Pernikahan Kita

Pernikahan Kita
melepaskan rasa bersalah


__ADS_3

Malam itu, selepas membereskan kedai, Hani duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya. Ia mengumpulkan keberaniannya. Hari ini ia mau tidak mau harus bicara untuk meluruskan semuanya.


“Ibu tahu apa yang ingin kau bicarakan. Tapi ibu rasa kau harus berheti. Lebih baik kita lupakan saja ya!? Anggap kau tidak pernah mendengar apapun!” Ibu Hani memohon. Ia sangat tidak nyaman dengan percakapan ini.


“Ibu!! Sampai kapan ibu akan merahasiakan ini dariku?! Dan ayah! Kenapa ayah berbohong kepada kami?!” Hani meluapkan kekecewaannya.


“Ayah tidak pernah melakukan kesalahan apapun, jadi berhentilah membicarakan omong kosong ini lagi.” Ayah Hani bangkit berdiri dan meninggalkan meja.


“Ayah! Apa maksud ayah dengan omong kosong?!! Apa yang sebenarnya Ayah lakukan kepada sopir baru Ibu Shin?!” Hani beranjak dan meneriaki ayahnya. Pria paruh baya itu berhenti melangkah.


“Hani! Kita sudahi saja ini ya?” Ibunya memohon lagi.


“Aku jelas mendengar ayah memberikan sesuatu kepada sopir itu Bu! Apa kecelakaan itu akan tetap terjadi meskipun ayah tidak memberikannya?!” Hani tetap bersikukuh bertanya.


“Itu sangat mungkin terjadi! Tidak ada yang dapat memprediksi kematian!” Ayahnya kembali melangkah pergi.


“Ayah!!” Hani memanggil ayahnya kembali. Tetapi pria itu tak peduli. “Apa Ibu akan membiarkan ayah begitu saja? Ibu juga tahu segalanya! Ibu bahkan terus memohon ampun saat itu!” Sekarang Hani mendesak ibunya.


“Bisakah Ibu tidur nyenyak selama ini?” Hani sekali lagi bertanya kepada ibunya. Mata wanita itu mulai sembap.


“Dulu aku bertanya-tanya apakah ada hal buruk yang menimpa ayah sehingga ia menghilang? apa ia menghilang karena takut rentenir akan mengejarnya? atau apa mungkin ayah tidak sanggup menemui kita karena ia kehilangan pekerjaannya? Aku tidak pernah dapat jawabannya hingga ia kembali lalu Aku mulai bertanya-tanya lagi, Apa ia kembali karena merindukan kita? Atau apa karena ia tidak lagi dikejar-kejar oleh rentenir? Aku selalu bertanya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya terus menduga-duga.” Hani tidak sanggup menahan air matanya. Ia hanya menatap punggung ayahnya di belakang meja dapur.


Pria itu menyibukkan diri membereskan peralatan. Jelas sekali ia masih mendengar perkataan putrinya.


“Ayah jadi begitu aneh belakangan ini. Aku tidak mengenalnya lagi. Ia banyak berubah dari sejak terakhir kulihat. Bagaimana bisa ia adalah ayah yang dulu kukenal? Apa ibu tidak merasakan hal yang sama selama ini? Apa hanya aku yang merasa seperti itu?” Hani terus berbicara. Ibunya sudah mulai sesegukan.


“Bisakah ayah menjawab pertanyaanku?” Hani menanyai ayahnya. Ia tahu ayahnya masih mendengarkan.


“Tidak ada satu hal pun yang dapat membuktikan bahwa ayah bersalah! Dan sebab itu, kau tidak perlu mempermasalahkan hal ini!” Ayah Hani menjawab datar tanpa menoleh.


“Lihat! Ayah menunjukkan bahwa ayah telah bersalah! Ayah bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanku.” Hani duduk kembali. Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Ia tampak frustasi.


“Ayah harus melaporkan perbuatan ayah sendiri!” Hani kembali bicara.


“Hani!!” Ibu Hani terkejut dengan permintaan putrinya.


“Ayah jelas-jelas bersalah Bu! Ayah tidak akan kabur dari rumah bertahun-tahun jika ayah tidak merasa bersalah! Ayah tidak akan meninggalkan kita semua jika ayah tidak melakukan kesalahan! Selama ini ayah merasa bersalah! Dan sebab itu juga keluarga ini membenci putra keluarga itu! Ayah selalu ingin menghindari masalah karena ayah takut jika seseorang mengetahuinya!” Hani meluapkan amarahnya. Semua pertanyaan yang berputar-putar di kepalalnya selama ini hanya memungkinkan jawaban itu. Ayahnya merasa bersalah dan ia ingin bersembunyi setelah membuat kesalahan.


