
Hari semakin gelap dan malam kini sepenuhnya berkuasa. Kyler terlihat masih berbicara dengan pria asing berpenampilan serba hitam tadi. Sepertinya dua pria itu terlibat pembicaraan yang serius.
Sejak sore bertandang ke cafe tersebut, terhitung sudah hampir 4 jam Kyler masih saja betah di sana, bahkan sudah dua kali dia memesan minuman yang sama. Tanpa dia sadari barista cantik yang menurutnya aneh tadi, sedang menunggu dia untuk segera pergi karena waktu setempat sudah menunjukkan pukul 08.50 PM yang artinya sebentar lagi cafe harus ditutup.
“Aku sangat membutuhkan bantuanmu, Teman. Aku berharap ini akan lebih cepat berakhir dari waktu yang ditentukan Tuan Gilmer. Lebih cepat lebih baik, bukan?” ucap Kyler penuh harap dengan wajah datar seperti biasa.
“Of course. Senang bisa membantu Anda Tuan ….” Pria asing itu sengaja menggantung kalimatnya.
“Kyler Revas,” sambung Kyler menyebut namanya sendiri. Nama yang bukan merupakan identitas aslinya.
Tiba-tiba pembicaraan kedua pria itu diinterupsi oleh seorang waiters pria yang datang dan meminta keduanya untuk segera meninggalkan cafe tersebut. Kyler melihat jam di pergelangannya, seketika dia mengerutkan kening. Dari ekspresi wajah pria itu tampak dia sedikit tidak terima.
“Selamat malam, Tuan. Sebelumnya saya meminta maaf karena waktu berkunjung telah selesai dan tempat ini akan segera ditutup. Oleh karena itu Tuan-tuan diminta untuk meninggalkan tempat ini,” ucap waiters tersebut dengan sangat hati-hati.
Baru hendak memberikan protes, tetapi niat Kyler dihalangi cepat oleh pria asing yang dipanggilnya teman. Sepertinya pria itu sering mampir di sana dan sedikit banyak dia tahu tentang cafe tersebut.
“Oh, ya. Maafkan kami karena terlalu menikmati tempat ini dan menunya sehingga kami lupa dengan waktu. Sekali lagi maaf,” ucap pria itu dengan sopan. Tidak lupa ia mengeluarkan sejumlah mata uang Dolar As dari dompetnya dan memberikan kepada sang waiters.
Dia kemudian menarik tangan Kyler dan membawanya keluar dari sana sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dia berpikir bahwa air muka Kyler hanya akan mengundang pertengkaran, apalagi tadi dia sempat melihat barista cantik di balik meja besar tengah memandang tajam ke arah mereka.
“Lepaskan aku!” sentak Kyler. Dia kemudian merapikan kembali penampilannya dengan suasana hati yang mendadak buruk. Terlihat jelas Kyler tidak menerima yang baru saja terjadi.
“Kita yang salah, Bro. Cafe ini memang tutup jam 9. Apa kau tidak lihat pengunjung yang lain sudah tidak ada hanya kita berdua saja?”
__ADS_1
Kyler lantas menoleh kembali ke dalam cafe. Benar, tidak ada lagi manusia lain di dalam sana selain waiters yang terlihat sedang bersih-bersih dan barista cantik yang turut membantu merapikan tempat itu.
“Ini pasti ulah gadis bisu itu,” gumam Kyler dan secepat kilat melangkah kembali ke dalam cafe.
Melihat itu, temannya kaget dan mencoba menghentikan langkah pria berwajah datar itu tetapi terlambat. Kyler sudah lebih dulu mendorong pintu kaca cafe tersebut dan menyerobot masuk seperti angin ribut, mengagetkan dua orang berbeda genre di dalam sana.
Tanpa ba, bi, dan bu, Kyler langsung menuju ke arah sang barista cantik dan mencengkram pundak kecilnya. Tidak ada respon berontak ataupun ekspresi takut di wajah cantik gadis itu. Hanya sedikit kaget yang terbaca di matanya. Selebihnya yang terlihat mendominasi adalah raut datar seperti jalan tol, bahkan tatapan tajam Kyler tidak mampu untuk mengintimidasi sosok cantik itu.
“Katakan berapa harga cafe ini. Sampaikan pada pemiliknya aku ingin membeli tempat ini termasuk semua pekerja-pekerja yang ada di dalamnya.” Kemarahan tampak sangat jelas dari nada bicara maupun tatapannya.
