
"Hallo Clar, Aku sedang di luar ini" kata Ferdi dari seberang telpon.
"Kamu di luar mana? langsung masuk saja, bilang saja pada satpam kalau kamu temanku, sekarang aku tunggu di depan" Kata Clarisa.
"Oke" Kata Ferdi dan sambungan telpon pun terputus.
-Ferdi-
"Jantungku kenapa tidak bisa diajak kompromi sekali" kata Ferdi.
Sedari tadi tangan dan kakinya gemetar setiap kali mengingat bahwa hari ini dia akan bertemu Clarisa dan keluarganya.
Sesampainya tepat di depan rumah Clarisa. Ferdi langsung disambut Clarisa. Clarisa tersenyum ramah menyambutnya. Namun selang beberapa detik, terdengar Clakson mobil yang tak lain adalah mobil Jackson. Clarisa mengeryit heran. Seingatnya dia tidak pernah membuat janji dengan Jackson. Jackson keluar dari mobil nya dan langsung menghampiri Ferdi yang sedang menatapnya tidak suka.
"Ada apa kau datang kemari Jackson" kata Ferdi yang terlihat kesal.
"Ini rumah Clarisa, dan Clarisan temanku. jadi hak-hak aku mau datang kesini atau tidak. itu bukan urusanmu" kata Jackson sambil menepuk bahu Ferdi
"Tapi aku yang pertama kali datang kesini, jadi aku harap kamu pulang saja Jackson. kamu sungguh mengganggu" kata Ferdi
"Kenapa kamu PD sekali. Aku bahkan tidak pernah berpikiran untuk mengganggu KENCAN kalian. Aku kesini hanya ingin mengantarkan ini" kata Jackson seraya menyerahkan switer Clarisa yang terkena darah Clarisa sebelumnya namun sekarang terlihat bersih.
"Makasi je" kata Clarisa.
"Je? kamu mamanggil Jackson je?" tanya Ferdi bingung.
"Sama-sama Ca" kata Jackson dengan mata menggoda
Ferdi yang melihat itu merasa kesal sekali. Dia marah, karena ternyata Jackson sudah sedekat itu dengan Clarisa bahkan sudah memiliki panggilan akrab masing-masing.
"Aku tidak boleh kalah. Kamu bisa saja mempunyai panggilan sayang dengan Clarisa. Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu mendapatkan hati Clarisa" kata Ferdi dalam hati dengan tangan mengepal karena marah.
__ADS_1
Jackson melirik Ferdi. dia merasa senang melihat Ferdi kesal seperti itu.
"Ca, aku pulang dulu ya" kata Jackson lalu berpamitan juga pada Ferdi kemudian berlalu pergi dari sana.
"Fer, masuk yuk" kata Clarisa dan dibalas anggukan Ferdi. sesampainya mereka di ruang tamu. Ferdi langsung dipersilahkan duduk.
"Fer, mau minum apa?" tanya Clarisa.
"Apa saja Ra" kata Ferdi.
"Ra?" tanya Clarisa dengan alis sedikit terangkat.
"Iya, aku juga ingin mempunya nama panggilan khusus buat kamu seperti Jackson" kata Ferdi.
"Haha, ada-ada saja kamu. Ya sudah terserah kamu saja. Aku ambilkan minum dulu ya" kata Clarisa dan berlalu meninggalkan Ferdi menuju dapur.
-Jackson-
"Hahaha, lucu sekali wajah Ferdi tadi, ternyata dia benar-benar menyukai Clarisa" kata Jackson seraya tertawa keras namun sesaat langsung sirna. Ada perasaan kesal ketika dia mengingat bahwa Clarisa dan Jackson sedang berdua. Dia langsung memutar balikkan mobil dengan kecepatan tinggi dia mengendarai mobilnya menuju ke rumah Clarisa lagi.
"Sebentar, nanti kalau mereka bertanya kenapa aku kesana lagi, aku harus jawab apa? ahh, Aku punya ide" kata Jackson dan langsung memberhentikan mobilnya.
