Pil KB Di Kamar Pembantuku

Pil KB Di Kamar Pembantuku
Hampir tergoda


__ADS_3

"Apa kamu gak apa apa?" tanya ku pada Ratna.


"Saya tidak apa apa Tuan." jawab Ratna sambil menunduk.


Saat Ratna menunduk, mata ini kembali fokus pada buah dadanya yang terlihat semakin jelas dan menantang. kembali ku telan ludah dengan susah payah, iman ku benar benar di uji malam ini, seandainya Dinda tidak sedang datang bulan, mungkin aku segera kembali ke kamar untuk menuntaskan hasratku.


Tapi sialnya dia sedang datang bulan, dan biasanya dia kalau datang bulan cukup lama terkadang hingga 12 hari baru bersih.


Sekuat tenaga aku menahan hasratku yang sudah di ubun ubun. "Apa tuan perlu sesuatu?" tanya Ratna membuyarkan lamunanku.


"I- iya." jawabku terbata karna menahan hasrat yang sudah menggebu.


"Mau saya buatkan kopi tuan?" tanya Ratna lagi.


"Tidak usah, aku hanya mau minum." tolakku sambil mengambil air dingin dari dalam kulkas, lalu ku teguk air dingin itu hingga menyisakan separuh dari isi botol.


Aku segera meninggalkan dapur dan langsung menuju ke kamar, sesampainya di kamar, ku dapati Dinda istriku sudah tertidur dengan pulas, tak tega rasanya jika harus membangunkan dia demi menuntaskan hasrat ku ini.


Aku hanya tidak ingin berbuat dosa dengan melakukan perbuatan tak senonoh pada pembantuku sendiri, aku masih waras, dan akal sehatku masih bekerja dengan baik.


Aku naik ke atas ranjang, lalu memeluk istriku yang sudah terlelap, ku cium wangi tubuhnya yang selalu bikin candu dan memabukkan untukku.


Mungkin pelukanku terlalu erat hingga membuat Dinda terbangun "Mas!" panggilnya dengan suara serak.


"Hhmm." sahutku sambil menahas hasrat yang semakin menjadi.

__ADS_1


"Ada apa mas? mas kepengen?" tanya Dinda sambil membelai wajahku ini. aku hanya memejamkan mata sambil menarik punggung Dinda agar semakin menempel di tubuhku.


"Maaf ya mas, aku gak bisa melayanimu malam ini, aku masih belum bersih, mungkin lima hari lagi." ucap Dinda, dan hal itu sukses membuat aku kecewa bukan main.


"Gak apa apa, sayang. aku bisa menahan nya. udah kamu tidur aja, aku mau ke kamar mandi." ucap ku lalu beranjak ke kamar mandi.


Di kamar mandi aku mulai melakukan sesuatu yang bisa membuat hasratku tersalurkan, tentunya dengan bantuan sabun mandi. saat melakukan hal itu, entah kenapa yang muncul dalam bayanganku adalah Ratna aku teringan buah dadanya yang begitu besar dan menantang, hingga tanpa sadar aku menyebut nama Ratna saat mencapai pelepasan ku.


Mungki aku sudah gila, tapi aku tidak menyesal telah membayangkan nya, aku pun keluar dari kamar mandi, dan kudapati Dinda sudah kembali tertidur dengan pulas, aku pun ikut berbaring sambil memeluk dia.


******


Keesokan harinya. seperti biasa aku selalu bangun terlebih dahulu dari Dinda, biasanya Dinda akan terbangun di jam 06:30 sedangkan aku biasa bangun di jam 05:30, pagi itu aku sedang berjalan menuju teras belakang.


Di saat aku melewati depan kamar Ratna, tak sengaja aku melihat Ratna yang baru dari kamar mandi, dia mengenakan handuk berwarna merah yang dililitkan di tubuhnya, tampah hanya sebatas paha. kaki ini sontak berhenti melangkah, dengan sengaja aku berusaha sembunyi di samping pintu yang terbuka cukup lebar.


