
Sebulan berlalu setelah berlibur di Selandia Baru. Tidak ada yang berubah dari hubungan Luna dan Shin. Hanya saja Shin belakangan ini jadi sering kepikiran tentang Luna. Wanita itu meskipun sama sekali tidak terlihat menyediihkan di luar, tapi jelas hidupnya tidak baik-baik saja. Entah mengapa ia merasa berdosa kepada Luna.
Mendengar Luna berkata dirinya bersyukur dengan keadaan saat ini dan akhirnya bisa sedikit bernapas, membuat Shin berpikir kehidupan wanita itu penuh dengan kegilaan. Mengetahui cara Luna menahan dirinya sendiri untuk memperoleh kebahagiaan juga membuat perasaan Shin tidak nyaman. Itu benar-benar membuat Shin tidak bisa berhenti memikirkan tentang Luna.
Jika Shin berpikir lebih jauh lagi, andai saja Luna tidak menikah dengannya, wanita itu akan terus hidup di bawah kekangan ibunya yang posesif. Namun, jika Luna menikah dengan orang asing, yang tidak pernah dicintainya, wanita itu juga tidak akan pernah bahagia. Ditambah saat ini Shin tidak memiliki perasaan apapun pada Luna. Ia sama sekali tidak bisa menghadapi wanita itu.
“Belakangan setelah kau pergi untuk perjalanan bisnis kulihat kau sering melamun.” Hani menyadarkan Shin dari lamunannya. Malam ini ia kembali mengunjungi Hani di kafenya. Wanita itu duduk di hadapan Shin begitu membereskan kafe dan memasang tanda tutup.
“Apa benar?” Shin tidak menyadarinya. Ia tersenyum.
“Oh ya, bukankah kau terlalu sering datang ke sini?” Hani mengingatkan Shin. Itu terdengar tidak baik. “Aku sudah bilang kau tidak perlu khawatir! Pria itu tidak akan lagi datang kemari.” Hani tahu Shin masih mencemaskannya. Ia berusaha mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Shin memang hampir setiap hari datang mengunjungi Hani. Ia khawatir Morgan, mantan pacar Hani akan datang dan membuat keributan lagi.
“Lagi pula aku tidak aka bekerja di sini lagi mulai besok.” Hani berkata sambil tersenyum.
“Apa? Kenapa?” Shin terkejut mendengar perkataan Hani.
“Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku di sini untuk menggantikan Aili?” Hani kembali mengingatkan Shin. Sebenarnya ia sudah menceritakan banyak hal kepada Shin tapi tampaknya pria itu tidak mendengarnya dengan baik. “Sejak awal tempat ini memang milik Aili. Aku hanya membantunya menjalankan bisnis.” Hani melanjutkan.
“Lalu kau akan ke mana?” Shin kembali bertanya.
“Sekarang kedai milik ibu semakin ramai. Aku harus membantunya.” Hani memberitahu.
“Kalau begitu aku akan mengunjungi kedai ibumu sesering aku mengunjungi kafe ini. aku juga ingin bertemu keluargamu.” Shin menggampangkan.
“Kedai kami lumayan jauh dari pusat kota. Aku tidak yakin kau akan sering berkunjung. Kau kan juga tidak punya alasan untuk itu.” Hani tampak sedih. “Aku tahu kau sering mengunjungi kafe karena kantor Kevin dekat sini dan dia juga sering datang.”
“Bukankah hubungan kita cukup dekat?” Shin bertanya. Ia sudah menganggap Hani lebih dari sekedar teman. mereka sudah kembali akrab belakangan ini. Selama ini Shin juga berusaha melindungi Hani dari mantan pacarnya secara diam-diam dan mengurus pria itu agar tidak lagi datang mengganggu.
“Sebenarnya aku sudah tahu bahwa kau telah menikah.” Hani mengatakan hal yang tidak terduga oleh Shin. Tentu saja pria itu terkejut.
“Sejak kapan?” Shin menyelidik. Kenapa Hani tidak memberitahunya sejak awal?
“Saat kau pergi untuk berlibur selama sepekan. Itu pun aku mengetahuinya dengan terlambat. Seharusnya aku tahu kau akan menikah sejak lama. Jika saja aku membaca koran bisnis.” Hani beranjak dari duduknya. Ia tidak bisa tetap duduk di hadapan shin.
