
Seperti biasa, pagi ini Dinda bersiap untuk berangkat ke kantor, mengendarai roda empatnya dengan kecepatan sedang, pagi itu belum terlalu macet di karnakan Dinda berangkat lebih pagi dari biasanya demi menghindari kemacetan.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit, ahirnya Dinda sampai di pelantaran kantor Zahresa Group, ini kali pertama Dinda masuk kantor dengan status yang baru, yaitu seorang janda kembang, tentunya dengan predikat sebagai pegawai tercantik di perusahaan Zahresa Group.
"Pagi Bu Dinda." sapa para staf laki laki yang berpapasan di loby. beberapa pria tersenyum manis ke arah Dinda yang sedang melintas di depan mereka yang sedang ngobrol sebelum memulai pekerjaan.
"Pagi juga Pak." sapa balik Dinda dengan ramah. wanita itu lekas meninggalkan para laki laki yang tampak memandang nya seperti tatapan hewan buas yang hendak menerkam.
Entak kenapa setelah menyandang status janda, Dinda. jadi bahan rebutan antara para staf laki laki di kantor itu, tak tahu saja bahwa Dinda sudah di incar oleh bos mereka sendiri.
"Gila tu cewek, makin hari makin cantik aja. katarak kali ya suaminya?punya istri cantik kayak gitu malah selingkuh sama pembantu." ucap kariawan yang tadi menyapa Dinda.
"Namanya itu bukan jodoh bro. siapa tahu nanti jadi jodoh gue." celetuknya yang lain.
"Mana mau Bu Dinda sama gigi gingsul seperti lho." timpal yang lain di iringi tawa renyah dari staf yang lainnya pula.
Obrolan merekapun terhenti saat Zidan berjalan menuju kearah mereka, "Selamat pagi Pak Zidan." sapa mereka semua dengan kompak, menundukkan kepala dengan hormat.
"Pagi." jawab Zidan dingin. pria itu memang tidak banyak bicara, Zidan terkesan dingin dan irit bicara pada semua karyawannya, apalagi pada karyawar laki laki yang berlagak genit pada Dinda.
Karna sedari tadi, Zidan sudah menyaksikan bagaimana cara karyawan nya menyapa Dinda dan membicarakan nya setelah Dinda pergi.
Zidan lekas pergi dari hadapan karyawan nya yang masih menunduk hormat, Zidan tahu, mereka semua hanya takut saat berhadapan seperti ini, tapi kalau dibelakang tentu Zidan tidak tahu dengan perbuatan dan kelakuan mereka semua.
Zidan melangkah cepat meninggalkan para karyawan yang masih menunduk hormat. setelah sampai di lantai atas ruangan nya, Zidan berhenti melangkah tak kala melihat wanita pujaan hatinya sudah sibuk dengan beberapa berkas yang sedang wanita itu kerjakan.
Zidan menyunggingkan seulas senyum tipis, hari harinya tampak sangat berwarna dengan memandang wajah ayu Dinda di pagi hari.
Apa lagi setelah Dinda resmi bercerai dengan Rehan, pria itu semakin yakin jika Dinda memanglah jodohnya.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak." sapa Dinda saat melihat kedatangan Zidan.
"Hhmm." jawab Zidan hanya dengan deheman.
"Ikut keruanganku." imbuh Zidan sembari melangkah yang di ikuti Dinda di belakangnya.
"Apa saja jatwalku hari ini?" tanya Zidan sambil membuka berkas berkas di depan nya.
Sebenarnya Zidan hanya pura pura sibun dan cuek, demi menutupi rasa gugup dan grogi jika berhadapan dengan Dinda.
Zidan akui, semenjak Dinda menyandang status janda, entah kenapa jantung Zidan selalu berdebar debar tak karuan saat berdua seperti sekarang ini.
"Jatwal Bapak hari ini, kita--"
"Batalkan semua meeting dan pertemuan, karna saya ada urusan di luar." potong Zidan sebelum mendengar pejelasan dari Dinda.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi." pamit Dinda sembari beranjak hendak keluar. sebenarnya Dinda merasa kesal pada bosnya, karna ucapan nya tadi di potong sebelum membacakan jatwalnya hari ini.
