
“Shin ....!”
Shin segera mengambil tas ranselnya dan bergegas keluar rumah begitu seseorang memanggil namanya. Mobil sedan berwarna hitam telah siap di depan pintu menunggunya. Di dalam mobil itu telah duduk seorang sopir di kursi pengemudi dan seorang wanita usia tiga puluhan di bangku belakang. Begitu masuk ke dalam mobil itu, Shin menyadari sesuatu.
“Loh? Apa ibu memiliki sopir baru?” Shin bertanya pada wanita di sebelahnya. Tak lama setelahnya Shin dan sopir itu saling memberi salam.
“Kau benar. Mulai saat ini pak Dani yang akan mengantar ibu.” Wanita itu menjawab tenang.
Seperti anak orang kaya kebanyakan, Shin menaiki mobil untuk pergi ke sekolahnya. Ibunya hampir selalu mengantarkan putranya itu karena sekolah Shin dan perusahaan keluarga itu searah. Pada masa itu ayah Shin sering pergi ke luar kota atau ke luar negeri untuk bisnisnya. Mereka jarang bertemu.
“Kabari ibu jika sudah selesai. Pak Dani akan menjemputmu.” Ibu Shin mengingatkan putranya begitu mereka sampai di sekolah.
“Kenapa ibu tampak sangat cemas? Aku sudah tingkat akhir sekarang dan bukan anak kecil lagi. Aku bisa pulang sendiri.”
“Benarkah? Apa kau yakin tidak perlu dijemput?” Ibunya kembali bertanya. Sebenarnya ia sudah tahu kalau Shin bisa pulang tanpa harus dijemput. Beberapa kali ia menaiki bus sepulang sekolah. Anak itu bilang ia menyukainya dan juga sahabatnya biasa naik bus itu jadi mau tidak mau Ibu Shin mengizinkannya. Ia membiarkan anak itu tumbuh seperti anak-anak lainnya. Ia juga ingin Shin menjadi mandiri dan bisa bergaul dengan baik dengan orang lain tanpa memerhatikan kelas sosial. Tapi terkadang, Ibu Shin tidak bisa mengelak bahwa ia merasa cemas untuk melepas anaknya begitu saja.
“Aku bisa menjaga diri. Dan juga aku boleh pergi ke tempat Kevin dulu kan? Dia mengajakku bermain futsal.”
“Baiklah ... beritahu ibu jika sudah sampai rumah!”
“Oke”
Begitulah keseharian Shin semasa SMA. Ia memiliki Ibu yang selalu mengkhawatirkannya dan memiliki teman bermain seperti kebanyakan anak-anak di luar sana. Kehidupannya berjalan mulus seperti itu sampai suatu waktu ia bertemu dengan seseorang.
Hari itu kedua orangtua Shin sedang mengadakan perjalan bisnis. Itu hal yang kadang dialami oleh beberapa anak-anak kaya. Ia sudah tidak heran jika saat membuka mata kedua orangtuannya tidak ada di rumah. Shin bukan tipe anak yang sangat rajin ke sekolah, tapi pagi ini entah apa yang membuatnya begitu. Shin sudah siap pagi-pagi sekali dengan seragam dan ranselnya. Ia keluar rumah dan menghampiri mobil yang akan megantarnya.
“Apa pak Dani belum datang?” Ia berkata sendiri setelah memeriksa tidak ada siapapun di dalam mobil dan di sekitar sana. ia memutuskan untuk menunggu sopirnya datang sambil memainkan pemutar musik di handphonenya.
Tak berselang lama seorang gadis datang dengan napas tersengal-sengal. Gadis itu memakai seragam SMA dengan tas ransel dan bungkusan di tangan kanannya.
“Syukurlah mobilnya masih ada.” Gadis itu mendekati mobil Shin. Shin yang melihat gadis itu menghampirinya perlahan melepas earphone yang terpasang di telinga. Ia bisa mendengar apa yang baru saja gadis itu katakan.
