Pernikahan Kita

Pernikahan Kita
Salah Paham


__ADS_3

“Kau sedang sakit? Wajahmu tampak pucat.” Rei mengawali pembicaraan. Setelah bertemu Shin di kantor polisi, ayah dan anak itu berbincang secara pribadi di kediaman Rei.


“Aku tidak mengira Ayah akan datang.” Shin mengalihkan topik. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan ayahnya.


“Apa kau sebenci itu kepadaku? Kau pikir aku akan menutup mata atas kejadian yang menimpa ibumu?” Rei menanggapi Shin. pria tua itu berusaha menebak pikiran putrannya.


“Itulah yang ayah lakukan di hari meninggalnya ibu. Ayah bahkan tidak menghadiri pemakaman karena sibuk berbisnis.” Shin berkata sinis. Pria tua itu terdiam sejenak setelah putranya memberi sindiran.


“jika hal itu membuatmu marah, ayah minta maaf. Ayah tidak bisa melakukan semua hal sesuai keinginanmu.” Tidak ada kata lain yang bisa ia ucapkan. Ia berkata yang sebenarnya.


“Kenapa ayah minta maaf jika tidak memiliki penyesalan? Aku yakin ayah akan melakukan hal yang sama jika kejadian itu terulang lagi!” Shin tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Ia tampak marah.


“Kau benar.” Rei tidak mengelak argumen Shin. Ia tampak tenang.


“Kenapa?” Shin tidak mengira ayahnya akan berkata seperti itu. Sebelum-sebelumnya, tiap kali Shin membuat Rei kesal, pria itu juga akan naik pitam. Kini ia sedikit bingung.


“Karena tidak semua orang memiliki keberanian untuk melepaskan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Terkadang terlalu banyak kehilangan membuatmu takut mengetahui yang sebenarnya terjadi.” Rei membuka diri. Ia menyampaikan apa yang ia rasakan selama ini.


Shin kembali teringat pesan ibunya sebelum meninggal. Ibunya pernah mengatakan tentang kehilangan yang di alami Rei. Apakah kehilangan yang dimaksud itu adalah meninggalnya seseorang? Ia tidak pernah menyadarinya. Shin tidak tahu ayahnya memiliki luka seperti itu.


“Berapa banyak?” Shin bertanya blak-blakan. Ia jadi ingin tahu tentang ayahnya. Dengan ini mungkin Shin bisa mengerti.


“Apa seperti itu kau bicara dengan ayahmu?” Rei sedikit tersinggung dengan cara bicara shin. Meskipun begitu, ia tetap memberi jawaban pada putranya. Mereka tidak pernah bicara seintim ini sebelumnya dan mungkin tidak akan lagi jika percakapan ini berhenti.


“Ayah tinggal di panti asuhan sejak umur sepuluh tahun. Ayah, Ibu, adik perempuan, semuanya meninggalkan ayah lebih dulu. Lalu Kakekmu datang dan mengadopsi ayah saat berumur dua belas. Ia memperlakukanku dengan sangat baik seolah aku adalah putra kandungnya. Aku pikir hidupku sangat beruntung karena bertemu dengan seorang pria yang sangat terhormat dan penuh kasih, tapi Tuhan mengambilnya begitu cepat. Ia bahkan tidak sempat melihat putranya menikah. Nenekmu juga jadi sakit-sakitan setelah kepergian suaminya dan akhirnya ikut meninggalkan ayah. Ayah merasa kembali jadi yatim piatu. Untuk pertama kalinya ayah mengurung diri karena merasa kenyataan itu begitu pahit. Ayah sama sekali tidak bisa menerima kehilangan orang tua untuk kali kedua.” Rei menghela napas sejenak. Sedetik kemudian ia melirik ke arah Shin. Pria itu ternyata mendengarkan ceritanya.


“Setahun setelah nenekmu meninggal, ayah bertemu dengan ibumu. Sayangnya ayah bukan cinta pertama ibumu. Ia menyukai sahabat ayah, orang yang ayah anggap sebagai saudara ayah sendiri. keduanya terlihat saling menyukai, tapi tidak pernah menjalin hubungan. Itu karena teman ayah itu tahu bahwa ayah juga menyukai ibumu. Ia begitu baik sehingga ayah sempat mengira dia bukan manusia melainkan malaikat. Dia menyelamatkan ayah dari kematian dengan mengorbankan nyawanya sendiri. bagaimana bisa orang sebaik itu mati lebih dulu? Ayah terus berpikir dia masih hidup dan mendatangi rumahnya hampir tiap hari. Orang-orang bahkan mengira ayah gila.”


