Pernikahan Kita

Pernikahan Kita
Perhatian


__ADS_3

“Apa kau sangat nyaman berada di kamarku?” Tanya Shin begitu mereka menaiki mobil meninggalkan rumah itu. Wanita yang ditanyanya hanya diam. Ia tampak tidak mau membahasnya.


“Hei, ayolah! Apa karena tadi pagi?” Shin penasaran. Ia tersenyum kecil.


“Kenapa kau penasaran?” Luna bertanya balik.


“Aku hanya berpikir, semua tentangku sepertinya membuatmu merasa nyaman.” Shin menjadi sangat tertarik dengan percakapan ini. ia tampak menikmatinya.


“Dan aku hanya berpikir bahwa sepertinya kau menyukaiku.” Luna menanggapi pernyataan shin. Ia memang berpikir begitu. Sejak awal Shin mengetahui rahasianya, pria itu tampak bersimpati. Ia selalu mencoba untuk melindungi Luna. Pria itu terus bersikap baik dan peduli padanya. Selain itu, di beberapa waktu yang mereka lewati, Shin kadang meperlihatkan ketertarikannya pada Luna.


“Bagaimana bisa menyimpulkan seperti itu?” Shin menjadi salah tingkah. Ia merasa kalah dengan ucapan Luna barusan.


“Kau selalu bersikap baik kepadaku, walau kadang menyebalkan. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu karena kontraknya? Atau karena kau memang orang yang peduli? Kau juga kadang menunjukkan kalau kau tertarik padaku, lalu aku mulai berpikir apakah itu karena aku wanita yang sangat cantik atau karena kau hanya terlalu kesepian? Aku pikir kau mungkin menyukaiku. Aku hanya mencoba memastikan hal itu.” Luna bicara terus terang. Ia tampak tenang ketika membicarakannya, tapi itu membuat Shin tidak nyaman. Ia juga sebenarnya terganggu oleh dirinya sendiri. pertanyaan yang Luna lontarkan juga sempat berputar-putar di otaknya.


“Apa karena itu kau bertanya padaku apakah aku menyukaimu?” Shin tidak mencoba untuk menghindari percakapan ini. Ia juga ingin tahu apa yang dipikirkan Luna tentang dirinya.


“Iya.” Luna menjawab pendek.


“Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau rasakan?” Shin balik bertanya.


“Aku hanya ingin memastikannya. Kau adalah satu-satunya orang yang mengetahui semua rahasiaku. Jadi, aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja. Aku takut orang lain juga tahu.” Luna menjawab dengan terang-terangan.


“Jadi kau ingin aku menyukaimu karena takut aku mungkin membongkar rahasiamu kepada orang lain?” Shin serasa ditusuk dari belakang. Apa selama ini Luna ingin mencoba memanfaatkannya saja? Ia berpikir wanita itu benar-benar tidak berperasaan.


“Ah, apa yang aku katakan?! Seharusnya aku tidak mengatakannya.” Luna segera membungkam mulutnya sendiri. Ia baru menyadari dirinya keceplosan. Ia seharusnya tidak memberitahu Shin tentang ini. Wanita itu ingin mengutuk dirinya sendiri. Dengan segera, Shin menepikan mobilnya.


“Kau tahu kau sangat licik?” Shin menatap Luna tajam.


“Aku tahu.” Luna terlihat menyesal. Ia mengakuinya begitu saja sambil terus menunduk.


Setelah mampir ke rumah sejenak, Shin mengantar Luna ke kantornya. Keduanya hanya terdiam di sepanjang perjalanan. Pria itu tampaknya masih marah kepada Luna setelah mengetahui Luna hanya ingin memanfaatkan situasi. Wanita itu pernah meminta Shin untuk membatalkan kontrak hanya agar ia bisa bertahan hidup.


Sesampainya di area parkir kantor, Shin bergegas turun mendahului Luna. Ia membuka pintu belakang mobil dan mengamil sesuatu. Luna yang ada di sana tidak peduli apa yang dilakukan Pria itu. ia masih sedikit merasa bersalah.