Plak!


Ibu Hani tidak dapat menahan tangannya. Ia menampar putrinya sendiri.


“Ibu?!” Hani menatap mata ibunya dalam-dalam. Baru kali ini Hani melihat ibunya sangat marah.


“Bagaimana pun ia tetap ayahmu! Seharusnya kau berhenti saat aku bilang berhenti!” mata Ibu Hani masih dipenuhi amarah. Segera ia pergi meninggalkan kedai. Ia tidak mau mendengar percakapan ini lagi.


Sementara itu ayah Hani hanya diam melihat istrinya pergi. Ia tak bicara sepatah kata pun. Tak ada yang bisa menebak apa yang dipikirkannya saat ini. Suasana kedai semakin menyesakkan. Tak berselang lama Hani juga meninggalkan ayahnya sendiri. Ia merasa terlalu tertekan dengan semua hal yang dilaluinya hari ini.


Sesampainya di rumah, Hani segera menuju ke kamarnya. ia meringkuk di atas ranjangnya dan menutup mukanya dengan bantal. Matanya sembab dan ia masih terisak. Ia merasa kesal, marah, dan kecewa. Selama ini Hani kira ia sudah mengenal ayahnya dengan baik. Ayah yang ia kenal begitu penyayang dan peduli terhadap keluarganya. Ayah juga seorang pekerja keras dan tak kenal lelah.


Hani percaya ayahnya orang yang baik. Dan ternyata kenyataannya saat ini berbeda. Meskipun Hani tidak tahu benar apa yang terjadi, Hani tahu ayahnya sedang menyembunyikan kesalahannya. Kesalahan besar yang bahkan membuat ibunya menangis hampir tiap hari dan memohon ampun.


“Apa kau sangat kecewa kepada ayah?” Pria dengan suara serak itu menghampiri putrinya dan duduk di sampingnya.


“Apa yang sebenarnya ayah lakukan?” Hani bangkit perlahan dan berkata pelan. Wanita itu menatap wajah ayahnya. Ia benar-benar ingin mendengar jawaban ayahnya.

__ADS_1


“Ayah minta maaf.” Pria di hadapannya menunduk.


“Bisakah ayah menceritakannya kepadaku?”


“Saat itu ayah hanya ingin membuat mereka menyesal karena memecat ayah. Ayah tidak tahu akan berakhir seperti itu.” Ayah Hani akhirnya berterus terang. Ia merasa bersalah kepada putrinya karena tidak bias menjadi orangtua yang baik.


“Bagaimana bisa ayah berpikir seperti itu?” Hani menyeka air mata yang membasahi pipi. Dadanya terasa sesak sekali.


“Ayah minta maaf.” Tidak ada hal lain yang terpikirkan ayahnya selain penyesalan.


“Apa ayah tahu? setelah ayah menghilang, Shin hampir setiap hari datang ke rumah untuk meminta maaf. Dia berlutut sepanjang hari di depan rumah kita karena merasa bersalah. Dia sangat baik kepadaku. Dia memperlakukanku sangat baik tanpa tahu apa-apa. Aku merasa telah membodohinya selama ini.” Air mata Hani tak kunjung berhenti menetes. Ia terisak sambil merangkam dadanya yang sesak . Pria di hadapannya hanya bisa diam, ia tahu ia bersalah.


“Kenapa ayah bisa setega itu?” Hani tak henti-hentinya menagis. Ayahnya perlahan memeluk putrinya. Ia mencoba menenangkan Hani.


“Ayah minta maaf.”


^^^


“Terima kasih” Luna tiba-tiba berucap. Malam itu seperti biasanya, ia menghabiskan waktu di teras belakang rumah memandangi bintang-bintang bersama Shin. Keduanya terdiam cukup lama di sana hingga Luna mulai bicara.


“Kenapa tiba-tiba berterima kasih?” Shin merasa perkataan Luna terdengar aneh. Jelas dari tadi Shin tidak melakukan apa-apa.


“Aku hanya ingin berterima kasih untuk segalanya. Di masa yang akan datang mungkin kita tidak saling bertemu lagi jadi aku khawatir tidak sempat mengatakannya.” Luna tersenyum. Ia mengatakannya dengan tulus.


“Apa maksudmu tidak bertemu lagi? Bukankah itu konyol? Setiap hari juga kita ketemu. Perkataanmu itu terdengar seperti kau akan menghilang dari dunia ini. Jangan berpikir macam-macam!” Shin khawatir Luna akan melakukan hal buruk.


