
Shin tidak pulang ke rumah malam itu. Ia juga tidak bisa dihubungi. Paginya Luna mendapatkan telepon dari Kevin, ia memberi tahu bahwa ia menemukan Shin di depan rumahnya. Begitu menerima kabar bahwa keadaan Shin tidak baik, Luna segera mendatangi suaminya itu.
“Bagaimana keadaannya?” Luna tampak khawatir. Kevin baru membukakan pintu dan wanita itu bergegas masuk.
“Sepertinya dia kehujanan semalaman. Badannya panas. Aku sudah mengompresnya dengan air hangat beberapa saat lalu, tapi tampakya demamnya belum turun. Aku juga sudah memasakannya bubur. Dia hanya makan sedikit sebelum tidur.” Kevin menerangkan.
Shin tidur berbaring di ranjang kamar dengan handuk kompres yang masih ada di atas keningnya. Mukanya tampak pucat. Luna dengan segera menghampiri Shin dan memeriksa keadaannya.
“Aku minta maaf karena menelponmu. Tapi hari ini aku ada meeting penting di kantor jadi...” Kevin merasa tidak enak hati kepada Luna. Ia tahu tentang pernikahan kontrak sahabatnya itu tapi tetap saja membuat Luna repot. Mau bagaimana lagi.
“Terima kasih sudah menghubungiku.” Luna tidak keberatan.
“Kalau begitu aku akan meninggalkan kalian di sini. Jika membutuhkan sesuatu kau bisa menelpon.” Kevin memberitahu Luna lalu pamit pergi.
Kini hanya ada Luna dan Shin di rumah itu. Luna masih tampak khawatir. Ia meraih tangan Shin dan menggenggamnya erat.
“Apa aku harus mengganti airnya?” Luna memeriksa kain kompres yang tidak lagi hangat. Ini baru kali pertama wanita itu menghadapi orang sakit dan hanya dia yang dapat diandalkan. Ia tampak sedikit kebingungan.
“Haruskah aku menghubungi dokter saja?” Luna bergumam. Ia meraih handphonenya dari dalam tas dan mencari nomor Brian. Pria itu yang lebih tahu hal-hal seperti ini.
Hampir saja Luna menekan tanda telepon, Shin menghentikannya. Ia terbangun dan meraih tangan Luna dengan lemas.
“Jangan…” Shin berkata pelan.
“Kau terbangun? Apa aku membangunkanmu?” Luna jadi sedikit panik. “Apa kau butuh minum? Aku akan mengambilkannya.” Luna beranjak dari tempatnya.
“Tidak usah. Di sini saja.” Shin memutar tubuhnya ke arah Luna. Ia memandangi wanita itu. Luna yang baru saja ingin mengambil air duduk kembali.
“Kenapa bisa sampai sakit?” Luna bertanya cemas.
“Apa aku membuatmu khawatir?” Shin masih memandangi wanita di hadapannya.
“Bagaimana tidak khawatir? Kau tidak pulang semalaman dan tidak bisa dihubungi! Sekarang kau berbaring sakit. Siapa yang tidak khawatir?!” Luna mengomel.
“Baguslah.” Shin bisa-bisanya tersenyum.
“Apa Kau sudah merasa baikan?” Luna memastikan. Pria di depannya mengangguk.
“Syukurlah kalau begitu.” Luna sedikit lega.
“Kau tidak penasaran aku dari mana?” Shin menanyai Luna.
“Aku pikir kau tidak akan suka jika aku bertanya tentang itu.”
“Hubungan kami berakhir.” Shin mengatakannya tanpa diminta. Shin tahu Luna paham benar maksud kata ‘kami’.
“Apa kau merasa sedih?” Luna jadi ingin tahu.
__ADS_1
“Anehnya aku hanya merasa sangat terkejut. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia memberitahuku sesuatu yang sama sekali tidak pernah terbesit dipikiranku. Aku seperti tiba-tiba didorong jatuh ke jurang tanpa akhir setelah mendaki tebing yang tinggi.” Shin berkata lirih. Perlahan Luna menggenggam tangan shin. Shin membalas genggaman itu dengan erat.