“Kau siapa?” Shin menatap gadis itu heran. Siapa dia? Kenapa dia bersyukur tentang mobil Shin?
“Oh? Apa ini mobilmu? Aku minta maaf. Aku hanya ingin bertemu dengan sopirnya. Aku putrinya.” Gadis itu menjawab dengan napas masih tersengal.
“Kau anaknya pak Dani?”
“Iya.”
“Hani? Sedang apa di sini?” Tiba-tiba suara itu muncul tidak jauh dari kedua murid SMA itu. Pria yang dibicarakan datang menghampiri mereka.
“Oh? ayah? Ayah melupakan bekal makan siang lagi, jadi aku membawanya ke sini.” Gadis itu menghampiri ayahnya. Shin hanya memerhatikan mereka berdua di tempatnya. Begitu menyadari keberadaan Shin, Pak Dani memberi salam dan meminta maaf.
“Maaf tuan, saya baru saja keluar dari toilet.” Ia menjelaskan.
“Oh tidak apa-apa. Bisa kita berangkat sekarang?” Shin memberi isyarat kepada pak Dani untuk membuka pintu mobil. Tak lama kemudian Sin telah duduk di bangku belakang dan pak Dani telah siap di kursi sopir.
“Kau juga bisa masuk.” Shin menjulurkan kepalanya di jendela dan mengajak gadis yang berdiri tidak jauh dari mobil untuk berangkat bersama.
“Ah tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri.” Gadis itu menolak dengan halus.
“Bukannya sekolahku dan sekolah putri bapak searah?” Kini Shin menanyai sopir yang ada di depannya. Tadi ia sempat melihat nama sekolah gadis itu dari bet seragamnya.
“Iya, tapi putri saya bisa berangkat sendiri. Tuan muda tidak perlu repot-repot.”
“Jika bisa berangkat bersama kenapa harus sendiri-sendiri? Lagian kita searah. Aku tidak menyukai hal itu, Itu kurang efektif.” Shin bicara sendiri. “Ayo cepat masuk! Mungkin kau akan terlambat jika hanya jalan kaki atau menaiki bus.” Shin kembali mengajak gadis itu. Gadis itu tampak bingung.
“Ayo!” Shin kembali meneriaki gadis itu. Dengan ragu-ragu gadis bernama Hani itu menaiki mobil Shin. Ia duduk di bangku sebelah sopir. Tak berselang lama mobil itu melaju di jalan.
“Kau kelas berapa?” Shin menanyai kembali gadis itu.
“Kelas tiga.” Hani menjawab sekenanya. Ia tampak canggung. Pak Dani tidak ikut dalam pembicaraan mereka, ia fokus menyetir.
“Kalau gitu kita seangkatan.” Shin meinmpali,“Namaku Shin.” Ia melanjutkan.
“Namaku Hani.”
Beberapa waktu berlalu dan Shin kembali bertemu Hani di perjalanan pulang saat menaiki bus. Gadis itu baru saja memasuki bus di halte kedua setelah Shin dan Kevin naik. Saat itu Bus penuh sesak karena jam pulang anak sekolahan dan beberapa pekerja kantor. Semua bangku penumpang penuh. Sebagian penumpang berdesak-desakan berdiri sambil memegang tali pegangan yang bergantungan langit-langit bus. Penumpang semakin berdesakan begitu para penumpang baru di halte itu naik.
“Eh? Bukannya kau Hani?” Shin sontak melempar tanya begitu melihat Hani berdiri selang satu orang di sampingnya. Shin juga termasuk penumpang yang tidak mendapat tempat duduk. Yang sedikit menyebalkan adalah Kevin berada di depannya. Ia duduk dengan santai sambil memasang earphone di telinga.
“Oh, hai ...” Hani memberi salam begitu menyadari keberadaan Shin di sana. “Kau naik bus juga?” Hani bertaya heran. Shin mengagguk-angguk sambil tersenyum.