Ratna membuka handuk itu dan melemparnya ke sembarang arah, kini dia tampak polos tanpa sehelai benang pun, aku dengan jelas melihat lekuk tubuh nya, bahkan aku juga bisa melihat dengan sangat jelas, buah dadanya bengitu besar dan menantang, Ratna bercermin sambil memijat mijat buah dadanya sendiri.


Aku pria normal, melihat hal seperti ini membuat aku seketika bergairah, tubuh ini terasa memanas, aku sungguh tidak bisa menahan lagi hasrat ini, apalagi saat melihat Ratna berjalan mondar mandir di dalam kamarnya tanpa busana, membuat aku hilang akal.


Tangan ini sudah menyentuh gagang pintu, aku hendak masuk ke kamar Ratna, tapi gerakan tangan ini terhenti, saat mendengar panggilan Dinda dari dalam kamar.


Aku segera pergi dari depan kamar Ratna, aku hampir saja hilang kendali, untung saja Dinda memanggilku, kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah menerjang Ratna di atas ranjang nya.


Aku segera masuk ke kamar, "Ada apa sayang?" tanya ku dengan lembut. tampak istriku sudah selesai mandi, rambutnya yang basah, dengan handuk yang melilit di tubuhnya, membuat aku semakin bergairah, segera ku peluk dia, dan ku baringkan di atas ranjang.

__ADS_1


"Mas, kamu mau ngapain?"


"Aku kepengen sayang." sahutku sambil membuka handuk yang melilit di tubuh Dinda.


"Tapi aku belum bersih mas."


"Hanya begini saja sayang, aku tidak akan memasukimu." ucapku sambil memainkan buah dadanya. Ku lihat Dinda mulai pasrah dan menerima sentuhan ku.


Setelah puas, aku segera menyudahi cumbuanku terhadap istriku Dinda, karna waktu sudah menunjukkan jam 07:00, itu artinya dia harus berangkar ke kantor.


"Aku berangkat dulu ya mas,"


"Iya sayang, hati hati di jalan." pesanku pada Dinda, seperti biasa dia akan mencium punggung tangan ku, dan aku akan mencium keningnya.


Dia segera berlalu keluar dari rumah tanpa sarapan, akupun tidak mempermasalahkan hal itu, karna aku tahu Zidan akan menyiapkan sarapan untuk istriku.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, aku segera turun untuk sarapan, di dapur sudah ada Ratna yang sedang menyiapkan sarapan untukku. entah di sengaja atau tidak, saat ini dia memakai maju ketat tanpa lengan, sangat berbeda jika sedang di depan istriku yang selalu pakai daster rumahan yang sudah lusuh dengan warna memudar.


Aku masih duduk tenang di meja makan, hingga dia datang membawa roti bakar dan segelas susu untukku. "Ini sarapan nya tuan." ucapnya dengan lembut, suaranya begitu mendayu di dalam indra pendenganran ku.


"Terima kasih." ucapku tanpa menatapnya sedikitpun, bukan karna apa, tapi karna aku takut tergoda dan malah berselingkuh dengan pembantuku sendiri.


Ahirnya aku sarapan dengan cepat, dan segera pergi dari dapur, sebelum pergi aku sempat menoleh pada Ratna yang sedang membereskan piring bekas aku sarapan.


Tampak dia megedikkan sebelah matanya ke arahku, namun aku langsung melengos pergi tanpa memperdulikan dia lagi, sepertinya aku harus menjaga jarak, aku tidak mau tergodan dan berahir dengan perselingkuhan, aku sangat mencintai istriku dan aku tidak mau menghianatinya.

__ADS_1


Aku segera berangkat ke toko emas milikku, di perjalanan aku kembali mengingat tubuh polos Ratna di dalam kamarnya, entah kenapa menhingatnya saja membuat tubuh ini terasa memanas dan pusaka ku pun langsung bereaksi.


__ADS_2