
Tujuh tahun lalu.
Shin dan Hani menjadi lebih dekat sejak kejadian yang menimpa keluarganya. Ia hampir setiap hari datang untuk meminta maaf atas perbuatan ayahnya. Ibu Hani tentu saja masih membenci Shin, tetapi lama-lama ia bosan juga melihat wajah itu tertunduk di depan rumah mereka. Hani mengerti bahwa ini bukan salah Shin. Ia tahu Shin juga kaget mendengar kenyataan yang terjadi terhadap ayahnya. Hani sama sekali tidak bisa membenci Shin.
Belum sampai sepekan Shin mengetahui bahwa ayahnya memecat seseorang dengan tidak adil. Kali ini hal yang lebih besar terjadi. Tepat setelah pulang sekolah, Shin dikagetkan dengan kabar Ibunya yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Sopir yang berada di mobil ibu tewas di tempat dan ibunya meningggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
Ayahnya yang baru saja pergi ke luar negeri mendapat kabar tentang kejadian itu sehari setelahnya. Jadilah Shin seorang diri menunggui mayat Ibunya hingga dimakamkan. Ia merasa semua terasa cepat. Padahal baru saja pagi itu ibunya tersenyum saat meninggalkannya di depan sekolah dan kini raganya tergeletak tak bernyawa. Sebenarnya Shin sudah memiliki firasat buruk pagi itu. Ia seharusnya mengindahkannya dan bukannya tak peduli.
“Shin, ibu mohon untuk jangan menjauh dari ayahmu.” Ibu menasihati Shin. Setelah mengamuk besar kepada ayahnya, Shin selalu menghindar.
“Selamat tinggal bu.” Shin keluar dari mobilnya. Ia tidak mengindahkan perkataan ibunya.
“Shin, kau harus tahu, ayahmu adalah orang yang paling banyak mengalami kehilangan. Tolong jangan menghindarinya! Ibu mohon untuk terakhir kali, jangan pernah meninggalkan ayahmu! Mengerti?”
“Kenapa aku harus peduli kepada ayah saat dia hanya peduli dengan nama baiknya saja?” Shin menanggapi. Ia masih berdiri di sana.
“Ibu minta maaf untuk itu. Ibu menyayangimu.” Ibu Shin mengakhiri percakapannya. ia tidak bisa berbuat banyak untuk membuat Shin mengerti.
Mobil itu melaju kembali. Kali ini Shin memandangi mobil itu melaju hingga hilang di belokan. Entah mengapa hatinya terasa sesak. Kenapa juga ibunya yang harus meminta maaf. Ia merasa kesal dan terus memikirkannya. Ia tidak tahu bahwa itu pertemuan terakhir dengan ibunya.
Setelah kepergian ibunya, Shin tidak pernah makan di rumah. Ibunya selalu menyempatkan diri untuk membuat sarapan dengan dibantu pelayan-pelayan di rumahnya. Dan kini tidak ada lagi masakan ibunya. Semua makanan di meja terasa hambar. Selera makannya pun hilang ketika melihat ayahnya duduk di sana. Sejak hari ia selalu melewatkan sarapan. Ia bahkan tidak pernah makan di rumah. Rumah hanya tempat untuk tidur di malam hari.
Seperti kata ibunya untuk terakhir kali, Shin tidak boleh meninggalkan ayahnya. Bagaimana bisa pesan terakhir ibunya adalah tentang ayahnya. Itu membuat Shin geram. Tapi mau bagaimana lagi, yang bisa ia lakukan untuk ibunya terakhir kali adalah menepati pesannya. Untuk itu, meskipun Shin membenci ayahnya, ia tidak pernah meninggalkan pria itu. Jika pun ia pergi dari rumah, ia akan tetap kembali.
