
“Kenapa kau tidak mengabariku lebih dulu? Lihatlah betapa berantakannya aku?” Sera tersenyum senang melihat Luna mengunjungi rumah. Ia sedang berkebun saat Luna datang. Tangannya berlapis sarung tangan yang berlumuran pupuk.
“Saya sengaja tidak mengabari. Saya tahu Ibu akan mempersiapkan banyak hal. Itu akan merepotkan Ibu.” Luna tersenyum. Ia sudah menganggap Sera seperti ibunya. Tidak, mereka lebih seperti teman akrab.
“Tapi apa yang membuatmu tiba-tiba datang kemari? Kau tidak datang bersama Shin?” Sera melepaskan sarung tangannya dan berbenah diri. Ia baru sadar Luna hanya datang sendirian.
“Kak Shin berada di kantor. Ia sedang mengurus beberapa hal.”
“Kau benar, akhir-akhir ini dia jadi giat bekerja. Dia jauh lebih baik dari sebelumnya. Sungguh! Itu semua berkatmu. Aku benar-benar berterima kasih.” Kedua wanita itu duduk bersama.
”Saya tidak melakukan apa-apa…” Luna merendah.
“Kau tahu betapa menyedihkannya Shin sebelum ini? Dia tidak pernah mau bekerja di kantor, jarang pulang ke rumah, membuat banyak keributan, ia seperti tidak punya tempat untuk kembali. Aku tahu dia sedang menyulitkan dirinya sendiri tapi aku tidak pernah bisa berbuat apa-apa. Ia sangat membenciku saat itu bahkan tidak ingin melihatku ada di depannya..” Sera menghela napas panjang. Ia mengingat masa-masa gelap Shin.
“Apa yang ibu katakan? Kak Shin tidak pernah membenci Ibu sekali pun. Itu hanya karena Ibu mengingatkannya pada Ibunya. Itu memakan waktu bagi kak Shin untuk menerimanya.” Luna menenangkan Sera. Itulah yang sebenarnya.
“Begitukah? Apa artinya sekarang Shin sudah menerimaku? Ia sudah sering menelpon rumah walau hanya menanyakan kabar.” Sera tertawa kecil.
“Saya rasa begitu.” Luna membalas dengan senyum.
“Bukannya Sudah kubilang berkali-kali kalau tidak perlu bicara formal kepadaku, tapi kau terus melakukannya?” Sera mengomentari Luna.
“Ini karena saya sudah terbiasa.” Luna tersenyum. “Ibu, sebenarnya saya datang hari ini untuk bicara dengan ayah. Saya mendengar beliau sudah pulang dari perjalanan bisnis di luar kota.”
“Oh, dia bilang ingin bertemu seseorang sebentar, jadi dia pergi lagi. Tapi aku rasa dia akan segera pulang.” Sera menjawab santai, “Oh ya, bagaimana jika sambil menunggu kau melihat-lihat kamar Shin? Kau belum pernah melihatnya kan walau kalian sudah hampir tiga bulan menikah? Kamar itu memang jarang ditempati setelah Shin pergi ke Amerika.” Sera beranjak sambil memberi isyarat kepada Luna untuk mengikutnya.
“Baiklah.” Luna mengikuti Sera yang hendak mengantarnya ke kamar Shin.
Luna memasuki kamar itu. ruangannya cukup luas dengan rak panjang memenuhi salah satu sisi dinding ruangan. Di atasnya tersusun rapi replika-replika mobil. Di sisi lainnya terdapat meja kosong, sofasedang, jendelah berukuran lebar, dan kasur berukuran Queen. Terdapat juga ruangan lain dari kamar itu yang memuat lemari-lemari pakaian dan ruang toilet.
“Kau bisa menghabiskan waktumu di sini jika ingin. Kau bisa tahu kan betapa Shin menyukai mobil dari pajangan di rak itu?” Sera tertawa lalu membiarkan Luna menghabiskan waktunya sendiri.
Luna tersenyum mendekati rak yang memajang mobil-mobil kecil itu. Ia jadi ingat saat Shin ingin membawa mobilnya saat pertama kali tinggal di satu rumah. Ia menongok ke sekitar dan berpikir kamar itu sudah tidak pernah ditinggali dalam waktu yang lama. Ruangan itu terlihat kosong dan hampa. Hanya karena ada mobil-mobil itu saja yang membuat orang yakin ada seseorang yang pernal menempati ruangan itu.
“Aku rasa dia ingin menjadi pembalap.”
