Petualangan 7 Member BTS Di Pulau Tak Berpenghuni

Petualangan 7 Member BTS Di Pulau Tak Berpenghuni
Part 14. Kelicikan V Kepada Kedua Gundik Kepala Suku


__ADS_3

Mereka bertiga pun mulai lelah setelah berkejar-kejaran cukup lama. Hingga V sudah tidak tahan lagi, lalu berteriak keras,


"STOP....."



Lalu sambil menarik nafas panjang dia berkata,


"Tunggu! Tolong jangan mengerjar ku lagi. Aku akan memberikan kalian keturunan. Yah, keturunan yang tampan seperti diriku. Tapi bukan begini caranya. Kalau kalian membuat ku lelah seperti ini, bagaimana aku bisa melakukannya dengan baik." (Ujarnya sambil memikirkan sebuah cara licik untuk menghindari mereka)


Kedua gundik itu pun terdiam memikirkan perkataan V.



Kemudian kedua gundik itu berkata,


"Lalu apa yang harus kami lakukan?"


"Bisakah kalian membawa ku ke tempat yang indah di pulau ini? Agar suasana hati ku senang, dan aku bisa bersemangat memberi kalian keturunan." (Balas V)


"Cara macam apa itu? Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu disini."


"Itu adalah cara terbaik yang dilakukan oleh orang-orang di luar pulau ini pada umumnya, sebelum mereka memberikan keturunan pada istrinya. Dan aku akan mengajarkannya pada kalian berdua."


"Apa kau hendak menipu kami?"


"Agh,,, tentu tidak. Untuk apa aku melakukannya. Kepala suku sudah memberikan kalian berdua pada ku kan? Benar kan?"


"Mmm,,,, baiklah. Kami akan membawa mu ke tempat yang paling indah di pulau ini. Tapi setelah itu, kau harus memberikan kami keturunan. Paham!"


Maka mereka pun keluar dari kemah itu. Lalu tiba-tiba saja, Nam joon yang ingin buang air kecil, melihat mereka bertiga berpegangan tangan. Maka dia berteriak memanggil V,


"Hei V, kau mau pergi kemana dengan kedua wanita itu?"


V pun menoleh ke belakang dan berkata,


"Sssttt,,, jangan berisik."



"Hei, kenapa teman mu yang tinggi itu memanggil mu? Mau apa dia? (Tanya salah satu gundik)


"Mmmm,,,, (V mulai kebingungan untuk menjawab)


Agh,,, mungkin dia ingin memberikan selamat pada ku atas perkawinan ku ini. Tolong izinkan aku bertemu dengannya sebentar saja." (Balas V dengan terbata-bata)


"Baiklah. Pergilah! Tapi jangan lama! Paham!" (Balas salah satu wanita sambil menatapnya tajam)



V pun berlari menghampiri Nam joon yang sudah selesai buang air kecil di bawah pohon. Dia berkata,


"Aku mengajak mereka pergi, agar aku bisa tahu jalan keluar dari pulau ini. Aku berpura-pura ingin melihat pemandangan yang indah."


"Mmm,,, masa? Yang benar? Aku ga percaya. Jangan-jangan kau mengajak mereka pergi jauh, agar kalian bisa bebas kan? Dan kami tidak mendengar suara malam pertama kalian. Iya kan? Ayo, mengakulah!" (Balas Nam joon sambil melirikkan matanya pada V, untuk mengejeknya)

__ADS_1



"Hei! Kenapa kau lama sekali?" (Teriak salah satu gundik itu)


"Agh,,, sudahlah. Nanti saja aku jelaskan. Tapi singkirkan dulu pikiran kotor mu itu. Sudahlah! Mereka sudah memanggil ku. Jangan sampai nanti mereka melibasku dengan tombak di tangannya." (Ujar V lalu pergi meninggalkan Nam joon)


"Yah sudah sob. Hati-hati yah! Semoga beruntung." (Teriak Nam joon sambil melambaikan tangannya)


V pun meninggalkan Nam joon dan melanjutkan perjalanannya bersama kedua gundik itu. Selama di perjalanan, V selalu berupaya menyenangkan hati kedua wanita itu dengan kata-katanya yang konyol, agar mereka tidak curiga padanya. Belakangan kedua wanita itu pun merasa nyaman bersama V.


**********


Akhirnya mereka sampai di tepi pantai. Mereka memandangi indahnya pantai sambil menikmati segarnya udara dari laut. Lalu V bertanya,


"Apakah kalian pernah keluar dari pulau ini?"


"Apa? Keluar? Untuk apa kami keluar? Oh,,, atau jangan-jangan kau mau kabur yah dari kami, sehingga kau menanyakan hal itu?"


"Agh,,, tidak. Jangan salah paham. Untuk apa aku kabur. Sekarang aku sudah jadi pangeran kan? Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja." (Balas V yang mencoba menutupi niat liciknya)


"Oh,,, iya juga yah. Kau benar!