Mulailah kebiaasaan baru Shin muncul. Ia banyak mengacau di sekolah maupun di depan publik. Ia sengaja melakukannya untuk membuat ayahnya geram. Ia berusaha untuk membuat citra buruk dalam keluarganya. Ayahnya yang memulai semua ini dan Shin berniat mengakhirinya. Ia ingin melihat apakah ayahnya akan tetap menganggapnya seperti seorang putra saat ia mencoreng nama baiknya.
Tidak lama kemudian ayahnya memberitahu akan menikah lagi. Dan hal itu benar-benar terjadi. Shin semakin muak dengan sikap ayahnya. Seharusnya ayahnya itu tahu bahwa hal terakhir yang dikhwatirkan ibunya adalah suaminya sendiri. Tapi lihatlah sekarang. Ayahnya dengan tanpa perasaan malah menikahi wanita lain belum sampai genap setahun meninggalnya Ibu Shin. Akhirnya Shin juga membenci wanita itu. Sepaket lengkap kebenciannya.
Di saat-saat seperti itulah, hanya Hani yang membuatnya lebih tenang. Shin merasa memiliki kesamaan dengan gadis itu. Ia merasa menjadi korban dari orang yang sama. Pada akhirnya ia menjadi cukup dekat dengan orang-orang di sekitar Hani. Ibunya, adiknya bernama Keitaro, dan tetangga sekaligus teman dekat Hani, Aili dan Al.
Kedua sahabat Hani adalah saudara kembar yang berbeda jenis kelamin. Shin mungkin bisa dekat dengan Aili tapi tidak dengan Al. Pria itu tampak menyukai Hani dan Shin tidak menyukai hal itu. Dia adalah lelaki yang berpura-pura menjadi polisi dengan memakai seragam lama ayahnya. Ingat kan? saat keluarga Hani didatangi oleh para preman. Pria berseragam itu adalah Al.
Setengah tahun lewat, Shin dan Hani semakin dekat satu sama lain hingga sampai di hari kelulusan SMA. Shin tahu itu mungkin akan jadi kenangan terakhirnya sebelum ia akhirnya melanjutkan kuliah di luar negeri. Awalnya Shin menentang keputusan ayahnya, tapi Hani berhasil meyakinkannya. Hani lah yang membuat Shin sampai sejauh ini.
“Mau bersepeda bersama?” Shin mendatangi Hani di rumahnya sehari sebelum keberangkatannya ke luar negeri.
“Tentu.” Hani tersenyum senang. Ia duduk di bangku belakang.
“Apa aku tidak usah pergi saja ya?” Shin tiba-tiba bertanya.
“Jangan bicara seperti itu! Kau sudah berjanji padaku untuk pergi. Jika aku jadi kau, aku pasti akan mengambil kesempatan itu tanpa berpikir dua kali. Seharusnya orang kaya sepertimu selalu bersyukur karena bisa melakukan apa saja. Kau akan sangat menyesal jika nanti jatuh miskin!” Hani mengomel.
“Iya iya ...” Shin tertawa. Bicara Hani seperti orangtua saja.
Mereka bersepeda cukup lama dan membicarakan banyak hal. Shin pun mengantar Hani pulang ke rumahnya setelah hari mulai gelap.
“Hani, ada yang ingin kukatakan.” Shin memanggil Hani kembali begitu gadis itu hendak masuk rumah.
“Apa itu?” Hani kembali mendekati Shin.
“Kau tidak sedih aku akan pergi?” Shin bertanya.
“Tentu saja aku sedih. Aku hampir menangis saat pertama kali kau bilang padaku ayahmu menyuruh kuliah di luar negeri. Tapi mengingat itu adalah kau, aku yakin kau akan baik-baik saja di sana. kau juga bisa dengan mudah kembali karena kau kaya. Seperti katamu, hanya butuh waktu kurang dari sepuluh jam untuk kembali.” Hani kini tampak sedih. Sedari tadi sebenarnya ia menahan kesedihannya. Ia ingin Shin mengenang kebahagiaan saat perpisahan mereka.
“Apa kau mau ikut denganku?” Tanya Shin lagi.