“Kau bisa meraih tanganku. Jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku akan ada di sana.” Luna mencoba menenangkan Shin.
“Benarkah?”
“Tentu. Jika hal itu membuatmu sedih, kau bisa menangis tanpa merasa tertekan. Jika hal itu membuatmu marah, aku juga akan berteriak bersamamu untuk melampiaskannya. Jika hal itu membuatmu begitu terluka, aku akan berusaha menyembuhkannya.” Luna mencoba menghibur pria itu.
“Lalu bisakah kau memberiku pelukan?” Shin bertanya lagi. Luna mengangguk. Dengan tubuh yang masih lemas, Shin bangkit dan menarik tubuh wanita itu ke pelukannya. Tak lama kemudian ia menangis di pelukan wanita itu. Luna menepuk punggung Shin perlahan-lahan untuk menenangkannya.
^^^
Sementara itu Hani tengah berada di seberang jalan depan kantor polisi. Ia menunggu ayahnya. Jika hari ini ayahnya tidak datang juga, maka Hani berniat melaporkannya sendiri. Tekadnya sudah bulat. Ia bahkan merekam percakapannya dengan ayahnya sendiri saat berada di kamar tanpa sepengetahuannya. Ia mengenggam handphone berisi rekaman itu dengan erat.
“Ayah pasti akan datang.” Hani meyakinkan dirinya sendiri.
Tak berselang lama seseorang yang ditunggunya muncul di seberang jalan. Pria itu pun berhenti melangkah begitu mengetahui kehadiran Hani.
“Ayah ...” Hani berkata lirih. Pria paruh baya itu tersenyum kecil lalu kembali berjalan dan kemudian masuk ke kantor polisi.
Tiba-tiba saja kaki Hani jadi lemas. Ia terduduk di trotoar. Air matanya kembali menetes padahal belum hilang bengkak di matanya akibat semalam. Ia menangis sejadinya tanpa memedulikan orang yang lalu lalang di sekitarnya.
Kabar itu pun akhirnya sampai juga ke telinga Rei. Ia baru saja mendapat laporan dari kepolisian tentang kecelakaan tujuh tahun lalu. Dengan bergegas ia ditemani orang kepercayaannya menuju ke kantor polisi.
Sore itu, begitu Rei sampai di kantor polisi, para wartawan telah bergerombol di luar. Entah dari mana media lebih cepat mendapat info ini. Semua menjadi heboh. Kasus yang sebelumnya telah ditutup sebagai kasus kecelakaan karena kelalaian lalu lintas kini berubah menjadi kasus pembunuhan berencana. Tidak hanya Rei yang datang ke kantor polisi sebagai keluarga korban, ibu dari sopir yang menjadi korban di hari kecelakaan juga datang ke sana. Matanya telah memerah dan pipinya telah dibasahi air mata.
“Ayah?” Shin baru saja sampai. Ia baru menerima kabar karena kondisinya yang sedang sakit. Ia memaksakan diri datang sambil ditemani oleh Luna. Wanita itu memastikan suaminya baik-baik saja.
^^^
Tujuh tahun lalu. Seminggu sebelum hari kejadian.
Dani, ayah Hani membukakan pintu untuk tuannya. Hari ini majikannya itu akan menemui orang-orang penting dan paling berpengaruh bagi perusahaannya. Orang-orang itu bertemu di sebuah restoran mewah dengan ruangan tertutup.
“Aku akan selesai sekitar dua jam.” Mira memberitahu sopirnya. Hari ini akan berjalan seperti biasa.
Semua memang berjalan lancar satu jam pertama sampai Dani mendengar suara telepon masuk di dalam mobil. Ia memeriksa handphone milikinya, tapi suara dering telepon itu bukan berasal dari sana. Beberapa saat mencari, Dani menemukan telepon majikannya di bangku belakang. Pastilah wanita itu tidak sengaja meninggalkannya.
