
Kini pakaianku sudah rapi, aku bergegas keluar dari kamar, sebelum berangkat aku menengok ke arah dapur, ternyata Ratna sudah berada di dapur.
Aku perhatikan dia seperti baru habis mandi, jelas terlihat dari rambutnya yang basah, mendadak perasaan ku jadi tidak enak, padahal sebelumnya itu adalah pemandangan yang biasa aku lihat setiap hari.
Aku tidak pernah merasa curiga jika dia keramas di pagi hari , karna aku tahu dia orangnya memang menjaga kebersihan, bahkan aku lihat rumahku semakin terlihat bersih saat dia bekerja di rumahku.
Entah kenapa kali ini perasaan ku tidak enak saat melihat rambutnya yang basah, makin kesini aku makin curiga pada pembantuku itu, tapi yang membuat aku penasaran dengan siapa dia melakukan hubungan terlarang tersebut.
Benarkah dengan suamiku.
Ya allah kenapa aku sekarang berubah menjadi istri yang telah berburuk sangka pada suamiku sendiri?
Pergolakan dalam hatiku benar benar membuat kepala ini seakan mau pecah. aku terbegong melihat punggung pembantuku saat menyiapkan sarapan untuk ku dan suamiku.
Aku begitu kaget saat mas Rehan menepuk pundakku.
"Hei..! katanya mau ke kantor? kok malah begong di dini?" ucap suami mengagetkan aku yang sedang memandang pembantuku.
"Eh, iya mas, aku mau sarapan dulu." kilah ku, sebenarnya aku tidak pernah sarapan karna atasan ku selalu menyiapkan sarapan untuk ku setiap hari. tapi hari ini aku ingin sarapan di rumah menemani suamiku sarapan.
Aku hanya ingin tahu, seperti apa pembantu ku itu melayani suamiku, akan kah ada yang mencurigakan saat aku berada di antara mereka.
"Ya udah, ayo duduk." ajak suamiku, akupun langsung menurut dan duduk di sampingnya.
Ranta mulai menata makanan di atas meja makan, dia dengan cekatan mengambil dan meletakkan makanan di atas meja, tak ada yang mencurigakan dari gerak geriknya.
Bahkan aku tidak melihat dia memandang ke arah suamiku sama sekali, pun sebaliknya dengan suamiku, sedari tadi dia hanya sibuk dengan ponselnya.
"Ratna, nanti kamu ke pasar ya, uang dan catatan nya ada di meja, kamu boleh membeli keperluan mu juga." ucapku pada Ratna.
__ADS_1
Dia hanya mengangguk dengan kepala menunduk, aku menautkan alisku, heran dengan sikapnya hari ini, kenapa dia tidak berani memandang ke arah ku.
Saat dia mau berbalik, tak sengaja aku melihat tanda merah di leher bagian depan nya, dan aku tahu tanda apa itu, aku bukan orang bodoh. karna setiap kali aku bercinta dengan suamiku, mas Rehan begitu senang memberikan tanda itu di setiap area sensitifku.
Ingin sekali aku menanyakan nya pada Ratna, tapi aku tidak ingin dia malu di depan suamiku, aku juga seorang wanita, aku tidak tega jika harus menanyakan masalah pribadi di depan suamiku pada Ratna.
Mendadak aku tidak selera untuk sarapan, aku hanya memakan dua suap nasi goreng.
"Mas, aku berangkat dulu ya." pamitku pada mas Rehan. dia hanya mengangguk tanpa memberikan ciuman seperti dulu. sebelum berangkat aku mencium punggung tangan nya, mengucapkan salam lalu segera keluar dari rumah.
*****
Dalam perjalan ke kantor, aku sangat gelisah, memikirkan apa yang di lakukan suamiku di rumah dengan pembantuku, padahal aku belum punya bukti, tapi kenapa firasat ku jadi tidak enak hari ini, apa mungkin karna aku telah menemukan pil KB dan alat pengaman itu.
20 menit perjalanan ahinya aku sampai di depan gedung yang menjadi tempat ku bekerja, aku berjalan gontai menuju ruangan ku.