“Apa boleh?” Hani kembali bertanya. Tentu saja keduanya tahu bahwa itu adalah hal yang tidak akan terjadi.
“Hani, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu.” Shin akhirnya mengakui perasaannya pada Hani. Ia tidak mau menundanya. Ini kesempatan terakhir. Mendengar perkataan Shin, Hani terdiam sejenak, lalu ia tersenyum.
“Aku juga menyukaimu. Aku sangat menyukaimu.” Hani menatap mata Shin dalam-dalam. ia berharap Shin akan kembali lebih cepat nantinya. “Kita akan bertemu lagi.” Hani melanjutkan.
“Akan kupastikan.” Shin balas tersenyum. Masa SMA Shin berakhir dengan cukup indah. Meskipun ia melewati banyak hal yang menyedihkan, ia masih bisa bersyukur untuk memiliki Hani di sampingnya.
^^^
Shin terbangun dan mendapati dirinya tidur di lantai, ia bermimpi lagi tentang ibunya. Ia jadi tidak bisa tidur lagi. Dilihatnya Luna juga tertidur di lantai tidak jauh darinya. Sepertinya mereka kelelahan bermain sampai tidak sadar jika tertidur di lantai. Melihat Luna tampak tidak nyaman, ia menggendong wanita itu dan membawaya ke atas kasur. Ia menyelimuti gadis itu lalu beranjak duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.
“Apa benar yang dikatakan Luna?” Shin bergumam sendiri. Ia ingat kata Luna tentang Ibunya. Jika dipikir lagi, Sera tidak ada hubungannya dengan ibu. Ia hadir setelah ibunya meninggal. Hanya karena ayahnya yang membawanya, bukan berarti Sera merebut posisi Ibu. Shin menghela napas panjang. Ia tidak mau memikirkan hal itu lagi.
Tangan Shin reflek mengambil hp yang ada di saku celananya. Ia mengecek kotak pesan dan baru teringat bahwa di sana tidak ada sinyal. Sebelum berangkat ke Selandia Baru Shin sempat mendatangi Hani. Ia berbohong kepada wanita itu bahwa ia pergi untuk perjalanan bisnis sementara.
Hani mungkin berpikir Shin saat ini adalah seorang yang sukses. Ia menjadi orang yang terpandang di masa depan dan dikagumi banyak orang. Shin menelan ludah. Ia bahkan lebih buruk dari yang Hani pikirkan. Ia selalu mengacau di sana sini dan hanya membuang-buang uang orangtuanya. Itu sebabnya ia dijodohkan dan menikah dengan Luna.
Shin kini memandangi Luna dari jauh. “Gadis yang misterius.” Shin berkata lirih. “Sekarang aku sedang bersama dengan gadis yang sangat misterius.” Shin bicara sendiri. Ia tidak menyadari bahwa ia telah melangkah sejauh ini.
“Gadis misterius adalah istriku.” Ia tersenyum kecut. Bagi Shin ini adalah waktu yang aneh. Ia membawa seseorang asing dalam kehidupannya. Meskipun ia pernah bertemu Luna saat masih kecil, sebenarnya ia tidak ingat sama sekali. Apakah mereka dekat? Apakah mereka pernah bermain bersama saat kecil? Shin tidak ingat. Ia merenungi dirinya sendiri yang melakukan hal yang tampak tidak masuk akal hingga kembali tertidur.
Shin membuka mata kembali dan melihat Luna masih tertidur di ranjang. Ia hampir membangunkan Luna, tapi ia ingat Luna bilang ingin tidur seharian di hari pertamanya. Shin pergi keluar bersama mobilnya dan meninggalkan Luna di vila itu sendirian.
__ADS_1
Shin pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan dan kembali lagi ke vila setelahnya. Ia masih mendapati wanita itu tertidur. Tampaknya Luna benar-benar bertekad untuk tidur seharian. Shin mulai mengambil peralatan masak dan mengeluarkan bahan-bahan.