“Tunggu!” Shin menghentikan Luna yang hendak turun dari mobil. Wanita itu sudah membuka pintunya.


Pria itu mendekati Luna dan berjongkok di depannya. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari tas kertas. Shin pun perlahan menarik pergelangan kaki wanita itu dan melepas sepatunya satu per satu.


“Aku tahu kau selalu kesakitan memakai hak tinggi, kenapa tetap memakainya? Aku jelas sudah menyuruhmu untuk mengobatinya. Jika begini terus apa obat akan manjur?! Kau tidak pernah mendengarkanku?” Shin memakaikan Luna sepatu tanpa hak. Ia baru saja membelinya semalam.


“Kenapa kau jadi cerewet?” Luna merajuk.


“Untuk saaat ini aku akan menyita seluruh sepatu hak tinggimu, jangan pernah memakainya lagi sebelum lukamu sembuh! Jangan juga peduli perkataan orang tetangmu. Kau juga tidak perlu melakukan semuanya demi ibumu jika tidak menyukainya! Kau mengerti?” Kali ini Shin terlihat seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya. Ia menarik tangan Luna keluar dari mobil.


“Aku mengerti. Soal yang tadi ....” Luna tampak terharu sekaligus menyesal.


“Aku masih belum memaafkanmu. Aku rasa kau harus memikirkan bagaimana cara menebusnya dibandingkan hanya meminta maaf.” Shin memberitahu Luna. Tanpa berkata apapun lagi ia kembali masuk mobil da pergi meninggalkan wanita itu. Luna hanya bisa memandangi mobil itu pergi menjauh.


^^^


Ini kali pertama Luna memakai sepatu tanpa hak ke kantor. Seperti kata Shin, ia tidak perlu memedulikan kata orang. Ia berjalan memasuki kantornya dengan percaya diri. Sepatu itu tidak terlalu buruk. Ia senada dengan pakaian putih yang dikenakan Luna.


Begitu memasuki gendung, orang-orang yang melihatnya memberi salam. Luna membalas salam itu dengan senyum lebar. Hari ini ia merasa sangat senang. Ia merasa sangat nyaman dengan sepatu itu.


“Hai, kau terlihat sangat bahagia hari ini. apa ada kabar baik?” Brian menghampiri Luna begitu melihatnya. Ia juga baru saja memasuki gedung.


“Kak Brian?” Luna baru menyadari kedatangan seseorang. “Hal baru terjadi padaku.” Luna memberitahu Brian dengan senyum yang mengembang.


“Oh hei, kau memakai sepatu tanpa hak?” Brian baru menyadari, langkah kaki Luna tidak terdegar seperti biasanya. Ia sedikit terkejut. Wanita itu mengangguk senang. Orang-orang yag menemuinya juga berpikiran sama dengan Brian. Mereka sedikit bertanya-tanya.


“Apa kau sedang mengandung?” Brian bertanya dengan ragu-ragu.

__ADS_1


“Apa maksudmu dengan ‘mengandung’?” Luna tidak paham dengan maksud pria itu.


“Lupakan saja.” Brian tidak lagi ingin membahasnya. Sepertinya dia sudah tahu jawabannya. Biasanya wanita yang sedang hamil akan memakai sepatu yang lebih nyaman karena kaki mereka bengkak. Tapi sepertinya itu tidak terjadi pada wanita di sampingnya.


Kabar itu ternyata cepat menyebar. Selama ini Luna menjadi pusat perhatian di perusahaan. Ia seakan menjadi contoh setiap perempuan yang bekerja bersamanya. Ia selalu berpenampilan cantik, mods, dan apapun yang dikenakannya selalu terlihat hebat. Namun hari ini, wanita itu terlihat sedikit berbeda. Tentu saja berbeda. Setiap hari dalam hidupnya, Luna selalu memakai hak tinggi dan dia selalu begitu, tetapi hari ini dia memakai sepatu tanpa hak. Dan itu menarik perhatian setiap yang melihatnya. Mereka mulai bertanya-tanya dan akhirnya membuat gosip.