Mengetahui bahwa nomor itu penting, Dani bergegas pergi untuk menemui tuannya. Ia tidak berani mengangkat telepon itu. Ia membiarkannya tetap berdering. Begitu ia sampai di depan pintu ruangan perjamuan itu, telepon milik tuannya tidak lagi berdering. Ia pun akhirnya berinisiatif menunggu di depan ruangan perjamuan kalau-kalau telepon itu berdering lagi.
Belum sampai semenit Dani berdiri di sana, suara ocehan dari dalam samar-samar terdengar. Ia pun menyadari bahwa pintu ruangan itu sedikit terbuka. Dani tidak sengaja mendengar dan melihat percakapan yang seharusnya tidak pernah ia dengar.
“Apa kalian pikir perusahaannya akan berjalan dengan lancar tanpa sokongan dari keluargaku? Tentu saja tidak.” Seorang wanita dengan syal hitam berbulu dengan lagak sombong memamerkan diri kepada orang-orang di hadapannya.
“Tapi bukankah bisnismu ilegal? Aku dengar kau bahkan mengerjakan pekerjaan kotor.” Seorang yang lain mengkritiknya dengan tampang tak jauh berbeda.
“Bukankah kau sama saja? Kau memamerkan diri sebagai perusahaan pertama yang bekerjasama dengan Keygrup, tapi semua orang tahu kalian hanya berusaha menggulingkannya!” Wanita dengan syal hitam menyerang wanita yang mengkritiknya dengan lidah tajam.
__ADS_1
“Nyonya Diana, bukankah tidak sepatutnya kita membicarakan ini?” Seorang wanita lain dengan blus putih dan kalung permata biru mencoba menghentikan wanita dengan syal hitam itu. Suasana menjadi keruh karenanya.
“Kau bahkan tidak berhak bicara! Semua orang tahu kalau kau seorang pecandu akut!” wanita dengan syal hitam tampak telah hilang kontrol. Dia malah membeberkan aib wanita dengan blus putih itu.
“Apa katamu!?” Wanita yang baru saja dikatai itu jadi naik pitam, ia sontak berdiri dan menggebrak meja. “Jaga mulutmu itu ya!!”
Dani terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Dengan panik ia memutar badan dan hendak melangkah pergi. Belum sampai ia menghilang dari hadapan pintu, seorang wanita menemukannya.
“Sedang apa pak Dani di sini?” Wanita itu adalah majikannya. Ia baru saja meninggalkan toilet dan hendak kembali ke ruang pertemuan.
Suara Mira itu terdengar dari dalam ruangan. Wanita-wanita yang ada di dalam sana sontak terdiam begitu menyadari bahwa dari tadi ada yang melihat dan mendengar percakapan mereka. Sopir itu pasti sudah mengetahui semua rahasia mereka.
Dengan wajah pucat pasi, Dani menyerahkan handphone ke tangan pemiliknya. Ia hanya menyatakan tujuannya datang lalu bergegas meninggalkan tempat itu. Ia sama sekali tidak terlihat baik.
Beberapa hari kemudian, Dani mendapatkan surat pemecatan dan pesangon. Dan Rei sendiri pula yang menyuruh untuk memecatnya. Semua begitu tiba-tiba dan di luar dugaan. Pria itu merasa diperlakukan tidak adil oleh majikannya. Seketika semua keadaan menjadi salah baginya.
Seminggu setelahnya, tepat saat Dani baru saja menjadi pengangguran selama dua hari. Ia tidak berani pulang karena takut mengecewakan istrinya sekaligus tidak bisa memasang muka bila bertemu dengan rentenir. Ia merasa kacau sendiri dan tidak bisa berpikir jernih. Ia pun mulai berpikir aneh.
