Pernikahan Kita

Pernikahan Kita
Lembaran Baru


__ADS_3

Baru kemarin Shin meminta maaf kepada ayahnya atas perilakunya yang mengacau selama ini, dan pada hari yang sama orangtuanya mendapat berita bahwa istrinya sedang mengandung anak pertama. Kabar itu menjadi berkah bagi keluarga Rei. Ia ingin membuat pesta untuk merayakannya. Malam berikutnya Rei mengundang Anna dan keluarga kecil Shin untuk makan malama bersama.


“Seharusnya kau memberitahu ayah sebelumnya. Kita baru bertemu secara pribadi beberapa hari yang lalu.” Rei merasa sedikit kecewa kepada Luna. Meskipun begitu, itu tidak mengurangi perasaan bahagianya mengetahui Luna sedang hamil.


“Ah.. saya minta maaf…” Luna merasa tidak enak hati meskipun tahu bahwa gossip kehamilannya palsu.


“Ayah bertemu Luna secara pribadi?” Shin memotong perkataan Luna yang belum selesai. “Apa sebenarnya yang kalian bicarakan?” Shin tampak penasaran.


“Itu bukan urusanmu! Kenapa penasaran?” Rei menjawab Shin cuek.


“Apa yang kau bicarakan dengan ayah?” Shin ganti bertanya kepada Luna.


“Kami hanya membahas beberapa hal.” Luna menjawab seadanya.


“Sudahlah… kenapa kau malah memperpanjang masalah ini? Kita mengadakan pertemuan ini untuk membicarakan kehamilan istrimu…” Sera ingin menyudahi pertanyaan Shin. Ia tidak menganggap itu penting.


“Apa maksud ibu memperpanjang? Aku hanya bertanya tentang apa yang mereka bicarakan. Aku yakin itu bukan soal perusahaan!” Shin mendadak jadi kesal karena merasa tidak mendapat respon yang memuaskan. Luna bahkan tampak tidak ingin mengungkitnya.


“Kenapa kau jadi emosional? Hmm … kami hanya sedikit bergosip tentangmu. Tidak ada yang sepesial soal itu. Kenapa kau jadi sensitif begitu?” Rei mengatakannya juga. Ia tidak mau anak itu meributkannya lagi.


“Kau membicarakanku?” Shin menatap Luna sebal. Ia tidak tahu kalau istrinya ternyata suka menggosip juga.


“Aku tidak mengatakan hal yang buruk kok!” Luna membela diri.


“Benar! Dia terus saja memujimu! Aku tidak tahu mantra apa yang kau gunakan untuk menyihirnya. Kau selalu berlaku sesukamu begitu, aku tidak menyangka akan ada yang menyanjungmu seperti itu.” Rei mengaku dengan kesal. Ia tidak ingin membuat Shin besar kepala.


“Benarkah?” Shin bertanya kepada Luna dengan muka senang. Wanita itu tidak menjawab dan jadi salah tingkah.


“Baiklah kalau begitu, bisakah kita melanjutkan percakapan kita? Ini adalah hari yang bahagia bagi semua orang, bagaimana kita akan merayakannya?” Anna mulai berbicara. Ia menantikan hari ini.


“Kami tidak berencana merayakannya saat ini! Kami masih perlu mengecek apa Luna benar-benar hamil atau tidak.” Shin menanggapi Anna dengan santai. Dari wajahnya tersirat, ia tidak menyukai wanita itu. Ia tidak menyukainya meskipun tahu itu adalah ibu mertuannya.


“Apa maksudmu dengan mengecek? Semua orang tahu Luna sedang hamil!” Sera tampak terkejut dengan perkataan Shin. Sebenarnya semua terkejut mendengar hal itu bahkan Luna. Bisa-bisanya Shin berkata begitu dengan santai.


“Dari mana Ibu tahu Luna benar-benar hamil?” Shin tampak menikmati percakapan ini. Semua orang memasang wajah terkejut. Itu lucu sekali.


“Ibu mertuamulah yang mengatakannya! Jangan membuat kami bingung!” Sera menjawab dengan kesal.


“Oh Ibu mertua, bagaimana Anda bisa mempercayai kabar burung seperti ini? Apakah anda memiliki bukti bahwa Luna sedang mengandung? Ataukah Luna mengatakan kepada Anda secara langsung?” Shin tampak sangat ingin membuat Anna kesal. Luna yang duduk di samping Shin menarik lengan pakaian suaminya. Ia tidak mau Shin berulah.


