Pil KB Di Kamar Pembantuku

Pil KB Di Kamar Pembantuku
Mencari celah di hati yang kalut


__ADS_3

Pagi hari.


Pagi ini Dinda berniat masuk kantor, dia tidak mau cuti sampai berhari hari, dia tidak bisa terus terusan berada di kontrakan karna ujungnya hanya akan mengingat penghianatan Rehan suaminya, lebih tepatnya mantan suami, karna talak sudah di ucapkan oleh pria itu.


Jam tujuh sepuluh menit, Dinda sudah sampai di kantor tempatnya bekerja, dudu di depan komputer tanpa semangat seperti biasanya, wanita cantik itu malah melamun, bertepatan dengan kedatangan Zidan di ruangan itu.


Karna terlalu asik dengan lamunan nya, Dinda hingga tidak sadar dengan kedatangan Zidan yang sudah berdiri menjulang di depan mejanya.


Pria tampan itu hanya memperhatikan Dinda tanpa menyapa atau menegurnya sedikitpun, Zidan hanya bertanya- tanya dalam hati, kenapa wanita pujaan hatinya ahir ahir ini sering melamun dan menangis, bahkan tubuhnya pun terlihat lebih kurus di banding beberapa bulan yang lalu.


"Dinda." panggil Zidan dengan sangat lembut. Pria tampan itu tidak mau sedikitpun mengagetkan wanita yang sudah dia cintai sejak di bangku SMA itu.


"Eh, pak Zidan, selamat pagi pak. maaf tadi saya---" Dinda tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karna tidak mungkin dia bilang sedang melamun.


"Sedang apa?" tanya Zidan, masih dengan nada lemah lembut.


"Heheeee... Enggak pak, cuma lagi mikirin sesuatu." elak Dinda sambil cengengesan, memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih bersih.


Dinda mencoba bercanda meskipun hatinya tengah hancur berkeping keping, dia hanya berusaha menjadi wanita yang kuat, sabar dan tabah, meskipun dia tak sekuat dan setabah itu.


Menghempaskan tangis di balik tawa, menyembunyikan rasa sakit meskipun itu sulit, karna Dinda hanyalah manusia biasa, yang tidak akan kuat jika di uji dengan sebuah perselingkuhan dalam rumah tangganya.


"Kamu yakin? tidak ada sesuatu yang lagi kamu sembunyikan dariku?" tanya Zidan penuh selidik. jelas pria tampan itu tidak akan percaya dengan alasan Dinda.


Melihat perubahan Dinda ahir ahir ini, Zidan sudah dapat menyimpulkan jika wanita cantik itu sedang ada masalah, entah masalah rumah tangganya atau masalah lain.


"Yakin pak." sahut Dinda sambil menundukkan kepalanya, dia tidak mau Zidan melihat kebohongan nya, karna Dinda bukanlah wanita yang pandai berbohong.


"Ya udah kalau gitu." ucap Zidan lalu segera masuk kedalam ruangan nya yang juga di ikuti oleh Dinda, karna Dinda harus membacakan jatwal Zidan untuk hari ini.


"Apa saja jatwalku hari ini?" tanya Zidan setelah duduk di kursi kebesaran nya.

__ADS_1


"Untuk pagi ini sampai jam makan siang, Bapak tidak ada jatwal pertemun, tapi besok, Bapak ada pertemuan bisnis di bandung, pertemuan nya jam 8 pagi, jadi Bapak harus berangkat sore atau malam hari."


Zidan manggut manggut sambil melihat wanita cantik yang sedang membacakan jatwalnya pagi ini.


"Kalau begitu kamu siap-siap sore nanti, dan jangan lupa ajak Rehan seperti biasa, aku tidak mau dia cemburu kalau kita jalan berdua." ucap Zidan sambil terkekeh kecil.


Pria tampan itu kembali mengingat saat keluar kota hanya berdua dengan Dinda, Rehan datang mengamuk karna cemburu, karna kejadian itulah Zidan selalu mengajak Rehan jika ada pertemuan bisnis di luar kota, demi menghindari pertengkaran dengan Rehan yang selalu cemburu.


Dinda hanya menunduk, menyembunyikan air matanya yang sudah lolos tanpa terasa, Dinda merasa bagaikan sebuah mimpi jika dia dan Rehan sudah berpisah, dulu saat-saat seperti inilah yang selalu menjadi momen bahagia bagi keduanya, pergi ke luar kota karna urusan bisnis, namun sang suami tercinta tetap ikut serta kemanapun ia pergi.