Beberapa waktu lalu, Hani tidak sengaja membaca koran milik pengunjung dan meliht kabar bahwa saham milik keluarga Shin naik begitu pria itu menikahi wanita sekelas Luna.
“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Shin kembali bertanya. Bukankah seharusnya Hani marah kepada Shin karena menyembunyikannya selama ini?
“Karena aku pikir itu tidak ada hubungannya denganku. Apakah kita cukup dekat?” Hani balik bertanya.
“Aku menganggapmu lebih dari sekedar teman.” Shin mengaku. “Sejak saat aku menyatakan perasaanku, aku tidak pernah berubah.”
“Lalu bagaimana dengan istrimu? Dia wanita yang sangat sempurna. Semuanya telah berubah Shin ...” Hani sebenarnya juga masih memiliki perasaan terhadap Shin, tapi seakan takdir selalu bisa memisahkan keduanya.
“Kami menikah karena bisnis.” Shin mengatakan yang sebenarnya.
“Semua akan salah begitu aku masuk dalam kehidupanmu Shin!” Hani meluruskan. Ia pasti sudah gila jika menjalin hubungan dengan pria yang telah menikah. Hani melangkah menjauhi Shin.
“Tapi kau masih mencintaiku. Kau mencintaiku.” Shin dapat membaca pikiran Hani meskipun wanita itu tidak mengatakannya. “Kau bahkan masih membiarkanku datang kemari setelah tahu yang sebenarnya.” Shin menambahkan. Ia menegaskan kepada Hani tentang perasaannya sendiri.
“Aku hanya tidak bisa membiarkanmu pergi.” Sejujurnya Hani memang masih mencintai Shin. Ia bahkan semakin mencintai pria itu setelah ia datang ke padanya untuk kedua kali.
__ADS_1
“Lagi pula kami tidak benar-benar menikah. Kami akan segera bercerai tepat setelah tiga bulan pernikahan.” Shin membocorkan rahasianya sendiri.
“Apa?” Hani terheran dengan perkataan Shin. Itu terdengar seperti bualan.
“ Kami telah menandatangani perjanjian.”
“Kau serius?” Hani kembali memastikan. Ia mulai percaya.
“Jika kau mau menungguku sebulan lagi, kita bisa pergi bersama. Bahkan saat itu kau tidak perlu merasa bersalah.” Shin memberikan solusi yang bisa memperbaiki hubungannya dengan Hani.
“Shin, Kau sungguh-sungguh?”
“Ya.” Shin tidak perlu menjelaskan lagi. Itu adalah faktanya. Mendengar pernyataan Shin, Hani merasa sedikit lega. Ia tersenyum ke arah Shin dan menghampirinya.
“Aku mencintaimu!” Reflek Hani memeluk Shin. Ia kira hubungannya dengan Shin benar-benar akan berakhir, ternyata keduanya masih memiliki harapan.
“Aku minta maaf merahasiakan semua ini darimu.” Shin kembali berkata. “aku menunggu semuanya berakhir jadi aku tidak perlu mengatakan hal semacam ini. Tapi sepertinya sekarang akan sulit jika tidak memberitahumu.”
“Aku akan menunggumu. Tentu aku akan merahasiakan hal ini juga. Aku akan bersikap seperti tidak pernah tahu apapun dan aku akan menunggumu selama satu bulan. Apa kau berusaha melindungiku? Itu sebabnya kau tidak memberitahuku sejak awal?” Hani menebak.
“Kau benar, aku tidak ingin ada pembicaraan buruk tentangmu. Masalah pernikahanku tidak ada sangkut pautnya denganmu.” Shin tersenyum menjelaskan. Hani mengangguk.
Sementara itu, Luna mengisi hari seperti biasanya dengan pergi ke kantor dan mengisi weekend bersama Sera dengan kelas memasak. Ia merasa harinya semakin baik bersama dengan keluarga itu. Ayah mertuannya selalu membanggakannya, ibu mertuanya sangat menyayanginya bagai putri sendiri, dan Shin memberinya kebebasan tanpa meminta sesuatu darinya, ia bahkan menjadi sopir pribadi Luna setiap pagi dan mengantarnya ke kantor. Ia seperti tidak kekurangan apapun selama ini dan merasa dirinya baik-baik saja.