Sebenarnya Shin pandai memasak. Ibu Shin memiliki hobi memasak dan saat masih kecil, Shin sering diajak untuk memasak bersama. Setelah kepergian ibunya, Shin selalu pergi ke rumah Kevin untuk makan malam. Ia sering memaskakan Kevin dan kakeknya karena mereka sangat tidak jago memasak dan selalu membeli makanan instan. Itu membuat Shin prihatin. Saat tinggal di luar negeri pun Shin mengurusi kehidupannya sendiri dan memasak makanannya sendiri.
“Kau sudah bangun?” Shin mendapati Luna terbangun dan menatapnya bingung dengan mata menyipit. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Luna melihat Shin sedang membolak-balik sesuatu di penggorengan. Ia juga mencium bau sedap masakan.
“Kau sedang memasak?” Luna memastikan ia tidak sedang bermimpi.
“Iya” Shin menjawab. Luna tampak lucu dengan rambut berantakan habis bangun tidur.
Setelah mengumpulkan nyawa, Luna mendekati dapur dan duduk di meja makan. Ia mengamati Shin yang tampak lihai memasak.
“Sepertinya kamu pintar memasak.” Luna berkomentar.
“Tentu saja. Aku selalu masak sendiri saat sekolah di luar negeri.” Shin membawa beberapa piring berisi lauk ke atas meja. Aromanya membuat Luna memejamkan mata lama. Ia sudah menikmati makanan itu dari baunya saja.
Shin selesai membawa piring dan ikut duduk di hadapan Luna.
“Oh …. Apa aku boleh ikut makan?” Luna bertanya. Ia benar-benar lapar karena tadi malam perutnya tidak diisi. Keduanya terlalu asik bermain sampai tidak sempat makan. Sebenarnya mereka asyik mengobrol.
“Tentu. Aku tidak sepelit seseorang.” Shin tersenyum kering. Ia hendak menyindir Luna.
“Terima kasih.” Luna tidak menanggapi shin. Ia tidak bereaksi apapun dan segera melahap makanan di depannya.
“Bukankah seorang wanita harus menjaga penampilannya? Bagaimana bisa kau berubah drastis seperti ini? Kau sangat berantakan.” Shin mengatakannya kelewat jujur.
“Karena ini di Selandia Baru.” Luna menanggapinya dengan tenang sambil tersenyum. Ia kini persis terlihat seperti anak-anak. Shin hampir tidak mengenalinya lagi. “Ini sangat enak!” Luna memberi pujian. Ia sepertinya sangat senang begitu bangun mendapat makanan gratis.
“Di Selandia Baru ya?” Shin tersenyum mendengar jawaban aneh Luna. Ia mulai melahap makanannya.
Jujur, Shin bosan sekali berada di sana. setelah menghabisakan makanan dan membersihkannya, ia tidak tahu lagi mau berbuat apa. Ia melihat wanita itu kembali ke atas tempat tidurnya. Ia bertekad sekali untuk tidur seharian. Shin hanya duduk sambil memandangi sekitar. Tak lama Luna yang baru saja naik ke ranjang turun lagi dan pergi ke kamar mandi. Air kran terdengar deras dan menyala lama Shin mulai memandangi pintu kamar mandi.
Luna ada di dalam sana. Apa yang dia lakukan? Shin mulai bertanya-tanya. Secepat kilat ia mulai menyadari kebodohannya. “Apa sih yang aku pikirkan! Dasar gila!” ia menampar pipinya sendiri. Beberapa saat kemudian Luna keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur dan kembali naik ke ranjang.
Semakin di perhatikan. Shin semakin merasa tidak nyaman. Ia mulai berpikir yang aneh-aneh. Segera ia berdiri dan keluar dari vila itu. “Kalau sepekan seperti ini terus aku bisa gila!” Shin menyumpahi dirinya sendiri. Ia berjalan mondar-mandir sambil bicara sendiri di teras.