“Kau biasa naik bus ini?” Shin kembali bertanya. Hani mengiyakan sambil memasang senyum. Anak seumuran mereka yang ada di antara keduanya tampak tidak nyaman. Ia beberapa kali melirik ke arah Shin seperti ingin mengatakan ‘bisakah kalian tenang?’. Shin sama sekali tidak memedulikan anak itu walau menyadarinya. Sebaliknya Kevin yang sedang menikmati musik dari earphone-nya memperhatikan ketiga orang itu. Sebenarnya ia juga merasa terganggu entah mengapa. Tiba-tiba saja Kevin berdiri, ia medorong badan Shin dengan lengannya untuk membuka jalan. Shin merasa bingung dan begitu saja mengikuti dorongan lengan sahabatnya itu.
“Kau bisa duduk di sini.” Kevin mempersilakan anak di samping Shin untuk duduk. Anak itu dengan cepat mengambil tempat duduk Kevin tanpa bicara satu kata pun. Sedetik kemudian Kevin mendorong Shin ke depan, ia mengambil tempat Shin.
“Siapa gadis itu? Kau tidak mengenalkanku padanya?” Kevin berbisik ke telinga Shin sambil melirik ke arah Hani sesaat sambil tersenyum. Ternyata Kevin memerhatikan Hani dan Shin sejak tadi. Gadis itu tampak canggung begitu Shin berdiri di sampingnya. Sebenarnya ia sudah canggung sejak mengetahui Shin ada di bus itu. Kini lebih canggung lagi.
__ADS_1
“Aku Kevin, teman Shin.” Tanpa diminta Kevin mengulurkan tangan kanannya ke arah Hani. Lengan tangannya mendesak tubuh Shin mundur.
“Aku Hani.” Gadis itu membalas salam Kevin.
“Bagaimana kalian saling mengenal? Aku baru melihatmu?” Kevin kembali melempar tanya. Kini malah Kevin dan Hani yang saling mengobrol di sepanjang perjalanan. Shin memerhatikan keduanya dengan sebal. Ia hanya bisa diam saja karena Kevin lebih cerewet dari perkiraannya. Beberapa halte pun terlewati, Hani turun lebih dulu. Ia memberi salam kepada Shin dan Kevin. Dua pria itu memandangi Hani berjalan pergi hingga bayangannya hilang bersama dengan laju bus yang membawa mereka pulang.
“Jadi dia putri dari sopir ibumu?” Kevin masih membicarakan Hani setelah turun dari bus. Tujuan mereka adalah rumah Kevin. Shin menatap mata Kevin tajam. Entah mengapa ia merasa sangat sebal melihat Kevin bisa langsung dekat dengan Hani.
“Kalian pernah bertemu sebelumnya ya? Jujur saja..” Shin menghentikan langkah.
“Kau ini kenapa sih? Kan kau tadi juga dengar aku baru melihatnya. Tentu saja karena kau!” Kevin merangkul leher Shin lalu menariknya maju. “Haii…jangan bilang kau menyukai gadis itu?” Kevin mendadak jahil. Ia tertawa terkekeh.
“Apaan sih? Mana mungkin.” Shin mengelak. Mukanya tampak merah.
“Eh…terlihat jelas tuh di mukamu. Udah ngaku aja…iya kan..?” Kevin masih bersemangat menjahili temannya itu.
“Apaan sih…aku bilang tidak…!” Muka Shin terus saja ia palingkan dari Kevin setelah anak itu mengatainya’terlihat jelas di mukamu’. Ia tetap berusaha menghindar dan Kevin terus saja menjahilinya.
Sejak pertemuan itu, Shin hampir setiap hari menaiki bus sepulang sekolah. Ia beralasan ingin seperti anak SMA lainnya yang menaiki bus, tapi Kevin sebenarnya tahu kalau temannya itu hanya ingin bertemu dengan Hani. Shin tampak menyukai Hani, dan Kevin pikir Hani juga memiliki perasaan terhadap Shin. Keduanya selalu saja bisa naik di bus yang sama walau terkadang sekolah mengadakan kelas tambahan atau kegiatan ekstrakurikuler di sore hari.
