
Suatu hari Viona pergi bersama Wisnu ke sebuah pusat perbelanjaan.
drt drt..
ponsel Wisnu berdering.
"Sayang, kamu belanja dulu saja. aku mau angkat telpon dulu, kamu pakai kartu ini." Wisnu memberikan kartu gold kepada Viona.
namun dia menolak, sebenarnya dia juga punya kartu yang sama. namun dia memilih untuk tidak lagi menggunakan uang dari keluarganya sendiri, dia lebih menikmati uang hasil keringatnya sendiri meski sedikit tapi dia sangat bahagia....
Banyaknya uang tidak akan menjamin kebahagiaan
karna kebahagiaan tidak akan bisa di beli dengan harta
Viona mengangguk dan melanjutkan belanja, akan tetapi saat viona hendak membeli beberapa kebutuhan dapur, tiba-tiba saja pundaknya di tepuk oleh seseorang.
"Viona anak ku." lirih seorang wanita.
Seketika wajah ceria Viona menjadi muram
saat mendapati ibundanya yang berada tepat di depan mata.
"Anda salah mengenali orang nyonya. maaf, saya permisi." Viona hendak melangkah pergi, akan tetapi sang ibunda lebih dulu meraih lengan Viona, berharap sang anak tidak meninggalkan dirinya.
"Maaf, nyonya. saya masih banyak urusan, jadi jangan halangi langkah saya." cetus Viona dengan rasa rindu yang berusaha dia tahan.
"Jangan bicara seperti itu nak, bagaimana pun kamu masih anak ku. mari kita bicara sebentar nak, ibunda merindukan kamu.."
__ADS_1
"Hahaha merindukan aku? masih pantaskah aku dirindukan oleh anda nyonya? humor anda terlalu tinggi." Viona tak perduli dengan tangisan ibundanya.
"Viona, apakah benar desas-desus di media bahwa lelaki yang bersama kamu itu adalah suami dari kakakmu sendiri?."
Mendengar ucapan sang ibunda membuat hati viona panas dan seketika dia meluapkan emosi.
"Kakak? maaf nyonya saya di dunia ini tidak mempunyai orang tua apalagi seorang kakak. itu hanya mimpi bagi saya." ucap Viona dengan menahan rasa sakit yang seolah menusuk hati dan menghentikan aliran darah di tubuhnya.
kesakitan yang Viona rasakan merubah semua kelembutan di hatinya
kekerasaan yang selama ini di alami membuatnya menjadi wanita yang tak takut akan air mata
ketidak adilan yang dia terima
menjadikan dia pribadi yang kuat.
"Kenapa kamu bisa sejahat ini nak? itu tidak baik sayang ." jelas sang ibunda dengan meraih tangan Viona.
Sang ibunda seketika bungkam dan hanya bisa mengingat saat-saat yang lalu
diri Viona terdapat luka lebam yang di sebabkan oleh sang suami
yang sering kasar pada Viona saat naisya sedikit terluka.
bahkan Viona sempat di rawat karna luka pada bagian kepala
yang di sebabkan oleh suaminya yang dengan sengaja mendorong Viona hingga kepalanya mengenai meja.
__ADS_1
semua itu pun di sebabkan oleh Naisya yang sedikit terluka karna ulahnya sendiri
tapi sang ayah lagi-lagi menyalahkan Viona atas segala hal yang tidak dia perbuat.
Viona berjalan tanpa menghiraukan sang ibunda yang menangis meratapi kepergian dirinya.
tak lama Wisnu menghampiri Viona yang terlihat sangat sedih.
"Sayang, kamu kemana saja? aku mencarimu dari tadi." Wisnu mendekati Viona
saat viona menatapnya, wisnu terkejut mendapati Viona yang tengah menangis...
"Biarkan aku memeluk mu sebentar saja." Viona memeluk Wisnu dan meluapkan air mata di bahunya.
Wisnu kebingungan dengan sikap Viona yang secara tiba-tiba menangis tanpa ada sebab yang dia ketahui.
"Katakan padaku kamu kenapa sayang?." Tanya Wisnu.
"Bolehkah aku tidak menceritakan hal ini kepada mu? aku belum siap. bawa aku pergi dari sini." pinta Viona.
Wisnu mengangguk dan menggandeng tangan Viona, mereka pun kembali ke rumah singgah mereka.
meski ada rasa penasaran di hati Wisnu
namun dia memilih untuk menenangkan Viona dan mencoba mengendalikan diri untuk tidak mencari tau semua yang terjadi.
mungkin Biona tak ingin masalahnya di ketahui oleh Wisnu saat ini.
__ADS_1
Wisnu hanya bisa menemani dan memeluknya tanpa tau semua hal yang membuat Viona menjadi sesedih ini.
Wisnu pun membiarkan Viona tetap berada di pelukannya, mungkin dengan begini rasa sakit yang Viona rasakan akan sedikit berkurang.