Tapi kenyataannya tidak. Selama Luna masih da;lam jangkauan Ibunya, kehidupan Luna selalu menyakitkan. Tidak ada gunanya seseorang membanggakanmu atau memanjakanmu dan memenuhi semua yang kau inginkan jika kau sendiri tidak bisa menapakkan kakimu ke tanah. Ia tidak benar-benar hidup.
Ia hanya seperti boneka manis atau robot cerdas yang telah di-setting. Sejak kecil ia sudah dilatih untuk menjadi dirinya yang sekarang. Berdandan dengan tampilan yang sempurna di hadapan publik, bersikap sopan dan elegan di setiap pertemuan, memiliki wawasan yang luas tentang dunia bisnis, memiliki skill manajemen yang baik, dan pintar dalam kalkulasi. Semua adalah settingan sejak kecil. Tidak ada yang tahu apa yang benar-benar diinginkan wanita itu dalam hidupnya. Dan wanita dengan nama Luna itu juga tidak pernah menutut atau mengatakan apa yang diinginkannya. Ia selalu mengikuti standar keinginan ibunya sampai ia lupa bahwa ia memiliki kehidupannya sendiri.
“Anda benar-benar luar biasa. Sebagai seorang menantu tunggal dari Keygrup, anda masih bekerja dengan giat di perusahaan milik ibu anda. Apa anda tetap akan menjadi direktur? Anda bahkan bisa mengembangkan perusahaan Anda sendiri sekarang. Bukankah begitu?” Seorang kolega berbincang dengan Luna dan Ibunya di sebuah pertemuan.
“Anda benar, nona Luna adalah seorang bintang yang tidak dapat tergantikan. Aku benar-benar minta maaf.” Sang kolega meralat ucapannya. Jelas ia ingin membuat Anna terkesan. Namun, bagi Luna perbincangan itu entah mengapa melukai hatinya. Kenyataan yang dibicarakan sang kolega yang terbilang tepat tapi tidak mungkin ia dapatkan. Luna tidak dapat keluar dari lingkaran yang dibuat ibunya.
^^^^
“Kau berbaring seperti itu lagi di sana?” Shin baru saja puang ke rumah dan melihat Luna berbaring di teras halaman belakang. Persis seperti pertama kali Shin dan Luna menyinggahi rumah itu. Luna tidak menghiraukan pertanyaan Shin, ia terus memandang ke langit.
“Apakah ini kebiasaan anehmu?” Shin menghampiri Luna dan duduk di sampingnya.
“Bisakah kita menikah dan pergi ke tempat yang jauh selamanya? Seperti di Selandia Baru mungkin.” Luna bicara datar tanpa menoleh ke arah Shin sedikit pun. Ia masih tetap dalam posisinya. Bahkan seperti bicara sendiri.
“Kau tidak bermaksud mengatakan bahwa kau mulai menyukaiku kan?” Shin bertanya asal.
“Mungkin.” Luna menjawab singkat. Shin berpikir dia salah bertanya, harusnya ia tidak pernah bertanya halseperti itu. Ia tidak menduga Luna menjawabnya dengan cepat.
“Hahaha ... Sepertinya kau sedang tidak sehat. Kembalilah ke kamarmu, kau bisa sakit jika tidur di sini.” Shin beranjak. Hampir ia melangkah pergi, Luna menggenggam tangannya.
“Kau tahu kau benar-benar wanita aneh.” Shin menoleh ke arah Luna dan mencoba melepas genggaman wanita itu.
“Hanya kau orang yang mengatakan aku aneh.” Luna menatap mata Shin dan berkata datar.
“Sepertinya kau benar-benar sakit!” Shin mengernyit. Ia melihat Luna tampak pucat.
“Aku baik-baik saja.” Luna tersenyum simpul. “Terima kasih telah memperhatikan saya.” Ia menunduk memberi hormat.
__ADS_1
“Kau tidak apa-apa?!” Shin melihat Luna tidak baik. Wanita itu sepertinya benar-benar sakit. Shin meletakkan salah satu tangannya ke dahi Luna untuk mengecek. Tampaknya Luna demam.