“Pun dengan ibumu. Ayah merasa nyaman dengan memikirkan ibumu masih ada dan menunggu ayah pulang daripada melihat kenyataan ia telah pergi. Itu terlalu sulit bagi ayah untuk mengatakannya padamu. Ayah juga tidak ingin kau berusaha untuk mengerti ayah. Cukup bagi ayah tahu kau masih ada di sekitar ayah.” Shin mengakhiri ceritanya. Itulah yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


“Lalu kenapa ayah menikah lagi jika sulit menerima kepergian ibu?” Shin mulai mengerti ayahnya tapi masih sedikit kesal. Ia menanyakan semua hal yang mengganjal di hatinya selama ini.


“Karena kau membutuhkan seorang ibu dan Sera mengingatkanku padanya.” Rei memperhatikan putranya yang terlihat bingung.


“Kenapa ayah baru cerita sekarang?”


“Kau terus menghindariku dan memancing emosiku. Kau pikir kapan aku bisa bercerita?” Rei tampak sedikit kesal. Shin mengatupkan mulut. Iya ingin menyanggah tapi ia sadar ayahnya berkata benar. Shin mengakuinya, selama ini ia banyak menyusahkan ayahnya.


“Bisa aku bertanya satu hal lagi?” Shin ragu-ragu kembali bertanya.


“Sejak kapan kau meminta izin kepadaku?” Rei menaikkan salah satu ujung bibirnya. Baru kali ini Shin terdengar sopan.


“Apakah ayah memecat sopir itu hanya karena citra perusahaan?” Shin mengungkit pria yang mengaku di kantor polisi.


“Sesuatu yang tampaknya sederhana di mata orang lain, bukan berarti sederhana juga untuk kita. Setiap kesalahan kecil bisa berkonsekuensi besar ketika kita sedang berbisnis. Ayah tidak memiliki pilihan selain memecatnya.”


“Bukankah hal yang terjadi kepada Ibu karena ayah memecatnya?” Shin kembali kesal. Ia tidak setuju dengan pendapat ayahnya.


“Kau pikir ayah memecat orang begitu saja?” Rei mengernyitkan dahi. “Perusahaan memberinya pesangon yang cukup besar agar bisa mencari pekerjaan di tempat lain. Jika waktu bisa diulang, ayah akan tetap melakukan hal yang sama.”


Shin tampak terkejut. Jika memang benar waktu terulang lagi seperti kata ayahnya, maka itu berarti ayahnya sama sekali tidak peduli dengan keselamatan ibunya, juga menghendaki nasib keluarga lain hancur karenanya. Mendapati Shin yang membelalak kaget seperti itu, Rei tidak bergeming. Sejenak ia menghela napas.


“Nama baik ibumu dipertaruhkan saat itu. Tidak ada pilihan lain.” Rei menjelaskan lebih lanjut. Wanita-wanita yang tujuh tahun lalu membuat pertemuan dengan istrinya, menuduh wanita itu tengah mematai-matai dan menyuruh sopirnya untuk mencari kelemahan mereka. Itu pikirkan paling kotor yang bisa mereka layangkan tentang ibu Shin. Jika sopir itu tetap bekerja untuk perusahaan, mereka tidak akan melepaskan kecurigaan tentang itu.


“Ayah tidak memintamu untuk mengerti atau menerima kebenarannya. Yang jelas apa yang ayah lakukan saat itu bukan untuk keuntungan ayah sendiri. Ayah hanya mencoba melindungi orang-orang di sekitar ayah.” Rei tidak mau lagi berdebat dengan Shin. Percakapan itu mulai keruh. Rei pun beranjak dan meninggalkan Shin sendiri di ruangan itu.


Setelah pembicraraan malam itu usai, Luna dan Shin kembali pulang ke rumahnya. Shin terdiam sejenak memandangi seluruh ruangan begitu masuk ke dalam rumah. Rumah yang ia tempati saat ini mengingatkannya pada ibunya. Perasaan Shin yang tadinya kacau karena kejadian yang ia alami seharian ini menjadi lebih tenang karena rumah itu.


“Apa kau benar-benar sudah baikan?” Luna memastikan keadaan Shin. Ia masih khawatir Shin mungkin kembali demam.


“Aku sudah merasa lebih baik.” Shin menanggapi wanita itu dengan senyum.