Bukan hanya naik bus setiap pulang sekolah, beberapa hari sejak kejadian itu Shin memiliki ide untuk menitipkan sepedanya di rumah Kevin. Kakek Kevin dengan senang hati mengizinkannya. Sejak kecil, Kevin hanya tinggal dengan Kakeknya karena kedua orangtuanya telah meninggal dunia. Dan karena Shin hampir setiap hari mengunjungi rumahnya, kakek Kevin sudah menganggap Shin seperti cucunya sendiri.
Suatu hari Shin dengan iseng menaiki sepeda melewati komplek rumah Hani. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Shin menyusuri jalan itu. Beberapa kali ia melewati jalan itu untuk memastikan di mana rumah Hani. Itu adalah sebuah rumah kecil yang menyatu dengan sebuah rumah makan yang berukuran setengahnya. Hari ini Shin melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat di rumah itu. Ia bersembunyi di belokan gang begitu melihat beberapa orang menemui Hani dan seorang wanita yang ia duga sebagai ibunya.
“Apa kau bercanda?! Bagaimana kau bisa tidak tahu di mana suamimu?! Beraninya kau berbohong?!” Seorang pria berusia tiga puluhan dan berbadan besar mengamuk di hadapan Ibu Hani. Ia menarik kerah baju wanita itu dengan kasar. Wanita yang ada di depannya hanya bisa menunduk.
“Lepaskan! Kalian tidak berhak bersikap seperti itu kepada ibuku!!” Hani dengan susah payah melepaskan gengaman tangan pria itu dari ibunya. Dua teman di belakang pria itu melangkah mendekat hendak menghentikan Hani.
“Kau tahu apa bocah?!!” Pria itu melepaskan cengkramannya dan ganti mendorong Hani dengan kasar. Hani hanya bisa melotot ke arah pria itu. Ia mengumpulkan semua keberaniannya. Tiba-tiba pria itu terkekeh.
“Kau tahu? Berapa banyak ayahmu menghabiskan uang kami?! Bahkan jika kau menjual organ tubuhmu itu tidak akan cukup bocah!!” Pria itu kini melotot ke arahnya. Shin yang melihat hal itu hanya bisa berdiri termenung. Ia tidak pernah tahu hal ini bisa terjadi di kehidupan nyata. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Kami akan segera menghubungimu begitu dia kembali. Tolong .... tolong beri kami waktu ....tolong ...” Ibu Hani memohon-mohon kepada Pria besar itu. Beberapa orang lewat dan hanya melihatnya sekilas. Mereka sama sekali tidak tertarik untuk ikut campur meskipun beberapa kali pria itu bersikap kasar kepada wanita di hadapannya.
“Oke. Hari ini aku sekali lagi akan bersabar dan akan kembali lagi besok! Tapi ingat, jika besok kau berkata omong kosong seperti ini lagi, tidak akan ada masa depan untuk kalian. Kau paham?!” Pria itu pergi dengan kedua temannya. Mereka menyerah begitu ada seorang yang berseragam polisi keluar dari salah satu toko kelontong yang tidak jauh dari rumah Hani. Tampaknya ia sudah mengamati mereka sejak beberapa saat yang lalu. Begitu ia keluar dari toko dan berjalan mendekati tiga orang yang berbadan besar, ketiganya pergi meninggalkan dua wanita di depannya. Beberapa saat kemudian Hani dan Ibunya menyapa petugas polisi itu. Mereka tampak saling mengenal.
Melihat keadaan yang mulai membaik, Shin berputar arah. Mungkin ini bukan hari yang tepat untuk bertemu dengan gadis itu.
Keesokan harinya Shin bertemu dengan Hani. Gadis itu berdiri di depan rumah Shin sejak pagi-pagi sekali. Tampaknya ia menunggui kedatangan ayahnya.
