Pil KB Di Kamar Pembantuku

Pil KB Di Kamar Pembantuku
Semakin memburuk


__ADS_3

Kini hidupku bagaikan berjalan tanpa arah, sejak saat itu, aku mulai merubah hidupku ke jalan yang lebih baik, melakukan sholat tanpa sepegetahuan Dinda, bahkan aku sholat di kamar tamu agar Dinda tidak curiga dengan perubahanku.


Aku pergi ke panti asuhan untuk berbagi pada anak anak yatim yang kurang beruntung seperti mereka. mungkin mereka tidak punya kedua orang tua, tapi mereka masih punya masa depan yang cerah asal fisik mereka kuat dan sehat.


Beda dengan diriku, aku juga tidak punya orang tua, hidupku seorang diri, aku hanya punya seorang istri yang amat aku cintai, dan kini aku juga tak punya fisik yang kuat untuk terus menatap masa depan.


Aku lebih menderita dari pada mereka yang sudah yatim piatu, hidupku hanya tinggal menghitung bulan, dan tak lama lagi akan menghitung hari.


Sesak rasanya dada ini jika aku harus membayangkan saat saat aku pergi meninggalkan Dinda, tapi aku yakin, aku tidak perlu merasa sesak lagi karna aku yakin sebentar lagi Dinda akan menuntut cerai dari ku.


Dan aku tidak perlu melihat air mata kesedihan di wajahnya, cukup sudah aku yang bersedih, cukup sudah aku yang merasakan ini semua. aku ingin dia bahagia, aku juga ingin melihat dia punya keluarga yang lengkap ada seorang suami dan anak anak yang lucu.


Tentunya hanya Zidan yang mampu mewujudkan keinginanku, maka langkah selanjutnya harus segera aku ambil sebelum penyakitku semakin parah.


Sudah beberapa minggu ini aku tidak pernah lagi menyentuh istriku Dinda, bukan aku tidak ingin, tapi fisikku yang sudah semakin lemah, bahkan terkadang aku tidur terpisah dengan Dinda.


Aku sengaja tidur terpisah karna setiap malam aku selalu mengalami demam dan mimisan. jika aku tidur satu kamar dengan Dinda, aku takut dia curiga dan mengetahui jika aku sedang tidak sehat.


Namun dua hari ini, aku sangat merindukan istriku, aku sengaja membeli obat kuat untuk menyenangkan istriku untuk yang terahir kalinya, dan aku bisa melihat binar kebahagiaan di matanya. dia tertidur pulas setelah beberapa kali aku melakukan penyatuan.


Aku keluar dari kamar setelah dia tertidur pulas, kembali aku tidur di kamar tamu, namun kali ini bukan untuk tidur, melaikan untuk menangisi sisa hidupku yang entah sampai kapan bisa bertahan.


Setelah malam itu, aku mulai memantapkan tekatku yang sempat goyah, aku dan Ratna kembali bersandiwara, kali ini benar benar sandiwara yang terahir, karna Dinda langsung pergi dari rumah dengan persaan kecewa.


Akupun hanya mampu meratapi nasibku, aku menangis sepeninggalan Dinda dari rumah, hancur sudah hidupku dan hatiku, aku sudah tidak punya lagi tujuan untuk hidup.


Satu bulan setelah drama itu, aku dan Dinda sudah resmi bercerai, dan aku sudah membuat sebuah surat wasiat, semua harta yang aku miliki, akan jatuh pada Dinda.


Aku hanya menyisihkan sebagian hartaku untuk panti asuhan dan untuk Ratna yang telah membantuku selama ini. aku juga menikahkan Ratna dengan pak Munir, karna aku tahu mereka saling mencintai.

__ADS_1


Dua mobil yang terparki di garasi rumahku, akan aku berika pada Ratna dan pak munir, ada juga uang sebesar 2 milyar untuk mereka.


Hanya mereka berdua yang sangat setia menemani sisa hidupku.


(Flashback of)


Meski kedua kakinya sudah tak lagi mampu untuk untuk menopang berat tubuhnya, tapi Rehan tetap berusaha melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, pria itu melakukan sholat di atas kursi roda.


