Pil KB Di Kamar Pembantuku

Pil KB Di Kamar Pembantuku
Fakta tentang Rehan


__ADS_3

"Kamu tidak perlu khawatir tentang Bunda, Bunda sangat senang mendengar aku ingin menjalin hubungan dengan kamu dan Bunda sangat mendukung jika aku berniat mempersunting kamu. jadi tidak ada alasan buat kamu untuk menolak ku, karna jalan kita sangat mulus, aku hanya ingin bersama kamu, Din. menua bersama, hanya maut yang akan memisahkan kita." ucap Zidan dengan penuh keyakinan.


Dinda seakan tidak di beri kesempatan untuk berpikir, pria tampan itu terus mendesak menuntut sebuah jawaban, namun Dinda masih ingin memantapkan hati dan perasaan nya, dia hanya takut kegagalan dalam rumah tangganya terulang lagi.


"Beri aku waktu satu bulan, untuk menjawab perasaan kakak, aku perlu waktu untuk menata hati dan menerima kakak seutuhnya, bukan setengah hati," putus Dinda.


"Itu terlalu lama, aku paling tidak suka menunggu apalagi sampai satu bulan, aku hanya memberika kamu waktu satu minggu, aku ingin jawaban yang membuat aku bahagia, jangan menolakku. apa kamu mengerti?" Zidan berkata dengan serius dan sedikit kesal.


Pria tampan itu kesal karna Dinda masih mengulur waktu untuk menjawab perasaan nya, pasalnya dia seorang pria yang tidak bisa menunggu, apalagi menunggu sebuah jawaban cinta, setiap jamnya akan terasa begitu lama bagi pria tampan tersebut, karna menunggu memang sangat membosan kan.


"Tapi kak?" Dinda mau protes, namun Zidan segera menyela.


"Tidak ada tapi tapian, kalau kamu berani membantah maka aku akan menghukummu, apa kamu mengerti."


Seketikan nyali Dinda menciut, saat Zidan berkata dengan tegas dan menatapnya tajam, Dinda hanya mencebikkan bibirnya lalu menirukan kata kata Zidan dengan ekspresi yang lucu, detik berikutnya mulut Dinda tiba tiba terkatup rapat saat Zidan dengan gerakan cepat menarik tengkuknya dan ******* bibir mungil Dinda dengan buas.


Dinda memcoba meronta, namun tenaganya kalah jauh dengan tenaga Zidan yang luar biasa, Dinda wanita yang normal, meskipun di awal menolak, lama kelamaan Dinda terbawa suasana dan ikut terhanyut dalam permainan lidah Zidan yang sudah menerobos masuk mengabsen barisan gigi nya yang rapi.


Dinda tidak bisa menampik, ciuman itu sungguh memabukkan, apalagi Dinda sudah lama tidak merasakan belaian seorang pria setelah berpisah dari Rehan, bahkan sebelum berpisahpun Dinda jarang di sentuk oleh mentan suaminya.


Ciuman panas itu berlangsung cukup lama, andai saja nafas Dinda tidak terengah, mungkin Zidan tidak akan melepaskan pangutan bibirnya. sejenak Zidan memandang wajah Dinda setelah pangutan bibir kedunya terlepas. seulas senyum tipis tersungging di wajah pria tampan yang telah mencuri ciuman pada Dinda tersebut.


Seketika wajah Dinda bersemu merah dengan bibir yang masih basah, akibat dari ciuman panas yang berlangsung cukup lama dan mendebarkan.


Perlahan Zidan mengusap bibir Dinda dengan ibu jarinya. bibir yang telah ia jelajah beberapa detik yang lalu. Zidan menggeleng, sebab pria itu membayangkan kembali menghisap dan menjelajahinya.

__ADS_1


"Maaf. aku telah lacang menciummu tanpa permisi." ucapnya dengan seulas senyum penuh arti.


" Jangan ulangi lagi." timpal Dinda sembari membuang muka, menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Tidak akan terulang lagi, asal kamu mau menerima cintaku."


"Cih..!! sudah ku bilang satu bulan lagi, baru aku kasih--."


"Satu minggu." potong Zidan tanpa mau di bantah.


Dinda hanya mampu menghela nafas panjang, berdebat dengan pria tampan di sampinya itu tidak akan pernah menang. jadi tidak ada pilihan lain selain mengalah dan menyetujui "Baiklah." putus Dinda seraya bangkit dari duduknya lalu masuk kedalam mobil.


