
"Sepulang dari bandung, aku ingin kamu kamu pindah ke apartemen miliiku, kawasan itu sangat berbahaya bagi wanita seperti kamu, apalagi kamu tinggal sendiri, aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu." putus Zidan sambil menatap Dinda lekat.
"Tapi kak, aku sudah bayar kontrakan untuk tiga bulan. dan aku tidak mau tinggal di apartemen kakak, aku tidak mau di grebek karna tinggal berdua dengan laki laki yang bukan muhrim. nanti kita di kira kumpul kebbo" Dinda menolak dengan permintaan Zidan.
Zidan terkekeh dengan tanggapan Dinda, Zidan pikir itu malah lebih baik jika di grebek, itu akan memudahkan nya untuk mendapat kan Dinda seutuhnya.
"Aku sih mau mau aja di grebek, asal sama kamu." ucapnya sambil mengerling ke arah wanita cantik yang saat ini sedang cemberut di sampingnya.
"Ih, kakak!! seneng ya kalau melihat orang menderita." sungutnya kesal, Dinda memukul bahu Zidan yang sedang tertawa karna melihat Dinda cemberut.
"Justru karna aku tidak senang melihat kamu menderita, makanya aku minta kamu supaya tinggal di apartemen ku. kamu tidak perlu takut di grebek, karna aku akan tinggal di rumah Bunda, sekalian biar Bunda seneng aku pulang dan tinggal bareng sama dia lagi."
"Tapi sayang kak, aku udah bayar kontrakan itu tiga bulan, kan nanti uangnya tidak akan kembali, kalau aku pindah."
"Akan aku ganti uangnya, asalkan kamu pindah, berapapun akan aku ganti, nanti aku bantu untuk pindahan kamu, kamu jangan khawatir." ucap Zidan tegas dan padat.
"Tapi kak."
"Tidak ada tapi- tapian, kamu harus pindah. titik...!!" Zidan tidak mau di bantah.
Ahirnya Dinda mengalah dan mengiyakan permitaan atau lebih tepatnya perintah dari sang bos, Dinda merasa ini terlalu berlebihan untuk seorang bos, meskipun sebenarnya Zidan juga adalah sahabatnya sejak di bangku SMA.
Setelah menempuh perjalan beberapa jam, ahirnya mobil yang di kendarai Zidan sudah masuk di parkiran hotel tempat mereka menginap malam ini.
Mengingat malam sudah larut, Zidan segera mengajak Dinda untuk segera check in di hotel, Zidan memesan dua kamar untuk dirinya dan Dinda.
Setelah melakukan check in, Zidan dan Dinda langsung menuju kamar hotel yang sudah di tentukan oleh pihak hotel.
"Din." panggil Zidan saat keduanya hendak masuk ke kamar hotel yang berbeda.
"Iya kak." sahut Dinda sembari tersenyum manis. senyum yang selalu sukses membuat debaran jantung Zidan menggila.
__ADS_1
"Selamat malam, tidur yang nyenyak, jangan mikirin apapun yang bisa membuat kamu menangis. ingat, perpisahan itu bukan ahir dari segalanya, namun awal dari sebuah perjalanan yang panjang. aku akan selalu ada buat kamu. selamat tidur." ucap Zidan begitu lembut penuh perhatian.
Dinda hanya mengangguk dengan senyum manis, senyum yang sukses mengalihkan dunia Zidan lebih indah dan berwarna.
Setelah basa basi kecil itu, keduanya pun langsung masuk ke kamar masing masing, Dinda memengang dadanya yang terasa aneh, detak jantungnya bertalu begitu cepat, bahkan ritmenya sampai tak beraturan.
"Ini aneh, kenapa dengan jantungku, apa mungkin rasa itu masih ada, oh tidak... aku tidak pantas untuk dia, aku hanya seorang janda miskin yang tidak akan pantas untuk kak Zidan." Dinda geleng geleng kepala menyadari prasangkanya terlalu berlebihan terhadap bos sekaligus sahabatnya itu.
Sedangkan di kamar sebelah.