Aku memang wanita yang cerdas dalam bekerja, tapi mendadak aku seperti orang bodoh, saat memikirkan suamiku yang masih berada di rumah.
Ku tengok jam di ponselku, ternyata sudah jam delapan pagi, itu artinya suamiku sudah berangkat ke toko, mungkin setengah jam lagi dia sampai.
Aku kembali bekerja, tak mau terus terusan memikirkan suamiku dalam kecurigaan, sampai ahirnya waktu sudah menunjukkan jam sembilan pagi.
Aku langsung melakukan panggilan pada karyawan mas Rehan di toko emas milik nya.
"Tik, apa mas Rehan sudah sampai di toko?" tanya ku pada karyawan mas Rehan. setelah panggilanku di angkat.
"Iya bu, sudah sejak satu jam yang lalu." jawab karyawan tersebut, tentu saja jawaban nya mbuat hati ini lega.
Wajahku kembali berbinar, kini aku lebih semangat bekerja, mungkin kecurigaan ku salah, lebih baik aku menyelidiki Ratna dan pak Munir satpam di rumahku. pasti pak Munir yang melakukan hubungan terlarang itu dengan pembantuku.
__ADS_1
Aku tidak yakin jika mas Rehan akan menghiyanati ku, apalagi dengan pembantuku sendiri, aku tahu dia cinta mati terhadapku, jadi dia tidak mungkin selingkuh, aku yakin itu.
Waktu sudah menunjukkan jam sembilan lebih, tapi bos tampan ku belum juga datang, aku kembali fokus bekerja, hingga aku mencium bau parfum yang sangat aku kenal, ternyata bos tampan ku sudah berdiri menjulang di depan meja kerja ku.
Aku segera berdiri dan langsung menyapanya. "Selamat pagi pak." sapaku sambil membungkuk.
"Pagi Dinda." jawabnya sambil tersenyum manis, sungguh senyum nya selalu bikin aku terpesona, tapi aku tahu diri, aku wanita bersuami, tak mungkin aku menaruh rasa pada laki laki lain selain suamiku sendiri.
Bos ku segera belalu masuk ke dalam ruangan nya, aku pun langsung mengikuti ke dalam ruangannya.
"Apa saja jatwalku hari ini Dinda?" tanya bosku sambil melihat berkas berkas di atas mejanya.
Aku pun langsung membacakan jatwalnya hari ini, "Jam sepuluh nanti, bapak harus menemui orang tua bapak di rumah, dan setelah makan siang, ada meeting dengan perusahaan HM Group di kantor mereka." ucapku membacakan jatwal untuk bos ku yang tampan dan menggemas kan tersebut.
Aku lihat keningnya tampak mengerut, mungkin dia heran kenapa pulang kerumahnya harus di masukkan dalam jatwal pertemuan nya hari ini.
"Apa maksutmu aku harus pulang ke rumah jam sepuluh nanti?" tanyanya padaku, jadi feling ku benar, dia pasti penasaran karna ada jatwal macam itu.
"Maaf pak, tapi itu permintaan orang tua anda, mereka bilang sangat sulit untuk bertemu dengan anda, makanya mereka membuat janji lewat jatwal kantor, dan saya minta maaf karna tidak bisa menolak permintaan mereka." jelasku pada bos tampan ku tersebut.
Terlihat raut kesal dari wajahnya saat aku menjelaskan padanya. "Baiklah aku akan menemui mereka asalkan kamu ikut dengan ku." katanya padaku, dan aku tidak akan sanggup menolak permintaan nya tersebut.
"Kalau begitu saya permisi pak." ucapku sambil membungkuk.
"Tunggu Dinda, ini ambillah dan segera sarapan, aku tidak mau kamu sakit." katanya sambil memberikan sebuah kotak makan ke tangan ku.
"Terima kasih ya kak, aku memang sangat lapar." ucapku berbinar, karna tiba tiba perut ini terasa lapar, melihat kotak makan yang di berikan bos ku itu.
"Kamu memang kebiasaan, jam segini belum sarapan, apa perlu aku menelpon Rehan agar dia memarahimu." ucapnya sambil mengacak ngacak rambutku.
__ADS_1