
Jarum jam terus berputar dan sudah hampir sejam Loretta tidak ingin beranjak dari kamar Kyler. Dia tiba-tiba saja masuk saat pria itu tengah menerima panggilan telepon. Kyler sempat terkejut tetapi jauh daripada itu dia lebih merasa tidak nyaman karena kehadiran Lore.
Wanita itu menyelinap masuk dengan sleepwear yang bisa dikatakan kekurangan bahan. Tentu hal itu tidak baik bagi Kyler. Udara di sekitar seolah berkurang hingga membuatnya sesak napas. Jangan lupa bahwa dia pria normal.
“Katakan saja apa tujuan Anda datang kemari? Saya lelah dan ingin beristirahat, Nona.” Kyler mulai bosan dan ingin menyudahi pertemuan itu tetapi dia tidak mungkin bisa mengusir Lore.
“Aku? Aku … hmm … aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Bagaimana dengan luka di lenganmu?” tanya Lore. Dia lantas berjalan mendekat ke arah Kyler dan hendak menyentuh tangan pria itu.
“Don't touch me!” tepis Kyler dan langsung bergerak mundur. “Saya baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Lebih baik khawatirkan diri Anda saja, Nona.” Pesan monohok dari Kyler tetapi malah membuat Loretta tersenyum.
“Untuk apa aku harus khawatir jika kau selalu ada di sampingku, Tuan pengawal?” Lagi-lagi Lore bertanya.
Wanita itu berbicara dengan nada dan tatapan menggoda. Tidak hanya itu, dia bahkan semakin mendekat ke arah Kyler membuat pria itu terpojok di sudut meja lampu tidur.
“Entah mengapa … aku mulai merasakan jauh lebih baik jika di dekatmu. Bagaimana jika–”
“Sekali lagi jangan coba-coba menyentuhku, Nona Collins yang terhormat!” ucap Kyler dengan penuh penekanan. Pria itu terlihat mulai geram dengan tingkah Lore yang di luar batas. “Dan buang jauh-jauh pikiranmu untuk bermalam di kamar ini. Saya minta Anda keluar sekarang juga,” lanjut Kyler yang tidak lagi sabar.
Bukannya malu, Loretta malah terkekeh mendengar ucapan tegas dari Kyler. Sementara itu, Kyler sendiri tengah bersusah payah menahan nafasnya karena posisi Lore yang terlalu dekat.
“Aku harus memuji kehebatanmu dalam membaca pikiran, Tuan pengawal.” Tepuk tangan pun terdengar berbaur dengan kekehan Lore.
“Tapi … apa tidak salah kau mengusirku? Apa aku perlu izin darimu jika ingin tidur di sini, Tuan pengawal? Ingat lagi kau berada di mana dan apa posisimu,” ucap Loretta dengan sedikit penekanan pada akhir kalimatnya.
Setelah berkata demikian, Loretta refleks menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur milik Kyler. Hal itu membuat kesabaran Kyler semakin terkuras habis.
__ADS_1
“Nona Collins yang terhormat, ini memang rumah Anda. Tapi kamar ini diberikan kepada saya dan telah menjadi milik saya dalam batas waktu tertentu. Dan ingatlah bahwa ini sudah masuk dalam privasi saya. Satu lagi yang perlu Anda ketahui, saya berada di sini bukan karena kebetulan, jadi kehadiran Anda bisa saja saya tolak kapan pun itu!” jelas Kyler panjang lebar dan penuh ketegasan.
Dia pun lantas berjalan menuju ke arah pintu lalu membukanya lebar-lebar dan berdiri di sana sembari mempersilahkan Loretta untuk segera meninggalkan kamar tersebut.
“Sekali lagi saya persilahkan dengan segala hormat, tolong keluar dari kamar ini sekarang juga! Jika tidak, saya bisa saja mengeluarkan Anda dengan cara kasar.” Dia berkata tanpa memandang Lore sedikit pun.