Luna pun berkeliling ke ruang lain yang di dalamnya terdapat lemari-lemari pakaian dan tempat aksesoris. Tempat itu juga terlihat kosong. Jas-jas tersusun rapi seperti baru. Luna sangat jarang melihat pria itu mengenakan jas. Setelah mengelilingi semua sudut ruangan Luna jadi merasa sedikit sedih.
Kamar itu bisa menunjukkan bagaimana menyedihkannya Shin. Selama ini dia juga pasti menahan banyak hal. Mungkin ia hanya masuk ke kamar itu untuk tidur di malam hari dan pergi keesokan harinya. Ia mungkin bahkan hanya menggunakan satu lemari pakaian dari semua lemari yang baru saja ia lihat. Untuk pertama kalinya, Luna ingin lebih mengenal pria itu. apa yang disukainya dan apa yang tidak disukainya.
^^^
__ADS_1
Malam itu Shin mengunjungi rumah sahabatnya.
“Apa ini rumahmu? Kau menaruh semua barang-barangmu di sini!” Kevin menendang topi yang ada di lantai ke arah shin. Rumah kevin memang tampak ditinggali dua orang. Beberapa barang Kevin tercampur dengan milik Shin. Kadang pria itu meninggalkan jaket, buku, bahkan beberapa pakaian dan alat mandi. Shin juga membeli beberapa mesin gaming dan meletakkannya di rumah Kevin.
“Itu karena kau tinggal sendirian! Lihatlah betapa kosongnya rumahmu! Aku hanya mengisinya agar tampak seperti ada orang hidup di sini!” Shin membela diri.
“Aku rasa inilah membuatku tidak pernah berhasil mendekati wanita! Kau selalu menempeliku di mana saja! Huh! Padahal kau sudah menikah tapi masih sering datang kemari! Kau tidak akan pulang?!”
“Luna bilang dia ingin mengunjungi rumah ayah malam ini. Dia ingin pergi sendiri.” Shin menjawab Kevin asal. Ia tampak asik bermain playstation.
“Jadi karena Luna tidak ada di rumah kau datang ke sini? Apa kau tidak bisa hidup tanpa ada dia di rumahmu?” ujar Kevin kesal.
“Ya begitulah.” Shin menjawab santai.
“Begitu? Apa kau mulai menyukainya? Aku sudah menduga ini akan terjadi!” Kevin bertanya antusias. Ia jadi penasaran. Segera ia duduk di sofa belakang Shin.
“Kau kan tahu aku memang tidak bisa tinggal di rumah sendirian! Yaah.. kalah deh!!” Shin membanting joystick yang dipegangnya.
“Huh! Apa kau tidak akan pernah serius?!” Kevin tampak jengkel mendengar jawaban itu.
“Apa yang kau harapkan dari kami?”
“Aku hanya berharap kau tidak hidup seperti orang bodoh lagi! Apa itu karena Luna? Aku tidak pernah mendengar kau berbuat kekacauan akhir-akhir ini?”
“Aku tahu kau juga lelah melakuan semua ini. Jadi hentikanlah!” Kevin mencoba menasihati Shin. Pria di depannya itu hanya bisa terdiam.
^^^
Keesokan harinya, Shin mendatangi rumah keluarganya. Luna tidak pulang semalam. Ia menginap di rumah keluarga Shin. Ia sempat menghubungi Luna, tapi tidak diangkat, tak lama setelah itu Sera menelponnya dan mengabari bahwa Luna sudah terlelap. Ia meminta Shin untuk membiarkannya. Awalnya Sera meminta Shin juga pulang ke rumah, tapi ia memilih berada di rumah sahabatnya.
“Dia belum bangun? Luna tidak biasanya bangun kesiangan.” Shin menanyakan keadaan Luna pagi itu dan berkomentar. Sera yang ditanyai kemudian mengantar Shin ke kamarnya. Wanita itu terlelap di sana.
“Dia sepertinya merasa nyaman di sana. Aku merasa kasihan jika membangunkannya, aku tahu dia lelah bekerja seharian kemarin.” Sera menanggapi pertanyaan Shin. Pria itu perlahan membuka pintu dan melihat seorang wanita masih berbaring di tempat tidur.
“Aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian.” Sera memberitahu Shin dan melangkah pergi.
“Ibu,” Shin memanggil Sera. Wanita itu menoleh ke belakang. “Terima kasih sudah menjaga Luna.” Shin tersenyum simpul dan Sera membalas senyuman itu. Sebenarnya Shin masih canggung memanggil Sera dengan sebutan ibu, tapi kini ia mulai membiasakannya. Wanita itu kembali berjalan pergi.