Hal yang membuat Kyler semakin marah adalah karena melihat sikap tenang gadis di hadapannya itu. Ia merasa ingin sekali mencekik gadis itu agar mungkin sedikit bisa mendengar suaranya atau paling tidak dapat melihat ekspresi takut sang gadis. Entah mengapa sejak masuk di cafe sore tadi, Kyler dibuat penasaran oleh barista bisu itu.
“Apa kau mendengar ucapanku gadis bisu?” tanya Kyler dengan geram.
“Jaga sikap Anda, Tuan. Simpan emosimu untuk hal lain yang mungkin lebih pantas Anda pergunakan, tetapi tidak terhadap wanita. Ini tempat kami. Kami tahu bahwa pelanggan adalah yang terpenting dan nomor satu, tetapi itu tidak menutup kemungkinan untuk kami menyuarakan hak dan otoritas kami di wilayah kami sendiri!” tutur sang waiters dengan tegas dan tajam kepada Kyler.
Kyler menggeram kesal dengan mata terpejam sambil menahan emosi yang hampir saja meledak dibuat dua orang di hadapannya itu. Untung saja ada temannya yang sigap menenangkan Kyler dengan ucapan-ucapan yang mendamaikan suasana.
“Kau ….” Telunjuk Kyler tertuju tepat di wajah waiters yang tidak lebih tinggi dari dirinya. “Berterimakasihlah kepada dia dan Tuhan karena amarahku tidak sampai tersulut oleh perkataan bodohmu itu,” lanjut Kyler sambil melirik ke arah temannya yang berada di samping.
“Dan ingat, katakan pada pemilik cafe ini bahwa besok pada jam yang sama aku akan kembali ke tempat ini dan ingin menemuinya.”
Selesai berkata demikian, Kyler segera melangkah keluar setelah sepersekian detik dia melemparkan tatapan tajam pada barista cantik yang dibalas tak kalah tajam oleh gadis itu.
__ADS_1
“Sia*lan!” maki Kyler setelah berada di dalam mobil. Pria itu bahkan memukul kemudi saking ingin melampiaskan emosinya. Anehnya, wajah menyebalkan gadis itu terus terbayang di ingatan Kyler.
“Sudahlah, Revas palsu. Dia hanya seorang gadis kecil dan waiters itu … dia kelihatan masih bocah. Tidak perlu semarah ini. Maaf tapi aku setuju dengan ucapannya–”
“Kau bosan hidup, Drew?” Satu kata telak yang membuat pria asing bernama lengkap Andrew mati kutu.
“No, bukan begitu, Kyle. Dengar, kau tidak perlu marah dengan hal sekecil tadi. Itu sama sekali tidak penting. Simpan amarahmu dan fokus dalam hal menghadapi Gilmer lalu capailah tujuanmu saat datang ke mansion itu. Okay?”
Andrew lantas bergegas keluar dari mobil Kyler setelah sedikit menasehati temannya itu. Dari balik kaca mobil, Kyler bisa melihat jelas teman baiknya itu berlari kecil menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Setelah melihat Andrew menjalankan mobil dan menghilang dari sana, barulah dia pun melesatkan mobilnya dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Kyler menjalankan mobilnya menuju The Blue Golden Luxury Modern 3, sebuah apartemen mewah di Chicago dengan rating terbaik 9,8 dan mendapat ulasan istimewa dari banyaknya apartemen lain dengan standar luar biasa. Apartemen ini berjarak 13,7 km dari pusat kota. Tidak heran Kyler melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tubuh dan pikirannya butuh istirahat yang cukup agar bisa menghadapi Gilmer dengan tenang dan penuh strategi.
“Kita mulai besok dengan satu strategi penambahan anggota Noco Miles. Thanks, Gilmer atas kepercayaannya kepadaku dan NM.” Kyler tertawa sinis.
...✨✨✨...
...Hai, hai 👋 Aiemkambek …....
...Plisss, dukungannya gessss. Biar otor makin semangat. Biasakan jempol untuk tekan like, komen, dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐ Makasih sebelumnya 🙏...
...Oh iya gesss, sambil nungguin episode selanjutnya, jangan lupa mampir di cerita teman AG yang satu ini yah …. Ma'aciih 💋...
__ADS_1