran. Kenapa Shin tidak tahu?
“Apa menurutmu begitu?” Shin malah balik bertanya.
“Ya. Kau pernah bilang kalau hubungan kalian tidak direstui oleh ayah. Dan begitulah kau membuat kontrak pernikahan.” Luna benar-benar ingin tahu tentang perasaan Shin.
“Aku hanya sangat kecewa pada ayah. Aku selalu ingin membuatnya marah, dengan begitu aku merasa sedikit tenang.” Shin berkata jujur. Kontrak itu sejak awal memang tidak ada hubungannya dengan Hani. Itu hanya tentang dirinya dan ayahnya.
“Aku tahu aku kekanak-kanakan.” Shin tertawa pahit.
“Lalu bagaimana dengan Hani? Kau tidak pernah membayangkan masa depan dengannya?” Luna menyelidik.
“Aku ingin memastikan dia hidup bahagia. Dia dan keluarganya banyak menderita karenaku.”
“Jadi apa kau bahagia atau tidak bersamanya?” Luna kembali mengulang pertanyaannya.
“Kenapa kau sangat penasaran?” Shin mengernyitkan dahi kepada Luna. Wanita itu terlalu jauh menanyainya.
“Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu bahagia. Apa itu pertanyaan sulit?!” Luna mencoba menekan Shin agar mau menjawabnya.
“Aku tidak tahu apa yang membuatku bahagia! Aku tidak pernah memikirkan hal itu!” Shin jadi agak kesal dengan sikap Luna yang terus-terus menanyainya. Ia benar-benar tidak tahu jawabannya.
“Kalau begitu, bagaimana jika ayah tidak membuatmu kecewa? Apa itu suatu kebahagiaan?” Luna bertanya lagi.
“Aku rasa itu mustahil. Dia tidak akan minta maaf karena merasa tidak pernah membuat kesalahan.” Shin berkomentar.
“Jadi selama ini itu masalahnya?” Luna bergumam. Ia merasa sedikit lega dan mulai bisa membaca permasalahan Shin. Jelas itu tentang Shin dan ayahnya. Pria itu mulai terbuka degannya. “Aku akan membantumu.” Luna tersenyum kepada Shin.
“Membantuku membuat ayah marah?” Shin bertanya-tanya.
“Tentu saja tidak.” Luna membalas cepat. “Aku akan membantu menyembuhkan lukamu.” Wanita itu berucap sembari tangan kanannya menyentuh dada Shin sambil tersenyum.
“Apa yang kau lakukan?!” Shin tampak kaget ia reflek menarik tubuhnya ke belakang. Luna juga segera menarik tangannya kembali.
“Maaf, bukan seperti itu maksudku.” Luna takut Shin slah paham.
“Seperti apa?” kini Shin malah mendekatkan tubuhnya ke arah Luna. Ia menatap mata wanita itu dalam-dalam.
“Apa yang kau lakukan?! Aku bilang bukan seperti itu!!” Luna segera mendorong tubuh Shin menjauh. Ia berjingkat dan pergi meninggalkan Shin. Pria itu merasa sedang dipermainkan. Ia menghela napas panjang.
__ADS_1
Shin pun kembali masuk ke dalam rumah. Luna tampaknya sudah masuk ke dalam kamarnya. Ia mengecek pintu dan jendela beberapa saat lalu masuk ke kamar tidurnya.
Baru saja ia masuk, handphone yang ada di meja kamarnya berdering menandakan ada pesan yang masuk. Tak lama ia mengambil handphone itu dan mengecek isinya. Nama Luna ada di bar notifikasi.
‘Jangan salah paham. Aku hanya mencoba menenangkanmu, aku ingin membantu agar kau tidak lagi menjadi brengsek.’
“Apaan ini? kenapa sampai mengirim pesan,” Shin bergumam sambil tersenyum geli.
^^^
Siang itu Luna benar-benar pergi mengunjungi Hani di kedai keluarganya. Ia diantar oleh Brian. Ia menunggu di luar. Kedai Hani tampak sederhana. Satu dua meja telah terisi saat Luna masuk ke dalamnya. Melihat kemunculan Luna yang tiba-tiba, Hani sedikit terkejut. Segera ia mempersilakan wanita itu masuk dan membawanya ke salah satu meja kosong yang jauh dari orang-orang. Luna juga bertemu dengan Ibu dan ayah Hani dan memberi salam seadanya.
Setelah Luna duduk di kursinya, Hani meminta Luna menunggu. Ia masih sibuk melayani beberapa pelanggan.
“Aku datang ke sini hanya untuk makan siang, jadi santai saja,” Luna membiarkan Hani menyelesaikan pekerjaannya.
“Ada yang anda inginkan? Maaf menunya mungkin tidak seenak restoran bintang lima, tapi aku akan menyiapkan yang terbaik.” Hani menawarkan.
“Aku sama sekali tidak masalah. Tolong sajikan saja menu utama dari tempat ini.” Luna tersenyum dan Hani membalas senyuman itu sambil mengangguk.
Begitu Hani meninggalkan meja Luna, orangtuanya memanggil Hani ke belakang. Keduanya tampak cemas.
“Bukankah itu istri orang kaya itu? Aku melihatnya di tv kemarin!” Ibu Hani tidak menduga wanita itu akan menemui putrinya.
“Apa yang kau lakukan?! Bagaimana bisa kau membiarkannya datang kemari?!” Ayah Hani juga tampak cemas.