“Badanmu panas! Kenapa kau malah tiduran di sini?! Ayo masuk!!” Shin menarik tangan Luna, tapi wanita itu tampak tidak berdaya. Ia bahkan berkeringat dingin. Mau tidak mau Shin menggendong Luna ke kamarnya.
Setelahnya Shin mengambil obat dan menyiapkan kain dan baskom air. Ia mengopres dahi Luna. Wanita itu mengikuti arahan Shin dengan baik. Ia kini tertidur di ranjangnya.
“Aku tidak pernah meminta apapun kepada orang lain sebelumnya. Jika bukan karena perjanjian itu, apa aku boleh meminta?” Luna berkata lagi. Shin kira wanita itu telah tidur.
“Kenapa? Bukankah kau bisa memiliki semuanya?” Shin lagi-lagi bertanya asal.
“Tidak ada manusia yang memiliki semuanya.” Luna juga tampaknya bicara asal. Ia bahkan memejamkan mata saat bicara. Luna tidak berkata-kata lagi. Setelah kembali mengopres Luna, Shin beranjak. Ia hendak membuatkan Luna makan dan memberinya obat.
“Makanlah dulu setelah itu minum obat.” Shin kembali membawa makanan dan meminta Luna untuk bangkit. Wanita itu mengikuti perkataan Shin. Ia tampak seperti anak yanag patuh.
“Kau mau kuceritakan sesuatu?” Luna tampak lebih baik setelah makan beberapa suap.
“Ceritakanlah” Shin mempersilakan Luna. Pria itu duduk di lantai dan bersandar di ranjang Luna.
“Ini seperti kehidupanku. Aku adalah seorang pasien dan Ibuku adalah dokternya. Ia menyuruhku minum obat dan mengatakan bahwa aku akan sakit jika tidak melakukannya. Lalu aku minum obat, lalu minum obat lagi, lalu aku minum obat lagi karena ia terus menyuruhku minum obat. Sampai suatu waktu, bukannya aku lupa minum obat, tetapi aku lupa jika aku terus minum obat. Padahal kau tahu? Aku bukan pasien yang terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Tapi aku tetap minum obat. Dokter juga begitu, ia mungkin lupa mengecek apakah aku sudah sembuh atau belum, jadi dia terus memberiku obat, ia memberiku obat, lagi dan lagi. Ia mengira aku selalu sakit.” Luna tertawa. Cerita itu malah membuat perasaan Shin tak enak. Meskipun begitu ia tetap mendengarkan.
“Apa kau baik-baik saja?” Shin mulai khawatir dengan wanita itu. Tiba-tiba saja Luna menangis. Pipinya mulai basah.
“Aku tidak pernah baik-baik saja….” Luna berkata lirih. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Itu kali pertamanya menangis setelah tujuh belas tahun berlalu. Melihat Luna yang tampak menderita dan terluka begitu entah bagaimana membuat Shin juga ikut sedih. Pria itu menepuk punggung Luna perlahan. Ia mencoba menenangkan Luna.
^^^^
Setelah kejadian malam itu, Luna tidak lagi bicara kepada Shin. Ia selalu berusaha menghindar. Melihat perubahan sikap Luna seperti itu membuat Shin bingung sekaligus khawatir. Shin takut Luna mempunyai pikiran buruk dan mungkin melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Wanita itu terlihat begitu putus asa ketika menangis di hadapannya. Kondisi mentalnya juga sedang tidak stabil.
Pikiran Shin semakin tidak tenang. Ia sadar betul bahwa dirinya satu-satunya orang yang memahami keadaan Luna untuk saat ini. Wanita itu, meskipun di luar terlihat baik-baik saja, sebenarnya begitu rapuh. Ia tidak memiliki seorang pun untuk bersandar.
“Kenapa terus menghindariku?” Shin akhirnya memberanikan diri bertanya. Ia menahan Luna yang hendak berangkat ke kantornya. Belakangan ini Luna selalu berangkat lebih pagi dan pulang lebih larut. Ia juga selalu diantar jemput oleh Brian.
“Aku sibuk akhir-akhir ini. Aku harus berangkat sekarang. Brian sudah menunggu di luar.” Luna mendesak Shin. Ia mencoba menghindari kontak mata dengan pria di hadapannya.