Zidan tampak begitu bahagia dengan senyum terus mengembang di bibir nya,sedari masuk kamar hingga beranjak tidur.
Aku yakin, kamulah jodohku... batin Zidan, sembari memandang langit langit kamar hotel dengan senyum mengembang.
Keduanya larut dengan pikiran masing masing, hingga tanpa sadar mereka berdua jatuh tertidur dengan perasaan yang berbeda.
*******
Pagipun menyapa.
Dinda mengetuk pintu kamar Zidan, dia berniat untuk mengajak Zidan sarapan terlebih dahulu sebelum menemui client jam delapan nanti.
Tok tok tok
"Kak...!! panggil Dinda, karna pintu tak urung di buka.
Beberapa menit menunggu, ahirnya Zidan membuka pintu dengan hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya itu pun hanya di atas lutut.
Dinda memalingkan wajah saat menyadari di depan nya Zidan sedang dalam keadaan telanjang dada, Dinda akui jika dia sempat terpesona dengan tubuh atletis Zidan.
Tapi dia buru buru membuang muka, demi menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah karna malu.
__ADS_1
"Sebaik.nya kakak pakai baju dulu, aku akan menunggu di restoran hotel." ucap Dinda masih dengan posisi membuang muka.
"Kenapa harus nunggu di restoran, kamu bisa tunggu aku di kamar, sambil kamu mempelajari materi untuk pertemuan dengan Tuan Hendra nanti." ucap Zidan dengan entangnya.
Seketika Dinda melotot tak percaya, bisa bisanya pria tampan di depan nya itu menyuruh menunggu di kamar, sedangkan dia sendiri hanya telanjang dada dengan menggunakan handuk. bagaimana nanti kalau Dinda khilaf.
"Aku tidak mau." sahut Dinda cepat.
"Kenapa?" goda Zidan.
"Tau, ah!! aku mau ke bawah." ucap Dinda sewot, sambil berlari kecil meninggalkan Zidan yang sedang tertawa terbahak karna melihat Dinda yang begitu menggemaskan.
Zidan langsung masuk kembali ke dalam kamarnya dengan tawa kecil yang masih belum reda.
"Akan aku pastikan, mulai saat ini kamu tidak akan bersedih lagi Din, aku janji." gumamnya sembari memakai baju dan celananya dengan cepat.
Setelah di rasa sudah rapi dan wangi, pria tampat tersebut segera turun untuk menyusul Dinda di restoran hotel.
"Hai." sapa Zidan setelah sampai di meja yang di duduki Dinda.
Bukan nya menjawab, Dinda malah melengos karna kesal, namun jangan di tanya dengan jantungnya, saat ini jantung Dinda bertalu begitu cepat.
Ya allah, kenapa dengan jantungku ini, apa jangan jangan aku punya penyakit jantung? Dinda menerka nerka jika yang terjadi dengan jantungnya saat ini adalah sebuah penyakit jantung yang mematikan.
Di usapnya beberapa kali dadanya yang masih berdebar hebat, Dinda berharap dengan itu sedikit mengurangi debaran di dadanya.
"Kamu kenapa Din? kamu sakit?" tanya Zidan sarat akan ke khawatiran.
"Bu- bukan kak." jawab Dinda gugup. baru kali ini Dinda merasa gugup di hadapan Zidan.
Dinda menyadari jika perasaan ini pernah terjadi padanya saat SMA dulu, Dinda selalu merasa gugup saat bersama Zidan, tapi itu dulu, saat keduanya memakai seragam putih abu abu.
__ADS_1
Di saat Dinda menyimpan rasa cinta diam diam pada Zidan. namun tanpa Dinda sadari, pria tampan itu juga menaruh hati, namun belum sempat di utarakan, ternyata Zidan di tikung sahabatnya sendiri saat di bangku kuliah.
Zidan sempat menjauhi Dinda dan Rehan saat itu, tapi semakin menjauh, Zidan merasa hatinya semakin sakit, ahirnya Zidan tetap menjadi sahabat mereka berdua meskipun hatinya menjadi taruhan untuk merasakan sakit saat melihat Dinda dan Rehan kerap kali bermesraan di hadapan nya.