
Bunyi dering ponsel terus saja memekik dalam ruang kamar Kyler. Namun, tidak ada pergerakan dari sang pemilik untuk menjawab panggilan tersebut. Berulang-ulang hal yang sama terjadi, tetapi tetap sama tak ada jawaban.
Detik berikutnya tidak terdengar lagi nada dering dari benda pipih persegi itu. Suasana hening dan tenang kembali tercipta selama beberapa menit hingga sebuah ketukan keras pada pintu kamarnya kini terdengar.
Tidak ada suara orang yang memanggil dari luar, hanya ketukan yang terdengar berulang kali. Namun, lagi-lagi masalah yang sama seperti bunyi dering ponsel tadi pun terjadi. Tidak ada respon sama sekali dari pemilik kamar tersebut, bahkan dia yang mengetuk mulai kesal sampai harus menggedor-gedor pintunya, pun tetap sama.
Dia yang masih setia berdiri di depan pintu itu tidak putus asa. Sebuah gantungan kawat yang mungkin saja sudah dia persiapkan sebelumnya, lalu digunakan untuk membuka pintu kamar tersebut. Tidak butuh waktu lama, kenop pintu mulai berputar dan akhirnya terbuka juga. Orang itu segera masuk dan mencari keberadaan sang pemilik kamar.
“Kemana orangnya?”
Suasana gelap membuat orang itu terpaksa mencari saklar untuk menghidupkan lampu. Tepat saat tangannya menekan benda tersebut dan ruangan seketika terang, saat itu juga sebuah moncong revolver berada tepat di pelipisnya.
“Ouw, ini aku, Big boss.”
“Lizzie, kau?”
Kyler pun langsung menurunkan tangan dan menyimpan kembali revolver miliknya. Setelah itu dia berjalan kembali ke arah tempat tidur, lalu meraih segelas air putih yang berada di atas nakas kemudian meneguknya hingga tandas.
“Kenapa kau sampai harus masuk ke sini?” tanya Kyler dengan wajah yang tampak masih mengantuk. Dia pun lalu merebahkan tubuhnya kembali.
“Maaf, Big boss. Dari tadi aku menelepon tidak ada jawaban jadi aku memutuskan kemari menggedor-gedor pintu tapi sama saja tidak ada yang menyahut jadi terpaksa aku menyelinap seperti ini,” jawab wanita bernama Lizzie.
“Never mind. Katakan ada apa?” tanyanya lagi.
“Dari tadi Gilmer menunggumu tapi sepertinya tidurmu terlalu nyenyak, Big boss.” Wanita itu berucap sembari melipat kedua tangannya di dada.
Mendengar itu Kyler terperanjat dan langsung melompat dari tempat tidur sembari menoleh pada jam dinding. Waktu Chicago telah menunjukkan pukul 8.35 AM . Kyler langsung bergegas ke kamar mandi tetapi dihalangi oleh Lizzie.
“Tidak usah terburu-buru, Big Boss. Ingatlah bahwa Gilmer selalu memaklumi dan memperlakukanmu berbeda dari para pengawal lainnya. Santai saja, Big Boss. Posisimu selalu aman,” ucap Lizzie.
Sejenak Kyler menoleh dan menatap wanita itu. “Ah, yah. Kau benar, Lizzie.”
Dia pun langsung kembali ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Wajahnya tidak dapat membohongi jika pria itu benar-benar lelah dan mengantuk.
__ADS_1
“Ada yang lain?” tanya Kyler dengan nada malas.
“Tentu saja. Aku kemari bukan hanya ingin membangunkanmu, Big boss.” Lizzie berjalan mendekat ke arah tempat tidur di mana Kyler berada. “Semalam Kenrich mengabariku jika dua orang anggota Red Devils telah menyusup ke Heaven Pub,” imbuh Lizzie.
“Dia tidak mengabariku?” Kyler mengangkat wajahnya dengan mata yang memicing.
“Tidak ingin mengganggu katanya. Dia minta padaku untuk memberitahu di saat yang tepat,” jelas wanita itu.
“Red Devils,” gumam Kyler. “Katakan pada Ken tahan mereka dan selidiki dengan baik, jangan sampai ada rekan mereka yang lainnya! Aku belum bisa kembali. Tapi aku akan menghubunginya nanti.” Kyler pun bangkit dan melangkah ke arah jendela.