“Apa yang kau bicarakan dengan ... ups. Maaf, aku seharusnya tidak mencampuri urusan pribadimu.” Luna hampir bertanya tentang pembicaraan Shin dengan ayahnya. Wanita itu tidak lagi ingin bertanya karena takut melewati batas. Ia kemudian melangkah pergi ke kamarnya.


“Kami hampir berbaikan!” Shin berkata lantang hingga yakin Luna mendengarnya. Wanita itu kemudian menghentikan langkah dan berbalik ke arah Shin. Itu terdengar bagus.


“Aku hampir berbaikan dengan ayah , tapi kemudian mengacaukannya.” Shin merasa menyesal. Perkataan terakhir ayahnya membuat Shin tersadar bahwa ia sendiri lebih buruk dari ayahnya.


“Untuk pertama kalinya ayah berkata sejauh itu. Aku merasa seperti orang jahat karena menghakiminya selama ini.”


“Kalau begitu kau hanya perlu minta maaf kepadanya.” Luna kembali menghampiri Shin. Wanita itu memegang salah satu tangan Shin dan membawa pria itu duduk di sofa.


“Kau telah melewati hari yang berat. Kau melewatinya dengan baik.” Luna menyemangati Shin dan memeluknya dengan hangat. Ia ingin membuat Shin merasa lebih baik.


“Terima kasih.” Pria itu tersenyum dalam dekapan istrinya.


^^^^


Tepat setelah rapat rutinan perusahaan, Anna bicara kepada Luna. Dan ini kali pertama keduannya bicara secara pribadi sebagai Ibu dan anak setelah Anna sempat menggila. Luna menyapa ibunya selayaknya bawahan yang tengah menyapa CEO ketika wanita itu mendekatinya.

__ADS_1


“Apa ini yang sedang kau kenakan?” Anna berkata sinis begitu melihat penampilan Luna. Belakangan ini Luna berpakaian lebih kasual. Ia tidak pernah mengajari putrinya untuk bertingkah seenaknya seperti itu. Kini seakan ia benar-benar bukan putri yang Anna kenal. Luna tidak berkomentar atas tanggapan ibunya. Ia hanya tersenyum simpul.


“Sepatu tanpa hak?! Apa kau sedang memberontak kepada ibu?!” Anna membuat kesimpulannya sendiri. Ia tampak jengkel dengan penampilan Luna yang tidak seperti harapannya. Ini kali pertama Anna melihat putrinya memakai sepatu tanpa hak ke kantor. Mungkin itu terdengar sepele bagi orang lain, tapi bagi anna tidak. Dia seorang perfeksionis fashion dan selamanya akan tetap seperti itu. Khusunya kepada putrinya sendiri, tak peduli ia sudah menikah atau tidak.


Baru saja Luna hendak menjawab pertanyaan ibunya, sekertaris Anna yang sedari tadi berdiri di belakang atasannya itu membisikkan sesuatu. Luna menahan untuk bicara. Tiba-tiba saja alis Anna terangkat, ia tampak terkejut sambil memperhatikan putrinya dengan lebih seksama.


“Kau hamil?!” Anna memastikan apa yang didengarnya bukan gossip belaka.


“Apa?!” Luna ikut terkejut. Ia terlihat lebih terkejut dari ibunya. Kenapa tiba-tiba muncul pertanyaan seperti itu.


“Kenapa kau tidak memberitahu ibumu sendiri? Haruskah aku mengetahuinya dari orang lain?!” Anna tampak kesal sekaligus merasa senang. Kemarahan sebelumnya tidak lagi menjadi masalah.


“Apa maksudnya? Aku? Hamil?” Luna tampak kebingungan. Ia melirik kepada sekertaris Anna. Dari mana wanita itu tahu gosip seperti ini?


“Sudah berapa lama? Apa ini alasannya kau mengubah penampilanmu? Seharusnya kau mengatakannya kepada ibu! Apa orangtua Shin sudah tahu hal ini?” Anna jadi kelewat senang. Ia bahkan tidak bisa membaca kebingungan dari muka putrinya. Ia ingin segera memberi kabar baik itu kepada orangtua Shin.


“Selamat atas kehamilan pertamanya Nona Luna!” Sekertaris itu memberikan ucapan bahagia kepada Luna dan menyalaminya. Luna masih tampak bingung.


“Tapi aku ...” Luna mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya tapi itu tidak berguna. Anna sudah berjalan meninggalkan ruang rapat dan sibuk dengan handphonenya. Ia mencoba menelpon besannya. Putrinya ditinggal sendirian begitu saja.