“Sekarang kau hanya berduaan dengan seorang wanita. Ia berbaring di atas ranjang dengan nyaman. Dan lihat dirimu, kau malah berdiri di sini dan bertingkah aneh!”
“Bodoh! Kau gila?! Apa yang sedang kau pikirkan?! Bertindaklah waras!”
“Dia kan istriku. Wanita itu istriku dan kami hanya tinggal di sini tanpa ada seorang pun yang mengganggu. Dia ada di ranjangnya sekarang dan aku seharusnya ....”
“Ya, tentu aku harus memperlakukannya dengan baik. Mungkinkah aku harus melakukannya? Dia mungkin butuh pelayanan lebih ...”
“Gila ya!! Apa yang sedang kau pikirkan!? Dia adalah gadis baik-baik! Buang pikiran kotormu!”
Shin terus merasa tidak tenang dan masih mondar-mandir di depan vila. Ia masih bicara sendiri.
“Aku harus pergi dari sini! Ya, aku sebaiknya pergi dari sini! Sudah kuputuskan. Sekarang di mana kunciku?” Ia merogoh saku celananya. Ia baru ingat ia meninggalkan kuncinya di meja dapur.
“Sial!!” Shin segera masuk ke vila dan mengambil kunci mobilnya. Ia tidak melihat ke arah ranjang sedikit pun. Namun tiba-tiba kunci mobilnya terjatuh.
Ia mengambil kunci itu dengan segera dan tidak sengaja memandang ke arah ranjang. Ia melihat seseorang sedang duduk memperhatikannya.
“Aaaaakh!!!” Saking terkejutnya Shin terjengkang ke belakang.
“Kenapa kau ribut sekali?!” Luna memandangi Shin dengan sebal.
“Kau mengagetkanku!” Shin menjawab dengan jengkel. Ia masih kaget.
“Kau mau pergi?” Luna turun dari ranjangnya.
“Jangan mendekat!!” Shin berkata galak. “Jangan mendekat!!” Shin ketakutan sendiri. Ini baru kali pertamanya berhadapan dengan wanita. Sendirian, di tempat terpencil, dan hanya berdua saja. Ia sama sekali tidak mendapatkan ketenangan, ia malah mendapatkan sebaliknya.
“Kau ini kenapa sih?!” Luna memandang Shin serius. Sepertinya pria itu sakit.
“Tahan dirimu Shin. Kau pasti bisa!” Shin berkata lirih pada dirinya sendiri. “Kau! Apa kau tidak merasa ini sangat berbahaya?!” Shin bertanya dengan marah. Sebenarnya ia jengkel dengan dirinya sendiri. “Bisa-bisanya kau memakai pakaian tidur seperti itu di tempat seperti ini!?! Kau benar-benar jahat!!” Shin menatap Luna tajam. Ia benar-benar kesal.
“Apa maksudmu berbahaya?! Ini pakaian tidur biasa! Kau ini? Apa yang kau pikirkan?!!” Luna menyadari ada yang tidak beres dengan Shin. Jelas-jelas ia memakai pakaian tidur yang longgar. Itu hanya terlihat seperti kemeja panjang dan celana panjang dengan motif kotak-kotak. Itu sama sekali tidak terlihat seperti Luna ingin menggoda Shin. Luna menyadari sesuatu.
“Apa kau berpikir aku sedang menggodamu dengan pakaian ini?!” Luna melotot ke arah Shin. Sekarang ia yang ganti marah.
“Apa aku terlihat sangat menarik bagimu?!! Kau sudah gila ya?!!!” Luna meneriaki Shin. Pria itu tampak terkejut mendengar perkataan Luna. Ia tidak bisa menjawab. Tidak ada gunanya ia terus berdiri di situ. Tanpa berkata sepatah kata pun lagi Shin keluar dari vila itu. ia segera menaiki mobilnya dan pergi. Tidak berap lama setelah mobil itu melaju, terdengar teriakan,“Heii!!!”