Kami tidak pernah keluar dari pulau ini. Hanya laki-laki saja yang pernah keluar dari sini. itu pun karena mereka mencari harta karun kami yang hilang dicuri."


"Bagaimana itu bisa dicuri?"


"Entahlah, kami juga tidak tahu."


"Memangnya dimana kalian menyembunyikan harta karun itu?"


"Apa kau tahu dimana tempatnya? (Tanya V)


"Aku tahu. Memangnya kenapa?"


"Aku ingin melihatnya. Aku sangat penasaran. Karena harta karun itulah kami bertujuh berada disini. Kepala suku dan yang lainnya berpikir bahwa kami lah yang sudah mencurinya. Padahal melihat harta karun saja kami tidak pernah."


"Hei, kita tidak bisa kesana. Jika kepala suku tahu, kita semua akan mati." (Ujar wanita yang lainnya)


"Agh,,, ayolah.... aku ingin melihatnya. Kalian tidak mau membuat ku bahagia? Ini demi keturunan kalian lho. Aku sudah bilang kan, aku akan bersemangat memberi kalian keturunan jika suasana hati ku bahagia." (Balas V sambil merengek)


V pun merengek tanpa henti di hadapan kedua wanita itu.



Hingga wanita itu akhirnya menyerah dan mengajaknya ke tempat rahasia itu.


Tak lama kemudian, mereka pun akhirnya sampai disana.


"Nah, ini dia tempat kami menyimpan harta karun nenek moyang kami."



"Memangnya seberapa banyak harta karun itu?" (Tanya V dengan polosnya)


"Harta itu sangat banyak. Ada banyak koin-koin emas, emas batangan dan batu-batu berharga disana. Harta itu ditemukan oleh nenek moyang kami yang pertama kali tiba di pulau ini. Ketika mereka menggali, dan akan membuat sumur, mereka menemukan harta itu terkubur disana."

__ADS_1



"Oh,, begitu yah.( Balas V sambil menggaruk-garuk kepalanya dan mulai berpikir)


Lalu dia berkata lagi,


"Kalian tunggu disini sebentar saja. Aku ingin kesana untuk buang air kecil."


V pun pergi menjauh dan berusaha mencari sebuah jalan agar bisa kabur dari suku pedalaman itu. Sembari terus berjalan, dia menemukan beberapa jejak kaki di tanah. Maka dia berkata dalam hati,


"Sepertinya, jejak kaki ini bukan jejak kaki mereka. Ini jejak kaki seseorang yang mengenakan sepatu. Pasti seseorang dari luar pulau ini datang dan mengambil harta karun itu. Mmm...kami bisa gunakan jejak kaki ini untuk kabur dari sini. kami akan ikuti jejak kaki ini."



Setelah itu, V kembali menghampiri kedua wanita itu, dan berkata,


"Sekarang aku sudah menemukannya."


"Apa yang kau temukan? Apa kau temukan hartanya?" (Ujar salah seorang gundik itu)


"Tidak. Tapi aku sudah menemukan kebahagiaan ku."


"Mmm.... itu artinya kau sudah siap melayani kami dan memberikan kami keturunan kan?" (Balas wanita itu sambil memegang tangah V dengan erat)


"Agh,,, bukan itu maksud ku." (Balasnya dengan gugup)


"Lalu apa? Jangan coba-coba mempermainkan kami yah! Jika tidak, ujung tombak ini akan menyentuh ginjal mu. Paham!" (Balas salah satu wanita itu sambil menghentakkan tombaknya ke tanah)


"Jangan! Jangan! Aku berjanji akan memberikan kalian keturunan, Tapi singkirkan tombak itu jauh-jauh dari ku." ( Balas V sambil merengek)



"Yah sudah! Jangan menangis lagi. Kau ini, bisanya hanya menangis dan merengek saja seperti anak kecil. Apa lagi mau mu? Cepat katakan!" (Teriak gundik itu)


"Aku mau pulang. Aku sangat lelah dan ingin tidur."


"Apa? Tidur? Lalu bagaimana dengan kami? Kapan kau akan melayani kami?"


Maka V pun semakin memperkuat suaranya menangis, hingga kedua wanita itu tak tahan dan membawa V pulang ke kemah.


Ketika mereka tiba di tepi pantai, Mereka melihat seorang pria berdiri disana.


Maka dengan penuh percaya diri, V memanggil pria itu. Dia berseru,


"Hei kawan!"


Maka pria itu segera berpaling dan memandang V sambil tersenyum manis.


V pun kaget setengah mati melihat pria itu. Karena mulut pria itu penuh dengan cairan berwarna merah seperti darah. Dia berteriak ketakutan dan hampir jatuh.


Dia berpikir bahwa pria itu telah memakan salah seorang temannya.



Maka dia bertanya kepada kedua wanita itu, apa yang pria itu makan. Kedua wanita itu pun menjelaskan bahwa pria itu menginang sirih seperti kebiasaan umum disana.

__ADS_1


__ADS_2