
“Em … maaf, Nona. Tuan Muda ingin bicara dengan Anda.”
Ah, pasti beberapa panggilan tidak terjawab sudah tertera di layar ponselku.
Tanpa menjawab lagi, Caitlyn segera menerima telepon tersebut lalu menjepitnya di antara telinga dan pundak sebelah kanan. Wanita itu lalu berbicara sembari melanjutkan pekerjaannya.
📲 “Ha–”
📲 “Berani sekali kau mengacuhkan panggilanku.”
Suara berat dibumbui erangan kecil terdengar di ujung telepon. Caitlyn hanya tersenyum lebar.
📲 “Aku sedang tidak memegang ponsel, Al. Aku di dapur–”
📲 “Ck, harusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Kau bisa memesan atau meminta pelayan menyiapkannya, bukan?”
Caitlyn tertawa mendengar ucapan perhatian berbalut ketakutan itu.
📲 “Tidak perlu khawatir, sayang. Ingatlah jika ini ulang tahun pernikahan kita dan aku ingin memberikan hadiah kecil ini untukmu.”
__ADS_1
Decakan disusul tawa kecil terdengar di telinga Caitlyn.
📲 “Kau yakin hanya hadiah ulang tahun pernikahan bukan karena kau rindu padaku?”
📲 “Apa kau keberatan dengan itu?”
📲 “Tidak juga. Ok, lakukan yang terbaik. Permintaanmu akan terkabul. See you.”
Panggilan telepon berakhir dan Caitlyn mengembalikan telepon dapur pada Dita. Wanita itu kembali fokus menyelesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi. Namun, tidak berselang lama, kemunculan ibu mertuanya mengacaukan suasana hati Caitlyn yang tadinya baik.
“Kau memang cocok jika terus menggunakan apron itu. Cantik dan terlihat pantas,” sindir Sania.
“Semua wanita pantas menggunakannya, Ma. Apalagi seorang istri yang tidak bekerja dan hanya mengharapkan uang dari suaminya.” Tidak kalah pedas sindiran balik yang dilontarkan Caitlyn. “Aku gak mau hanya bisa menghabiskan uangnya Lean tanpa bisa melakukan sesuatu untuk dia, Ma. Apa bedanya aku dengan benalu?” Caitlyn mengangkat pendanaannya dan langsung bertemu dengan tatapan tajam Sania.
Senyum kecil terukir menghiasi bibir tipisnya membuat Sania merasa kalah lalu mengepalkan tangan begitu kuat. Tatapan keduanya tidak jua berpindah seolah saling menyerang. Untung saja pekerjaan Caitlyn hampir selesai dan tinggal menunggu satu masakan terkahir lalu dihidangkan.
“Oh, ya. Benar sekali. Apalagi seorang istri yang tidak memilik anak. Dia harus bekerja keras untuk menyenangkan hati suami dan mertuanya. Jika tidak … kebencian dan label istri tidak berguna itu akan melekat padanya. Bukan begitu, Caitlyn sayang?” telak menikam hati Caitlyn.
Keadaan kini berbalik. Caitlyn terdiam sedangkan Sania tersenyum penuh kemenangan. Dita yang berada di sana hanya diam bak patung bernyawa seolah tidak mendengarkan apapun. Semua pelayan yang ada di rumah itu tanpa terkecuali, tahu bahwa nyonya besar dan nyonya muda rumah itu tidak saling akur. Pemandangan yang terjadi saat ini sudah bukan lagi hal baru bagi mereka.
__ADS_1
“Apa kau ingin membakar rumah ini, hah?” bentak Sania begitu keras. Wanita paruh baya itu sembari menunjuk masakan penutup yang telah gosong hingga menimbulkan asap yang cukup tebal di sana.
Caitlyn baru tersadar dan hendak mematikan kompor, tetapi Dita sudah lebih dulu bergerak cepat. Ah, dia terlalu terpaku dengan perkataan Sania yang selalu sukses melukainya.
“Belajar lagi sana jika belum bisa bekerja dengan benar. Jangan sampai rumah ini terbakar hanya karena kecerobohanmu!” lanjut Sania berapi-api.
Caitlyn menarik nafasnya dalam lalu mengembuskan dengan pelan. Dia kemudian meminta Dita menata makanan yang sudah jadi sebelumnya di ruangan khusus, di lantai 2. Ya, malam ini Caitlyn memang hanya memasak dalam jumlah kecil khusus untuk dia dan suaminya saja. Kedua mertua dan keluarga yang lain makan masakan yang disiapkan oleh pelayan di lantai satu.
Pada saat Dita meninggalkan dapur dan menuju lantai 2, Caitlyn kembali menatap ibu mertuanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada.
“Sepertinya kau melupakan satu fakta ini, Mama mertua. Biar aku ingatkan lagi.” Caitlyn menepuk-nepuk kedua telapak tangannya seolah membersihkan dari sisa-sisa kotoran setelah memasak, kemudian dia mendekati Sania. “Rumah ini dan segala isinya sudah menjadi hak suamiku sepenuhnya tidak hanya Sanjaya Grup. Kalaupun aku membumihanguskannya dalam sekejap mata, suamiku tidak akan berkomentar dan hanya akan membangun rumah baru yang jauh lebih megah dari yang kau pijaki saat ini, Mama mertua tercinta”
Sania terbungkam dan itu membuat Caitlyn tersenyum menang lalu bergegas mengikut Dita, meninggalkan Sania dalam emosi yang tertahan.
... 🌻🌻🌻...
Haloooo gessss, ini novel terbaru AG. Jangan lupa mampir dan beri dukungannya yah. Karena novel ini sedang mengikuti lomba jadi dukungan dari teman-teman sekalian sangat diharapkan. Tinkyuuw all 💋🙏
__ADS_1