Pernikahan Kita

Pernikahan Kita
Pertengkaran Kecil


__ADS_3

“Katakan padaku, pasti ada seorang wanita ya?” Luna tiba-tiba melempar tanya kepada Shin. Keduanya tengah duduk di teras vila sambil memandangi matarahi terbenam sambil meminum teh hangat.


“Eh?” Shin terkejut mendengar pertanyaan mendadak itu.


“Kau tidak mungkin menikahiku hanya dalam tiga bulan tanpa alasan. Kau juga bilang siapa pun yang kau nikahi kau akan membuat keputusan yang sama.” Luna menebak alasan Shin membuat kontrak pernikahan.


“Sebenarnya ... alasannya adalah ...” Shin ragu mengatakannya.


“Jangan bilang kau ingin bercerai setelah tiga bulan untuk membuat ayahmu kesal. Itu sangat kekanak-kanakan. Benar kan?” Luna asal bicara. Itu adalah kemungkinan terbodoh yang muncul di otaknya. Bertolak belakang dengan Shin. Itulah alasan sebenarnya. Sekali lagi Shin ingin membuat citra ayahnya buruk.


“Apa kau sedang mencoba untuk membatalkan rencanaku perlahan?” Shin pikir Luna terlalu ingin tahu soal kehidupannya. Ia mencoba menjauhkan wanita itu dari rasa ingin tahunya.


“Aku hanya penasaran. Pastinya itu tidak ada hubungannya denganku. Yang aku sadari sekarang, aku tidak merasa kontrak pernikahan itu penting. Dipikirkan bagaimana pun ini tetap saja pernikahan. Semua orang tahu tentang kita. Dan kita memang tinggal bersama. kita juga terikat secara sah di mata hukum negara.”


“Sebenarnya kau mau bilang apa?” Shin semakin tidak mengerti.


“Aku hanya ingin mengatakan kau bisa meminta hakmu sebagai seorang suami. Aku tidak keberatan.” Luna beranjak dari tempatnya. Ia hendak masuk ke dalam.


“Apa?” Shin memastikan tidak salah dengar.


“Aku sudah bilang padamu. Bagaimana pun ini adalah pernikahan.” Luna sekali lagi mengulangi perkataannya. Shin hanya tertegun. Ia sama sekali tidak pernah menduga Luna akan berkata seperti itu.


^^^^


Di hari selanjutnya Shin dan Luna pergi berkeliling. Sebenarnya mereka berencana menaiki sepeda hari ini. tapi Luna bilang dia tidak bisa mengendarai sepeda. Mereka sempat berdebat kecil. Shin gemas sekali dengan sikap Luna. Kemarin wanita itu yang merencanakan sendiri untuk naik sepeda tapi ternyata dia tidak tahu caranya. Pada akhirnya mereka berkeliling dengan mobil, dan tentu saja mereka pergi ke tempat-tempat yang lebih jauh.


“Kenapa tadi malam kau tidur di sofa lagi? Aku kira kau ingin tidur di ranjang.” Luna mengawali percakapan. Ia bangun lebih pagi dari Shin dan melihatnya tampak tidak nyaman tidur di sofa. Ia tidak bermaksud menggoda Shin.


“Apa kau ingin membuatku tampak seperti bregsek?” Shin menjawab dengan tanya.


“Aku berpikir kau memang seperti itu.” Luna menjawab polos. “Sejak awal kau menemuiku untuk kesepakatan cerai, kau sudah tampak seperti itu (brengsek).” Luna berkata apa adanya. Seluruh dunia pun akan mengatakan hal yang sama.


“Aku sudah bilang, aku tidak akan merugikanmu sedikit pun. Setidaknya aku akan menepatinya.” Shin berkata sebisanya. Jika pun pada akhirnya semua orang mengira ia benar-benar brengsek dan memalukan, setidaknya orang yang ada di dekatnya saat ini bisa sedikit menilainya baik.


“Aku berpikir kau sedang menghancurkan hidupmu sendiri tanpa sebab. Kesepakatan pernikahan selama tiga bulan? Bukankah itu terdengar bodoh?” Luna menambahkan.


“Aku rasa kau sudah terlalu jauh mencampuri urusanku. Aku kira kau lupa dengan kesepakatannya.” Shin sebisa mungkin mendorong Luna menjauh dari pemikirannya. Ia hanya orang asing yang numpang lewat. Tidak lebih. Meskipun apa yang dikatakan Luna benar, ia tidak akan mengakui hal itu dihadapan Luna.


“Ini karena aku terus berpikir tentang kesepakatan itu. Semakin dipikir semakin aku tidak mengerti.” Luna membela diri. Ia terus saja penasaran karena Shin tidak memberitahu alasannya.


