Pesona Hot Enemy

Pesona Hot Enemy
Bab 11. Usaha Damian


__ADS_3

“Dia tidak pantas menjadi pengawal Lore, Paman.”


“Atas dasar apa kau berpikir seperti itu?”


“Bukan apa-apa, Paman. Tapi pengawal itu tidak kompeten dan juga tidak punya sopan santun. Paman terlalu baik memberikan dia kepercayaan sehingga dia begitu berani melawan keinginan Lore.”


Gelak tawa terdengar.


“Kau tidak perlu bersusah payah menganalisis dan menilai pengawal itu. Saya bahkan sudah memberikan uji coba dan melihat sendiri kapabilitasnya seperti apa.”


“Tapi, Paman–”


“Sudahlah, kau tidak perlu risau dan khawatir akan pilihan saya. Anggota Noco Miles sejak dulu sudah membuktikan reputasi dan kemampuannya. Sebaiknya kau juga menggunakan pengawal dari sana saja.”


Loretta memejamkan matanya mengingat kembali obrolan antara Damian dan sang ayah, di mana Damian yang berusaha mempengaruhi Gilmer untuk memecat Kyler menjadi pengawal putrinya. Namun, sedikit pun Gilmer tidak terpengaruh dengan kata-kata Damian. Pria paruh baya itu tetap dengan pilihan dan keyakinan bahwa Kyler adalah yang terbaik.


Loretta yang sudah bangun sejak tadi, menjadi tidak bersemangat pagi itu. Wanita itu terus mengurung diri di kamar sebagai aksi demo kecil akan penolakan ayahnya. Dia tidak terima jika ayah yang begitu menyayangi dia, lebih percaya kepada orang asing daripada anaknya sendiri.


“Arrrrggghhh, aku benci dikekang seperti ini!” pekik Lore seraya mengacak-ngacak tempat tidurnya.


Tiba-tiba terdengar beberapa kali ketukan dari balik pintu kamarnya. Lore pun memberikan izin agar orang itu masuk. Ternyata seorang pelayan wanita datang menyampaikan jika ayahnya menunggu sejak tadi di ruang makan.


“Katakan saja aku masih tidur,” ucap Lore dengan malas. Ah, bukan saja malas tetapi juga kesal.


“Tapi, Nona–”


“Ya, baiklah. Katakan sebentar lagi aku akan ke sana.”


Pelayan wanita itu lalu pamit kembali ke bawah dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Loretta mondar-mandir tidak jelas di dalam kamar sambil mengoceh tentang sikap sang ayah yang memperlakukan dirinya bak di dalam penjara.


Beberapa detik kemudian ponselnya berdering. Segera Lore berlari kecil menuju nakas dan meraih benda pipih itu. Ia tampak bersemangat begitu mengira bahwa yang menelepon adalah sang kekasih, Olsen. Meskipun sempat bertengkar kemarin, tetapi sejujurnya Loretta merindukan sosok itu. Namun, rupanya panggilan itu berasal dari sang manajer.


📲 “Ada apa, Lynette?”

__ADS_1


📲 “Hari ini kau diminta untuk datang ke AXE Production dan memberikan klarifikasi atas berita kemarin.”


📲 “Hanya aku? Bagaimana dengan–”


📲 “Jangan tanyakan dia! Dari pihak AXE tidak mengizinkan kalian untuk memberikan klarifikasi secara bersamaan. Mungkin jadwal dia besok.”


📲 “Tapi, Lynette ….”


📲 “Apa lagi, sayang?”


📲 “Kau yakin setelah ini aku masih bisa berkarir di AXE?”


📲 “Aku pun tidak yakin, sayang. Jangan pikirkan itu! Kau punya segalanya. AXE hanya mempertemukanmu dengan pria itu makanya kau menginginkannya, ‘kan? Aku tau itu. Bersiaplah, aku menunggumu.”


📲 “Lynette, Lynette!”


Panggilan tersebut telah diakhiri sepihak oleh seseorang di seberang sana meski Lore tampaknya belum puas dengan pembicaraan mereka. Di saat yang bersamaan, pintu kamarnya kembali diketuk dari luar.


Kesal karena sang manajer mematikan telepon sepihak, Loretta jadi merasa jengkel dengan seseorang yang ada di balik pintu kamarnya. Bagaimana tidak, caranya orang itu mengetuk sangatlah tidak sabar seolah tergesa-gesa.