"Tunggu." cegah Zidan.
Langkah Dinda terhenti di ambang pintu, "Maaf, apa Bapak perlu sesuatu?" tanya Dinda menahan jengkel.
"Kamu siap siap, karna kita akan segera pergi ke luar pagi ini." ucap Zidan tanpa menoleh sedikitpun kearah Dinda, matanya masih fokus pada layar leptop di depan nya.
"Maksut bapak, saya ikut bapak keluar?" tanya Dinda sambil menunjuk dirinya sendiri, guna mastikan apa yang di dengarnya memang tidak salah.
"Memang di sini ada siapa lagi kalau bukan kamu, masak aku bicara sama setan."
"Ba- baik pak." ucap Dinda setelahnya, Dinda semakin tidak mengerti dengan sikap bos rangkap sahabatnya itu, entah kenapa ahir ahir ini bos nya itu sangat aneh.
__ADS_1
Sikapnya yang dulu lembut dan perhatian kini mendadak berubah saat Dinda berpisah dengan Rehan. mungkinkah Zidan tidak suka dengan perpisahan Dinda dan Rehan? Entahlah.
"Saya permisi pak." pamit Dinda.
"Hhmm."
Dinda lekas keluar dari ruangan yang mendadak horor ahir ahir ini, karna perubahan sikap sang bos yang menjadi dingin dan kaku. membuat ruangan nya pun ikut berubah seram dan menakutkan.
******
Kini Zidan dan Dinda sudah berada di dalam mobil, entah Zidan akan membawa Dinda kemana. wanita itu hanya diam tanpa banyak tanya, takut sang bos tiba tiba marah karna sedari tadi wajah Zidan tampak tak bersahabat.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, ahirnya Zidan memberhentikan mobilnya dekat sebuah danau. Danau di mana dulu menjadi tempat favorit Dindan dan Zidan saat hari minggu.
"Kak, ini--?" Dinda menutup mulut saking senangnya bahkan kata katanya terpotong karna begiru girang. Bertahun tahun tidak pernah lagi datang ke tempat itu, banyak sekali perubahan yang membuat Dinda berdecak kagum.
"Kakak masih ingat tempat ini?" tanya Dinda sambil keluar dari dalam mobil, kedua tangan nya ia rentangkan lalu menghirup udara yang begitu sejuk di tempat itu.
Zidan tetap tidak menjawab, pria itu hanya melakukan hal yang sama seperti Dinda lakukan, yaitu menghirup udara segar tanpa polusi dan asap kendaraan seperti di kota besar.
"Mana mungkin aku lupa, Din. tempat ini menjadi kenangan terindah dalam hidupku, bayang bayang seseorang yang terus menarikku agar pergi ke tempat ini." jelas Zidan sembari menatap wajah Dinda dari samping.
"Wah, sepertinya kakak sering mengajak pacar kakak ke tempat ini." sloroh Dinda tanpa menatap Zidan yang kini mengerutkan keningnya.
"Pacar?" Zidan tertawa renyah saat mendengar kata pacar. bagaimana Zidan bisa pacaran, sedangkan Zidan sudah munutup hati sejak pujaan hatinya di persunting sahabatnya sendiri. ya wanita itu adalah Dinda.
"Kok, malah ketawa sih?" Dinda tampak cemberut karna Zidan hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan nya.
Tanpa permisi Zidan meraih jemari Dinda lalu menggenggamnya dengan erat. seketika Dinda terlonjak kaget, karna baru kali ini pria itu berbuat demikian.
__ADS_1
"Kak." Dinda mencoba menarik tangan nya yang di genggam Zidan, namun pria itu tidak rela belitan tangan nya terlepas.
"Biarkan seperti ini, Din." ucap Zidan sembari menatap Dinda lekat. cinta yang terpendam sejak dulu tak pernah terlihat layu karna Zidan tidak pernah membiarkan cinta itu layu sebelum berkembang.