“Nona Luna sedang hamil.”


“Benarkah?”


“Aku melihatnya sendiri. pagi ini dia mengenakan sepatu tanpa hak. Ia juga terlihat sangat senang. Apa lagi jika bukan sedang hamil?”


“Oh kau benar! Aku melihatnya diantar oleh suaminya. Mereka terlihat sangat mesra tadi pagi. Waah.. aku sangat iri!”


“Skandal kemarin tampaknya benar-benar tidak masuk akal! Saat ini keduanya pasti sedang berbahagia ....”


“Aku yakin anak yang akan lahir akan sangat cantik atau tampan. Ayah ibunya terlihat sangat luar biasa ... Aku berharap juga mendapatkan suami seperti itu ....”


“Kau benar!”Seorang pegawai dan beberapa temannya asyik bergosip dan percakapan itu menjadi tersebar luas ke seluruh pegawai perusahaan hanya dalam waktu sehari semalam.


^^^


Siang itu, Luna kembali meghubungi Hani dan membuat janji temu malam ini. ia ingin membicarakan masalah orangtuanya. Keduanya bersepakat bertemu secara pribadi di sebuah kafe.


“Jadi kau sudah menanyakan kebenarannya kepada orangtuamu?” Luna menanyai Hani tanpa basa-basi.


“Mereka sudah melihatku di depan gudang begitu kau pergi.” Hani menjawab. Ia terlihat tidak nyaman.


“Lalu apa kau tetap akan berpura-pura tidak tahu?” Luna yakin Hani belum bicara apapun kepada keduanya.


“Ayah tidak akan melakukan hal semacam itu. Aku sangat mengenalnya.”


“Orangtuaku memang tidak menyukai keluarga Shin saat ini. Tapi itu bukan berarti mereka bersalah!”


“Jadi kau ingin mengatakan bahwa kecelakaan yang terjadi pada ibu Shin adalah karena kesalahan keluarganya sendiri?” Luna mencoba memancing Hani. Ia yakin wanita di depannya tidak berpikir demikian. Hani tidak bisa menjawab pertanyaan Luna. Ia terlihat sangat tidak nyaman.


“Aku mendengar semuanya dan aku ingin memastikan kebenaran itu kepada mereka secara langsung, tapi aku mengurungkan niatku. Aku pikir akan lebih baik kau yang bicara kepada mereka. Setelah itu aku ingin kau segera bicara kepada shin. Dia juga perlu mengetahui kebenarannya.”


“Kenapa kau melakukan ini kepadaku?” Hani tampak kesal mendengar perkataan Luna. Ia merasa digurui.


“Apa kau ingin aku yang memberitahu Shin? Pria itu akan lebih sakit hati jika tahu dari orang lain. Tapi dia mungkin akan lebih sakit hati lagi jika hal ini disembunyikan terlalu lama.” Luna tidak melunak sedikit pun.


“Apa pedulimu dengan perasaan Shin?” Hani merasa Luna telah melewati batas. Ia berpikir Luna tidak berhak mengatakan hal itu karena dia hanya istri kontrak Shin.


“Kami memang hanya menikah karena kontrak. Tapi bagaimana pun ia menjadi bagian dari hidupku untuk saat ini. Keluarganya adalah keluargaku juga.” Luna berkata serius. “Aku tidak bisa menunggu lama, Jika pada akhirnya kau tidak berbuat apapun, maka aku tidak punya pilihan selain memberitahunya sendiri. Aku hanya mencoba memberimu kesempatan. Jadi gunakan kesempatan itu dengan baik.” Ia melanjutkan. Tidak lama kemudian Luna beranjak dan pergi meninggalkan Hani.


Hani tidak memiliki pilihan lain. Semua yang dikatakan Luna benar. Namun itu juga sekaligus menakutkan baginya. Selama ini Shin selalu merasa bersalah kepada keluarganya. Ia berkali-kali minta maaf atas kesalahan yang bahkan tidak pernah ia buat. Shin selalu melindungi Hani dan membuatnya dapat tersenyum di saat-saat sulit. Ia memberi Hani kekuatan dan menjadikannya bisa bertahan selama ini. lalu bagaimana setelah ini?