Luna tidak bisa tidur lagi setelah itu. Ia sama sekali tidak mengira Shin akan berpikir seperti itu. Dia pasti sudah gila. Seharusnya Luna lebih waspada. Ia terlalu menggampangkan Shin. Ia kembali berpikir logis. Tentu saja hal itu sangat mungkin terjadi. Mereka berada di tempat yang jauh dari keramaian dan suasana vila yang sedang mereka tempati ini sangat mendukung hal-hal yang semacam itu.
Tentu saja Shin pria normal. Ia juga punya hasrat yang seperti itu, dan sayangnya Luna tidak memikirkannya. Ia memillih tempat tanpa mempertimbangkan tentang Shin. Ia juga salah di sini. Seharusnya mereka menyewa dua rumah terpisah. Luna terus berpikir sampai menyadari juga bahwa ia sudah berpindah tempat dari lantai ke ranjang tadi pagi. Ia juga mendapati Shin bangun lebih awal dan memasak untuknya juga.
Luna kembali berpikir aneh. Apa tadi malam sesuatu telah terjadi kepadanya? Luna semakin cemas memikirkannya. Tapi segera setelahnya ia kembali menengkan diri dan berpikir logis. Tidak mungkin Shin berbuat macam-macam kepadanya. Pria itu bahkan tampak ketakutan seperti melihat hantu beberapa saat lalu. Luna bernapas lega. Hal semacam itu tidak mungkin terjadi kepada keduanya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian Shin kembali dengan membawa banyak makanan. Ia tidak tega meninggalkan Luna sendirian di sana. Luna memintanya bicara dan kini keduanya duduk berhadapan. Shin tidak bicara apapun dan dan pandangannya terus terpaku pada handphonenya. Ia baru saja mengunduh permainan di hpnya dan itu yang bisa dia lakukan untuk memfokuskan diri agar tidak lagi berpikir yang macam-macam.
“Aku minta maaf.” Luna mulai berbicara. “Aku minta maaf untuk banyak hal. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri.” Ia melanjutkan. Shin jelas sekali mendengarnya. Ia bingung mau merespon apa. Jari-jarinya yang sibuk bermain handphone reflek berhenti bergerak.
“Apa? Eh, seharusnya aku yang minta maaf padamu.. aku sudah…” Shin tampak menyesal. Seharusnya dia yang minta maaf.
“Tidak. Aku bisa memakluminya. Sejak awal aku yang merencanakan semua ini tanpa memikirkanmu. Aku minta maaf.” Luna merasa tidak enak hati.
“Kau tidak perlu memikirkanku. Itu juga bagian dari kesepakatan kita….” Shin tampak tidak enakan. Ia melihat Luna benar-benar merasa bersalah.
“Sebenarnya, aku tidak pernah benar-benar tinggal sendirian selama 22 tahun hidupku. Ke mana pun aku pergi, selalu ada orang di sampingku. Entah itu pembantu, asisten, atau bodyguard. Setidaknya akan ada orang yang berdiri untukku kapanpun itu. Karena terbiasa, aku jarang memikirkan tentang mereka. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku minta maaf karena membuatmu tampak buruk. Aku seharusnya banyak berterima kasih…” Luna menunduk dalam.
“Kau kenapa?! Kenapa suasana jadi mengharukan seperti ini?!” Shin sulit percaya Luna ternyata berpikir begitu. Ia malah semakin merasa tidak enakan.
“Kau boleh menganggapku asisten atau bodygardmu! Jangan merasa buruk seperti ini. Lagi pula pernikahan seperti ini ada karena permintaanku. Kau jangan terlalu memikirkanku. Aku jadi merasa tidak nyaman.” Shin kembali bicara. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
“Tidak! Mulai sekarang, jika ada hal yang mengganggu pikiranmu, kau bisa mengatakannya kepadaku! Aku juga akan mengatakan apa saja yang akan aku lakukan agar tidak menyulitkanmu nantinya. Kita harus membuat ini sama-sama adil!” Luna mengangkat kepalanya. Ia berkata dengan serius.
