
Acara sarapan pagi pun sudah selesai, meski sempat terjadi kecanggungan di antara mereka berdua.
Dinda memilih diam tanpa banyak bicara, begitupun Zidan, pria tampan itu juga melakukan hal yang sama, yaitu diam tanpa banyak bicara, tapi matanya sesekali melirik Dinda, guna memastikan wanita cantik itu tidak sedang sedih atau marah.
Karna biasanya Dinda cendrung banyak bicara dan bercanda. "Din, setelah pertemuan nanti, gimana kalau kita jalan jalan sebentar, mumpung kita masih di bandung. besokkan kita udah balik ke jakarta, gimana, mau gak kamu?" Zidan berusaha untuk membuat Dinda kembali ceria seperti dulu.
Zidan akan berusaha membuat wanitanya kembali merasakan kebahagiaan, meskipun rasa sakit yang Dinda alami saat itu akan sulit di sembuhkan, namun paling tidak mengembalikan senyum untuk wanita itu adalah jalan terbaik.
"Maaf kak, sepertinya aku di hotel aja, aku malas mau jalan jalan. maaf ya kak." Dinda menolak dengan halus. karna memang tak ingin jalan jalan, sebab jika ia keluar, pasti bayangan sang suami yang akan terus ia ingat.
Zidan tampak kecewa dengan penolakan Dinda, tapi pria tampan itu mencoba mencari cara supaya Dinda tetap merasa senang meski tanpa jalan jalan.
"Din." panggil Zidan sekali lagi.
"Iya kak."
"Gimana kalau nanti malam kita makan di luar?"
"Maaf kak, aku lebih suka makan di sini saja, aku tidak mau jalan keluar kak, semakin aku jalan keluar semakin aku sulit untuk melupakan mas Rehan, maaf kak aku tidak bisa?" tolak Dinda untuk yang kedua kalinya.
Raut wajah wanita itu semakin mendung bahkan matanya sudah berkaca kaca. Zidan tidak punya pilihan lain selain menyerah untuk tidak mengajak Dinda keluar lagi.
Karna jika Zidan memaksa, bukan nya membuat Dinda bahagia melain kan menambah penderitaan wanita cantik yang sudah sejak lama ia cintai.
"Ya udah kalau gitu, Din. aku gak akan ngajak kamu kemanapun, aku tidak ingin membuat kamu semakin sedih." ahirnya Zidan menyerah.
******
Keesokan harinya, setelah pulang dari bandung, Zidan membantu Dinda pindahan dari kontrakan ke apartemen nya.
__ADS_1
Setelah selesai membantu Dinda, Zidan juga mengemas barang barang pribadinya, hari ini juga dia akan pindah ke rumah orang tuanya.
Setelah berpamitan pada Dinda, Zidan segera pergi menuju rumah orang tuanya yang sudah hampir sebulan tidak ia kunjungi.
Sekitar 30 menit, ahirnya Zidah sudah sampai di depan rumah mewah milik orang tuanya, Zidan sedikit ragu untuk masuk kedalam rumah, sebab sang bunda pasti marah karna hampir satu bulan Zidan tidak berkunjung.
Setelah cukup lama berdiam diri dalam mobil, ahirnya Zidan keluar dan menuju pintu utama.
"Assalamualaikum, Bunda." ucap Zidan di ambang pintu.
"Waalaikumsalam." jawab Bunda Silfi dari dalam rumah.
Bunda Silfi berkacak pinggang, setelah melihat siapa yang datang, "Masih ingat jalan pulang kamu?" ucap Bunda Silfi, memasang wajah garang di hadapan sang putra yang hampir satu bulan ini tidak berkunjung.
"Heheeee.... Masih ingat Bunda." sahut Zidan, cengengesan, memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih bersih.
"Lalu itu apa?" Bunda Silfi menunjuk koper besar yang berada di luar pintu. suara wanita paruh baya dengan pakaian sar'i itu sudah melunak.
Bunda Silfi sudah bisa menebak jika koper besar itu adalah milik putranya. "Itu milik Zidan, Bun. boleh gak Zidan tinggal di sini sama Bunda?"
