
“Di mana Kyler?” tanya Loretta kepada dua pengawal yang berdiri di sampingnya.
Saat itu jumpa pers telah selesai, Loretta langsung dikawal meninggalkan ruangan menuju ke ruangan lain bersama sang manager tanpa pengawalan dari Kyler selaku ketua tim. Lore tahu betul bahwa ada sebagian orang menerima klarifikasi yang dia berikan dengan tanggapan positif, ada pula oknum-oknum tertentu yang tidak menerima sama sekali.
Namun, apa peduli Loretta? Tentu saja dia tidak peduli. Masih tetap diterima baik, bahkan mendapat dukungan dari pihak PH saja merupakan hal yang membahagiakan bagi putri pengusaha ternama, Gilmer Collins. Bukan ketenaran atau karier gemilang yang ingin dia capai, apalagi upah yang didapat. Bukan tujuan Loretta sama sekali.
Jika hanya soal ketenaran, dia sudah memiliki itu sejak kecil dengan menggunakan nama besar sang ayah tanpa harus susah-susah membangun dari nol. Soal karier yang gemilang, dia bahkan menjadi satu-satunya pewaris takhta bisnis Collins. Soal upah? Bayangkan dan bandingkan saja gaji sebagai artis dengan pendapatan keluarga Collins yang tidak terhitung banyaknya. Lantas apa yang wanita itu inginkan? Bukankah sudah jelas kesenangan?
Dipasangkan dengan lawan main yang tampan dan berkharisma seperti Olsen adalah salah satu tujuannya. Loretta tahu betul bahwa pesonanya tidak mudah untuk diabaikan begitu saja oleh kaum adam mana pun.
“Apa kalian tuli? Aku tanya di mana pengawal sia*lan itu?” tanya Lore sekali lagi dengan suara agak keras.
Pantas saja si Revas muak melihatnya. Cantik tapi tidak beretika, nanti dulu, Nona.
Salah satu dari mereka membatin karena merasa kesal dengan sikap Loretta yang bossy dan kasar. Pengawal baru itu berpikir untuk meningkatkan stok sabar yang banyak dalam menjalankan tugas barunya.
“Maaf, Nona. Tetapi kami pun tidak tahu Tuan Revas pergi ke mana.” Salah satu dari mereka menjawab.
“Bukannya dia yang harus memberikan perintah dan mengarahkan kalian? Kenapa dia tiba-tiba menghilang?” tanya Lore sekali lagi.
“Kalau soal itu … benar, Nona. Kami memang sudah diperintahkan langsung untuk mengawal Nona hingga selesai dan akan mengawal Nona kembali ke mansion. Tapi kami tidak tahu ke mana Tuan Revas. Itu sudah bukan urusan kami, Nona.” Pengawal yang sempat membatin tadi menjelaskan.
“Jadi kau mau mengajari aku soal privasi?” Tatapan Lore berubah tajam dan angkuh.
“Tidak juga, Nona–”
“Sudahlah, Sayang. Kenapa kau berdebat hanya soal pengawalmu itu? Kau tidak merindukan dia, bukan?” canda Lynette menengahi perdebatan itu.
“Aku rasa kau masih cukup waras. Gunakan sisa-sisa kewarasanmu itu dengan baik, Lynette.” Loretta mendengus kesal dengan lirikan sinis sembari merogoh ponsel dari dalam tasnya. Dia pun meminta dua pengawal itu supaya menunggunya di luar saja.
__ADS_1
Wanita angkuh itu kemudian tampak ingin menghubungi seseorang, tetapi gerakan itu terbaca oleh Lynette dan digagalkan secepat mungkin.
“What the f*uck? Kembalikan, Lynette. Jangan membuatku marah!” peringat Lore.
“Lupakan! Kita sedang menunggu–”
“Selamat siang, Nona Collins dan ….” Wanita yang baru saja masuk di ruangan itu menjeda kalimatnya karena bingung harus memanggil manajer dari artis yang dipakai PH mereka seperti apa. Dia juga merupakan orang yang tengah dinantikan oleh Lore dan managernya.
“Miss Lynette,” jawab yang bersangkutan. Sementara itu, Loretta hampir saja terbahak kala mendapat lirikan tajam dari manusia setengah pria dan setengah wanita itu.