“Jika di masa depan hubungan kita tidak baik karena perceraian, dan kita tidak lagi bersama seperti ini, mungkin kita tidak lagi bertemu, bahkan mungkin aku benar-benar akan menghilang, aku hanya ingin kau tahu bahwa selama pernikahan, aku merasa berterima kasih dan bersyukur. Aku berterima kasih karena bertemu denganmu.” Luna berkata tulus.


“Aku tidak melakukan apapun untukmu. Kenapa bicara seperti itu sih? Kau membuatku merasa takut. Jangan memikirkan hal-hal yang belum terjadi! ” Shin tidak tahu Luna memikirkan hal seperti ini. Dia sedikit terkejut.


“Tapi kita memang akan bercerai!” Luna mengingatkan Shin. Pria itu harus sadar bahwa perceraiannya mungkin hanya tingal menghitung hari. Bagaimana bisa ia sesantai itu?


“Apa?” Kini Luna yang heran sekali dengan perkataan Shin. Jadi pria itu dari tadi berpikir bahwa apa yang dikatakannya tidak serius?


“Jika kau punya masalah denganku kau bisa mengatakannya langsung! Kau tahu? Kau sangat pandai membuat orang lain merasa bersalah!” Shin beranjak dari duduknya. Pria itu seakan terbawa emosi. Ia tiba-tiba merasa marah, sedih, dan frustasi.


“Kenapa kau malah jadi marah karena aku berterima kasih?” Luna juga ikut beranjak. Ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini.


“Kalau gitu jangan berterima kasih padaku!!”


“Kamu kenapa sih?” Luna benar-benar bingung.


“Aku ... aku....” Shin juga tampak bingung dengan dirinya sendiri. Perasaannya benar-benar aneh. Ia menatap wanita di hadapannya dalam-dalam. Ia akhirnya sadar juga jika Luna begitu istimewa baginya.


Luna. Wanita itu berhasil membuatnya jatuh hati. Bukan karena dia wanita yang cantik dan dikagumi banyak orang, namun dia selalu bisa membuat Shin tertarik dengan hidupnya.


Semakin lama Shin berada di samping Luna, Shin semakin ingin tahu banyak tentang wanita itu. Dan Luna selalu bisa membuatnya terkejut. Adanya Luna, membuat hari-hari Shin penuh dengan warna. Ia bahkan bisa meninggalkan hidupnya yang berantakan berkat wanita itu.


Selama ini Shin hidup dengan penuh kebencian dan rasa bersalah. Ia tidak tahu bagaimana caranya hidup bahagia. Dan kemudian Luna hadir. Tanpa disadari, wanita itu selalu bisa menghibur Shin dengan kebiasaan dan tingkah anehnya, dengan hal-hal yang tidak pernah Shin bayangkan sebelumnya. Wanita itu berhasil mendorong Shin untuk menjadi pria yang lebih baik. Karena Luna, Shin tidak lagi ingin menjadi pria brengsek. Ia ingin menjadi seorang yang bisa diandalkan.


“Kau sebenarnya kenapa?” Luna juga menatap mata Shin. Ia benar-benar ingin tahu apa yang dipikirkan pria itu.


Luna tidak dapat memastikan apa yang ada dalam pikiran Shin. Apa selama ini Shin tidak merasa nyaman dengannya dan menahan diri? Jika Shin tidak menyukai kata terima kasih apa itu berarti Shin ingin Luna meminta maaf? Luna menyimpulkan sendiri. Semua yang Shin lakukan kepada Luna selama ini pasti hanya karena kontrak itu. Shin tidak menyukai Luna dan mungkin tidak akan pernah. Dan terakhir kali, Luna juga membuat Shin kesal. Benar. Dalam benak Luna, Shin saat ini pasti sangat membencinya hingga dia marah meskipun Luna berterima kasih. Luna kini merasa bersalah sendiri.


^^^

__ADS_1


Di hari berikutya, Shin menerima telepon dari Hani. Wanita itu memintanya bertemu. Keduanya pun bersepakat bertemu di salah satu tempat yang jauh dari keramaian untuk menghindari skandal. Mereka tidak ingin kejadian terakhir terulang lagi.


Malam itu Shin dan Hani berjalan berdampingan di salah satu taman yang jauh dari pusat kota.


“Maaf memintamu bertemu padahal aku sudah berjanji untuk menunggu.” Hani berhenti melangkah. Sebenarnya dari tadi ia sedang mengumpulkan keberaniannya. Malam ini ia akan mengatakan semua kepada Shin.


