Pil KB Di Kamar Pembantuku

Pil KB Di Kamar Pembantuku
Kecupan singkat.


__ADS_3

Zidan bukan nya melepas tangan Dinda, justru pria itu malah menarik Dinda dalam pelukan nya, awalnya Dinda ingin menolak pelukan Zidan, namun pria itu semakin erat memeluk Dinda.


Hingga wanita itu pasrah dan ikut terlena dengan pelukan hangat seorang Zidan Zahresa. jantung Dinda berdetak begitu cepat, bahkan ritmenya sampai tak beraturan.


Kenapa dengan jantungku, apa mungkin rasa itu masih ada? Dinda bermonolok dalam hati, pasalnya perasaan ini pernah hadir, tapi Dinda tidak yakin mungkinkah cinta itu masih ada dan masih sebesar dulu. entahlah.


Meskipun Dinda akui jika naman Zidan punya tempat tersendiri di bagian hatinya yang terdalam, namun Dinda tidak yakin jika pria itu punya rasa yang sama dengan nya.


"Din, apa kamu tidak merasakan debaran jantungku yang selalu menggila? apa kamu tahu hati ini sakit jika melihat kamu sakit, mata ini juga berair jika kamu menangis, senyum mu adalah senyumku juga Din. apa kau tahu apa itu artinya?"


Dinda menggeleng lemah, otaknya belum sepenuhnya bekerja dengan baik, pelukan Zidan yang tiba tiba membuat otak Dinda seperti kosong melompong.


Zidan melerai pelukan nya lalu menatap wajah Dinda yang sedang menunduk, perlahan tangan kekar Zidan mengangkat dagu sang pujaan hati supaya pandangan mereka bertemu.


Cukup lama keduanya saling pandang dengan persaan yang berbeda, Zidan dengan rasa cintanya yang kian meletup letup, sedang kan Dinda masih mencerna kata kata Zidan barusan.


"Aku mencintaimu, Din. i love you. " ucap Zidan lembut, matanya masih mandang wajah Dinda lekat.


Dinda bergeming, wanita cantik itu masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, karna Dinda masih diam, maka Zidan melakukan hal yang membuat Dinda melebarkan matanya.


Cup...


Zidan mengecup singkat bibir Dinda yang sejak tadi menggoda iman nya.


"Kak!!" pekik Dinda dengan mata melotot.

__ADS_1


"Habisnya kamu tidak merespon ucapan ku." ucap Zidan kesal.


Hening.. tak ada yang memulai pembicaraan setelah ciuman singkat itu, Dinda hanya sibuk mengatur debaran jantungnya yang serasa mau lompat saat Zidan menyatukan bibirnya. Hanya rasa canggung yang kini tercipta di antara mereka.


Perlahan Zidan membalikkan badan hendak meninggalkan Dinda dengan perasaan kecewa, karna Zidan pikir, bungkamnya Dinda adalah sebuah penolakan.


Baru dua langkah Zidan meninggalkan Dinda, tindakan wanita itu sudah membuat Zidan terkejut, dan langsung menghentikan langkahnya "Jangan pergi kak." cegah Dinda sambil memeluk tubuh kekar Zidan dari belakang.


"Aku butuh kakak di sampingku, tapi maaf karna aku belum bisa memberi jawaban untuk persaan kakak sekarang ini, aku butuh waktu untuk memantapkan hatiku. Sejujurnya, dulu aku pernah punya rasa terhadap kakak, tapi itu dulu,sebelum aku kenal dengan mas Rehan. untuk saat ini aku belum yakin jika persaan itu masih ada untuk kakak." imbuh Dinda sambil memeluk Zidan dari belakang dengan erat.


Zidan bergeming, antara senang dan tidak, Zidan merasa senang karna Dinda pernah menaruh hati terhadapnya tapi Zidan juga kecewa karna Dinda belum yakin jika perasaan itu masih ada untuknya.


Perlahan Zidan berbalik untuk menghadap sang wanita yang amat di cintainya. "Benarkah kamu pernah mencintaiku?"


"Kapan?"


"Dulu, saat SMA." jelas Dinda sambil menunduk karna malu.