Membaca kemarahan di mata pria itu, memaksa Lore mau tak mau bangkit dari duduknya dan melangkah anggun ke arah pintu. Tepat di hadapan Kyler, wanita itu berhenti dan menatap Kyler dalam-dalam selama beberapa saat. Namun, sedikit saja Kyler tidak menoleh padanya, hingga dia sendiri memutuskan tatapan itu dengan sedikit kesal.
“Karena aku sedang malas berdebat maka kuturuti permintaanmu, Tuan pengawal. Lagi pula … aku kasihan melihatmu begitu lelah dan mengantuk,” ucap Lore seraya hendak menyentuh rahang Kyler. Namun, si datar itu dengan sigap memundurkan wajahnya menghindari sentuhan Lore.
Hal itu lagi-lagi membuat Loretta terkekeh. “Kenapa kau takut dengan sentuhanku? Apa aku terlihat menyeramkan?” Lagi dia tertawa. “Sudahlah, selamat tidur, Tuan pengawal. Dan sampai jumpa besok,” lanjut Lore.
Dia pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kamar Kyler dengan wajah penuh senyum. Namun, hatinya dipenuhi kekesalan yang luar biasa.
Si*al, apa aku tidak menarik di matanya? Atau dia yang memiliki kelainan?
“Wanita macam apa dia? Masalahnya saja belum genap sebulan tapi sudah berulah lagi. Menyedihkan sekali dirinya jadi wanita.”
Dia pun menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan mematikan lampu tidur. Namun, sejam dia bolak-balik, mata itu tidak mampu untuk terpejam meski tubuhnya ingin sekali beristirahat. Kyler pun memilih bangkit dan meraih hoodie lalu berjalan keluar kamar.
Pria itu rupanya menuju ke arah rumah utama. Entah apa yang menjadi tujuannya, tetapi dia melewati area dapur yang diprivasikan dari pelayan lain terkecuali koki dan para pelayan di bagian dapur.
Saat melewati jalur rahasia yang tidak diketahui banyak orang dan hampir mencapai dapur besar, tiba-tiba saja seseorang menendang tepat mengenai lengannya yang sedang terluka.
“Arrgghh,” ringis Kyler.
__ADS_1
Belum sempat untuk mengangkat wajahnya, serangan dari arah yang sama terulang lagi. Namun, dengan sigap Kyler menghindar. Suasana gelap karena lampu-lampu yang telah padam membuat Kyler tidak bisa melihat siapa orang yang menyerangnya.
Orang asing itu tidak membiarkan Kyler sedikit saja. Dia terus saja menyerang hingga Kyler terpaksa harus meladeninya pada waktu tengah malam itu. Gerakan yang Kyler lakukan cukup cepat hingga lawannya kewalahan.
Kyler tidak bermaksud menyakiti karena dia berpikir bahwa mungkin saja orang itu adalah salah satu pelayan yang bertugas mengontrol dapur yang notabene adalah wilayah sterilisasi. Pria itu hanya menghindari serangan dan memberikan sedikit pelajaran dengan cara memelintir tangan orang itu dan menguncinya dari belakang.
Tiba-tiba Kyler terperanjat saat ringisan kesakitan yang dia dengar adalah suara seorang wanita. Dia pun refleks memutar tubuh orang itu dan langsung menyoroti wajahnya yang tidak dapat terlihat sama sekali. Namun, kening Kyler mengerut saat menatap ke dalam bola mata orang itu. Keduanya saling menatap dan Kyler merasakan sesuatu yang tak biasa.
Matanya kenapa tidak asing? Terlebih sorotan ini ….
Di saat Kyler lengah karena pikiran yang tiba-tiba berkelana, orang itu pun berkesempatan melepaskan diri dan lari.
“Hei, tunggu!”
Kyler berusaha mengejarnya tetapi orang itu menghilang dengan sangat cepat.
“Siapa dia?”
...🌻🌻🌻...
...TBC...
...Hai, ketemu lagi 😘 Jangan lupa like dan komen juga rate yah. Tinkyuuw ❤️...
...Dan seperti biasa … sambil menunggu episode selanjutnya, yuk mampir dulu di karya teman AG yang satu ini yah …....
__ADS_1