
Saat ini, Kyler dan Loretta tengah berada di ruang kerja Gilmer, ayah Loretta. Mengetahui sang putri yang ingin mengajak Kyler keluar, Gilmer lebih dulu memanggil keduanya terutama Kyler, lalu memaparkan sederet aturan dalam bertugas.
“Ingat, Kyler! Ikuti dia ke manapun, 1x24 jam setiap harinya selama 2 bulan ke depan. Jangan sampai kau lengah sedikit pun!” titah Gilmer yang kemudian disanggupi Kyler. Ya, Kyler menandatangani kontrak kerja dengan limit waktu dua bulan saja.
“Baik, Tuan!” jawab Kyler dengan tegas. “Tapi bolehkah saya meminta satu hal?” Tampaknya ia hendak melakukan sedikit negosiasi.
“Tentu saja. Selama itu berkaitan dengan tugasmu dan untuk kenyamanan putriku, kenapa tidak? Katakan, apa yang kau inginkan?” Gilmer sedikit memicingkan matanya menatap sang pengawal.
“Saya rasa ini butuh kerja sama tim, Tuan. Sebab itu, saya butuh beberapa orang dalam bekerja. Ah, sebenarnya ini tidaklah sulit, hanya saja kenyamanan Nona Collins lebih penting.” Melirik sekilas pada Tuan Putri yang berdiri tepat di sampingnya. “Apalagi di tempat yang ramai, mengingat Nona Collins adalah seorang publik figur,” imbuh Kyler.
Gilmer terdiam beberapa saat sambil memikirkan permintaan Kyler. Posisinya yang sedang duduk kala itu, membuat iya sedikit mendongak menatap wajah pria muda yang kini menjadi pengawal pribadi putrinya.
“Boleh juga idemu, Kyle. Seharusnya ini sudah lebih dulu aku pikirkan sebelum mendatangi Noco Miles.” Gilmer bangkit dari kursi kebesarannya lalu mendekat pada Kyler. “Jadi, kau butuh tambahan berapa anggota? Apakah mereka harus berasal dari Noco Miles atau para pengawal di sini saja?” tawar Gilmer.
Tanpa menunggu lama, Kyler langsung menjawab dengan yakin. “Saya rasa, akan jauh lebih baik jika itu adalah anggota dari Noco Miles, Tuan. Maksud saya–”
Gilmer berdiri dan mengangkat tangan, meminta Klyer menghentikan ucapannya. Sang pengawal itu sempat tertunduk dengan kedua mata terpejam, mengira apa yang dia katakan tidak diterima baik oleh majikannya. Namun, ucapan Tuan Besar Collins selanjutnya, membuat Kyler kembali membuka mata, lalu menghirup udara di sekitarnya dengan tenang.
“Aku tahu yang kau pikirkan, Kyle.” Mendekat pada Kyle, lalu menepuk pelan pundak laki-laki itu. “Lakukan! Aku percaya padamu.”
Satu sudut bibir Kyle sedikit tertarik ke atas, membentuk segaris senyum samar. Samar sekali, bahkan hampir tak terlihat. Sementara itu, Loretta hanya bisa memutar bola matanya, antara malas dan tidak percaya jika sang ayah begitu cepat percaya pada orang asing.
Sihir apa yang dia berikan pada daddy? Belum pernah ada bodyguard yang kerja di sini bertahun-tahun, mendapat kepercayaan seorang Gilmer Collins. Kenapa dia begitu mudah?
Loretta melirik sinis laki-laki di sebelahnya, sedangkan Kyle bersikap acuh dan tidak peduli sama sekali dengan respon kliennya itu.
“Baik, Tuan! Terima kasih atas kepercayaannya,” ucap Kyle menyambut baik izin yang diberikan padanya.
Gilmer tersenyum sambil mengangguk-angguk kepala, lalu mendekat pada putrinya.
__ADS_1
“Kau ingin pergi, bukan? Pergilah! Kau akan aman bersama pengawalmu.” Lelaki berusia senja itu kemudian meminta keduanya untuk segera meninggalkan ruang kerjanya.
Setelah beberapa detik kepergian sang putri dan pengawalnya? Gilmer berjalan ke arah jendela dan memantau pergerakan dua orang tersebut. Mata tua itu mengantarkan keduanya masuk di mobil, diwarnai dengan sedikit drama sepertinya. Ia pun terkekeh kecil.
“Dia pasti kesal diikuti seperti itu,” gumam Gilmer dengan senyum. “Entah mengapa, aku begitu menyukai pemuda itu sejak pertama kali melihat sorot matanya. Mata itu tidak asing, seakan mengingatkanku pada seseorang.”