“Pergilah, jangan sampai ada yang melihatmu!” titah Kyler sembari mengintip keluar dari balik tirai. “Aku harus bersiap-siap menemui gilmer,” sambungnya.
“Baiklah, Big boss. Semoga harimu menyenangkan.”
Usai berkata demikian, Lizzie langsung bergegas keluar dengan mengamati sekitar. Begitu dirasanya aman, dia pun secepat kilat menghilang dari sana. Setelah kepergian Lizzie, Kyler sendiri bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menemui Gilmer.
Tiga puluh menit berlalu dan Kyler kini sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Gilmer. Pria itu terlihat tampan dengan pakaian non-formal karena tidak ada agenda mengawal Loretta hari ini. Celana jeans panjang berwarna biru dengan kaos oblong berwarna silver lengan panjang membuatnya terlihat berbeda dari biasanya.
“Tuan sedang menunggu Anda di gazebo belakang. Mari saya antarkan,” ucap seorang pelayan.
Kyler menoleh dan mendapati Lizzie di sana. Pria itu mengangguk tanpa kata dan mengikuti langkah Lizzie yang merupakan salah satu pelayan di bagian dapur. Kyler berjalan sambil melirik ke samping kiri dan kanan. Begitu memastikan tidak ada orang yang melihat mereka, dia pun lantas bertanya dengan suara pelan hampir berbisik dan tetap pada jarak aman dengan Lizzie.
“Apakah di dapur ada pelayan yang bertugas memantau saat malam hari?”
Lizzie pun lantas melirik ke samping kiri dan kanannya memastikan hal yang sama seperti Kyler lakukan tadi.
“Ya, benar. Ada masalah?” Lizzie menjawab sekaligus bertanya.
Kyler menggeram kecil. “Kenapa kau tidak memberitahuku soal itu? Pantas saja aku diserang.”
“What?” pekik Lizzie. Seketika Kyler bergerak membungkam mulutnya menggunakan kedua tangan sambil melihat sekitar mereka.
“Kontrol ekspresimu. Apa kau ingin agar kita ketahuan sekarang?” Kyler sedikit kesal.
__ADS_1
“Maaf, aku kelepasan dan juga lupa akan hal itu. ” Keduanya kemudian kembali pada posisi semula. “Tapi setahuku tidak ada yang bertugas semalam. Kepala pelayan hanya mengontrol jam dua belas setelah itu tidak ada lagi.”
Penjelasan itu membuat langkah Kyler seketika terhenti. Dia menatap Lizzie penuh tanda tanya. Pria itu ingat betul bahwa dia melewati area dapur sekitar jam 2.25 PM.
“Kau tidak salah? Jadi siapa yang menyerangku semalam? Beberapa hari di sini, aku cukup untuk mengenali wajah-wajah para pelayan dan semua pengawal. Tapi wajah itu ….” Kyler tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa, Big boss? Wajah siapa?” Lizzie bingung.
“Wajah yang kulihat semalam itu tidak asing, Lizzie. Mungkinkah ada orang baru di sini selain aku?” Kyler sangat penasaran.
“Tidak ada. Mungkin saja kau salah mengenalinya, Big boss.” Lizzie menjawab sambil sedikit berpikir.
“Lupakan dan cukup sampai di sini saja. Aku akan ke sana sendiri,” pinta Kyler dan mereka pun berpisah.
Sedikit lagi dia tiba di tempat yang ditunjukkan Lizzie, matanya tidak sengaja menangkap sosok perempuan yang melintas di sana. Sekilas wajahnya terlihat membuat Kyler seakan mengenali.
Tidak menunggu lama, dia langsung berlari mengejar langkah perempuan itu tetapi sia-sia. Entah bagaimana caranya dan lewat jalan mana, sosok tersebut menghilang dengan sangat cepat. Kyler menggerutu karena kehilangan jejaknya.
“Si*al! Siapa dia sebenarnya. Mungkinkah dia orang yang semalam menyerangku? Aku yakin aku mengenalnya.”
...🌻🌻🌻...
...TBC....
...Hai, hai ... ketemu lagi 👋 Jangan lupa ritualnya yah 😘 Cukup like, komen, dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐...
...Jangan lupa untuk mampir juga di karya teman otor di bawah ini yah 👇 Makasih ❤️❤️❤️...
...
...
__ADS_1