“Maka jangan dipikirkan. Jalani saja!”


“Itu juga yang aku pikirkan! Bagaimana aku harus menjalani pernikahan ini? aku sudah tahu jika kita akan bercerai tepat tiga bulan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya terus berpikir ini tidak benar!”Luna bicara ngotot. Ia tidak seperti Shin yang hanya melakukan apa keinginannya tanpa berpikir dua kali.


“Aku menyukai seorang wanita tetapi ayahku menentang hal itu. keluarga kami memiliki masa lalu yang buruk. Di sisi lain ayah juga terus mendorongku untuk menikah, aku tidak bisa menentangnya karena tidak memiliki pilihan lain. Kau puas sekarang?!” Shin menjawab dengan kesal. Ia tidak ingin Luna memusingkannya lagi. Shin memberi jawaban yang masuk akal.


“Itu hanya terdegar seperti alasan yang dibuat-buat. Aku tidak mengerti kenapa kau memberi waktu tiga bulan? Jika kau memiliki wanita lain, kau bisa kabur dengannya di hari pernikahan!” Luna menjawab santai. Dan itu berhasil membuat Shin tambah kesal. Sontak ia menepi dan mengerem mobil mendadak. Luna tampak kaget.


“Kau ini kenapa sih?!” Luna mendadak marah.


“Semakin aku mengenalmu, kau semakin menyebalkan! kau tahu?!” Shin melotot.


“Kalau begitu jangan mencoba mengenaliku!” Luna tidak ingin kalah dari Shin.

__ADS_1


“Waah ... kau ingin tahu apa yang ada dipikiranku tentangmu?!”


“Aku sama sekali tidak peduli!! Kau terus saja bertingkah kekanak-kanakan!”


“Kau sangat aneh!!! Kau adalah wanita paling aneh di dunia!! Aku yakin kau bisa masuk rekor dunia dengan itu!! Wanita dengan kepribadian aneh dan tidak bisa ditebak!!”


“Kau juga bisa! Kau adalah satu-satunya manusia yang ingin dikatakan brengsek oleh semua orang!! Aku yakin kau akan mendapatkannya!!”


“Waah ... terima kasih kalau begitu!!”


“Sama-sama!!”


Setelah beradu mulut dengan sengit keduanya saling melempar muka. Mereka tidak lagi bicara satu sama lain dalam waktu yang lama.


“Kau tahu betapa bersyukurnya aku setelah menikah? Aku memiliki ibu mertua yang mengaggapku seperti putrinya sendiri. Aku juga tidak perlu lagi menjadi sosok yang sempurna di depan ibuku. Ia sudah cukup puas melihat putrinya menikah dengan putra dari keluarga sepertimu. Apalagi kau adalah putra satu satunya.” Luna berkata dengan tenang. Ia mencairkan suasana lagi.


“Sebelumnya aku memang menolak pernikahan ini karena aku tidak memiliki perasaan apa-apa kepadamu. Aku pikir mungkin rasanya seperti di neraka begitu aku menikah. Lalu kau datang dengan kontrak itu. Aku hanya berharap kau memperlakukanku dengan baik nantinya dan tidak mengekangku seperti yang dilakukan ibuku.. Aku merasa bersyukur hanya dengan keadaan saat ini dan jika bisa aku harap seterusnya akan begitu.” Luna melanjutkan, nada bicaranya terdengar sedih. “Tapi seseorang tidak boleh serakah kan?” Luna bertanya pada Shin. Ia pasti tahu maksudnya.


“Kau benar, seseorang tidak boleh serakah.” Shin menjawab singkat. Ia tidak akan merasa iba dengan cerita Luna. Shin melirik ke arah wanita itu yang bahkan tidak terlihat menyedihkan. Luna hanya pandai membuat orang merasa bersalah. Itulah yang dipikirkan Shin. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan.


Sesampainya kembali ke vila, Shin masih terngiang dengan perkataan Luna yang terdengar sedih. Itu membuatnya tidak nyaman.


“Apa kau ingin aku mengasihanimu? Kau tahu itu tidak akan terjadi.” Shin menyodorkan teh hangat kepada Luna. Keduanya kembali berbincang.


“Aku hanya ingin mengatakannya saja, Aku tidak sedang mengemis.” Luna membela diri. Sebenarnya wanita itu tampak sedikit licik. Khususnya pada orang yang ia tahu akan selalu menuruti keinginannya. Bedanya semua yang ia katakan bukanlah kebohongan. Ia tidak sedang menipu siapa pun. Sayang sekali hal semacam ini tidak mempan kepada Shin. Setidaknya untuk kali pertama. Jika itu Brian, Luna sudah pasti mendapatkan keinginannya seperti yang terakhir kali ia minta. Meskipun juga Luna berubah pikiran dan akhirnya memilih untuk menikah dengan Shin.