Tutttt Tuuttt
"Hallo je, ada apa?" Tanya Clarisa dari seberang telpon
"Tolong aku ca, kepalaku tiba-tiba pusing sekali. Sekarang aku sedang dipinggir jalan. sepertinya aku tidak bisa melanjutkan menyetir mobil" kata Jackson dengan suara dibuat-buat
"Kamu dimana Je? sekarang aku dan Ferdi akan kesana menjemputmu" kata Clarisa panik
"Ti-tidak ca. Aku tidak ingin merepotkannya. Apakah tidak bisa jika kamu saja yang datang kesini?" kata Jackson
__ADS_1
Clarisa yang sudah sangat panik saat itu langsung mengiyakan permintaan Jackson. Dia meminta izin pada Ferdi untuk keluar sebentar, namun Ferdi beersikeras untuk mengantar Clarisa. Clarisa yang memang tidak pandai menolak akhirnya mengiyakan. Mereka pergi berdua menuju lokasi Jackson. sesampainya di lokasi, Clarisa langsung turun dari mobil setengah berlari menuju Jackson. Dia melihat Jackson sedang terkulai lemas dengan kepala diatas setir mobil.
Seperti sungguhan. Jackson sangat pandai sekali berpura-pura. Bahkan Clarisa dibuat begitu panik melihatnya.
"Je" kata Clarisa sambil menepuk pipi Jackson pelan.
Namun Jackson pura-pura tidak merespon agar actingnya terlihat begitu natural. Clarisa pun menepuk pipi Jackson menjadi lebih keras sehingga suara tangan dan pipi Jackson yang bersentuhan terdengar cukup keras.
"Aw" Kata Jackson langsung terbangun dan memegang pipinya.
"Hahaha" tawa Ferdi yang sejak tadi melihat adegan itu lepas seketika. dia sangat yakin bahwa Jackson tidak mungkin sakit semudah itu. Tapi karena melihat Clarisa yang begitu khawatir. dia pun mengiyakan permintaan Clarisa dan mengikuti alur rencana Jackson.
"Sial, kenapa Kamu ketawa?" kata Jackson menatap Ferdi sinis.
"Je, apa kamu baik-baik saja?" tanya Clarisa lalu memegang dahi Jackson. jackson yang tersadar pun langsung pura-pura sakit lagi. Dia memegang kepalanya dan berakting seperti sedang sakit kepala. Ferdi yang melihat itu hanya menggeleng melihat tingkah konyol sahabatnya.
"Ternyata Jackson menaruh hati pada Clarisa. dan sepertinya Clarisa juga seperti itu. Apakah aku harus mundur saja" gumam Ferdi. Hatinya begitu sakit melihat kedekatan Jackson dan Clarisa. Namun dia juga berharap Jackson dapat move on dari masa lalunya. dia tidak ingin egois. Namun dia juga tidak menyukai Clarisa.
"Fer, ayo bantu aku memindahkan Jackson" kata Clarisa memecahkan lamunan Ferdi
"Ohh iya ca" ferdipun langsung membopong Jackson dan memindahkannya kesisi mobil yang lain.
"Sial, kenapa harus dia yang bantuin aku" gumam Jackson pelan namun didengar Ferdi. Ferdi hanya tersenyum menanggapi perkataan Jackson. Dia pun dengan sengaja melepaskan pegangan tangannya, sehingga Jackson jatuh tersungkur dan kepalanya sedikit terbentur di jendela mobil.
Jackson ingin sekali mengumpat. Namun dia mengingat Clarisa. Dia tidak ingin Clarisa membencinya karena telah berbohong. "Sungguh akting yang sangat bagus Jackson." Kata Ferdi pelan sehingga hanya bisa didengar Jackson.
"Sudah Fer? kalau begitu biar aku saja yang mengantar Jackson pulang. terima kasih banyak ya fer" kata Clarisa lalu masuk ke mobil Jackson duduk di depan kemudi.
"Apa kamu tidak mau aku antar, nanti kamu pulang dengan siapa?" tanya Ferdi.
"Tidak perlu Fer, nanti aku akan meminta supir ku untu menjemput. Kamu pulang saja. Nanti Jackson aku yang urus. Terima kasih banyak ya" kata Clarisa dan kemudian melajukan mobil Jackson menuju rumahnya sesaat setelah Ferdi mengiyakannya.
__ADS_1
Jackson tersenyum senang penuh kemenangan. Dia sangat bahagia karena Clarisa lebih memilihnya daripada Ferdi. Clarisa melihat Jackson tersenyum. Dia hanya menggeleng melihat tingkah kekanakan Jackson. Dia sudah tahu bahwa Jackson hanya berpura-pura ketika melihat reaksinya saat dipindahkan Ferdi tadi.
"Kita lihat saja sampai sebatas mana kamu akan bertahan untuk berpura-pura" kata Clarisa dalam hati sambil mengulas senyum jahil.