
Sementara pemimpin suku itu masih diam, salah seorang suku dalam yang menjadi tangan kanannya mendekatinya.
Dia berkata,
"Tuan, jika tampaknya baik dalam pandangan Tuan, lebih baik kita dirikan saja kemah untuk mereka ber-7, agar mereka bisa hidup terpisah dari kita untuk sementara waktu sampai mereka terbiasa dengan cara hidup kita disini. Mereka sangat ketakutan melihat kita."
"Yah, itu ide yang bagus. Maka perintahkan yang lainnya agar pergi ke hutan dan mencari kayu disana dan segeralah membangun." (Seru pemimpin suku lalu pergi meninggalkan mereka)
Maka suku dalam itu pun memerintahkan anggotanya yang lain untuk pergi ke hutan dan mengambil kayu sesuai dengan perintah Sang Pemimpin.
Sesampainya di hutan, mereka segera menebang kayu, dan membersihkannya. Kemudian mereka memotongnya sesuai dengan bentuk yang mereka inginkan.
Sementara si pemimpin suku itu pergi menemui sang cenayang yang tengah melakukan ritual khusus. Dia berkata,
"Hai cenayang! Apa perkataan sang dewi selanjutnya tentang ke- 7pemuda itu?"
"Maaf Tuan ku. Belum ada. Karena itulah aku melakukan ritual doa ini. Karena aku ingin tahu apa maksud sang dewi membiarkan mereka hidup. Karena selama ini, tidak ada orang asing yang masih hidup setelah menginjakkan kaki di pulau ini dan bertemu dengan kita. Karena mereka bisa menjadi ancaman bagi suku kita. Tapi berbeda dengan ke- 7 pemuda asing itu, sang dewi begitu berbelaskasihan kepada mereka. Karena itu Tuan, sampai aku mendapatkan ilham kembali, sebaiknya kita memperlakukan mereka dengan baik."
"Baiklah!" (Balasnya dan pergi meninggalkan si cenayang)
Usai itu, Sang cenayang melanjutkan ritualnya dengan mulut yang berkomat-kamit. Kemudian dia melempar sebuah tulang ke dalam perapian di hadapannya sebagai pengganti dupa, sambil terus berdoa.
**********
Lalu saat hari sudah mulai sore, beberapa suku dalam yang pergi ke hutan mencari kayu itu pun kembali. Masing-masing diantara mereka memundak beberapa kayu yang panjang dan besar.
Kemudian mereka meletakkan kayu-kayu itu di samping perkemahan ke- 7 anggota BTS itu. Lalu salah seorang dari mereka berteriak memanggil ke- 7 pemuda tampan itu,
"Hei! Dimana kalian semua? Cepat kemari!"
Maka mereka pun keluar dari perkemahan dan menemui orang itu. Sambil mencoba untuk tetap tenang Jin berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya,
"Ada apa berteriak?"
"Lihat itu! Besok kalian harus membangun rumah kalian sendiri. Kami sudah ambilkan kayu utuk kalian." (Balas suku dalam itu)
"Apa? Apa maksud mu? Aku tidak mengerti? (Balas Jin sambil terus menggerakkan tangannya dan melebarkan matanya yang sipit)
"Besok kalian bangun rumah kalian sendiri." (Balasnya dengan suara keras sambil menunjuk ke sebuah bangunan di sampingnya)
Suara suku dalam itu pun sampai ke telinga si cenayang yang tengah berdoa. Suara yang begitu keras itu membuat fokusnya menjadi terganggu.
Maka si cenayang pun bangkit dari ritualnya lalu pergi menemui keramaian itu.
__ADS_1
Ketika sampai disana, dia melihat suku dalam itu tengah memarahi ke-7 anggota BTS itu karena tak paham dengan ucapannya.
Melihat itu, kemarahan si cenayang pun berkobar dan dia memukul suku dalam itu dengan tongkatnya. Dia berkata,
"Jangan berteriak dan berbicara kasar pada mereka!
Apa kau tidak lihat kemarin bagaimana sang dewi mengasihi mereka sehingga membiarkan mereka hidup?
Bagaimana jika sang dewi marah dan memberikan kutukan kepada kita semua karena perbuatan mu?"
"Maaf. Tolong maafkan hamba." (Balas si suku dalam sambil berlutut di kaki si cenayang)
"Baiklah. Tapi dengan satu syarat. Agar permohonan maaf mu diterima, maka kau harus membawa persembahan kepada sang dewi.