“Hani? Sedang apa kau ke sini?” Shin tampak terkejut melihat gadis itu sudah berdiri di luar rumah keluarga itu. Perlahan Shin menghampiri gadis itu.
“Aku ingin bertemu dengan ayah tapi aku belum melihatnya. Bukankah hari ini dia bekerja?” Hani memasang wajah cemas. Ia beberapa kali memperhatikan sekitar, mencari keberadaan ayahnya.
“Oh itu dia!” Shin menunjuk ke arah seseorang. Hani dengan cepat mengikuti arah tunjuk Shin.Ia mengenakan seragam sopir dan sedang berjalan menghampiri keduanya. Semakin dekat pria itu akhirnya memberi salam kepada Shin. Seseorang berwajah asing.
“Anda siapa?” Shin tampak bingung begitu orang itu menyalaminya.
“Oh, saya Tian, sopir baru nyonya Mira.”
“Sopir baru Ibu? Aku baru tahu ibu punya sopir baru?” Shin memasang wajah bingung, “Lalu di mana pak Dani?” Shin kembali bertanya.
“Setahu saya sopir sebelumnya baru dipecat kemarin Tuan.” Sopir baru itu mengatakan apa yang ia tahu.
“Dipecat kemarin?” Hani tampak kaget mendengar hal itu. “Anda bercanda? Kenapa ayahku dipecat?!Apa kesalahannya?! Dia seorang pekerja keras! Itu tidak mungkin!” Hani tampak panik. Ia seakan menyalahkan sopir baru itu.
“Ayah tidak mungkin dipecat kan?” Hani menatap ke arah Shin. Anak itu pasti lebih tahu dari sopir yang baru ditemuinya.
“Tenanglah Hani, semua belum pasti, aku yakin ayahmu masih di sini.” Shin mencoba menenangkan gadis itu. Sebenarnya dia juga terkejut mendengar pak Dani dipecat. Tak berselang lama, Ayah Shin keluar dari rumahnya. Ia baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya tiga hari yang lalu.
“Kenapa sudah ada keributan di pagi hari?!” Rei keluar dengan wajah tidak senang karena mendengar keributan di luar rumah. Ia berhenti sejenak begitu melihat Hani berdiri di antara Shin dan sopir barunya. Di belakangnya telah berdiri seorang asisten.
“Siapa gadis ini?” Rei menghampiri ketiganya diikuti asisten di belakangnya.
“Maafkan saya Tuan, saya adalah putri pak Dani, sopir rumah ini.” Hani langsung menjawab begitu Rei melempar tanya.
“Oh ... dia bukan sopir rumah ini lagi. Kau bisa pergi sekarang.” Rei tampak tidak acuh begitu mengetahui tentang Hani. Ia menunjuk ke arah mobil dan dengan segera asistennya membukakan pintu mobil untuknya.
“Apa kalian memecat ayahku?!” Hani tampak geram dengan sikap Rei. Ia menghentikan langkah Pria itu yang sudah hampir memasuki mobil.
“Kau harusnya bersikap sopan nona. Aku yakin kau sudah mengetahui jawabannya.” Giliran asisten ayahnya yang menjawab. Rei pun kembali berjalan memasuki mobil.
“Kenapa?! Aku sangat mengenal ayahku! Dia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk saat bekerja. Dia sangat berhati-hati dengan pekerjaannnya! Kenapa kalian memecatnya?!” Hani tidak menyerah untuk menayakan tentang ayahnya. Shin tidak menyangka ayahnya bisa bersikap sedingin itu. Hani bahkan sekarang sudah hampir menangis.
“Jika kau sangat mengenal ayahmu, maka kau bisa menanyakan kepadanya secara langsung dan bukan malah menanyakan hal semacam ini kepada kami.” Asistennya menjawab untuk terakhir kali. Ia memasuki mobil dan duduk di kursi sopir. Mobil itu pun melaju tanpa mengindahkan Hani yang masih berdiri di sana. Shin tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya diam melihat Hani yang menangis memandangi mobil ayahnya pergi. Sopir baru Ibunya pun meninggalkan keduanya dan memasuki mobil.