Dia pikir seseorang di balik itu adalah pelayan tadi ingin menyampaikan pesan dari sang ayah. Namun, sepertinya dia salah kali ini. Pintu itu kembali diketuk dengan ritme yang jauh lebih cepat dan semakin menjadi.


“Pelayan kurang ajar. Berani sekali dia mengganggu seperti ini,” gumam Lore dengan geram.


Cepat-cepat dia bangkit dari tidurnya dan segera melangkah untuk membuka pintu. Kata-kata pedas sudah tertera di kepalanya untuk dia semprotkan kepada seseorang di balik pintu sana yang dia kira pelayan. Begitu gagang pintu ditarik, Lore langsung menyemburkan kata-kata yang merujam.


“Sudah kukatakan nanti aku menyusul, Pelayan sia–” Loretta mendadak menghentikan ucapannya saat mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya. “Kau?” Kekesalannya semakin bertambah dua kali lipat melihat orang itu. “Mau apa kau kemari? Ini masih terlalu pagi dan aku belum ke mana-mana kenapa kau sudah di sini?” Loretta bertanya angkuh sembari berkacak pinggang.


“Jadi standar terlalu pagi menurutmu itu sampai jam berapa, Nona Collins?” tanya Kyler seraya melihat jam di pergelangannya. “Bahkan semua orang tahu bahwa ini sudah hampir waktu tengah hari.” Kyler berbicara santai dengan kedua tangan yang diletakkan di belakang.


“Tidak ada urusannya denganmu. Kenapa kau jadi ingin menasehatiku? Ingat posisimu, kau hanya pengawal bukan penasehat agung. Kau mengerti?” Loretta menatap sinis.


“Tentu saja akan menjadi urusanku, Nona Collins. Sekarang bersiaplah secepat mungkin dan saya akan mengantarkan Anda ke AXE Production. Permisi!”

__ADS_1


Kyler langsung membalikkan badannya dan berlalu dari hadapan Loretta yang masih berdiri dengan ekspresi tak percaya.


“Jadi sekarang dia yang mengetahui segala urusanku, bahkan mengaturku? What the fu*ck!” Loretta mengumpat penuh emosi, tetapi dia tidak punya pilihan lain selain bergegas mandi dan bersiap-siap.


...***...


“Semalam kau menghilang ke mana, Kyle?” tanya Gilmer. Saat ini keduanya sedang berada di ruang kerja milik Gilmer.


“Maaf, Tuan. Semalam saya kembali ke tempat tinggal saya.” Kyler berucap dengan kepala yang ditundukkan.


“Why? Kau tidak ingin tinggal saja di sini? Jika tidak nyaman, saya akan memberikan kamar yang berbeda dari pengawal lainnya yang ada di sini.” Pemilik kediaman Collins itu mencoba memberikan penawaran.


“Ah, tidak perlu berbeda dengan yang lainnya, Tuan. Saya lebih senang berbaur. Hanya saja, saya punya permintaan. Jika boleh, sesekali saya ingin kembali ke tempat tinggal saya,” pinta Kyler.


“Why not? Di sini maupun di sana, dua-duanya adalah tempat tinggalmu. Kau boleh memilih untuk kapan di sana dan kapan di sini. Tapi ingat, jangan lalai dalam tugasmu!” Gilmer memperingati.


“Baik, Tuan. Saya akan selalu mengusahakan yang terbaik, terima kasih!”


Perbincangan itu kemudian diinterupsi dengan kehadiran Loretta di sana. Keduanya segara beranjak dari ruang kerja Gilmer setelah berpamitan pada pria berusia setengah abad itu.


“Silahkan, Nona!” Kyler mempersilahkan Lore untuk berjalan di depan.


Dengan posisi berjalan di belakang, mata Kyler bergerak ke kanan dan ke kiri menyapu seluruh tempat yang mereka lewati. Begitu melewati koridor panjang untuk mencapai pintu utama, Kyler cepat-cepat memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu merogoh sesuatu dari sana. Sepersekian detik tangannya terulur ke samping dan diraih oleh sebuah tangan lain yang entah muncul dari sisi mana.


Seorang wanita berdiri di balik pilar besar di sana lalu mengacungkan jempol kepada Kyler, kemudian dibalas Kyler dengan kedipan mata.


...🌻🌻🌻...


...Halo gessss, otor sangat mengharapkan dukungan teman-teman semua. Tolong untuk membiasakan jempol untuk meninggalkan like, komen dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐...


...Makasih 😙...


...Dan otor juga punya rekomendasi bacaan keren dari sesama teman penulis. Jangan lupa mampir yah....

__ADS_1



__ADS_2