Ia ketakutan untuk kembali ke rumah sekaligus merasa dendam dengan majikannya sendiri. pagi ini ia melihat sopir baru yang lebih muda darinya mengantar mantan majikannya ke kantor. Pemandangan itu seakan menunjukkan bahwa majikan tidak pernah memperkerjakannya sebelumnya. Mereka tampak tak bersalah sedikit pun dan itu membuat pria paruh baya bernama Dani marah.
Entah dari mana ia mendapat ide itu dan dari mana ia mendapatkan semua itu. Dani memiliki obat tidur di tangannya dan dua gelas minuman kaleng. Saat jam makan siang tiba, Dani menghampiri sopir baru itu dan membuat kejadian yang tampak tak di sengaja. Ia menjatuhkan dompetnya di dekat sopir muda itu dan pria itu dengan segera memanggilnya.
“Hei pak! Dompetmu terjatuh!” pemuda itu memungut dompet Dani dan menghampiri pemiliknya.
“Apa?” Dani seolah tidak mendengar perkataan pemuda itu pada awalnya. “Oh.. dompetku ...” Dani mengambil dompetnya kembali dari tangan pemuda itu.
“Aku benar-benar berterima kasih! Di dalamnya ada gaji sebulan aku bekerja. Aku akan sangat menyesal bila tidak mendapatkannya kembali! Terima kasih!” Dani berpura-pura bersikap ramah.
“Ah tidak apa-apa. Saya hanya tidak sengaja menemukannya.” Pemuda itu membalas sikap ramah Dani.
“Jika kau bukan pria yang baik, dompet ini tidak akan kembali padaku. Aku harus membalasmu! Bagaimana jika aku mentraktirmu makan siang?” Dani menawarkan.
“Ah tidak perlu repot-repot begitu ....lagi pula saya baru selesai makan siang.” Pemuda itu menolak Dani dengan lembut.
“Kau membuatku tidak nyaman! Oh, bagaimana jika kau menerima ini?” Dani mengeluarkan botol kaleng dari kantong plastik yang di bawanya. Ia sudah menyuntikkan obat tidur ke dalam minuman itu sebelumnya.
“Terima kasih.” Pemuda itu menerima pemberian Dani tanpa diminta dua kali.
“Bagaimana kalau kita minum bersama?” Dani kembali menawarkan. “Aku akan merasa sangat senang bilang bisa minum dengan orang yang telah menyelamatkanku.” Dani tertawa senang. Ia tidak terlihat mencurigakan sama sekali.
“Ah, anda terlalu melebih-lebihkan. Saya hanya menemukan dompet Anda. Itu saja.” Pemuda itu tampaknya tidak menaruh curiga sama sekali. Ia pun menerima tawaran pria itu. Keduanya menghabiskan minuman kaleng itu bersama.
“Aku harap bisa bertemu denganmu lagi.” Dani mengucapkan kalimat perpisahan. Ia meninggalkan sopir baru itu dengan senyum licik di wajahnya.
Tak berselang lama setelah itu, sopir baru Mira mendapatkan panggilan. Ia segera bergegas menghampiri majikannya dan menyiapkan mobil di depan perusahaan. Tidak ada yang aneh saat itu. Semua baik-baik saja.
Sopir itu membukakan pintu untuk Mira yang tampak terburu-buru. Dengan tangkas, sopir itu menaiki kursi depan dan setelah memastikan majikannya nyaman di bangku belakang, ia menancap gas. Keduanya akan berpergian jauh.
__ADS_1
Belum sampai tiga puluh menit setelah keduanya meninggalkan gedung perusahaan. Suara sirene ambulan dan mobil polisi saling bersautan menuju ke arah yang sama. Mobil yang di isi sopir baru dan istri pemilik perusahaan besar Keygrup itu menabrak palang jalan setelah reflek menghindari truk besar yang lewat di depannya. Tak hanya itu, mobil yang berada di arah berlawanan menabrak bagian belakang mobil itu dengan keras. Akibatnya mobil milik Mira itu rusak parah dan penumpang yang ada di dalamnya mengalami luka serius. Keduanya tidak tertolong sebelum sampai di rumah sakit.