“Mungkin kita bisa bertanya kepada Ibuku, ayahmu adalah sopirnya. Pasti ibu tahu.” Shin mencoba memberi solusi dan kembali menenangkan Hani, tapi gadis itu tampak tidak membaik. “Tunggu di sini, aku akan menemuinya.” Shin berjalan masuk ke dalam rumah. Belum sampai ia di ambang pintu, Ibunya keluar dengan terburu-buru sambil menelpon.
“Shin cepat masuk mobil! Ibu sedang buru-buru.” Ibu Shin lewat di hadapan Shin begitu saja. Sepertinya ia benar-benar sedang buru-buru. Sopir barunya dengan gesit membukakan pintu mobil dan Ibu Shin segera naik. Ia bahkan tidak menyadari ada seseorang di luar rumahnya. Shin masih terbengong.
__ADS_1
“Shin cepat masuk!” Ibunya kembali memanggil. Tak lama, Shin berjalan ke arah mobil, ia berhenti sejenak begitu kembali di hadapan Hani.
“Hani, aku minta maaf. Aku janji akan mengabarimu nanti.” Kembali, Shin bergegas memasuki mobil. Mobil itu pun melaju pergi.
Sebenarnya rumah Shin memiliki halaman yang cukup luas dengan dua penjaga keamanan di pintu gerbang. Penjagaannya sangat ketat dan tidak sembarangan orang boleh masuk ke sana. berbeda cerita dengan Hani. Shin memiliki rahasia kecil. Ia sudah tahu tentang Hani sebelum gadis itu bertemu dengan Shin. Beberapa kali ia mengantarkan bekal untuk ayahnya.
Saat pertama kali tahu ada seorang anak seumurannya datang ke rumah dan mengetahui bahwa anak itu hanya datang untuk mengantar bekal, Shin lah yang mengizinkan Hani untuk masuk ke dalam kediaman keluarga mereka. Shin berpura-pura baru melihat Hani kali pertama saat mereka bertemu di depan rumah Shin. Kali ini pun Shin yang mengizinkan gadis itu masuk, jadi tidak aneh mengapa Hani selalu bisa berada di sana.
Di sepanjang jalan, Shin menunggui Ibunnya bertelepon hingga akhirnya ia memiliki kesempatan untuk berbicara. Wanita itu kini memperhatikan putranya.
“Ibu, boleh aku bertanya sesuatu? Itu ...” belum selesai Shin berkata setelah ibunya menutup telepon, hp wanita itu kembali berdering.
“Tunggu sebentar. Ini dari ayahmu.” Ibu Shin kembali mengangkat teleponnya. Setelah beberapa percakapan, telepon dimatikan. Shin tidak tertarik dengan pembicaraan orangtuanya di telepon. Ia menatap keluar sambil menghela napas panjang.
Ibu Shin menyentuh pundak putranya, “Ibu dengar kau membawa orang asing masuk ke dalam rumah? Apa itu benar?” Wanita itu tampak serius. “Sepertinya bukan pertama kalinya ia masuk.”
“Eh, Ibu tahu dari ...”
“Ayahmu yang mengatakannya.” Mira menjawab bahkan sebelum Shin selesai bertanya ‘dari mana?’, “Kau tidak boleh membiarkan sembarang orang masuk Shin. Itu bisa jadi berbahaya.” Ia melanjutkan.
“Ia bukan orang asing bu!”
“Apa Ibu dan Ayah mengenalnya? Apa dia teman sekolahmu? Apa kalian memiliki hubungan sampai bisa membawanya masuk?!” Mira berkata serius.
“Tidak,” Shin menjawab pasrah. “Tapi dia datang untuk ayahnya. Dia hanya mengantarkan bekal.” Shin kembali berkata, ia mencoba membela diri. Mungkin saja Ibunya mengerti.
