
Kyler sengaja berdehem karena sudah lebih dari 30 menit kepala pelayan itu mengabaikannya dan asik dengan seseorang di seberang telepon. Entah mengapa, Kyler merasa ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya kala mendengar suara merdu di seberang sana. Ada debaran yang aneh, ada damai yang dirasakan. Pria berwajah datar itu pun tidak lagi melanjutkan kegiatan makannya.
📲 “Kau dengan siapa di sana, Made?”
Mendengar ada suara orang yang berdehem, seseorang orang di balik telepon itu lantas bertanya.
📲 “Oh, em, itu … itu dengan pengawal Nona Loretta.”
📲 “Kenapa dia ada di sana? Jangan bilang dia bersamamu di area dapur?”
📲 “Yes, darling. Dia terluka dan belum makan jadi–”
📲 “Made, kau melayani orang lain dan menyiapkan makanan untuk dia sedangkan aku? Ini tidak adil!”
📲 “Pulanglah. Aku akan membuatkan makanan kesukaanmu, Tuan Putri.”
📲 “Hmm, sebenarnya aku malas untuk pulang. Tapi akan aku lakukan demi dirimu dan masakanmu. Tunggu aku nanti malam. Bye, Made. See you tonight.”
Sambungan telepon itu pun terputus dengan sang kepala pelayan yang masih saja menatap gagang telepon di tangannya. Suara ceria yang mengakhiri panggilan itu sangat ia rindukan. Melihat itu, Kyler memberanikan diri untuk bertanya. Entah kenapa, dia begitu penasaran.
“Kau terlihat sangat senang,” ucap Kyler sambil menatap kepala pelayan itu.
“Ya, tentu saja. Dia akan pulang malam ini dan itu adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupku,” jawab sang kepala pelayan dengan wajah bahagia.
“Siapa dia?” Kyle semakin terlihat penasaran.
__ADS_1
“Dia … dia adalah tuan putri kesayanganku.” Lagi si wanita itu menjawab dengan senang.
“Dia putrimu?” Jangan tanyakan lagi tingkat keingintahuan Kyler seperti apa.
Sang kepala pelayan tidak langsung menjawab. Sejenak dia menatap Kyler lalu bergegas membereskan sisa-sisa makanan dan segala peralatan di meja. Kyler hanya diam dan memperhatikan setiap gerak-gerik wanita paruh baya itu.
“Aku bertanya padamu,” ucap Kyler yang tidak sabar menunggu jawaban.
“Dia segalanya bagiku.” Oh, please. Jawaban yang tidak diharapkan Kyler sama sekali.
Tidak lama setelah itu sang kepala pelayan lalu menyuruhnya untuk segera pergi dari sana karena area itu akan disteril kembali. Tanpa menunggu perintah dua kali, pria itu segera bangkit dan bergegas pergi dari sana. Namun, si wanita paruh baya lagi-lagi menahannya.
“Sebentar,” ucapnya sedikit keras dan Kyler pun langsung berbalik. “Siapa namamu?” tanyanya.
“Kyler. Apa ada yang aneh denganku?” tanyanya. Sejujurnya, Kyler merasa risih dengan tatapan kepala pelayan itu.
“Sungguh?” tanya Kyler dengan sebelah kening yang terangkat. Kepala pelayan itu pun mengangguk pasti. “Oh, aku … aku mengira setelah ketidaksengajaan tadi merupakan sebuah ultimatum keras padaku,” imbuh Kyler.
Dengan senang pria itu kemudian menjulurkan tangannya terlebih dahulu kemudian disambut antusias oleh sang kepala pelayan.
“Kyler Revas, pengawal pribadi Nona Loretta. Senang berkenalan denganmu dan terima kasih atas pertolongan serta makanannya,” ucap Kyler dengan tulus meski wajahnya terlihat datar.
“Panggil saja Madeline, kepala pelayan di rumah ini. Senang bertemu denganmu juga. Panggil aku jika kau perlu bantuan.”
Sejak saat itu mereka pun berteman. Keramahan Madeline begitu cepat menyatu dengan sikap datar seorang Kyler. Di luar daripada itu, Madeline merasakan ada hal positif dalam diri pria penuh misteri itu.
__ADS_1
...***...
Jarum jam menujukkan pukul 09.00 PM dan Kyler kini sedang berada dalam salah satu mobil mewah yang berjejer di garasi kediaman Collins. Tentu saja dia mendapat akses langsung dari Gilmer untuk menggunakan fasilitas apa pun yang tersedia di sana. Mengenai urusan keluar masuknya, tidak dicampuri Tuan Collins sama sekali, selain tugas dalam menjaga Loretta. Di luar daripada itu, he is free.
Setelah lebih dari 30 menit berkendara, mobil yang dikendarai Kyler akhirnya berhenti tepat di depan sebuah kedai kopi yang tak lagi asing. Keluar dari mobil, Kyler berjalan dengan angkuh memasuki tempat tersebut yang di dalamnya sudah sepi, hanya ada dua pria di sana.
“Sudah lama menunggu, Drew?” tanya Kyler pada salah satu pria yang merupakan temannya.
“Tidak juga,” jawab pria bernama Andrew dengan singkat.
Kyler mengangguk kecil lalu beralih pada pria satunya lagi yang adalah waiters di kedai tersebut.
“Di mana pemilik cafe ini? Panggilkan dia sekarang juga!” titah Kyler masih dengan posisi tetap berdiri.
Tiba-tiba entah dari mana munculnya, seseorang kini berdiri di belakang Kyler dengan tangan yang bersedekap di dada.
“Selamat malam, Tuan. Saya pemilik cafe ini.”
...🌻🌻🌻...
...Halooooooo 👋 ketemu lagi sama AG …....
...Jangan lupa ritualnya yah 🙏...
...Dan seperti biasa, sambil menunggu episode selanjutnya, mampir dulu di karya teman otor AG yang satu ini yah …....
__ADS_1
...Makasih 😘...