Pergilah ke hutan, dan bawalah hasil buruan mu kepadanya. Dan persembahkan itu disana.
Paham!" (Teriak si cenayang)
Ke- 7 anggota BTS itu hanya terdiam melihat apa yang terjadi. Lalu si cenayang membawa mereka kembali masuk ke kemah dan memerintahkan salah seorang wanita menjaga dan mengurus mereka. Lalu si cenayang kembali ke kemahnya.
Lalu tak berapa lama suku dalam itu pun kembali membawa hasil buruannya.
Dia memundak seekor burung besar dan membawanya ke hadapan patung sang dewi. Disana dia menyembelih burung besar itu. Lalu membakarnya.
"Semua ini gara-gara ke- 7 pemuda asing itu. Aku jadi repot dan susah seperti ini. Aku harus pergi ke hutan sendirian, berburu sendirian, dan membawa hasil buruanku juga sendirian. Kalian sudah membuat hidup ku benar-benar sendirian.
Awas saja, aku akan balas jika aku punya kesempatan."
(Ungkapnya sambil memandangi persembahannya yang terbakar)
Kemudian dia pergi menghadap sang cenayang dan memberitahukan apa yang sudah dia lakukan. Dia berkata,
"Hamba sudah berikan persembahannya Tuan. Sekarang apa yang harus saya lakukan?" (Ujarnya sambil menundukkan diri di hadapan si cenayang)
"Kalau begitu segeralah perintahkan suku dalam lainnya untuk membangun sebuah kemah untuk ke- 7 pria asing itu." (Balas si cenayang)
"Baik Tuan."
Lalu dia segera pergi menghampiri suku dalam lainnya dan mengajaknya membangun kemah itu. Mereka pun terlihat kompak bergotong royong membangun kemah itu.
Selama kemah mereka dibangun, ke- 7 member ini merasa bosan berada di dalam kemah. Maka mereka pergi berjalan-jalan ke sekitar pulau untuk lebih mengenal tempat mereka tinggal. Meski masih merasa takut, tapi mereka memaksakan diri pergi.
__ADS_1
Maka mereka pun berjalan menyusuri tempat itu dan terus berjalan semakin jauh hingga akhirnya mereka mendengar suara air terjun yang mengalir deras.
Lalu V berkata,
"Wah suara air terjun itu memancing ku ingin mandi dan berenang."
"Benar. Aku juga ingin mandi. Badan ku sudah sangat bau dan gatal. Sudah berhari-hari kita tidak mandi." (Balas Jungkook sambil mencium ketiaknya)
Maka mereka pun mempercepat langkahnya hingga mereka bisa melihat air terjun itu begitu indah.
Tapi seraya mereka mendekat, mereka melihat sekumpulan wanita tengah mandi disana.
Maka para wanita itu pun memanggil mereka dan menggoda mereka dari air.
Melihat itu, Suga pun berkata,
"Aduh...Kalau seperti ini, lebih baik aku tidak mandi. Biarkan saja aku bau badan. Aku takut mereka semua akan menyerbu ku."
(Ungkapnya dengan wajah yang cemberut)
"Agh...Masa? Jangan bohong kamu.
Kamu tidak perlu berpura-pura di depan kami. Padahal sebenarnya kamu suka kan dikelilingi para wanita." (Balas Nam joon yang mencoba meledek Suga)
"Apa kata mu? Jangan sembarangan bicara. Bilang saja kamu yang sebenarnya mau. Iya kan?"
(Balas Suga)
"Hei! Hei! Sudah! Sudah!
Mulut kalian ini selalu saja ribut. Aku pusing melihat kalian berdua.
Aku tidak peduli. Kita tetap akan mandi. Kita akan tunggu mereka sampai selesai, baru kita mandi.
Kalian paham!
Seumur hidup baru kali ini aku tidak mandi selama seminggu."
(Balas J hope sambil mengoceh pada Nam joon dan Suga)
Maka mereka pun menunggu para wanita itu selesai mandi, setelah itu barulah mereka menceburkan diri di air terjun yang dangkal itu dan menikmati indahnya dan jernihnya air terjun itu. Mereka pun berenang sambil bermain-main air. Mereka begitu bahagia.
__ADS_1