“Aku sudah menghubungi sopirmu itu dan menyuruhnya tidak menjemputmu pagi ini.” Shin memberitahu. Ia berkata serius.
“Kenapa kau melakukannya?” Luna mengernyitkan dahi. Dengan segera, wanita itu mengambil handpone yang ada di dalam tas. Ia hendak menghubungi Brian kembali. Namun, Shin dengan cepat meraih handphone itu begitu melihatnya. Ia menyembunyikannya di belakang punggung.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan?!” Luna sangat jengkel dengan kelakuan Shin barusan.
“Aku ingin mendengar jawabanmu. Kenapa kau terus menghindarku?” Shin menatap Luna lamat-lamat. Wanita itu hanya bisa diam. Ia menatap mata Shin dengan kesal. Sejujurnya Luna menyesali kejadian malam itu. Tidak seharusnya ia mengatakan semua itu kepada Shin. Pria itu tidak seharusnya tahu. Itu membuat Luna malu dan marah terhadap dirinya sendiri. Kini ia tidak tahu cara menghadapi pria di hadapannya.
“Apa ini tentang sesuatu yang kau ceritakan tempo hari? Jika kau ingin aku melupakannya, aku akan melupakannya. Aku akan berjanji tidak akan mengungkitnya seumur hidup!” Shin kembali bicara. Ia mengerti jika Luna merasa tidak nyaman.
“Rahasia hidupku yang menyedihkan telah terbongkar. Perasaan yang selama ini aku tahan selama hidupku, kau sudah mengetahuinya. Kau sudah melihat dan mendengar semuanya. Menurutmu bagaimana keadaanku setelah itu? Setiap kali melihatmu, aku merasa buruk. Aku merasa begitu malu. Aku merasa tampak menyedihkan. Aku juga merasa dikasihani. Menurutmu bagaimana aku bisa bertemu denganmu dan menghadapimu setiap hari? ” Ia mengeluarkan semua beban dipikirannya. Ia tahu tak akan bisa selamanya menghindari Shin.
“Kau bilang akan melupakannya? Apa aku memintamu melakukan semua itu? Memangnya kau ini siapa?! Jangan bertingkah seolah kau benar-benar peduli kepadaku dan jangan bersikap terlalu baik kepadaku! Aku tahu, kau bersikap baik kepadaku hanya karena kontrak itu. Tapi jika sampai sejauh ini, kau pikir aku akan melepaskanmu? Aku lebih memilih mati sebelum bercerai daripada harus membayangkan pertemuan kita setelah bercerai nantinya! ” Luna melanjutkan.
Semakin Shin bersikap baik kepada Luna, semakin wanita itu ingin bergantung dan bersandar padanya. Tapi bagaimana bisa Luna bergantung kepada Shin, jika ia jelas tahu semua perlakuan baik Shin hanyalah perjanjian di atas kontrak.
“Inilah yang tidak ingin kudengar!” Shin menatap Luna. “Tolong jangan pernah bicara tentang kematian di hadapanku, dan jangan pernah berpikir untuk mati!” Shin memegang kedua pundak Luna dan menghela napas dalam-dalam.
“Apa kau pikir aku melakukan ini karenamu? Yang benar saja ... aku hanya melakukan semua ini untuk diriku sendiri. Dan kontrak itu? Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kontrak. Aku tidak pernah sekali pun mengasihanimu atau memandangmu buruk! Jika terjadi sesuatu kepadamu, kau pikir aku akan bisa hidup tenang? Sama sekali tidak. Aku sangat benci ketika melihat orang di sekitarku menderita!” Shin berkata jujur.
__ADS_1
“Kau sudah membagi lukamu kepadaku. Jika kau semakin terluka, maka itu juga berarti menambah luka dalam diriku. Jadi, jika kau merasa bersalah karenanya, buatlah dirimu bahagia! Luka itu hanya bisa disembuhkan olehmu!” Shin melanjutkan. Ia melepaskan Luna dan melangkah keluar rumah. Sedang Luna, ia masih terdiam di tempatnya.
“Satu hal lagi yang perlu kau tahu. Jangan pernah mencoba menghindariku! Itu membuat aku merasa jauh lebih buruk.” Shin mengatakan kalimat terakhirnya sebelum ia benar-benar meninggalkan Luna.