“Ayolah! Ada apa sih?!” Luna kesal sendiri. ia benar-benar merasa ini tidak benar tapi tidak bisa mengatakan apapun.


Di sepanjang jalan menuju ke ruang kerjanya, Luna menerima ucapan selamat dari para pegawai. Mereka tampak bahagia sekali dan mendoakan kebaikan Luna. Meskipun berkali-kali wanita itu mengelak, tidak ada yang mendengarkan penjelasannya dan tidak peduli dengan kebenarannya. Gosip yang beredar itu jadi kebenaran di mata mereka termasuk ibunya.


Begitu sampai di dalam ruang kerjanya, Luna menerima telepon. Itu dari Brian. Pria itu sepertinya juga sudah tahu tentang gosip yang sedang hangat di kantor.


“Apa itu benar?” Brian memastikan.


“Apa semua orang sudah gila? Aku mencoba menjelaskan yang sebenarnya, tapi tidak ada yang mendengarkan.” Luna mengomel.


“Jadi itu tidak benar?” Brian bertanya lagi.


“Tentu saja tidak benar!” Luna menegaskan perkataannya.


“Kalau begitu serahkan saja padaku. Aku akan mengurusnya.” Brian menawarkan bantuan.


“Terima kasih.” Luna mengakhiri percakapannya.


Belum juga sampai Luna duduk di atas kursinya, ia kembali menerima telepon. Kali ini dari Shin.


“Kau hamil?! Bagaimana bisa?!” Shin tampak sangat terkejut, ia langsung berteriak begitu Luna menjawab panggilannya. Sontak Luna menjauhkan teleponnya dari telinga.


“Dari mana kau tahu kalau aku ...”


“Apa maksudmu?!” Luna bingung sekaligus kesal mendengar Shin menyebutnya gila.


“Maksudku kenapa kau bisa hamil?! Apa ada orang lain di antara kita?!”


“Kau gila ya?! Itu tidak benar!!” Luna mencoba membantah pertanyaan Shin yang terdengar seperti tuduhan.


“Tapi bagaimana bisa Kau ...”


“Kau sekarang ada di mana?” Luna memotong perkataan Shin.


“Aku ada di dalam mobil, aku masih berada di depan rumah.”


“Kalau begitu temui aku. Kita harus bicara.” Luna menutup teleponnya. Ia jadi pusing dengan omong kosong ini.


Tak lama kemudian Shin menjemput Luna. Hari ini Luna akan meninggalkan kantor lebih awal. Untuk sementara ia harus menghindari orang-orang di perusahaannya sendiri. keduanya pun sampai rumah sebelum matahari terbenam.


“Jadi jelaskan padaku!” Shin menuntut penjelasan. Keduanya duduk berhadapan di ruang tengah. Pria itu menatap Luna tajam.


“Aku juga tidak tahu kenapa ada gosip seperti itu!” Luna mengatakan yang sebenarnya. Dia juga masih terkejut.


“Itu bukan lagi gosip! Sekarang gosip itu menjadi kebohongan. Orang tua kita sudah menganggap kabar itu benar. Mereka bahkan tampak sangat senang seakan tidak pernah mendengar skandal pernikahan kita sebelumnya.”


“Kalau begitu kita harus memberitahu mereka yang sebenarnya! Setidaknya kita bisa sedikit tenang dengan yang lainnya karena aku sudah meminta kak Brian mengurusnya!”


“Kau membawa-bawa Brian? Bukankah harusnya kita menyelesaikan masalah ini berdua?! Kenapa kau malah membuatnya terlibat?!” Shin jadi sensitif begitu mendengar nama Brian.


“Lalu apa kau pikir kita akan bisa menyelesaikannya tanpa orang lain? Kita bahkan lusa akan bercerai!” Luna menjadi jengkel karena sikap kekanak-kanakan Shin.


“Kau menghitungnya?! Kenapa kau malah mempermasalahkan tentang perceraian?!” Shin tidak percaya dengan perkataan Luna. Ia terlihat marah.


“Lalu apa kau akan membiarkan media tahu tentang rumor kehamilanku dan kita mungkin tidak bisa bercerai sesuai dengan kontrak?! Kita tidak bisa bercerai jika aku hamil!” Luna bertanya serius. Ia tidak tahu jalan pikiran Shin. Pria itu yang sangat menginginkan perceraian sejak awal, tapi belakangan ini dia jadi sangat sensitif ketika Luna mengungkitnya. Itu membuat Luna benar-benar bingung.