"Hei...! kamu mau kemana, Din?"


"Pulang...!!! seru Dinda.


Di tempat lain.


Tepatnya di rumah Rehan. seorang pria tengah sibuk membersihkan hidungnya di wastafel kamar mandi, mengusapnya beberapa kali dengan air, namun darah yang keluar belum juga berhenti.


Hingga basuhan kesekian kalinya barulah berhenti, pria ringkih tersebut menghela nafas lelah, lalu bersandar di dinding kamar mandi sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Dinda." gumamnya lirih, tubuh ringkih nya luruh kelantai kamar mandi yang dingin. "Aku sangat merindukanmu, Din." gumamnya lirih dengan mata terpejam.


Rehan membuka mata setelah merasakan kepalanya sedikit membaik. ya pria itu adalah Rehan. dua bulan telah berpisah dengan orang yang amat di cintai membuat dia menjadi pria lemah, apalagi harus menahan sakit dari penyakin yang di deritanya.

__ADS_1


Sebelum berpisah dengan Dinda, Dokter sudah mendiaknosa jika Rehan mengidap penyakit mematikan, yaitu penyakit leukimia yang sudah memasuki tsadium empat.


Dokter juga memfonis jika umurnya tidak akan lama lagi. Air mata Rehan berjatuhan saat mengingat wajah kecewa dan terluka terpancar dari raut wanita yang amat di cintainya. masih terekam jelas di mana Dinda pergi dari rumah dan tak pernah kembali.


Tubuh ringkih Rehan tergugu di lantai kamar mandi, kakinya bergetar mencoba berdiri meskipun tertatih agar bisa keluar dari kamar mandi yang dingin tersebut.


Perlahan tapi pasti, dia sudah sampai di tepi ranjang, tangan nya terulur mengambil bingkai foto, foto dirinya dan Dinda yang sedang tersenyum bahagia. Rehan kembali mengingat rencana nya agar Dinda pergi jauh dari hidupnya.


(Flashback)


Pov. Rehan.


Malam itu aku duduk di depan televisi yang sedang menyiarkan pertandingan sepak bola, pertandingan yang begitu seru membuat aku kadang heboh sendiri, sampai sampai tenggorokan ini terasa kering karna terlalu banyak berteriak. ya aku seheboh itu saat menonton bola, meski sendirian aku selalu heboh.


Karna itulah aku tidak menonton di dalam kamar, sebab istriku sedang istirahan, aku kasihan jika harus mengganggu tidur nyenyaknya hanya karna sebuah tontonan di televisi.


Karna tenggorokanku terasa kering, aku gegas ke dapur untuk mengambil air minum, tepat saat aku berjalan di depan kamar Ratna, wanita itu keluar dari dalam kamar dengan menggunakan baju kurang bahan, baju yang menurutku sangat tidak cocok dengan kulitnya yang agak gelap.


Baju merah menyala itu memperlihatkan belahan dadanya yang begitu rendah, hingga memperlihatkan bukit kembar Ratna yang begitu kencang dan ranum. aku menelan ludah dengan susah payah.


Jantungku tiba tiba berdebar saat melihat aset Ratna yang begitu besar menggoda, sesuatu di balik celanaku pun langsung menegang "Astaufirullah." aku mengusap wajahku dan membaca istigfar.


Apa wanita ini sedang menggodaku, aku bermonolok dalam hati "Apa tuan perlu sesuatu?" tanya Ratna membuyarkan lamunanku.


"Tidak ada, aku hanya haus mau ambil air ke dapur." ucapku sambil membuang muka, aku terus beristigfar dalam hati agar tidak tergoda dengan tubuh Ratna.

__ADS_1


Seperti hari hari sebelumnya, aku sempat melihat Ratna telanjang sambil mondar mandir di kamarnya, waktu itu aku hampir tergoda, maklum imanku begitu tipis, setipis kulit ari. tapi tuhan masih menolongku kala itu, Dinda berteriak memanggilku dari dalam kamar, hingga mau atau tidak aku harus menghampirinya.


Hari itupun aku selamat dari godaan setan, dan malam inipun aku harus kuat meski memiliki iman yang sangat tipis. gegas aku pergi dari hadapan Ratna untuk mengambil air di dapur.


__ADS_2