“Apa?” Anna tampak kebingungan. Dia merasa Shin sedang mempermainkannya. Semua orang di meja itu kini mengarahkan pandangan kepadanya. Ia benar-benr merasa tidak nyaman. “Shin, apa yang sedang kau coba bicarakan?” Anna seakan meminta Shin untuk tidak mengatakan hal-hal aneh.


“Kami harus mengecek kehamilan Luna kembali. Kami belum benar-benar yakin. Istriku memang akhir-akhir ini tampak kelelahan, jadi aku pikir dia mungkin sedang mengandung. Kami hanya belum memastikannya.” Shin memberitahu semua orang.


“Jadi maksudmu Luna sedang tidak hamil sekarang?” Rei menyelidik. Ia mungkin akan marah jika jawabannya ‘iya’.


“Aku sudah bilang pada ayah bahwa kami masih perlu memastikannya. Jika kami berdua benar, semua akan mendapatkan kabar gembira.” Shin tersenyum. Ia tidak ingin membuat keluarganya khawatir.


“Aku hampir berpikir kalian sedang mengarang cerita untuk mempermainkan kami. Aku hampir syok, kau tahu?” Sera merasa lega mendengar jawaban Shin.


“Tapi itu juga berarti ada kemungkinan bahwa Luna tidak sedang mengandung.” Rei memasang wajah jengkel.


“Saya yakin ayah akan segera menerima kabar baik.” Luna tersenyum dan mencoba menenangkan ayah mertuanya.


“Baguslah kalau begitu.” Sera tampak senang mendengarnya. sementara itu, Anna masih merasa tidak nyaman. Shin benar-benar berhasil membuatnya kesal, tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun kepada menantu kesayangannya.

__ADS_1


^^^


“Wow! Kak Shin, tadi itu benar-benar mengejutkanku! Bagaimana bisa Kakak bicara seperti itu?!” Luna mengomentari Shin begitu mereka sampai di rumah. Dia sudah seperti aktor pemeran utama saja. Shin dengan mudah memainkan perasaan semua orang.


“Apa yang kau bilang barusan?” Shin sontak menatap Luna. Ia ingin memastikan sesuatu.


“Apa? Aku bilang aku terkejut dengan yang barusan!”


“Kau tadi memanggilku apa?” Shin bertanya lagi. Luna memasang muka seolah tidak mengerti, ia mengangkat kedua tangannya sejajar pundak.


“Aku yakin kau memanggil namaku ...” Shin mengonfirmasi.


“Ya, aku memang memanggil namamu.” Luna menjawab polos.


“Bisa kau ulangi?” Shin meminta.


“Shin.” Luna menjawab singkat.


“Aku yakin tadi kau memanggilku dengan sebutan kakak!” Shin tidak puas dengan jawaban Luna.


“Ooh..” Luna tidak hendak berkomentar lebih jauh. Ia kemudian pergi meninggalkan Shin.


“Kenapa? Kau jadi malu memanggilku kakak karena aku berkata seperti ini?” Shin mengikuti wanita itu di sampingnya.


“Sama sekali tidak. Kenapa aku harus malu?” Luna memberitahu Shin.


“Lalu kenapa kau berhenti memanggilku begitu?”


“Karena aku tidak sedang ingin memanggilmu.” Luna tersenyum. Pertanyaan Shin terdengar konyol.


“Kau akan terus mengikutiku seperti ini?” Luna menghentikan langkahnya dan menyilangkan kedua tangannya di atas dada.


“Kenapa tidak?” Shin mengucapkan perkataan yang sama dengan nada berbeda. Ia jelas suka membuntuti wanita itu.


“Kak Shin, aku ini mau mandi. Jadi bisakah sekarang kau tidak mengikutiku?” Luna memberitahu Shin. Ia tidak mondar-mandir tanpa alasan. Wanita itu menarik tubuh Shin dan mendudukkannya di atas ranjang. Ia menyuruhnya berhenti.


“Apa sekarang aku kakakmu? Kenapa memanggilku begitu?” Shin bertanya dengan hati senang.


“Kau pernah bilang kalau umurmu dua tahun di atasku. Tidak ada alasan lain.” Luna menjawab datar.


“Aku menyukainya.” Mata Shin tidak perpaling dari wanita itu.


“Matamu terlihat akan copot jika melihatku seperti itu teruuus..” Luna berkomentar sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.


“Apa dia tadi bilang mandi?” Senyuman Shin mengembang semakin lebar. Ia tetap ingin membuntuti wanita itu.


^^^^


“Apa itu positif?” Luna bertanya ragu-ragu kepada Shin.


“Apa tandanya bisa dikatakan positif?” Shin tampak bingung memperhatikan benda kecil di tangannya.