Seketika senyum Zidan merekah dengan sempurna, pria itu sangat bahagia karna cintanya ternyata terbalas meski baru hari ini ia tahu, cinta pertamanya tidaklah bertepuk sebelah tangan seperti yang ia pikirkan selama ini.


"Apakah cinta itu masih ada untuk ku, Din? Aku ingin tahu jawaban nya Din, aku ingin tahu. bertahun tahun aku memendam rasa ini, bertahun tahun aku berharap jika suatu saat ada keajaiban kita akan hidup bersama?" tanya Zidan harap harap cemas. takut Dinda malah menjawab jika cinta itu telah luntur tak berbekas.


"Apa kamu masih mencintai aku, seperti aku yang selalu mencintaimu, Din? bayangkan Din, sejak SMA aku memendam persaan ini seorang diri. sakit rasanya saat melihat kamu jalan berdua dan bermesraan dengan Rehan, laki laki bajingan itu," geram Zidan dengan gigi saling beradu.


Pria itu masih menyimpan dendan terhadap Rehan, suatu hari dia berniat untuk membuat perhitungan dengan pria bajingan yang telah menyakiti hati wanita yang dia cintai.

__ADS_1


Seketika Dinda mengankat wajahnya guna melihat wajah pria yang dulu pernah menguasai hati dan pikiran nya itu, seketika Dinda di landa rasa takut melihat api dendam di wajah Zidan terhadap Rehan "Aku tidak tahu kak, aku belum yakin jika rasa itu masih ada." hanya kata kata itu yang mampu lolos dari bibir mungil Dinda.


Bukan tanpa alasan Dinda berbicara seperti itu pada Zidan, sebab selama kenal dengan Rehan, Dinda tak lagi merasakan desiran aneh di hatinya.


Namun beberapa hari belakangan ini, hati Dinda kembali berdesir hebat saat berada di jarak yang begitu dekat dengan Zidan, apalagi saat Zidan menunjukkan perhatian dan sikap lembutnya ahir ahir ini.


"Kamu yakin?" Zidan tak patah arang , dia tetap akan berusaha mengembalikan perasaan Dinda yang tak pernah dia ketahui selama ini.


Dinda tidak menjawab, wanita cantik itu hanya menunduk menyembunyikan semburat merah dan rasa gugup yang tiba tiba melanda tanpa permisi.


"Kenapa tidak di jawab, Hmm?" Zidan mengangkat dagu wanita itu dengan lembut, manik hitam legam itu hanya mengerjap dengan sangat menggemaskan, membuat Zidan hampir saja tidak dapat mengendalikan dirinya.


"Ka- kasih aku waktu untuk menjawabnya kak." Dinda menjawab dengan terbata karna di serang rasa gugup yang luar biasa.


Zidan tersenyum tipis melihat Dinda tampak gugup dan salah tingkah. "Baiklah! satu minggu, aku akan menagih jawaban darimu dalam satu minggu ini.Bagaimana?


Dinda mengangguk dengan ragu ragu, wanita itu kembali menunduk karna malu. bertahun tahun bersama Zidan baru kali ini dia merasa malu yang luar biasa.


Kini keduanya duduk di sebuah bangku yang terletak di bawah pohon yang sangat rindan, suasana di pinggir danau tampak sepi, hanya beberapa muda mudi yang juga sedang duduk duduk dengan pasangan nya masing masing.


"Kenapa kamu tidak mengutarakan perasaan mu waktu itu?" tanya Zidan setelah keduanya duduk dengan jarak yang sangat dekat.


"Lalu kenapa kakak juga tidak mengutarakan persaan kakak waktu itu?" Dinda balik bertanya.


"Aku berniat menembakmu saat ke lulusan ku, tapi sayang waktu itu aku tidak bisa menemuimu karna papaku masuk rumah sakit, saking sibuknya aku mengurus papa hingga aku tak punya waktu untuk memikirkan pacaran, yang ada dalam pikiran ku waktu itu hanya kesembuhan papa, aku anak tunggal jadi hanya aku yang harus mengurus segala kebutuhan papa, aku juga harus mengurus perusahaan waktu itu, meskipun umurku masih muda, namun aku di tuntut untuk melakukan pekerjaan papa di kantor. jadi karna itulah setelah kelulusan aku langsung menghilang

__ADS_1


__ADS_2