
Dinda begitu kesal hingga menutup pintu kamar dengan kencangnya, namun saat pintu tertutup rapat tubuhnya langsung luruh kelantai dengan isak tangis yang memilukan.
Pernikahan yang begitu harmonis dan penuh kebahagiaan kini harus kandas dengan sebuah perselingkuhan yang begitu menjijikkan.
Dinda memukul dadanya yang terasa sesak dan nyeri, hatinya begitu sakit menerima kenyataan bahwa sang pembantu telah mengandung benih sang suami yang amat ia cintainya.
Kenapa kamu begitu tega mas, apa kurang nya aku? gumam Dinda dengan di iringi isak tangis yang memilukan.
Perlahan dia berdiri lalu berjalan ke arah lemari besar di mana tersimpan baju dan surat surat penting miliknya.
Dinda memasukkan semua baju nya lalu mengambil kotak perhiasan dan surat surat mobil, meskipun di sana terdapat beberapa surat-surat penting lain nya seperti sertifikat rumah dan mobil milik Rehan.
Dinda hanya membawa yang menjadi haknya sendiri, Dinda tidak ingin mengambil yang bukan haknya, meskipun dia punya kesempatan untuk membawa kabur surat surat penting milik suaminya.
Setelah selesai memasukkan semua barangnya, Dinda gegas keluar sambil menarik koper besar di tangan nya.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Rehan. matanya mulai mengembun, pria tampan itu menatap Dinda dengan mata berkaca kaca, entah dia memang sedih jika berpisah dengan Dinda, atau hanya penyesalan sesaat setelah rumah tangganya hancur akibat ulahnya sendiri.
"Aku akan pergi dari rumah ini mas." sahut Dinda dengan suara tercekat.
"Tidak Din, jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku mohon jangan pergi. kamu akan pergi kemana malam malam begini?" sebisa mungkin Rehan mencegah Dinda untuk pergi, namun semua itu percuma, tekat Dinda sudah bulat, dia tidak mau hidup seatap dengan manusia menjijikkan seperti Rehan dan Ratna.
"Kamu tidak usah perdulikan aku mas, Ratna lebih membutuhkan perhatian mu saat ini, dia sedang mengandung anak kamu, jadi tolong jaga dia dan berikan semua perhatian mu padanya. kamu tidak perlu khawatir dengan ku, aku bisa tinggal di mana saja, dan aku juga bisa hidup meski tanpa kamu. tapi sebelum aku pergi, ada yang ingin aku minta padamu mas, jatuhkan talak sekarang juga, agar aku bisa hidup tenang di luar sana, dan kamu pun akan bebas, kamu bisa menikahi Ratna dan bisa hidup bahagia dengan Ratna dan anakmu--". Dinda menghapus air matanya sebelum melanjutkan kata katanya sebelum pergi.
__ADS_1
"Maaf kan aku mas, jika selama dua tahun kita menikah, aku belum bisa memberikan mu anak, mungkin karna itulah kamu selingkuh dengan Ratna, dan maaf kan aku pula jika selama ini aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. malam ini aku mohon padamu, talak aku, agar aku punya alasan untuk pergi dari rumah ini." Dinda menangkupkan kedua telapak tangan nya di dada memohon agar Rehan segera menjatuhkan talak untuknya.
Pria tampan itu hanya terpaku dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya yang terlihat semakin tirus dan pucat. bibirnya bergerak kaku untuk mengucapkan sebuah kalimat, namun sepatah katapun tak ada yang keluar dari mulutnya.
"Talak aku sekarang juga, mas!!" desak Dinda karna sudah tidak tahan berada di rumah yang selalu menyesakkan dadanya.
"Dinda prasetyo, aku jatuhkan Talak untuk mu, mulai malam ini kamu bukan lagi istriku, kamu sudah aku bebaskan." dengan suara bergetar, Rehan mengucap talak untuk sang istri yang amat di cintainya.
"Terima kasih mas, Assalamualaikum." Dinda segera berlalu dari hadapan Rehan dengan menahan tangis.
Seketika tubuh Rehan luruh kelantai di iringi isak tangis ,"Waalaikumsalam, sayang. maaf kan aku, suatu hari nanti kamu akan mengerti kenapa aku memilih jalan ini." gumamnya dengan isak tangis yang memilukan.
*******
Sedangkan saudara dari kedua orang tuanya berada di kampung yang cukup jauh dari kota, jadi malam ini Dinda memilih melajukan kendaraan nya ke hotel terdekat.
Tangis Dinda pecah sesaat setelah memasuki kamar hotel, menyandarkan tubuhnya di daun pintu sambil menekan dadanya yang terasa nyeri akibat sakit yang di timbulkan oleh penghinatan sang suami yang amat di cintainya.
Setelah puas menangis, Dinda membaringkan tubuhnya di atas ranjang kamar hotel tersebut, tangis nya kembali pecah saat keping ingatan kembali menyambangi.
Ini adalah malam pertama setelah Rehan menjatuhkan talak terhadapnya, pernikahan yang semula sempurna dan bahagia, kini hanya tinggal kenangan yang begitu menyakitkan bagi Dinda.
Wanita berkulit putih tersebut jatuh tertidur setelah puas menangis.
__ADS_1
*******
Ke esokan harinya.
Pagi ini Dinda memilih tidak masuk kantor, pagi pagi sekali dia telah memberi tahu Zidan, bahwa dia hari ini ijin tidak masuk kantor, Dinda beralasan ada sebuah keperluan mendadak.
Zidan pun langsung percaya tanpa banyak pertanyaan, pada hal hari ini Dinda berniat untuk mendaftarkan perceraian nya ke pengadilan agama, sekali gus mencari kontrakan untuk tempat tinggalnya.
Setelah dari pengadilan agama, Dinda gegas mencari kontrakan yang sekiranya nyaman untuk ia tinggali.
Setelah menemukan kontrakan yang sekiranya cocok di kantong dan nyaman di tempati, Dinda segera membayar untuk tiga bulan kedepan, dan sore itu juga Dinda akan segera menempati hunian barunya.
Kontrakan sederhana dengan satu kamar, lengkap dengan dapur dan kamar mandi serta ruang tamu yang cukup besar, sangat sederhana tapi cukuplah untuk Dinda yang hanya tinggal sendiri di kontrakan itu.
Setelah memasukkan baju bajunya ke dalam lemari, Dinda bisa bernafas lega, pasalnya dia tidak perlu lagi bingung untuk melanjutkan hidupnya, meskipun tak ada lagi kemewahan seperti dulu sebelum ia bercerai dengan Rehan.
Dinda membaringkan tubuh nya di atas kasur, pikiran nya kembali melanglang buana seperti gulungan benang kusut yang sulit untuk di urai.
Buliran bening pun lolos tanpa terasa, masih teramat nyeri jika mengingat kebersaan nya dengan Rehan, cinta nya pada sosok Rehan sudah mendarah daging, butuh waktu seumur hidup untuk melupakan pria yang kini sudah bergelar mantan suami itu.
Aku masih bisa hidup tanpa kamu mas, tapi bisakah aku melupakan kamu di sisa hidupku ini. batin Dinda masih tak bisa melupakan sosok suami yang selama ini ia cintai.
Mata Dinda mulai terpejam dengan sudut matanya yang masih basah, wanita cantik itu meringkuk sambil memeluk tubuhnya sendiri, tanpa selimut tebal yang menutupi tubunya yang terlihat kedinginan.
__ADS_1