“Dan membuat keributan yang membuat ayahmu menelpon ibu di pagi hari padahal beberapa menit lalu kita bertemu?!”
“Itulah yang ingin aku tanyakan! Kenapa ayahnya dipecat?! Dia sopir Ibu sebelumnya, kenapa dipecat?!”
“Itu adalah urusan orang dewasa, kamu tidak perlu tahu. Yang harus kamu perhatikan adalah sekolahmu dan bergaul dengan teman-temanmu.” Ibu Shin bersikap tegas.
“Ibu?!” Shin menatap ibunya heran. Ia tampak marah dengan sikap ibunya. Bagaimana pun sekarang Hani adalah temannya. Dia berusaha membantu.
“Kita hampir sampai.” Ibu Shin menatap ke depan tidak berpaling ke arah Shin lagi. Sekolah Shin sudah terlihat. Keduannya tidak bicara lagi. Shin hanya bisa menahan marah. Hatinya dongkol sekali.
Di sekolah Shin tidak bisa fokus. Ia memikirkan kejadian tadi pagi. Dia tidak mengerti kenapa orangtuannya bersikap seperti itu. Ia seperti tidak mengenal orangtuanya lagi terutama sikap ayahnya. Hingga sepulang sekolah, Shin tidak menaiki bus biasanya. Ia tidak hendak pulang ke rumah. Ia akan menuju gedung perusahaan pusat tempat ayahnya bekerja. Jujur saja, ia tidak sanggup menemui Hani karena perasaan bersalah. Gadis itu memperoleh perlakuan buruk dari ayahnya.
Sesampainya di gedung itu, Shin cepat-cepat menuju ke ruang ayahnya. Ia ingin meminta penjelasan kenapa ayah Hani di pecat. Tentu saja gadis itu kebingungan dan takut. Shin tahu bahwa ayah Hani tidak pulang sejak dua hari yang lalu kemarin. Itulah yang membawa Hani ke rumah ayahnya. Shin merasa ada sesuatu yang aneh entah itu hilangnya ayah Hani atau sikap kedua orangtuannya dan itu membuatnya kesal.
Baru sampai Shin memegang ganggang pintu ruangan itu, ia mendengar percakapan kedua orangtuannya di dalam. Mereka tampak serius. Shin terpaku di sana sambil menguping.
“Aku sudah bilang padamu, tidak perlu lagi mempermasalahkan hal ini.” Ayah Shin meyakinkan istrinya.
“Apa kau benar-benar Rei yang kukenal? Dia baru bekerja beberapa bulan di sini. Bukankah ini tidak adil baginya?! Dia juga memiliki keluarga untuk dinafkahi!”
“Kenapa kau memperpanjang masalah ini? Kau tidak perlu berpikir sejauh itu! Yang terpenting sekarang adalah kau memiliki sopir pribadi. Hanya itu!”
“Apa ini karena Nyonya Diana? Ia yang memintamu memecatnya?! Apa dia mengancammu?!” Ibu Shin bertanya dengan nada tinggi. Yang ditanyai hanya diam tak menjawab.
“Kau tahu dia memang suka berbuat sesuka hatinya. Tapi apa itu membuatmu juga menjadi seperti itu?!” Ibu Shin kembali bertanya.
“Lalu kau akan membiarkan Nyonya Diana menghancurkan citra perusahaan kita? Dia memiliki pengaruh yang besar. Aku akan melakukan apa saja untuk menjaga nama baik perusahaan kita!”
Shin tidak sanggup lagi mendengarkan percakapan kedua orangtuanya. Ia memperoleh kesimpulan yang menyakitkan. Itu bukan kesalahan ayah Hani sampai dipecat dari pekerjaannya. Itu karena keserakahan orangtuanya. Ayahnya memecat ayah Hani hanya untuk menjaga nama baik perusahaan. Shin benar-benar terkejut. Ia benar-benar tidak mengenal ayahnya lagi.