“Bukankah kau yang kemarin-kemarin menginginkan kita tetap bersama? Kau bahkan menciumku agar aku mempertahankan pernikahan kita!!” Shin juga bingung dengan jalan pikiran Luna. Dia ingat sekali Luna berkata ingin tetap berada dalam pernikahan. Sekarang wanita itu malah ingin bercerai? Kenapa ia berubah pikiran?


“Aku menciummu untuk memastikan apakah kita bisa bersama! Dan saat ini aku sudah tahu kalau kau tidak akan menyukaiku. Aku juga tidak ingin menjadi beban terus-terusan! Aku tidak selicik itu!” Luna memalingkan wajahnya dari Shin. Ia tidak mengharapkan apa-apa lagi dari pria itu.

__ADS_1


“Aku kira kau menyukaiku. Apa aku salah?” Shin mencoba memahami Luna. Ia tidak tahu perasaan macam apa yang ada di dalam lubuk hati terdalam wanita itu.


“Aku tidak berpikir membahas perasaanku penting saat ini. Aku hanya mengikuti aturan yang kau buat!” Luna tidak mau jadi emosional.


“Tapi itu penting.” Shin memberitahu Luna.


“Jadi apa apakah kau akan langsung jadi menyukaiku begitu mendengar aku mengatakan kalau aku menyukaimu?” Luna kembali menatap mata shin. Ia merasa percakapan ini tidak berguna.


“Karena aku menyukaimu.” Shin berkata tanpa ragu-ragu. Itu membuat Luna terperangah.


“Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu karena aku menyukaimu.” Shin memperjelas ucapannya.


“Tunggu dulu! Bukankah selama ini kau ...” Luna mencoba memahami perkataan Shin perlahan.


“Aku mencintaimu.” Shin memotong perkataan Luna. Ia tidak mau Luna membuat-buat alasan lagi. “Aku tidak punya alasan apapun lagi selain karena aku mencintaimu.”


“Lalu bagaimana dengan kontraknya?” Luna masih tidak paham kenapa tiba-tiba Shin mencintainya. ia tahu bahwa Shin jelas-jelas mencintai Hani. Mereka baru saja putus beberapa hari yang lalu. Dan itu pun karena suatu keadaan. Pernyataan Shin terdengar konyol baginya.


“Siapa yang peduli dengan kontraknya? Aku sudah merobeknya sejak lama ...” Shin berterus terang. Dari sekian banyak pengakuan yang Shin katakan kepada Luna, pernyataan ini yang terdengar paling menohok baginya. Luna bahkan tidak terkejut saat skandal tentang Shin dan Hani muncul. Ia lebih terkejut dengan pernyataan ini dari semuanya.


“Wah .... aku sampai tidak bisa berkata-kata ...!” Luna tiba-tiba saja menjadi sangat kesal.


“Aku bisa memberikan kebebasan kepadamu sebanyak yang kau inginkan.” Shin tersenyum. Bukankah itu penawaran yang bagus untuk Luna?


“Sejak kapan kau menyukaiku?” Luna bertanya serius.


“Entahlah. Tapi aku mulai sadar kalau aku menyukaimu ketika kau mulai bertanya apakah aku menyukaimu.” Shin terdengar sangat senang bisa mengakui perasaannya. Ia tidak lagi merasa perlu menyembunyikan lagi.


“Jadi apakah kau senang melihatku seperti orang bodoh saat aku bertanya seperti itu? Kau sudah tahu jawabannya sejak awal!” Rasanya Luna ingin sekali memukul kepala Shin. Ia merasa dipermainkan.


“Saat itu aku masih ragu mengatakannya. Aku juga ingin memastikan apakah kau juga menyukaiku. Rasanya harga diriku akan hancur jika mengetahui aku hanya mendapat cinta sepihak.” Shin menjelaskan dengan penuh ekspresif. Ia mencoba meyakinkan Luna bahwa ia tidak berpikir seperti yang dituduhkan.


Tanpa basa-basi Luna mengambil bantal yang ada di dekatnya dan menimpuk kepala Shin dengan itu. Pengakuan pria itu hanya tampak seperti omong kosong saja. “Sayangnya aku tidak menyukaimu! Dan kau benar-benar menyebalkan!!” Luna tidak tahan lagi dengan sikap Shin yang seolah mempermainkannya.