“Ibu dan ayah tidak perlu cemas. Kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Aku sudah bilang gosip itu tidak benar!” Hani mencoba meyakinkan orangtuanya.
“Lalu untuk apa dia kemari?!” Ibunya masih tidak yakin semua akan baik-baik saja.
“Dia hanya ingin makan siang, makan siang ....” Hani kembali meyakinkan bahwa tidak akan ada yang terjadi.
“Ayah akan membiarkannya kali ini, tapi ini untuk terakhir kalinya. Ayah tidak suka kau terlibat dengan keluarga itu lagi!” Ayah Hani tampak kesal. Ia pegi dan kembali melayani para pelanggan.
“Aku mengerti,” Hani menanggapi dengan lirih. Ia sebenarnya juga tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.
Setelah selesai menyantap menu, Luna dan Hani sedikit berbincang. Keduanya hanya saling bertanya tentang hal umum dan apa yang biasa dilakukan sehari-hari. Percakapan itu terlihat canggung.
“Maaf, apa aku bisa menggunakan toilet di sini?” Luna meminta izin sebelum akhirnya berpamitan.
“Oh ya, kau bisa menggunakan toilet yang ada di belakang, toiletnya ada di sebelah gudang, aku akan mengantarmu,” Hani bergegas berdiri.
“Oh tidak perlu, biar aku saja. Kau perlu melayani pelanggan lain. Aku juga akan pergi setelah ini. Terima kasih hidangannya.” Luna hendak mengeluarkan kartunya untuk membayar, tapi dengan segera Hani menolak. Bagaimana pun Luna adalah tamunya. Keduanya sedikit berdebat kecil tapi Hani memenangkan perdebatan itu, Luna tidak ingin memperpanjang hal ini. ia hanya bisa mengalah.
^^^
“Apa kau akan mebiarkan hal ini?! bagaimana jika ada yang tahu sesuatu terjadi antara kau dan keluarga kaya itu tujuh tahun lalu?!” Suara seorang wanita yang begitu kesal samar-samar terdengar. Suara itu berasal dari balik gudang. Ia tampak sedang memukuli punggung seseorang beberapa kali.
“Jika itu bocor maka itu datang dari mulutmu! Sikapmulah yang akan membuat semuannya terbongkar!” Suara bera pria terdengar menimpali.
“Astaga ... bagaimana bisa hal semacam ini terjadi kepada keluargaku .... kenapa kau melakukan hal itu kepada mereka .... kenapa ...??” Suara wanita itu menjadi serak. Ia tampaknya mulai menangis.
“Apa kau akan tetap bersikap seperti ini?! Tidak ada yang tahu hal itu kecuali aku dan Tuhan! Kenapa kau malah menangis?!” Pria yang bersamanya tampak marah.
“Ampuni dosa suamiku ya Tuhan ... ampuni dosanya ..., “ ia masih menangis.
“Aku sudah menjelaskannya kepadamu, aku hanya memberikan minuman itu kepada sopirnya. Aku tidak pernah sekalipun mengharapkan kecelakaan terjadi pada wanita itu!”
“Bagaimana kau bisa tidak merasa bersalah setelah berbuat seperti itu?!! Ya Tuhan .... ampuni dosa suamiku ... ampuni dia ....” Suara tangisan wanita itu semakin menjadi walapun ia berusaha menahannya.
Percakapan itu tidak sengaja terdengar oleh Luna setelah keluar dari toilet. Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Sebagaimana kedai itu hanya kedai kecil, tidak banyak pengunjung yang pergi ke toilet yang ada di belakang. Dan tidak ada yang menyangka pula akan ada pengunjung yang mendengar percakapan itu. terlebih orangtua Hani mengira Luna telah pergi karena mejanya kosong. Dengan cepat Luna menangkap percakapan itu dan menjadi yakin kedua orang yang di dengarnya sedang membicarakan keluarga Shin. Jika itu tentang kecelakaan, pasti itu tentang Ibu Shin, Luna sudah tahu bahwa ayah Hani dulunya bekerja sebagai sopir Ibu Shin.
Apakah yang menimpa Ibu Shin sebenarnya bukan murni kecelakaan? Apa yang sebenarnya dilakukan ayah Hani di masa lalu? Apa yang sebenarnya pria itu lakukan dengan sopir lainnya? Luna hanya bisa menduga-duga, tapi itu pasti jelas sesuatu yang buruk jika keluarga Shin mengetahuinya.
Tak mau berlama-lama berdiri di sana, Luna ingin memastikan sendiri apa yang barusan ia dengar. Begitu ia melangkah maju mendekati pintu gudang, wanita Lain telah berdiri di sana. ia tampak sama terkejutnya dengan Luna. Wanita itu adalah Hani.
Mengetahui seseorang mendekatinya, Hani langsung menengok. Ia hanya bisa berdiri dengan tegang ketika melihat Luna datang. Matanya berkaca-kaca dan ia tidak mampu berkata-kata. Melihat hal itu, Luna mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan orangtua Hani secara langsung. Setidaknya untuk saat ini. Luna yakin Hani sama tidak tahunya. Ia tidak punya pilihan lain untuk pergi karena melihat wanita di hadapannya tampak syok berat.
__ADS_1
“Aku akan menghubungimu lagi nanti,” Luna bergegas pergi setelah mengucapkan kata-kata itu di hadapan Hani. Hani masih tidak bisa berkata-kata dan membiarkan wanita itu lepas dari hadapannya.