Shin keluar dari gedung itu dan pulang ke rumahnya. Lututnya lemas terbebani oleh pikiran itu. Ia merasa sangat bersalah kepada keluaga Hani dan kini tidak bisa berkata apa-apa. Untuk menemuinya pun, Shin merasa sangat malu. Ia mengurung dirinya seharian di kamar.
Keesokan paginya Shin berangkat ke sekolah dengan naik sepeda. Ia pergi pagi-pagi sekali. Pedal sepeda terasa berat hari ini seakan menyuruhnya untuk berhenti dan kembali. Hari ini Shin bertekad menemui Hani. Ia memberanikan dirinya. Bukan pergi ke sekolahannya, Shin pergi ke sekolah Hani. Ia sampai di sana tepat setelah penjaga membuka gerbang sekolah. Ia akan menunggui gadis itu di depan sekolahnya.
Tapi Hani tidak kunjung tiba. Ia tidak masuk ke sekolah hari ini meskipun Shin menungguinya sampai jam pelajaran pertama berakhir. Mau tidak mau Shin mengayuh sepedanya ke rumah Hani. Ia harus bertemu gadis itu hari ini atau ia akan merasa jauh lebih bersalah. Semalaman ia juga tidak bisa tidur. Tangis gadis itu membuat Shin merasa bersalah ditambah setelah mengetahui orangtuanya sendiri yang menyebabkan hal itu terjadi dan lagi semua terjadi karena keserakahan ayahnya akan ketenaran.
Tidak sampai satu jam, Shin telah sampai di depan rumah Hani. Ia melihat gadis itu duduk di bangku depan warung makannya. Gadis itu menjejak-jejakkan kakinya ke tanah sambil menunduk sedih. Ayahnya pasti belum pulang sampai sekarang.
“Hani,” Shin menghampiri gadis itu dan turun dari sepeda. Ia berdiri tepat di depannya. Gadis itu mendongak.
“Shin?! Apa kau mendapat kabar tentang ayahku?!” Hani sontak berdiri melihat wajah Shin. Ia bertanya cemas. Pemuda di depannya mengatupkan rahang kuat-kuat. Sekali lagi mengumpulkan keberaniannya.
“Hani aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.” Dengan cepat Shin berlutut di depan Hani. Ibunya yang baru saja meladeni pelanggan melihat hal itu dan menghampiri keduanya.
“Ada apa ini?” Ibunya bertanya-tanya. Ia tidak pernah melihat anak pria itu sebelumnya.
“Saya minta maaf atas nama keluarga saya. Karena keserakahan orangtua saya, Pak Dani dipecat dengan tidak adil. Saya benar-benar minta maaf.” Shin menundukkan kepala dalam-dalam memohon pengampunan.
“Aku tidak mengerti maksudmu .... Kamu siapa?!” Ibu Hani masih tidak mengerti apa yang dikatakan Shin. Sementara itu putrinya sontak diam tercenung tanpa disadari air matanya mengalir membasahi pipi.
“Saya putra dari Ibu Mira, istri pemilik Keygrup tempat suami Anda bekerja.” Shin mendongak ke arah Ibu Hani lalu kembali menunduk, “Saya minta maaf.”
Mendengar penjelasan Shin, wanita yang berdiri di sebelah hani langsung ambruk. Ia terduduk lemas. Sontak Hani memegang bahu Ibunya dan merangkulnya. “Ibu!”
__ADS_1
“Suamiku dipecat?” Ibu Hani menatap Shin tidak percaya. Shin rasa Hani tidak berani memberi tahu ibunya tentang keadaan ayahnya saat ini. “Bagaimana mungkin?!” Wanita itu berbalik menatap Hani. Ia melihat wajah putrinya dan segera tahu bahwa Hani telah mengetahui semuanya dan menyembunyikan hal itu darinya.
“Saya benar-benar minta maaf.” Shin masih berusaha meminta ampunan pada keluarga itu sekali lagi.