Shin menutup pintu kamar dan perlahan mendekati Luna yang berbaring di ranjangnya. Wanita itu memang tampak nyaman tidur di sana. Belum sampai Shin ke depan ranjangnya, Luna terbangun. Ia mungkin terbangun karena suara langkah kaki Shin. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Apa aku membangunkanmu?” Shin bertanya. Wanita itu menoleh ke arah Shin dengan mata menyipit. Ia kemudian memandangi sekitar.
__ADS_1
“Oh, aku pasti ketiduran…” Menyadari sedang tidak ada dikamarnya, Luna pun segera terduduk. Ia juga segera mencari barang-barangnya.
“Kau tidak perlu begitu, aku tidak keberatan kok!” Shin menenangkan Luna.
“Apa ini sudah pagi?” Luna mengambil hpnya yang ada di meja dekat ranjang. Ia terkejut begitu melihat jam menunjukkan pukul tujuh.“Oh Tuhan, jadi aku tidur semalaman di sini?!” Luna menatap Shin. Ia terlihat sangat heran.
“Kurasa begitu.” Shin menjawab dengan hati-hati. “Tapi tidak ada yang perlu dicemaskan.” Ia melanjutkan. Shin kemudian mendekati jendela dan mebuka tirai. Ia membiarkan cahaya matahari memasuki ruang kamarnya. Sedang Luna masih mengumpulkan nyawanya.
“Bagaimana denganmu?” Luna bertanya pada Shin. Ia heran kenapa Shin ada di sana.
“Aku baru saja sampai. Ibu mengabariku kau masih di sini pagi ini.” Shin menoleh ke arah luna. Ia memandangi wanita itu untuk waktu yang lama.
“Kenapa?” Luna menyadari Shin sedang mengamatinya. Pria itu bersikap aneh. Ia tampak menahan tawa.
“Tidak ada apa-apa. Ini pertama kalinya aku melihatmu bangun dari tidur. Aku baru tahu kau bisa tampak berantakan juga ...” Shin tertawa kecil. Wanita itu tampak lucu di matanya. Rambutnya berantakan dan ada sedikit bekas air liur di sudut bibirnya. Ia juga masih sedikit kelihatan kesusahan membuka mata.
“Apa?!” Dengan segera Luna berpaling dari Shin dan merapikan rambutnya.
“Hei, jangan berlebihan.... Aku tidak menganggap itu buruk kok!” Shin berjalan ke arah Luna.
“Jangan mendekat!” Luna menghentikan langkah Shin yang terdengar semakin dekat.
“Aku hanya mau keluar,” Shin terlihat sedikit bingung. Apa Luna mengira dia sedang menghampirinya? Itulah pikir Shin. “Ibu menyiapkan sarapan untuk kita, sebaiknya kita segera turun. Aku menunggumu di luar.” Shin kembali berjalan, ia melewati Luna dan keluar dari kamar. Menyadari kesalahpahaman itu, Luna menjadi sangat malu. Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya dan mengutuk diri sendiri.
^^^
“Apa tidurmu nyenyak? Aku tidak tahu kau akan datang ke rumah semalam.” Rei berbincang dengan Luna di tengah sarapan. Pagi itu keluarga Rei terlihat harmonis. Ini kali pertama putranya makan di meja yang sama dengannya, istrinya, dan menantunya. Ia tampak begitu senang. Setelah ibu Shin meninggal, ia tak pernah sekalipun makan di meja itu.
“Saya minta maaf, seharusnya saya memberitahu ayah sebelumnya. Saya bahkan ketiduran sebelum sempat bertemu.” Luna merasa bersalah.
“Tidak apa. Aku malah sangat senang kau ada di sini berlama-lama. Jika bukan karenamu, Shin mungkin tidak akan datang kemari.” Rei tersenyum kepada menantu kesayangannya itu.
“Seperti tidak pernah bertemu saja, padahal satu kantor.” Shin bergumam. Ia tampak tidak peduli dengan suasana hati Rei yang sedang senang.
“Apa kau mau tambah nasi? Aku akan mengambilkanmu.” Sera segera mengalihkan perhatian Rei. Jelas sekali Shin ingin membuat ayahnya sebal.
“Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan denganku?” Re kembali fokus kepada Luna.
“Itu, saya ingin bicara secara pribadi.” Luna sedikit berbisik. Shin yang ada di sampingnya melirik curiga. Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Luna dengan ayah?
“Aku akan selalu meluangkan waktu untuk putriku.” Rei tersenyum. Ia terlihat sangat menyayangi menantunya. Itu juga sedikit membuat Shin sebal entah mengapa.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapan dan berbincang sedikit, keduanya pun pamit dari rumah itu.
^^^