Pria setengah abad itu menggelengkan kepala, saat pikirannya gagal menggali beberapa kenangan yang terlintas samar. Pandangannya masih tertuju pada mobil mewah yang dikendarai Kyler saat itu, hingga baru terlepas saat mobil menghilang di balik gerbang besar.
...***...
“Stop!” ucap Loretta dengan tegas.
Seseorang yang duduk di depannya tepat di belakang kemudi, sama sekali tidak menggubris. Wajah datar dengan tatapan setajam elang itu, terlihat tenang dalam diam dan lebih fokus dalam menyetir. Ocehan Loretta sepanjang keluar dari kediaman Collins, seolah terbawa angin, hingga tidak sempat masuk ke telinganya.
“Apa kau tuli? Aku bilang berhenti, Si*alan!” pekik Loretta sambil menendang jok pengemudi. Si cantik itu sudah kepalang kesal terhadap sang pengawal yang begitu betah dalam diamnya.
What the fu*ck! Berani sekali dia menatapku seperti itu. Kenapa dia tiba-tiba menyeramkan? Tidak, tidak! Daddy salah memilih orang. Aku harus memberitahukan padanya.
Ia membatin sambil melirik-lirik takut pada pengawalnya. Beberapa menit kemudian, Lore menduga bahwa lelaki aneh di depannya itu tidak akan bersuara, ia pun berinisiatif memberitahukan kemana tujuan mereka. Benar saja, pengawal itu pun memang sedang menunggu perintah sang majikan.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah gedung mewah nan megah, merupakan sebuah perusahaan besar dan ternama di pura the Windy City. Kyler dengan sigap keluar, lalu membukakan pintu untuk Loretta. Setelah menutup pintu, ia pun mengikuti langkah wanita yang menjadi kliennya tersebut.
Namun, baru tiga langkah, Kyler tiba-tiba berhenti di tempatnya dengan kepala yang sedikit ditarik ke belakang.
“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Lore yang mendadak berbalik.
Tanpa membalas atau menjawab pertanyaan sang klien, Kyler mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkuk, mempersilahkan wanita cantik itu untuk kembali berjalan. Jelas ini membuat Loretta geram.
“Aku akan masuk ke dalam sana dan itu tanpa dirimu!” Lore menekan setiap perkataannya dengan gigi yang bergemeletuk.
__ADS_1
Kyler tidak bereaksi apa-apa kali ini dan tetap diam. Begitu Lore melangkah, ia pun turut melangkah. Sekali lagi keduanya berhenti secara tiba-tiba dengan Lore yang langsung berbalik dan hendak melayangkan tangannya di wajah Klyer.
Namun, sebelum hal itu terjadi, Kyler lebih dulu menghindar sehingga yang terjadi malah kesialan bagi Loretta. Wanita itu menampar angin dan tidak memiliki keseimbangan yang baik, hingga membuatnya hampir saja terjatuh. Tidak kaget ataupun merasa lucu, ekspresi datar Kyler yang selalu dominan dan itu menjengkelkan di mata Lore.
“Kau–”
“Lore,” sapa seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah lobi.
Mengenal suara itu, Lore berbalik dan langsung tersenyum melupakan kekesalannya pada sang pengawal. Ia pun menyambut seorang pria tampan yang diduga pemilik perusahaan tempatnya berdiri. Dua orang itu kemudian saling berpelukan sewajarnya.
“Ada apa kau kemari? Kenapa tidak beritahu terlebih dulu, hm?” tanya pria itu lembut.
Sebelum menjawab, Lore sempat menoleh pada Kyler. “Ada yang ingin aku bicarakan dan ini penting, tapi tidak di sini, Damian.”
Lelaki yang dipanggil Damian, menoleh pada Kyler dengan kening yang mengerut. Dalam hati ia maresa belum pernah menemui pria itu sebelumnya.
“Siapa orang itu?” tanya Damian. Aura ketidaksukaan terdeteksi netra hazel milik Kyler.
“Ah, dia pengawal baruku.” Loretta maju, lalu lebih mendekat seolah ingin mencium pipi Damian, tapi yang sebenarnya ia hendak berbisik, “Bantu aku menyingkirkan dia,” imbuh Lore dengan sebuah kecupan manis pada akhirnya.
...☘️☘️☘️...
...Hai, ketemu lagi 👋 Jangan lupa ritual yah...
...Sampai jumpa di episode berikutnya 💋...
...Oh, ya ... mampir juga di karya temanku yang satu ini yah 👇...
__ADS_1