“Tidak apa-apa. Sebenarnya saat aku memintamu menungguku sampai perceraian itu sudah keterlaluan. Aku yang harusnya minta maaf.” Shin jadi merasa bersalah kepada Hani. Ia juga merasa bersalah karena perasaannya telah berubah.


“Apa kau masih mencintaiku Shin?” Hani menatap wajah pria itu. Ia ingin memastikan.


“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Ada masalah?” Shin berpikir mungkin Hani ingin mengatakan sesuatu.


Wanita itu terdiam cukup lama. Belum juga ia berucap, tiba-tiba hujan turun. Semakin lama semakin deras. Shin dan Hani pun segera mencari tempat teduh, namun keduanya sudah hampir basah kuyup begitu menemukan tempat.


“Bahkan cuaca tidak merestui kita.” Hani bergumam dan menghela napas panjang.


“Apa?” Shin memastikan apa yang baru saja dikatakan Hani. Ia mungkin salah dengar.


“Sejak awal sepertinya kita memang tidak ditakdirkan bersama Shin.” Hani memberitahu Shin keadaan yang mereka alami selama ini.


“Apa maksudmu?” Shin tampak bingung. Hani tiba-tiba menjadi emosional. Apa mungkin wanita itu tahu tentang perasaannya kepada Luna?


“Meskipun kita saling mencintai dan perasaan kita bertahan sejauh ini, keadaan tetap tidak berubah. Seakan semuanya menarik kita untuk saling menjauh. Dan terus begitu.” Hani tampak sedih.


“Apa kau baik-baik saja?” Shin mencoba memahami Hani.


“Semua ini terasa menyesakkan bagiku.” Hani tidak kuat menahan air matanya. Ia menangis juga di hadapan Shin.


“Jika ini karena pernikahanku, Aku minta maaf. Ini semua salahku.” Shin berpikir ini mungkin karena pernikahannya. Ia menjadi sedikit panik dan tidak tahu harus melakukan apa lagi.


“Kenapa kau malah yang minta maaf soal itu?” Hani menatap Shin serius. Ia tampak prihatin sekaligus marah.


“Hei, jika ada yang mengganggumu, kita bisa menyelesaikannya bersama.” Shin mencoba menenangkan Hani. Ia berusaha mendinginkan suasana.


“Aku rasa kita harus mengakhiri semua ini di sini.” Hani memutuskan. Ia tidak bisa mempertahankan hubungannya lagi.


“Bisakah kau menjelaskannya kepadaku? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?” Shin semakin bingung. Ia juga jadi khawatir.


Sebenarnya Shin juga ingin segera mengakhiri hubungan percintaannya dengan Hani. Alasannya karena perasaan yang dimilikinya kepada Luna dan hubunganya dengan Hani yang semakin tidak jelas. Tapi jika Hani yang memutuskan, ia jadi merasa tambah besalah.


“Maafkan aku Shin. Aku benar-benar minta maaf.” Hani memejamkan mata. Ia tidak bisa lagi menatap pria di hadapannya. Ia terlalu merasa bersalah.


“Kenapa kau minta maaf? Apa yang terjadi?” Perkataan Hani membuat Shin semakin bingung. Hani tidak pernah berbuat salah kepadanya.


“Aku minta maaf untuk semuanya .... ” Hani mulai menunduk dalam-dalam. “Aku bersalah....”


“Ada apa?”


“Aku minta maaf. Jika bukan karena ayahku, kecelakaan itu mungkin tidak akan pernah terjadi.” Hani mengakui kesalahan ayahnya.


“Apa maksudmu? Kecelakaan apa?” Shin memutar otak. Ia berusaha keras memahami maksud Hani.


“Kecelakaan ibumu tujuh tahun lalu ... semua karena ayahku.” Hani terisak.


“Apa?!” Begitu mendengar perkataan Hani, kaki Shin jadi lemas. Ia begitu terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menatap wanita itu dengan hati terluka. Kenapa ia harus mendengar ini? Dan kenapa harus Hani yang mengatakannya? Shin jadi tidak tahu harus marah kepada siapa.

__ADS_1


“Ayahku akan menyerahkan diri. Aku pastikan dia menebus dosanya. Aku minta maaf Shin. Aku benar-benar minta maaf.” Hani menyudahi perkataannya. Ia berjalan pergi begitu saja setelah itu. Ia berlari di tengah hujan yang sudah rintik-rintik. Sementara itu Shin masih mematung di sana. Ia masih terkejut.


^^^


__ADS_2