Seketika senyum Bunda Silfi mengembang, mendengar sang putra mau tinggal bersanya lagi, di mana hal itu sudah lama di tunggu tunggu oleh wanita paruh baya yang kini sudah tinggal sendiri sejak sang suami meninggal 3 tahun yang lalu.
"Apa itu benar? Nak?" mata Bunda Silfi mulai berkaca kaca, sungguh dia sangat senang dengan kedatangan sang putra, apalagi sang putra mau tinggal di rumahnya lagi.
"Iya, Bun. mulai hari ini, Zidan akan tinggal sama Bunda."
"Terima kasih sayang, Bunda sangat senang kamu mau tinggal sama Bunda lagi." buliran beningpun tak sanggub Bunda Silfi tahan.
Saking senangnya, Wanita paruh baya yang kelihatan masih cantik itu menangis sambil memeluk sang putra, meluapkan segala kerinduan yang selama ini ia tahan.
__ADS_1
"Bunda gak usah nangis, Zidan tidak akan tinggalin Bunda lagi, Bunda doain aja semoga Zidan cepat dapat jodoh." ucap Zidan sambil memeluk Bunda Silfi yang kini sudah mendongak kan wajahnya karna mendengar ucapan Zidan tentang jodoh.
"Sebentar, sebentar..! kamu tadi bilang apa?" Bunda silfi melerai pelukan nya guna mendengar penjelasan sang putra karna menyebut nyebut kata jodoh.
"Zidan bilang, doain Zidan supaya cepat dapat jodoh. emang itu salah, Bun?"
"Tunggu ! emang kamu udah bisa move on dari Dinda?" tanya Bunda Silfi penasaran. karna setahu dia, Zidan tidak bisa move on dari Dinda, meskipun Dinda sudah menikah.
"Zidan belum bisa move on dari dia, Bun. justru Zidan sedang berjuang untuk mendapatkan dia." jelas Zidan.
"Kamu jangan aneh-aneh, Zi. dia itu istri sahabat kamu sendiri, jangan sampai kamu jadi perebut istri orang." nasehat bunda Silfi.
"Siapa juga yang mau rebut istri orang, Bun. sebentar lagi Dinda bakal jadi janda, Rehan telah selingkuh sama pembantunya sendiri, sampai hamil pula." jelas Zidan, dan hal itu sekses membuat Bunda Silfi menutup mulutnya karna tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Zidan.
"Kamu tidak bohong kan, Zi?"
"Tidak Bunda, Zidan tidak bohong. karna hal itulah Zidan pindah kesini mau tinggal sama Bunda. karna di apartemen Zidan, di tempati oleh Dinda. Zidan tidak mau Dinda tinggal sendiri di kontrakan, Zidan takut ada yang berniat jahat sama Dinda, kalau di apatemen, Zidan yakin pasti aman, setidaknya di sana keamanan nya terjaga. tidak seperti di kontrakan, apalagi kontrakan nya dekat dengan pabrik minuman keras. di sana tidak aman buat Dinda, Bun."
"Kamu sudah melakukan hal yang benar nak. Bunda doakan semoga dia benar benar jadi jodoh kamu, Bunda senang kalau Dinda jadi mantu Bunda. Kasian ya Dinda. seperti apa sih, pembantunya? kok sampai menukar Dinda sama seorang pembantu?" bunda Silfi tampak geram mendengar Rehan selingkuh dengan pembantu.
******
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di apartemen milik Zidan.
Dinda duduk termenung di depan jendela kaca yang berada di apartemen itu, matanya mulai memanas tak kala mengingat pernikahan nya yang sudah kandas.
Membayangkan sang suami hidup bahagia dengan wanita lain, membuat hati Dinda bagaikan di giling hingga hancur, wanita cantik itu kini tak mampu membendung air matanya lagi.
Kenangan manis bersama sang suami terekam jelas di ingatan nya, hingga Dinda begitu sulit untuk melupakan pria yang telah menemaninya selama 2 tahun pernikahan mereka.
__ADS_1