Cintalah yang membuat mereka berdua enggan untuk berjauhan, hingga ke luar kotapun Rehan harus ikut serta.


"Hei, kenapa kamu nangis?" tanya Zidan, sambil mengangkat dagu Dinda yang kini sudah terisak.


"Kak." panggil Dinda sambil menatap pria tampan yang sudah dia anggap kakaknya sendiri.


"Kenapa hhm?" tanya Zidan lembut.


"Aku dan mas Rehan sudah berpisah." jelas Dinda dengan suara tercekat.


"Iya kak, mas Rehan selingkuh dengan Ratna, pembantu di rumah kami, mas Rehan juga sudah menghamili Ratna." jelasnya dengan isak tangis.


Tangan kanan Zidan terkepal dengan kuat, pria tampan itu begitu marah mendengar sang pujaan hati di hianati hanya karna seorang pembantu.


"Biadap...!! aku akan membuat perhitungan dengan dia." ucap Zidan lalu beranjak hendak keluar dari ruangan itu dengan wajah merah padam karna menahan amarah.


"Kakak mau ke mana?" cegah Dinda sambil mencekal tangan Zidan yang sudah terkepal dengan begitu kuat.


"Aku akan buat perhitungan dengan Rehan, kamu tidak perlu khawatir, dia akan menyesal telah menghianatimu."


"Tidak kak, jangan melakukan kekerasan, aku ikhlas dengan nasib rumah tangga ku, mungkin kami memang bukan jodoh." ucap Dinda sambil mencekal tangan Zidan yang hendak keluar dari ruangan nya.

__ADS_1


"Tapi Di, dia telah menyakiti kamu."


"Tidak apa kak, asalkan mas Rehan bahagia, maka aku juga akan bahagia." sahut Dinda lirih.


Zidan tidak percaya dengan jawaban Dinda, kenapa wanita yang amat ia cintai begitu tegar dan tabah menghadapi ujian rumah tangganya seperti ini. perlahan tangan Zidak menarik tubuh Dinda dalam pelukan nya.


"Menangislah Din, jangan di tahan, bahu ini siap menjadi sandaran mu kapanpun kau butuh."


Dinda semakin terisak dalam dekapan tubuh Zidan yang kokoh. Di usapnya punggung Dinda dengan lembut, hingga wanita itu merasa nyaman, dan tangisnya pun mulai reda.


Perasaan Zidan antara senang dan sedih, senang karna Dinda lepas dari Rehan, pria bajingan menurut Zidan karna telah menghamili pembantunya sendiri, dengan itu Zidan masih punya kesempatan untuk merebut hati Dinda yang sudah sejak lama ia cintai.


Tapi di sisi lain, Zidan merasa sedih karna melihat kesedihan di mata Dinda, sakit yang Dinda alami juga di rasakan oleh Zidan, Zidan tidak ingin melihat Dinda menangis, kecuali itu tangis bahagia.


*******


Sore ini Dinda dan Zidan harus berangkat ke bandung karna urusan bisnis, keduanya berangkat setelah sholat magrib, Zidan memilih menyetir mobilnya sendiri ketimbang menggunakan supir pribadi.


Alasan nya hanya ingin berdua dengan Dinda, pria tampan itu akan terus mencari celah agar masuk dalam hati Dinda yang sedang kalut, berharap di situasi seperti ini, Zidan mampu menjadi obat penawar dari luka hati yang Dinda alami.


Tak perduli meskipun di jadikan pelarian, asalkan bisa hidup dengan Dinda, itu sudah cukup bagi Zidan. sepanjang perjalanan Dinda hanya diam tanpa sepatah katapun, sepertinya wanita cantik itu, enggan untuk buka suara.


"Din." panggil Zidan memecah kesunyian malam.


"Iya kak, ada apa?"


"Sekarang kamu tinggal di mana?"


"Tinggal di kontrakan, kak."


"Daerah mana?"

__ADS_1


"Daerah x sebelah pabrik minuman keras."


Tiba tiba Zinda mengerem mendadak hingga Dinda terhuyung kedepan, untung saja dia memakai sabuk pengaman, kalau tidak pasti dia sudah membentur dasbot mobil.


__ADS_2