Tubuhnya yang kurus dan lemah masih terus berusaha untuk beribadah, bahkan pria itu lanjut mengaji setelah melaksanakan sholat lima waktu.


*******


Di tempat lain


Zidan tampak sangat bahagia karna Dinda telah menjawab perasaan cintanya, dan satu bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.


Ada rasa rindu yang terus bergelut di lubuk hatinya yang paling dalam, bahkan Dinda tidak bisa mengusir kenangan manis dengan pria itu.


Cintanya pada Rehan sudah mendarah daging, sulit untuk di lupakan, mungkin butuh waktu seumur hidup untuk melupakan nya.


"Hei, kamu kenapa sayang?" tanya Zidan saat mendapati Dinda tengah melamun


"Gak ada kak, hanya mikirin kerjaan." dustanya.


"Kenapa hurus di pikirkan? sebentar lagi kamu akan menjadi istri seorang Zidan Zahresa, jadi kamu tidak usah memikirkan pekerjaan, karna setelah kita menikah, kamu tidak boleh bekerja, cukup di rumah tunggu aku pulang kerja, melahirkan anak anak yang lucu buat aku."


Dinda hanya menghela nafas berat mendengar ocehan calon suaminya itu."Apa aku juga tidak boleh keluar rumah?" tanya Dinda dengan nada kesal.


"Kok bibirnya manyun sih?" Zidan mendekat hendak mencium Dinda, namun wanita itu segera mendorong Zidan agar menjauh.

__ADS_1


"Kita bukan muhrim." tolak Dinda.


"Maaf sayang, aku sulit mengendalikan diriku, makanya aku ingin cepat cepat menikah sama kamu."


Entah kenapa tidak ada raut bahagia di wajah wanita itu, hati nya masih terpaut oleh satu nama, yaitu Rehan mantan suaminya. Dinda juga tidak mengerti dengan perasaan nya, kenapa dia belum bisa melupakan mantan suaminya, padahal pria itu sudah menyakiti hatinya sedemikian rupa.


Tapi hati Dinda seolah tak sanggup untuk menerima perpisahan ini, seandainya dia bisa memutar waktu, ingin rasanya Dinda kembali ke masa di mana dia hidup bahagia bersama Rehan dan tentunya tanpa ada perselingkuhan di antara mereka.


Cinta Dinda sudah melekat kuat dan berakar di hatinya, meskipun sudah di cabut paksa, tapi akar di dalam hatinya masih terus tumbuh menjadi beban hidup yang Dinda tidak tahu sampai kapan harus menanggungnya.


*******


satu bulan kemudian


Rehan segera di larikan ke rumah sakit, karna pria itu di temukan tergeletak di kamar mandi saat hendak mengbil wudhu'. pria itu tidak sadarkan diri hingga sampai ke rumah sakit.


"Ya allah, bagaimana ini bang? apa kita harus kasih tahu bu Dinda tentang keadaan tuan?" Ratna tampak sangat khawatir dengan keadaan Rehan saat ini, karna dari hari ke hari, keadaan Rehan semakin memburuk.


Begitupun dengan pak Munir, pria itu tak kalah khawatir, berkat bekerja dengan Rehan, pak Munir mampu membeli rumah dan sawah di kampungnya, pak Munir bahkan memuji kebaikan Rehan yang sangat beda jauh dari majikan nya yang terdahulu.


Rehan sangat royal pada para pekerjanya, selalu memberikan bonus yang menurut mereka lebih dari cukup, Rehan juga selalu memperlakukan mereka layaknya keluarga sendiri. tak pernah membeda bedakan mereka karna dari kalangan bawah.


"Abang juga gak tahu dek, Abang bingung, lagi pula Abang gak tahu bu Dinda sekarang tinggal di mana?"


"Kan Abang tahu alamat kantor bu Dinda, siapa tahu bu Dinda masih bekerja di sana, bang."


"Ya udah kalau begitu, Abang mau pergi ke kantor bu Dinda dulu, tolong kamu jaga Tuan ya, kalau ada apa apa, kamu segera hubungi Abang. ya udah Abang berangkat. assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati hati bang."

__ADS_1


__ADS_2