
Setelah bertemu dengan Gilmer, Kyler lantas kembali dengan langkah yang terlihat sedikit tak bersemangat. What's wrong with him? Dia pun membawa kakinya menuju dapur. Benar, Madeline yang melihat itu pun merasa heran dan segera menghampirinya.
“Are you okay?” tanya Madeline.
Kyler yang saat itu tidak begitu memperhatikan sekitar menjadi kaget. “Oh, yeah. I'm okay.”
Madeline tahu bahwa dia hanya berpura-pura. Jelas-jelas wajahnya menunjukkan sesuatu yang tidak baik-baik saja. Namun, kepala pelayan itu tidak mau mempertanyakan ataupun mempermasalahkan. Dia tahu betul apa itu hak dan privasi.
“Kemarilah," panggil Madeline dengan lembut. “Duduklah, sepertinya kau butuh secangkir coffee.” Dia pun segera membuatkan secangkir kopi dan diberikan pada Kyler.
Tanpa berkomentar, Kyler langsung duduk di ruang makan khusus untuk para pelayan dan menyeduh kopi yang diberikan sang kepala pelayan. Dua kali tegukan, dia berhenti lalu meletakkan cangkir yang dipegangnya.
“Espresso?” tanya Kyler sambil menatap Madeline. Tanpa ragu kepala pelayan itu pun mengangguk.
“Red eye coffee. Kau pasti pernah mendengarnya, kan?” Madeline berbicara sembari memantau pekerjaan pelayan yang lain.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Kyler. Di samping berbicara dengan Madeline, dia juga memperhatikan wajah-wajah beberapa pelayan wanita yang terlihat sibuk di sana. Rasa penasaran tentang seseorang yang menyerangnya semalam belumlah hilang.
Di mana orang itu?
“Tidak,” jawab Kyler terkesan acuh.
“Really? Aku kira kau tidak sesibuk ini sebelumnya hingga kenal dengan hal-hal biasa seperti ini.”
Sejenak Kyler menoleh pada Madeline lalu kembali menyeduh kopinya sebelum wanita paruh baya itu melihat perubahan wajahnya.
Aku memang sangat sibuk, Made.
__ADS_1
“Orang-orang menyebutnya red eye coffee. Ini adalah variasi kopi Amerika yang menggabungkan kopi seduh dengan espresso. Kombinasi kopi ini lebih kuat dari kopi biasa. Kopi ini bisa menjadi stimulan yang lebih kuat dan membuat penikmatnya tetap terjaga. Selain itu, red eye coffee juga bisa meningkatkan konsentrasi.” Madeline menjelaskan panjang kali lebar setelah melihat respon datar seorang Kyler.
“Kulihat wajahmu tidak bersemangat karena itu kubuatkan. Semoga lebih baik setelah meminumnya,” sambung Madeline.
Kyler bagai pendengar setia, hanya mengangguk dan terus menikmati racikan yang dibuatkan kepala pelayan itu hingga tandas. Dia pun berterima kasih pada Made dan berniat meninggalkan area itu.
“Thanks, Made. Setelah hari ini mungkin aku akan sering kemari dan meminta racikan yang sama,” ucap Kyler sembari mengedipkan matanya.
Madeline seketika tertawa melihat tingkah anak muda itu. “Terserah padamu, Nak.”
Kata-kata itu terdengar bersamaan dengan tepukan sedikit kuat di lengan Kyler. Tanpa wanita paruh baya itu sadari, Kyler tengah menahan kesakitan.
“Ba-baiklah. Aku harus segera pergi, Made. Bye … arghh ssshhh.” Kyler yang tidak tahan pun lantas meringis karena perih.
“Ouw, i'm so sorry. Apa lukanya terbuka lagi?” Made seketika menyadari kesalahan dengan mengangkat kedua tangan layaknya tersangka yang tertangkap.
Melihat darah yang tampak merembes pada lengan kaos, Madeline kaget dan langsung menahan langkah Kyler. Dia segera memeriksa kembali luka yang sempat diobatinya kemarin. Benar saja sayatan itu terbuka lagi dan malah membesar. Madeline tahu betul bahwa jika hanya luka kemarin, tidak akan sebesar ini.
“No.” Singkat padat dan jelas.
“Lalu apa?” Madeline memaksa tetapi Kyler enggan menjelaskan.
Dia pun menyerah lalu bergegas mengobati kembali luka Kyler. Pemuda dengan paras rupawan itu memperhatikan wajah Madeline yang mulai keriput. Terlukis ketulusan berbaur kecemasan di sana. Dia pun jadi teringat dengan sosok ibunya.
“Semalam ada yang menyerangku di tempat ini,” aku Kyler pada akhirnya.
Reaksi kaget Madeline menguatkan dugaan Kyler jika ada orang baru di tempat itu selain dirinya. Namun, Kyler tidak ingin mempertanyakan lagi. Dia akan menyelidikinya sendiri.
__ADS_1
Selepas lengannya diobati, Kyler segera berlalu dari sana dengan raut serta suasana hati yang jauh lebih baik. Tampaknya secangkir red eye coffee benar-benar mengubah segalanya.
Entahlah, tetapi sepertinya aku akan tetap ke sana.
...***...
“Tentu saja, sayang. Dia akan ikut bersamaku, tetapi bukan sebagai pengawalku.”
“Have fun and see you tonight, darling.”
Panggilan telepon di seberang sana pun berakhir dengan Loretta yang turut bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju walk in closet. Wanita muda dan cantik itu tampak memilah beberapa gaun terbaik dengan desain-desain ternama.
“Aku yakin tikus kecil itu akan turut hadir. So, i have to look stunning.”
Waktu berputar tak sabaran mendatangkan gelap dengan cepat. Baik Kyler maupun Loretta tengah mempersiapkan diri masing-masing untuk menghadiri sebuah pesta konglomerat dan kalangan para pebisnis se-Chicago. Tentu ini akan menjadi momen baik bagi Gilmer maupun putrinya–Loretta. Namun, selain ayah dan anak yang tampak seperti pemeran utama itu, ada sesosok makhluk cantik yang juga tengah melakukan hal sama.
“Kenapa kau menatapku seperti itu, Made? Kau tidak percaya padaku?”
Suara lembut dengan paras cantik alami yang dipolesi riasan tipis, tampak bersiap dengan baik. Madeline yang melihat itu menjadi khawatir.
“Aku sudah besar, Made. Aku bisa menjaga diriku. Please, doakan saja kesayanganmu ini.”
Madeline hanya terduduk lesu di atas ranjang yang tidak terlalu besar di sana sembari terus memandang putri cantik itu.
“Pergilah. Tapi ingat–”
“Jaga nama baik keluarga ini. Begitu, bukan?”
__ADS_1
...✨✨✨...
...TBC...