
Tok tok tok...
Ketukan pertama tak ada jawaban apalagi ada yang membuka pintu, hingga Dinda mengulang untuk yang kedua kalinya, tetap tak ada sahutan, sayup Dinda mendengar suara seorang yang sedang bercanda.
Dada Dinda semakin terasa sesak, dadanya naik turun karna kesal sekaligus kecewa, dengan tangan bergetar Dinda mendorong gagang pintu, hingga pintu tersebut terbuka lebar.
Di ruang tamu tampak tak ada satu orang pun, hingga Dinda berjalan sampai ke ruang tengah, di ruang tengah juga sama tak ada siapa siapa, semakin Dinda melangkah semakin Dinda mendengar canda tawa dari dua suara yang amat Dinda kenal, yaitu suara Rehan suaminya dan suara Ratna pembantunya.
Ternyata suara tersebut berasal dari arah dapur, segera Dinda melangkah menuju dapur, dan benar saja Rehan dan Ratna sedang memasak sambil bercanda.
Keduanya tampak akrab, bukan seperti pembantu dan majikan, melainkan seperti sepasang suami istri yang tampak sangat bahagia.
Seketika air mata Dinda lolos begitu saja, menyaksikan dengan mata kepala sendiri sungguh menyesakkan dada, Dinda menghapus air matanya dengan kasar, lalu segera pergi menuju kamarnya berada.
Seketika tangis Dinda pecah, Dinda tak pernah menyangka, jika sang suami begitu tega berhianat di belakangnya, padahal selama ini pernikahan mereka baik baik saja.
Apa kurangnya aku mas, kenapa kamu begitu tega?
Gumam Dinda sembari terisak.
Dinda masih duduk di atas ranjang, pikiran nya melayang memikirkan langkah terbaik untuk masa depan rumah tangganya, Dinda tidak mau terus terusan sakit hati dengan perselingkuhan suaminya, jika benar Rehan selingkuh maka Dinda akan milih mundur, karna perselingkuhan itu adalah penyakit yang sangat sulit untuk di sembuhkan.
Lamunan Dinda buyar seiring dengan terbukanya pintu kamar, ternyata Rehan yang membuka pintu. "Kamu udah pulang Din, kok aku gak denger suara mobil kamu?" tanya Rehan sembari menghampiri sang istri dengan kening berkerut.
"Kamu tidak akan dengar mas, karna kamu terlalu sibuk." jawab Dinda ketus
__ADS_1
Bukannya marah justru Rehan tersenyum mendengar nada ketus dari mulut Dinda "Hei, kamu kenapa sayang, kok kamu nangis?" tanya Rehan sambil mengangkat dagu Dinda yang kala itu sedang menunduk.
"Aku ingin kamu jujur mas, apa yang kamu lakukan dengan Ratna di dapur?" tanya Dinda dengan tatapan nyalang.
"Apa maksut kamu Din? aku ke dapur hanya mengambil air minum, gak lebih dari itu kok. kamu curiga aku selingkuh sama Ratna?"
"Wajar aku curiga sama kamu mas, karna selama ini mana mau kamu bantu aku di dapur." suara Dinda mulai meninggi, dia sudah tidak tahan dengan kebohongan Rehan selama ini.
"Bicara apa sih kamu Din? jangan bilang kamu cemburu sama Ratna?" Rehan tak terima jika di tuduh ada hubungan dengan seorang pembantu.
"Lalu tadi pagi itu apa? aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mas, kamu mencoleh buah dada Ratna, saat kamu membantu dia memasak di dapur, aku tidak buta mas, mataku masih sehat, masih bisa melihat bagaimana caramu berinteraksi dengan Ratna." suara Dinda semakin meninggi seiring dengan luruhnya buliran bening yang keluar tanpa di komando.
Dinda terisak sebelum melanjutkan kata katanya, hatinya sakit sunggu begitu sakit, namun malam ini Dinda akan membuktikan kecurigaan nya, dia tidak mau terus terusan di bohongi oleh Rehan dan Ratna, cukup sudah selama ini dia di bodohi.