“Apa?” Shin masih menyerap perkataan Luna.
“Kita buat lagi kesepakatan kita dari awal. Seperti katamu, selama tiga bulan ini kita harus bekerjasama dengan baik!” Luna tampak bersungguh-sungguh. Shin masih agak bingung, tiba-tiba suasana yang tadinya haru malah jadi semangat.
Luna beranjak dan mengambil beberapa kertas yang ia bawa, ia kembali duduk dan menyerahkan sebagiannya kepada Shin.
“Ini untuk apa?” Shin bertanya bingung.
“Seperti kataku. Kita buat perjanjian dari awal yang lebih jelas.” Ia berkata seakan juga mengatakan ‘kenapa bertanya lagi?’.
“Baiklah.” Shin mengiyakan saja. Seolah mengalir mengikuti arus. Ia sama sekali tidak merasa keberatan.
“Luna, apa kita juga perlu membagi pekerjaan terkait rumah?” Shin bertanya di tengah-tengah keduanya mulai menulis.
“Eh?” Luna menoleh dan menatap Shin bengong.
“Kenapa kau tampak terkejut?” Shin juga jadi kebingungan melihat tatapan Luna.
“Ini pertama kali aku mendengarmu memanggailku Luna.” Luna berkata polos. Shin memutar mata dan mengangkat ujung bibirnya sebelah. Dia kira sesuatu yang serius, ternyata itu yang Luna tangkap dari perkataannya.
“Tulis saja jika perlu. Nanti tinggal kita bandingkan.” Luna tersenyum. Ini seperti rapat saja.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama, akhirnya mereka mendapatkan kesepakatan baru. Isinya seperti ini:
Saling menjaga rahasia khususnya tentang adanya kesepakatan ini.
Saling berkata jujur jika ada hal yang menyulitkan selama pernikahan.
Saling memberitahu keberadaan masing-masing jika meninggalkan rumah.
Menepati undangan dan bersikap baik di depan publik.
Saling menghormati privasi masing-masing.
Tidak membuat keputusan dalam pernikahan tanpa persetujuan satu sama lain.
Saling berbagi ketika salah satu memasak makanan.
Semua biaya pengeluaran untuk kebutuhan rumah ditanggung oleh Shin.
Luna mendapat kebebasan untuk menentukan apa saja yang ingin dilakukan selama pernikahan dengan pemberitahuan kepada Shin.
Luna mendapatkan kompensasi 50% dari kekayaan Shin setelah pernikahan berakhir dan jaminan tidak menanggung kerugian apapun terkait perceraian.
Jika ada hal lain yang harus disepakati kedepannya, dapat disepakati di kemudian hari.
“Sepertinya ini cukup. Kau tidak perlu menjadi terlalu baik!” Shin tersenyum senang. Luna tidak keberatan tentang kompensasi yang ditawarkan Shin. Sebelumnya ia tidak tertarik dengan kekayaan Shin sama sekali, tapi Shin terus memaksa.
“Oh iya, satu lagi. Bisakah kau mengajariku mengendarai mobil? Sebagai gantinya aku akan membantumu dalam pekerjaan kantor..” Luna menawarkan.
“Membantuku dalam pekerjaan kantor?” Shin mencoba mengkonfirmasi.
“Iya, ayah memintaku untuk membantumu. Dia bilang untuk memastikanmu bekerja dengan baik.”
“Kau menyanggupinya?”
“Tentu saja.” Luna menjawab datar.
“Kau pikir aku tidak bisa bekerja?” Shin tampak kesal.
“Mungkin. Aku tidak pernah melihatmu ke kantor.” Luna berkata terus terang.
__ADS_1
“Kau tidak perlu repot-repot, mulai sekarang aku akan bekerja dengan baik! Selama ini aku hanya ingin membuat ayah kesal saja!” Shin menjawab dengan nada kesal. Luna tidak menanggapi lagi. Sebenarnya ia tidak begitu peduli.