Hani tidak bisa membayangkan Shin yang ia kenal meninggalkannya begitu saja. Ia takut. Shin sudah membuat Hani terlanjur terlalu mencintainya. Ia merasa semua ini tidak adil baginya. Seakan semesta dan semua yang ada di dalamnya tidak pernah mersetui Hani dan Shin bersatu. Lalu untuk apa keduanya dipertemukan? Kenapa waktu membiarkan Hani mencintai Shin terlalu dalam meskipun tahu ia tidak akan pernah bisa memilikinya?


Malam itu, setelah Hani selesai menemui Luna, ia berjalan pulang dengan langkah begitu berat. Hingga di satu titik, Hani hanya bisa berjongkok lalu begitu saja menutup muka dan menangis di pinggir jalan.


“Kau tak apa?” Suara yang terdengar familiar mendekati Hani dan bertanya padanya. Pria itu ikut berjongkok di hadapannya. Perlahan wanita itu mengangkat kepalanya dan menemukan seseorang yang ia kenal.


“Al?” Hani tampak terkejut. Saudara kembar Aili entah mengapa bisa berada di depannya saat ini. ia tahu Al seharusnya ada di luar negeri. Ia sudah tinggal lama di sana dan Hani tidak menyangka ia akan kembali ke tanah air.


“Hei, kenapa kau terlihat sangat sedih? Apa ada yang baru saja menyakitimu?” Pria itu bertanya lagi. Hani menatap Al tanpa berkata apupun lalu tiba-tiba saja kembali menangis.


“Hei, kenapa menangis? Kau membuatku ikut sedih ...” Pria itu mencoba menenangkan Hani. Ia memeluk wanita itu perlahan.


^^^

__ADS_1


“Kamu habis dari mana?” Shin menanyai Luna begitu ia sampai di rumah. “Tidak biasanya kamu pergi sendiri.” Ia melanjutkan.


“Aku? Aku baru saja menemui seseorang.” Luna menjawab ragu-ragu.


“Aneh. Kau menemui seseorang sendirian bahkan tanpa Brian? Kau bisa naik angkutan umum?”


“Aku naik taksi.” Luna menjawab singkat lalu pergi begitu saja. Ia seakan menghindari Shin.


“Bukankah kau harus bersikap baik kepadaku? Kau bahkan berhutang maaf.” Shin mengikuti Luna. Ia berpikir wanita itu terlalu meremehkannya.


“Kenapa aku harus?!” Luna tiba-tiba saja memutar badannya. Ia membuat Shin terkejut.


“Ke-na-pa?” Shin tak percaya Luna mengatakan itu. Apa selama ini wanita itu tidak merasa bersalah?


“Kesepakatan kita adalah tidak mencampuri urusan masing-masing.” Luna menjelaskan. “Aku hanya pergi sebentar, jadi aku rasa tidak perlu memberitahukannya kepadamu. Bukannya begitu?”


“Ee… ya…. Kau benar….” Shin merasa salah paham.


“Kalau begitu aku mau tidur. Permisi.” Luna kembali melangkah pergi dan Shin hanya berdiri memandangi wanita itu dari belakang.


^^^^


Di hari selanjutnya, Luna menemui Rei. Keduanya sudah membuat janji untuk bertemu siang ini di salah satu restoran milik Sera.


“Apa yang begitu penting sehingga kau ingin menemuiku seperti ini?”


“Karena ini adalah percakapan di mana hanya saya dan Ayah saja yang boleh tahu.”


“Apa ini ada hubungannya dengan Shin?”


“Lebih tepatnya adalah hubungan antara ayah dan kak Shin.”


“Apa ini? apa ada masalah?” Rei tertarik dengan percakapan ini. Luna pasti mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui.


“Saya minta maaf jika menyinggung ayah. Saya tahu hubungan ayah dan kak Shin tidak berjalan baik.”