"Jawab mas!!" sentak Dinda, saat Rehan tak kunjung menjawab.
Namun wanita itu dengan secepat kilat menepis tangan Rehan dengan kasar.
"Jangan sentuh aku mas, mulai malam ini, kita pisah ranjang." putus Dinda dan langsung meninggalkan Rehan yang masih terpaku di atas ranjang.
*****
Satu minggu setelah Dinda memutuskan untuk pisah ranjang, sejak saat itu pula tak ada lagi tegur sapa dari keduanya, Rehan tak ada usaha sedikitpun untuk mengambil hati Dinda kembali, sepertinya pria itu sudah tak perduli lagi terhadap istrinya.
Sebaliknya dengan Dinda, wanita itu selalu berangkat pagi dan pulang larut malam, dia bukan nya keluyuran di luar sana, melainkan bekerja lembur untuk menghindari bertemu dengan Rehan.
__ADS_1
Malam ini Dinda pulang setelah jam 7 malam, sampai di rumah hampir jam 8 malam, sebelum turun dari mobil Dinda mengatur nafasnya terlebih dahulu, demi mengurangi rasa sesak yang selalu hinggap tak kala sampai di kediaman nya.
Perlahan Dinda berjalan dari garasi menuju pintu utama, sayup sayup Dinda mendengar ada seseorang yang sedang berdebat.
Sejenak Dinda berhenti melangkah, sedikit menajamkan indra pendengaran nya demin mendengar dengar jelas suara gaduh dari dalam rumahnya, kening Dinda berkerut saat mendengar suara Rehan yang sedang berdebat, entah dengan siapa, tapi Dinda cukup jelas jika Rehan membentak seseorang yang Dinda tidak tahu siapa itu.
Kaki Dinda segera melangkah dengan cepat, membuka pintu juga dengan kasar, takut Rehan bertengkar dengan seseorang.
Namun langkah Dinda terhenti saat mendekati ruang tengah, lututnya terasa lemas tak bertenaga, seketika buliran bening ikut tumpah seiring luruhnya tubuh Dinda di atas lantai.
"Aku kan sudah bilang sama kamu Ratna, minum itu pil penunda kehamilan itu, agar hal seperti ini tidak terjadi. bagaimana kalau Dinda tahu jika kamu hamil? apa yang harus kita lakukan?" bentak Rehan pada Ratna.
"Maaf kan aku mas, aku sangat mencintai kamu, aku ingin kita bersama, dan dengan hadirnya anak ini, kamu tidak akan melepaskan aku mas, karna bagai manapun kamu harus tanggung jawab."
"Kamu gila Ratna! aku sangat mencintai Dinda, aku tidak ingin menyakiti hatinya, walau bagai manapun dia istriku dan aku sangat menyayangi dia, kau harus tahu itu."
"Lalu aku kau anggap apa mas? setiap malam kau selalu meniduriku, mengucap kata kata manis, seolah aku wanita yang kamu cintai. aku tidak mau tahu, nikahi aku secepatnya, dan ceraikan istrimu, atau aku akan menggugurkan kandungan ini jika kamu tidak mau bertanggung jawab."
Rehan mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat gusar karna permintaan Ratna.
"Baiklah, tapi tidak sekarang, aku ingin bicara baik baik dengan Dinda, siapa tahu dia mau di madu."
Belum juga beberapa menit, tapi Dinda sudah menyahut dengan nafas memburu, menatap Rehan dan Ratna penuh amarah.
"Maaf mas, aku tidak rela di madu, apa lagi dengan seorang pembantu sepeeti dia, kau nikahi saja wanita ini, karna aku akan pergi dari rumah ini, dan aku akan segera mengurus perceraian kita." ucap Dinda dengan tatapan nyalang, bahkan dadanya naik turun karna menahan sesak di dadanya.
__ADS_1
Dengan langkah cepat Dinda segera meninggalkan dua manusia tak tahu malu itu, Rehan hanya membatu tanpa suara, bahkan tak punya pembelaan sama sekali, wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar, namun tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.