“Jika tandanya dua garis itu positif!” Luna gemas mendengar perkataan Shin. Ia tidak bisa diandalkan. Wanita itu kemudian berbaring tengkurap di atas ranjang di samping Shin. Keduanya kini memperhatikan tespack bersamaan.


“Oh ... bukankah ini dua?!” Shin tersenyum lebar. Ia menunjukkannya kepada Luna.

__ADS_1


“Benar. Bagaimana bisa?!” Luna terkejut mendengarnya.


“Apa maksudmu dengan bagaimana bisa?” Shin melirik ke arah Luna dengan sedikit kesal.


“Ya ... aku tidak tahu saja itu akan berhasil secepat itu. Itu membuatku merinding.” Luna meringis. Ia masih tidak meyangka dirinya positif hamil. Ia dengar orang lain melakukannya berkali-kali untuk bisa hamil.


“Apa kau menyesal melakukannya denganku?” Shin bertanya penasaran.


“Tidak! Aku tidak pernah menyesal! Apa maksudmu?!” Luna menjawab dengan cepat. Bukan seperti itu yang ia pikirkan. “Apa itu berarti kita bisa memberitahu keluarga kita?” Ia bertanya lagi.


“Hanya jika mereka bertanya.” Shin menambahkan. Ia kemudian memeluk wanita di sampingnya. “Terima kasih ya ...”


“Untuk apa?” Luna bertanya.


“Karena mau menghabiskan hidupmu bersamaku.” Shin tersenyum. “Aku berjanji akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik.” Ia melanjutkan.


“Kau memang harus melakukannya.” Luna juga tersenyum dalam pelukan suaminya.


Pernikahan ini mungkin tidak pernah mereka harapkan sebelumnya. Dua orang asing yang bertemu dan menikah tanpa memiliki cinta satu sama lain. Siapa yang tahu takdir akan menggiring mereka bersatu dan cinta tumbuh perlahan di dalam pernikahan itu. Jika Tuhan telah menakdirkan dua insan berjodoh, maka tidak akan ada yang bisa meghalangi pertemuan keduanya. Sebaliknya, Tuhan akan memadamkan api cinta di antara dua orang yang memang sejak awal tidak ditakdirkan untuk bersama. Dan perlu diingat bahwa perjalanan hidup itu berliku. Tidak ada yang tahu ke mana takdir akan membawa kita.


^^^^


Dua belas tahun yang lalu di halaman rumah Shin diadakan pesta kecil.


“Kenapa anak kecil memakai hak tinggi?” Shin mengamati gadis kecil yang duduk tidak jauh darinya. Gadis itu menoleh ke arah Shin dengan polos.


“Kenapa memangnya?” Gadis itu mulai bertanya.


“Kau terlihat seperti ibuku!” Shin mengejek gadis itu sambil menghampirinya. “Namamu siapa?”


“Luna.” Gadis kecil itu menjawab polos.


“Nih pakai sepatu ini saja!” Shin melepas sepatunya dan memberikannya kepada Luna.


“Bagaimana dengan kakak?” Luna bertanya polos.


“Aku masih punya sepatu banyak di dalam. Mau kutunjukkan?” Shin mengajak Luna masuk ke rumahnya. Gadis itu mengikutinya dengan patuh.


“Lihat kan?” Shin menunjukkan semua koleksi sepatunya kepada Luna. “Pilihlah salah satu!” Shin menawarkan. Luna mengamati koleksi sepatu milik Shin dan mengambil salah satunya. Ia mengambil sepatu kets berwarna putih yang sederhana.


“Oh. Itu sepatuku saat berumur delapan tahun. Aku sangat menyukainya. Jadi masih kusimpan.” Shin memberitahu.


“Aku boleh memakainya?” Luna bertanya.


“Tentu saja. Lagian aku sudah tidak muat. Tapi sebagai gantinya, aku akan mengambil sepatumu.” Shin mengambil sepatu hak tinggi milik Luna dan meletakkannya di dalam rak.


“Terima kasih.” Luna tersenyum. Keduanya kembali ke halaman dengan senang.


Beberapa saat setelah pesta itu selesai, Luna masuk ke dalam mobil bersama ibunya.


“Di mana sepatumu?” Anna menanyai putrinya. Ia baru sadar Luna memakai sepatu yang berbeda.


“Aku menghilangkannya.” Luna berbohong. Sebenarnya Shin yang menyuruhnya berkata begitu jika ditanya.


“Lalu itu sepatu siapa?” Anna kembali bertanya.

__ADS_1


“Kak Shin memberikannya padaku.” Gadis itu tersenyum.


__ADS_2