^^^^


Hingga sepekan berlalu dan pagi itu, penerbangan menuju tanah air dijadwalkan. Keduanya duduk bersebelahan di bangku kelas bisnis. Mereka lebih tampak seperti adik kakak yang sering bertengkar ketimbang disebut sebagai pasangan kekasih. Shin tampak membuang muka di hadapan Luna sejak pagi tadi dan Luna sama sekali tidak memusingkannya. Entah apa yang membuat Shin jadi sebal begitu. Keduanya pun tidak saling bertanya dan hanya mengeluarkan satu dua kalimat memastikan mereka terbang dan tidak ada barang yang tertinggal.


“Bertanya apa?” Luna tidak mengerti maksud pertanyaan Shin.


“Sudahlah…” Shin mengurungkan niatnya megajak Luna ngobrol.


Luna heran tiba-tiba Shin menanyainya seperti itu padahal sejak tadi dia yang tampak sebal dan menjauhi Luna.


“Kau tidak lihat aku bad mood sejak tadi ya?!” Lagi-lagi Shin bertanya setelah beberapa lama diam. Ia tampak semakin sebal.


“Ya aku lihat. Memangnya aku harus tahu apa yang membuatmu sebal? Aku bisa pastikan itu bukan tentangku.” Luna menjawab santai. Shin bersikap aneh sekali dan Luna tidak peduli.


“Siapa yang kau telepon tadi pagi?” Shin menoleh ke arah Luna. Ia bertanya dengan ragu. Kali ini ia tidak tampak sesebal tadi.


“Brian.” Luna berkata singkat sambil menoleh ke arah Shin. Keduanya bertatapan. Luna memandang Shin seakan mengatakan ‘memangnya apa urusanmu?’. Shin menelan ludah. Secepatnya ia berpaling.


“Kalian pasti sangat dekat!” Shin bergumam. Tentu saja Luna mendengarnya dengan jelas.


“Kami memang dekat sejak kecil.” Luna berkata tanpa rasa bersalah. “Kenapa kau mau tahu?” Luna jadi penasaran.


“Tidak apa.” Shin sudah tidak mau membahas topik ini. mendengar jawaban shin, Luna jadi sedikit sebal. Shin lebih tampak seperti perempuan yang sedang PMS sekarang. Jika dipikir-pikir Shin memang selalu mendahulukan emosinya. Apakah dunia sudah terbalik?


“Jadi kau marah kepadaku karena Brian?” Luna mencoba menebak. Ia ingin menyelesaikan ini dengan baik.


“Aku tidak peduli sama sekali ya tentang siapa yang menelponmu! Aku hanya mengeluhkan tentang betapa tidak pekanya kau dengan sekitar ketika menelpon!!” Shin berkata sambil melotot ke arah Luna. Ia kembali sebal. Kali ini ia benar-benar marah.

__ADS_1


“Why?” Luna menatap Shin dengan heran. Itu terdengar seperti fitnah di telinga Luna. Ia tidak terima.


“Jangan pura-pura tidak tahu ya!”


“Apaan sih?!” Luna jadi gemas. Ia sama sekali tidak tahu arah pembicaraan Shin.


“Aku tidak tahu apa kau memang tidak dengar aku memanggilmu dari kamar mandi untuk mengambilkanku handuk, atau kau sengaja membiarkanku keluar dengan telanjang. Kau benar-benar menyebalkan! Kau bahkan masih asyik menelpon begitu melihatku kan?!” Shin sebisa mungkin melirihkan suaranya agar orang di sekitarnya tidak mendengar. Tapi jelas ia menekan setiap kata agar wanita di sampingnya mengerti kenapa ia sebal sejak tadi.


“Tapi aku tidak melihatmu!” Luna membela diri. Ia tampak meyakinkan.


“Aku melihatmu melihatku dengan jelas! Kau pikir aku buta?!” Shin tidak percaya Luna berbohong seperti itu.


“Lalu kenapa? Kau pikir aku tertarik?” Luna menggoda Shin. Pembicaraan ini semakin mengganggu Shin.


“Kau ...!!” Shin tampak marah tapi tidak bisa menjawab perkataan Luna. Sebenarnya dia tidak yakin apa yang dipikirkan Luna soal kejadian tadi pagi. Ia tampak sibuk menelpon saat Shin keluar dari kamar mandi tanpa pakaian. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Shin.


