
Sahabat selamanya.....
Hari-hari viona kini di sibukkan dengan diri wisnu yang semakin hari semakin membuatnya meleleh....
sifat manja wisnu terhadap dirinya membuat Viona tidak dapat pergi kemana-mana, meski hanya sekedar bertemu teman.
saat mereka tengah sarapan, Viona memberanikan diri untuk berbicara pada Wisnu.
"Bolehkah saya pergi bersama Amel?sekedar jalan-jalan melepas lelah." lirih Viona.
"Memangnya kamu tidak bisa melepas lelah bersama ku? aku akan menemani kamu kemana pun kamu mau." jelas Wisnu tanpa menghiraukan Viona.
"Tapi, aku....."
Viona menundukkan kepala, dia tau bahwa Wisnu tidak akan mengijinkan dia pergi begitu saja.
hanya perasaan kecewa di hati Viona saat ini.
dirinya ingin sekali bertemu dengan Amel
tapi apa boleh buat jika tuan pengatur(wisnu) tidak memperbolehkan dia pergi....
__ADS_1
"Baiklah jika kamu tidak mengijinkan. aku permisi, sudah kenyang..." Viona meninggalkan Wisnu.
Wisnu tertawa geli melihat wajah Viona yang muram...
"Dasar kutu, masih saja seperti dulu. membuatku semakin menyayangi kamu.." lirih Wisnu dengan bergegas menghampiri Viona
"kamu marah?." tanya Wisnu dengan menghempaskan tubuhnya.
"Tidak...!" Cetus Viona.
"Hahaha...wajah mu seperti ini masih bilang tidak marah. baiklah, kamu boleh pergi. tapi ingat jangan pergi terlalu lama....." Wisnu meraih buku yang berada di atas meja tanpa melihat ekspresi wajah Viona.
" Hemmmm...!"sahut Wisnu.
"Yey.....baiklah aku pergi dulu, emuah."
sangking senangnya Viona mengecup pipi Wisnu dengan melangkah pergi.
Wisnu menggelengkan kepala melihat tingkah Viona yang membuatnya tersenyum bahagia....
Viona pun menghubungi Amel untuk menemuinya di sebuah taman favorit mereka, Viona menunggu di sebuah kursi yang berada di taman dengan mencari-cari keberadaan Amel.
__ADS_1
"Sudah lama kamu disini Vio?" Amel menepuk pundaknya.
"Belum begitu lama, tapi lumayan pegel juga sih...hehe"
"Mel aku mau membuat pengakuan tentang siapa diriku sebenarnya, setelah kamu mendengar ini aku siap jika kamu membenci diriku." Viona meraih tangan Amel dengan mata yang menatap penuh keyakinan.
"Sebenarnya aku bukan yatim piatu, aku terlahir di keluarga firma. kehidupanku memang berkecukupan bahkan lebih, tapi nyatanya aku tidak mendapat tempat di keluarga itu, mereka selalu menyalahkan aku atas kesalahan yang sama sekali tidak aku perbuat...mereka hanya menyayangi anak pertama mereka. sedari kecil aku sudah kenyang dengan siksaan-siksaan dari tuan firma. akhirnya ada suatu kejadian dimana anak pertamanya mengeluh kesakitan dan menuduhku menyakiti dirinya, hingga membuat ku di usir keluar dari rumah ku sendiri. dan yang lebih menyakitkan saat itu adalah aku pergi tanpa uang dan pakaian. hingga aku bertemu dengan bibi mu...maafkan aku mel telah menyembunyikan semua ini dari kamu!!!" jelas Viona.
"Astaga Viona.... jadi sekejam itukah kehidupan kamu sampai kamu menutupi segala kenyataan yang ada, dan memilih untuk hidup dalam kemiskinan seperti ini? Vio aku berjanji tidak akan menyakiti kamu seperti mereka yang tega memperlakukan kamu sepeti sekarang!!" Amel memeluk Viona dengan meneteskan air mata.
"Kamu tidak kecewa padaku mel?" bisik Viona.
"Aku akan lebih kecewa padamu jika aku mendengar semua kenyataan ini dari orang lain! oh iya, jadi tuan narendra adalah...." Amel seketika bungkam dia takut perkataannya akan menyakiti hati sahabatnya.
Viona mengangguk....
"Benar! dia adalah kakak ipar ku. tapi aku sudah buta dan tuli karna terpesona dengan kelembutan dan cinta yang dia berikan kepadaku.huh.... aku benar-benar jahat ya mel?." Viona menangis dalam pelukan sahabatnya.
"Jika soal hati aku no komen deh, tapi jadilah kuat dengan apa yang pernah kamu alami vio! aku akan selalu mendukung semua keputusan mu, yakinkan dirimu dan ingat kamu pantas bahagia maka carilah kebahagiaan itu. kita akan menjadi sahabat selamanya."
Amel mencoba menenangkan diri Biona yang tengah menangis di pelukannya.
__ADS_1