“Semua orang sudah mengetahui hal itu. aku tidak terkejut. Anak itu selalu saja membuat onar dan membuatku marah. Dia sangat kekanak-kanakan. Satu satunya hal yang tidak dikacaukannya hanyalah pernikahannya.”


“Tapi apa ayah tahu apa alasan kak Shin melakukan semua itu?”


“Dia sangat membenciku sejak ibunya meninggal. Aku juga mengira dia membutuhkan sosok seorang ibu, tapi setelah aku menikah lagi, kurasa dia semakin membenciku.” Rei terkekeh. Ia tidak mencoba menutupi hal itu.


“Bukankah itu karena kak Shin sangat menyayangi ayah?” Luna kembali bertanya. Ia ingin membuat Rei mengerti tentang kemungkinan itu.


“Aku jarang memperhatikan Shin saat masih kecil dan ia sangat dekat dengan ibunya. Begitu Mira meninggalkan kami, aku rasa hal yang dimiliki Shin kepadaku hanyalah kebencian. Aku bahkan tidak ada di sana ketika istriku meninggal. Shin juga sering mengatakan padaku dengan terang-terangan bahwa ia hanya bertahan di sampingku karena ibunya menginginkan itu. Itu terdengar sangat kekanakan tapi aku juga bersyukur karenanya.” Rei tersenyum sendu. “Kenapa kau tiba-tiba ingin membicarakan hal ini?”


“Saya pikir ada salah paham antara ayah dan kak Shin. Kak Shin tidak pernah membenci ayah karena ibunya meninggal dunia. Itu mungkin lebih pada rasa kecewa, Saya melihat Kak Shin hanya mencoba menunggu ayahnya melakukan sesuatu.” Luna berusaha memberitahu kemungkinan itu.


“Melakukan sesuatu?” Rei bertanya penasaran. Ia tidak merasa perlu melakukan sesuatu di masa lalu.


“Setelah mengenal kak Shin cukup lama, saya tahu dia selalu memedulikan orang lain. Dia akan minta maaf atau menebus kesalahannya ketika ia merasa tengah merugikan orang lain. Kak Shin tidak pernah ingin menghancurkan hidup orang lain. Dia mati-matian melakukan itu.” Luna menyatakan apa yang ada di benaknya selama ini. Wanita itu memang tidak mengenal Shin di masa lalu, tapi dari apa yang Luna lihat Shin memang seperti itu.


Shin membuat kontrak pernikahan karena peduli dengan Luna dan ia menepati kontraknya dengan baik. Ia tidak pernah melakukan hal buruk kepadanya selama mereka menikah. Bahkan berkali-kali Shin menyelamatkannya dan melindunginya. Begitu juga yang dilakukan Shin kepada wanita dari masa lalunya. Luna yakin Shin selalu merasa bersalah kepada keluarga wanita itu dan yang bisa ia perbuat untuk mengurangi rasa bersalahnya hanyalah melampiaskan kemarahan pada ayahnya.


“Maksudmu ia ingin aku menebus kesalahan yang sebelumnya pernah kuperbuat?” Rei menebak.


“Saya yakin ada satu peristiwa yang membuat kak Shin mulai menjauh dari ayah. Dan juga saya rasa itu semua karena dia sangat menyayangi ayah dan bukan sebaliknya.”


“Apa itu ada hubungannya dengan sopir itu?” Rei bergumam. Ia merenung sejenak. Ia ingat Shin sangat marah kepadanya saat itu. “Kau yakin selama ini Shin memberontak karena dia kecewa padaku?” Rei bertanya ragu.


“Saya harap ayah sebaiknya membicarakan hal ini dengan kak Shin secara langsung. Saya rasa semua akan jelas jika Ayah dan Kak Shin bertemu.” Luna sudah mengatakan semua yang ia bisa lakukan. Mendengar hal ini dari Luna, membuatnya sedikit tenang. Ia tersenyum hangat kepada menantu kesayangannya. Ia juga ingin memastikan dugaan menantunya benar.

__ADS_1


__ADS_2