“Hei! Kenapa kau jadi memukulku?!” Shin berusaha menghindari pukulan Luna. Ia menahan tangan wanita itu. “Aku mengatakan yang sebenarnya!”


“Aku tidak peduli!” Luna merasa harga dirinya dipermainkan. Pertama karena Shin menyobek kontrak itu tanpa sepengetahuannya, kedua, Shin membuatnya tampak seperti orang bodoh karena bertanya apakah Shin menyukainya. Sebenarnya ada alasan lain lagi. Luna merasa dipermainkan oleh Shin karena pria itu masih tetap berhubungan dengan wanita lain walaupun mengaku menyukainya. “Kau bahkan masih menghubungi wanita lain setelah menyadari perasaanmu! Kau benar-benar pantas di pukul!!”


“Hei tunggu! Tunggu dulu!!” Shin masih menahan tangan Luna yang hendak memukulnya dengan bantal. Wanita itu masih bersikeras saja.


“Dengarkan aku dulu!! Tolong dengarkan aku!!” Shin berkata lebih keras, ia juga memegang tangan Luna lebih erat. Wanita itu akhirnya bergeming.


“Aku minta maaf karena merobek kontrak itu tanpa sepengetahuanmu. Itu karena aku tahu sejak awal kau tidak begitu menyukainya, jadi kupikir tidak masalah untuk tidak mengatakannya. Aku juga mengatakan yang sebenarnya bahwa saat itu aku masih belum bisa menjawab pertanyaanmu. Aku takut kau memiliki pemikiran yang berbeda. Aku minta maaf karena pernah menjadi pecundang yang tidak bisa mengatakan perasaannya. Aku tidak sedikit pun berpikir seperti apa yang kau katakan.” Shin menatap mata Luna dalam-dalam. Ia berusaha meyakinkannya.


“Lalu bagaimana dengan wanita itu? Kau pikir aku akan percaya kau menyukaiku?” Luna masih saja keras kepala.


“Itu karena aku merasa sangat bersalah kepadanya. Setelah bertemu denganmu aku jadi sadar bahwa perasaanku kepada Hani selama ini penuh dengan rasa bersalah. Aku mengira perasaan itu adalah cinta. Aku tidak bisa membiarkannya karena terus merasa bersalah atas apa yang menimpa keluarganya.” Shin berkata jujur. Ia tidak ingin Luna salah paham lagi.


“Meskipun kau tidak memiliki perasaan kepadanya, aku tidak suka kau menyebut namanya seperti itu!” Luna masih tampak kesal. Ia jadi sensitif saat Shin menyebut nama Hani.


“Apa kau sedang cemburu?” Shin bertanya. “Kau bilang tidak menyukaiku tapi kesal begitu aku menyebut nama Hani?” Ia mencoba menggoda Luna.


“Kau senang membuatku kesal ya? Aku baru bilang aku tidak suka kau menyebut namanya dan kau menyebutnya lagi!” Luna masih saja kesal.


Shin tersenyum lalu sedetik kemudian melepas genggamannya. Luna tidak mengira Shin akan melepasnya dan reflek tubuhnya jatuh dalam dekapan Shin. Pria itu kemudian memeluknya.


“Hei! Kenapa kau malah memelukku?!” Luna mencoba melepaskan diri, tapi Shin memeluknya erat.


“Apa kau menyukaiku?” Shin bertanya. Ia melakukannya seperti saat Luna bertanya hal yang sama.


“Aku bilang tidak!” Luna menjawab cepat namun tidak lagi memberontak. Ia memmbiarkan pria itu memeluknya.


Mendengar jawaban Luna Shin tersenyum. Lalu ia memberikan wanita dalam pelukannya itusebuah kecupan bibir.


“Apa sekarang kau menyukaiku?” Shin kembali bertanya.


“Tidak.” Kali ini Luna menjawab datar. Ia tidak berkata yang sebenarnya.


Shin memberi Luna kecupan kedua.


“Apa sekarang Luna akan menyukaiku?” Shin bertanya lagi. Ia tahu Luna suka jika ia memanggil namanya.


“Tidak juga.” Luna mulai menyukai pertanyaan itu.


Shin kembali mencium Luna lebih lama. Wanita itu memejamkan matanya.


“Apakah Luna menyukaiku sekarang?”


“Aku pikir sedikit.” Luna tersenyum miring. Ia masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Keduanya kembali berciuman dan menikmati suasana malam itu. Hari itu menjadi hari terindah yang pernah mereka habiskan bersama.


^^^^


__ADS_2