Pagi tadi, keduanya kembali ke kamar hotel semula pada hari keberangkatan ke bandara. Shin pergi ke kamar mandi dan Luna sedang membereskan barang-barang. Tidak lama kemudian Luna mengetuk pintu kamar mandi dan meminta Shin mengeluarkan pakaian kotor untuk dikemas. Shin tidak berpikir panjang dan mengeluarkan semua pakaian di kamar mandi termasuk pakaian yang baru saja ia pakai.


Sepuluh menit selanjutnya, Shin menyadari bahwa tidak ada pakaian yang tersisa di sekitarnya. Bahkan tidak juga handuk. Shin memanggil Luna untuk meminta tolong tetapi wanita itu tidak memberi jawaban. Pada akhirnya Shin memutuskan untuk keluar. Saat keluar ia melihat Luna sedang berdiri di beranda sambil menelpon. Ia menghadap ke arah luar dan memunggungi Shin, masalahnya semua handuk tergantung di samping Luna.


Mau tidak mau Shin harus menghampirinya. Melihat Luna yang tidak memperhatikannya, Shin dengan cepat berjalan dan mengambil handuk yang tidak jauh dari Luna, beberapa detik kemudian Luna menoleh tepat saat Shin menjulurkan tangannya. Luna menoleh sekilas dengan kaget lalu melanjutkan bicara di telepon. Shin juga terkejut saat Luna menoleh tapi segera ia memasang handuk di badannya. Tidak ada hal aneh yang terjadi setelahnya dan mereka tidak bicara setelah itu sampai duduk di dalam pesawat.


“Percayalah aku tidak melihat hal yang tidak pantas! Aku tadi hanya kaget karena ada tangan yang menjulur di sampingku. Hanya itu!” Luna kembali meyakinkan Shin. Itulah yang sebenarnya. Luna hanya melihat Shin yang mengambil handuk. Ia tidak memperhatikan hal lain.


“Benarkah?” Shin tampak canggung. Itu bisa jadi benar.


“Lagi pula tidak ada yang harus kita sembunyikan sebagai pasangan suami istri.” Luna bicara santai. Ia tidak menganggap hal ini serius.


“Apa?!” Shin memastikan apa yang baru saja Luna katakan.


“Tidak ada.” Luna menjawab singkat. Ia berusaha mengakhiri percakapan itu.


“Kau menganggap hubungan kita sedekat apa?” Shin jadi penasaran. Ia mencurigai Luna yang mungkin menganggap hubungan keduanya sudah cukup jauh. Wanita itu begitu tenang membahas hal-hal yang sensitif baginya.


“Kita tidak cukup dekat.” Luna menjawab datar.


“Jika kau tahu kita tidak cukup dekat, kenapa kau mengatakan hal seperti itu dengan mudah?”


“Hal seperti apa maksudmu?” Luna yang sebenarnya tidak ingin memperpanjang percakapan malah jadi balik bertanya.


“Seperti berhubungan suami-istri? Bersikap terbuka satu sama lain? Kau selalu mengatakan hal-hal yang canggung dengan muka datar seperti tidak terjadi apa-apa!”


“Aku tidak tahu hal itu membuatmu canggung. Aku hanya memposisikan diri sebagai wanita yang sudah menikah!”


“Apa kau berpikir kita benar-benar menikah?” Shin menyelidik.


“Ya! Aku sudah menikah dan akan segera menjadi janda! Kau puas?” Luna melotot ke arah Shin. Ia sudah tidak tahan lagi mendengar perkataan Shin yang menyebalkan.


“Lalu kau ingin bagaimana?! Kau ingin kita membatalkan kontrak dan hidup bersama selamanya? Kau pikir kita akan bahagia hidup seperti itu?!” Shin terbawa emosi. Suaranya meninggi hingga tidak sadar orang-orang yang duduk di sekelilingnya tengah menatap ke arah mereka.


“Tidak. Mungkin aku memang tidak bisa bahagia, tapi setidaknya aku bisa lepas dari bayang-bayang ibuku.” Luna kembali berkata datar. Shin tertegun mendengar jawaban itu. Luna lagi-lagi menyinggung ibunya. Sebenarnya bagaimana hubungan ibu-anak itu hingga Luna terdengar begitu putus asa?


“Kenapa kau mengatakan semua ini?” Shin kembali bertanya. Kali ini dengan tenang.

__ADS_1


“Karena ini pertama kalinya aku merasa bisa sedikit bernapas. Jika kau merasa kesulitan menghadapiku, maka kau hanya perlu menunggu genap tiga bulan. Itulah perjanjiannya di sini.” Luna mengingatkan Shin. Pria itu kembali terdiam. Ia tidak bisa berkomentar lagi.


__ADS_2