Pil KB Di Kamar Pembantuku

Pil KB Di Kamar Pembantuku
Bicara dari hati ke hati


__ADS_3

"Aku sengaja tidak melanjutkan kuliah ke luar negeri karna aku ingin satu kampus sama kamu Din, aku senang saat kamu juga masuk di universitas yang sama dengan ku, tapi aku harus menelan pil pahit saat Rehan ternyata menyukaimu juga, dan parahnya, bajingan itu bergerak cepat untuk mendapatkan perhatian dan cintamu." Zidan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata katanya. sepertinya pria itu kembali mengenang masa lalu yang menyesakkan dada, akibat di tikung sahabat sendiri.


"Aku mundur teratur, saat aku tahu ternyata kamu juga punya perasaan yang sama pada Rehan, aku coba menguatkan hatiku demi melihat kamu bahagia, tapi sayang hati ini tak sekuat baja, hatiku sakit saat melihat kebersamaan kalian berdua, tapi apa boleh buat, ini kenyataan hidup yang harus aku alami, aku ikhlaskan kamu pada sahabatku, aku berharap dia mampu membuat kamu bahagia, tapi ternyata aku salah, dia hanya pria bajingan yang menghianati kamu." jelas Zidan sembari menghembuskan nafas lega setelah mengutarakan isi hatinya yang selama ini terpendam.


Entah senang atau sedih perasaan Dinda saat ini, wanita itu hanya diam mendengarkan ungkapan hati seorang Zidan zahresa. namun sesekali dia membuang muka untuk menyembunyikan rona merah dan senyum tipis yang sempat tersungging tak kala mendengar ungkapan perasaan yang dulu sangat ia nantikan.


"Lalu bagaimana perasaan kamu sama aku, kenapa waktu itu kamu tidak menunjukkan perasaan mu, kenapa kamu malah memilih memendamnya sendiri? apa kamu sekuat itu menahan rasa terhadap aku, atau mungkin cintamu tak sebesar cinta ku padamu." imbuh Zidan dengan tatapan penuh selidik.


Seketika Dinda menoleh pada pria yang kini telah mengguncang pertahanan hatinya beberapa hari ini. "Maksud kakak, aku harus nembak kakak duluan gitu?" ucap Dinda sedikit kesal.

__ADS_1


"Bukan begitu maksud aku Din, meskipun kamu tidak menembak duluan, setidaknya kamu tunjukkan perasaan kamu lewat sebuah perhatian atau apa kek, yang sekiranya aku bisa ngerti jika kamu ada rasa sama aku." ucap Zidan lembut.


"Aku tidak seberani itu kak, aku tidak punya nyali untuk menunjukkan perasaan ku sama kakak, siapalah diri ini di banding kakak sama semua penggemar kakak dulu di sekolah, aku cukup tahu diri untuk sekedar menyimpan rasa pada kakak, itu adalah hal yang harus aku tanggung dengan siap menerima segala buly dan hinaan dari para cewek penggemar kakak." Dinda diam sebentar melihat gemercik air yang di tiup angin di hadapan nya, menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata katanya.


"Apa kakak tahu, aku hampir terluka karna terlalu sering dekat dengan kakak kelas terpopuler seperti kakak. beberapa cewek penggemar kakak melakukan aksi nekat mendorongku dari lantai dua gedung sekolah waktu itu, tapi alhamdulillah ada guru BK yang menolongku, jadi aku tidak sampai jatuh karna Pak Ilham sigap menarik tangan ku saat aku hampir jatuh." jelas Dinda menerawang jauh ke masa lalu yang kurang menyenangkan.


"Apa !!? jadi kamu hampir celaka karna dekat dengan ku?" pekik Zidan tidak percaya kalau Dinda hampir celaka karnanya . "Lalu kenapa kamu tidak bilang ke aku waktu itu Din?"


Di sisi kanan, tangan Zidan terkepal dengan begitu kuat, pria itu sangat marah karna selama ini Dinda memendam sendiri kesedihan akibat buly dan kekerasan yang dia dapatkan di sekolahnya dulu, Zidan hanya mampu menekan emosi, sebab pada siapa dia akan marah, toh semua teman teman nya dulu sudah tak tahu pada kemana, yang tersisa saat ini hanya Dinda, seorang adik kelas yang mampu membuat Zidan tidak bisa membuka hati pada wanita lain setelah Dinda di persunting sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Lalu jodoh mempertemukan kita di kampus yang sama. benar begitu bukan? lalu apakah perasaan kamu di kampus masih sama seperti saat SMA pada ku?" tanya Zidan sembari meraih jemari Dinda untuk ia genggam.


"Masih kak, tapi aku berusaha menyembunyikan perasaan itu karna aku tahu aku tidak pantas buat kakak. wanita wanita yang menyukai kakak di kampus terlalu banyak, rata rata mereka anak orang kaya yang memiliki kekuasaan, apalagi mereka semua berpenampilan sangat cantik dan modis, berbedalah sama aku yang upik abu ini kak." Dinda terkekeh di ahir kalimat, menertawakan ketidak beruntungan nya tentang percintaan nya dari dulu sampai saat ini.


Wanita itu kembali melanjutkan ucapan nya sembari memandang air danau yang nampak tenang pagi itu, "Lalu datanglah mas Rehan, pria yang mampu menimbun rasa cintaku terhadap kakak, di awal awal dia mendekatiku, aku masih tidak punya rasa sama sekali, tapi usahanya untuk mendapatkan cintaku begitu luar biasa, dia pria yang tidak mudah menyerah, hingga aku luluh dan menerima cintanya. mungkin sejak saat itulah aku mulai mengubur rasa cintaku terhadap kakak, aku simpan di bagian hatiku yang paling dalam, berharap cinta itu tidak akan pernah muncul lagi ke permukaan, karna waktu itu aku sudah yakin jika mas Rehan adalah pria satu satunya dalam hidupku, tapi saat ini aku sadar realita tak seindah espektasi, pernikahanku gagal dan hancur." Dinda tertunduk dengan air mata yang sudah lolos tanpa mampu ia bendung.


Berbicara tentang mantan suaminya, membuat ia menjadi wanita cengeng.


"Din, aku akan selalu ada untukmu, bahu ini akan selalu siap menjadi sandaran mu, terlepas kau masih menyimpan rasa itu atau tidak. tapi aku minta satu hal padamu, ijinkan aku untuk mendapatkan hatimu kembali, ijinkan aku untuk membahagiakan mu, jangan perdulikan kata orang, meskipun mereka semua menganggap kamu tidak pantas untuk ku, justru bagiku kaulah wanita yang sangat pantas, wanita yang sangat aku cintai bertahun tahun lamanya. apa kamu mau memberikan aku kesempatan untuk itu?" Zidan memandang Dinda dengan wajah sendu, pria itu begitu takut sang pujaan hati menolak permintaan nya.

__ADS_1


Dinda mengangguk sembari melihat ketulusan di mata pria yang sudah ia anggap kakak selama ini, "Apa kakak yakin? lalu bagaimana dengan Bunda, bunda pasti menginginkan wanita yang tepat buat kakak, bukan wanita yang berstatus janda seperti aku ini kak."


__ADS_2