“Ah, ya. Miss Lynette. Maaf sedikit terlambat datang kemari,” lanjut dia yang tiba-tiba masuk menginterupsi perdebatan Lore dan managernya.
Wanita itu kemudian mengambil sebuah map dan memberikan kepada Lore. Loretta menerima lalu membuka dan mendapati sehelai kertas di dalam sana. Dia kemudian membaca baris demi baris yang tertulis di sana secara teliti. Beberapa detik kemudian wajah lore tampak memerah seolah menahan marah.
“Apa-apaan ini?” tanyanya seraya menutup map dan bangkit berdiri. Melihat itu, Lynette refleks menarik map dari tangan Loretta lalu membaca isinya. Dia pun ikut tak percaya tetapi tidak dapat berkomentar.
“Maaf, Nona. Itu sudah keputusan langsung dari sutradara dan disetujui pihak produser eksekutif,” jelas wanita cantik yang merupakan salah satu kru dari film yang dibintangi Lore.
Dari sisi ruangan yang lain, sepasang mata mengantarkan langkah Lore dengan senyum puas.
“Jangan dulu merasa menang, Nona Collins. Ini baru permulaan. Satu per satu keangkuhanmu akan aku lumpuhkan dengan perlahan.” Seseorang berucap santai sambil memutar gelas di tangannya.
...***...
“Ba*jingan! Si*alan! Mau apa mereka sebenarnya? Berani-beraninya mempermainkanku seperti ini? Kenapa tidak didepak saja sekalian?” maki Lore saat sudah berada di dalam mobil. “Tapi … tidak masalah. Masih satu projek dengan Olsen.” Lore tersenyum smirk.
Mobil belum bergerak dan tiba-tiba saja seseorang datang hendak membuka pintu mobil dari arah bangku duduk Loretta, tetapi dicegah oleh seseorang. Loretta maupun Lynette terkejut dan menoleh ke luar menyaksikan Kyler tengah menghajar seseorang. Keduanya menoleh lagi ke belakang dan mendapati tiga pengawal juga sedang melakukan hal sama dengan yang dilakukan Kyler.
Loretta tampak sedikit takut dengan pikiran yang mulai kacau menebak-nebak musuh dari mana datangnya. Namun, Lynette malah bersorak sembari menyemangati Kyler dan kawan-kawannya.
__ADS_1
“Iyes! Hajar terus … awas ada di belakangmu! Aaaakh …!”
Lynette menoleh hendak melayangkan protes pada Loretta yang dengan jahil mencubitnya begitu kuat. Namun, niatan itu tertahan saat melihat telunjuk Lore telah lebih dulu menempel di bibirnya, menyuruh dia untuk bungkam karena ada yang menelepon dengan nomor asing. Loretta menerima panggilan itu tetapi tidak berniat untuk bersuara. Dia ingin memastikan lebih dulu suara siapa di sebrang sana.
📲 “....”
📲 “Halo, bi*tch. Kau mengenal suara ini?”
📲 “....”
Loretta menggeram kesal karena tentu saja dia sudah hafal suara siapa yang sedang memakinya.
📲 “Kau marah? Bukankah tidak ada yang salah dengan panggilan itu, Nona Collins yang terhormat?”
📲 “Tutup mulutmu, wanita sialan! Jika aku mau, aku bisa menghancurkanmu saat ini juga. Sayangnya, waktuku terlalu berharga untuk hanya meladeni tikus kecil sepertimu. Kau tahu? Aku lebih senang menggunakan waktuku untuk … bermesraan dengan tunanganmu.”
Loretta tergelak di akhir kalimatnya membuat seseorang di seberang sana meradang.
📲 “Kau … wanita ja*lang, wanita murahan tidak tahu diri!”
Panggilan itu tiba-tiba diakhiri sepihak oleh seseorang di seberang sana. Loretta baru saja hendak memasukkan ponselnya kembali, pintu mobilnya sudah lebih dulu dibuka paksa oleh seseorang dan menariknya keluar dari mobil.
...🌻🌻🌻...
...Hay, hai. Maaf gaess, kemarin gak sempat update karena sibuk banget....
...Tolongin ritualnya yah 🙏 Like, komen, dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐ itu aja kok. Tolong yah, sayang-sayangku 💋...
...Dan jangan lupa untuk mampir juga di karya punya teman AG yang satu ini yah...
__ADS_1